Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Kekasih Suami


__ADS_3

Rara sedang asyik mengotak-atik  androidnya dikamar Tia, jarinya dengan lugas menjelajah pesan Whatsapp. Jempolnya bolak balik menggeser  ketas ke bawah, sampai jarinya terhenti pada satu kontak, pak Rian, dengan cepat Rara mengirim pesan WA.


(Assalamualaikum pak Rian sehat?)


Celkist satu, menandakan pesanya belum diterima oleh pak Rian.


Tiba-tiba hpnya bergetar ada panggilan masuk, dilihat tertera nomor yang tak ia kenal. Rara mengerutkan dahinya heran.


‘Nomor siapa ini’ gumamnya, diam sejenak, kemudian Rara langsung mengangkat panggilannya.


“Assalamualaikum?”


“Wa’alaikumussalam." terdengar suara perempuan terdengar tak asing.


"Dengan siapa ya?”


“Ini aku Ranti."


Rara diam tak bergeming, terkejut. Jantungnya berdetak kencang, mulutnya terkunci dia bingung mau berkata apa.


“Aku mau bicara temui aku di cafe Mandiri siang ini jam satu.. Tettt.”


Ranti langsung menutup telponya.


💚💚💚💚💚💚💚


(Meja 12)


Pesan singkat yang dikirim Ranti untuk Rara. Rara mencari-cari meja dua belas ditemani Ayu tanpa sepengetahuan Tia, dilihatnya seorang perempuan cantik sudah duduk di meja tersebut. Rara menyuruh Ayu untuk menunggunya di  meja yang berbeda, dia langsung menghampiri Ranti.


“Ranti?” Ranti mengulurkan tangan kanannya mencoba bersikap ramah. Rara menjabat tangannya meski awalnya dia ragu untuk menjabat tangan seseorang yang selama ini menerornya.


Ranti mempersilakan Rara duduk, Diliatnya Ranti duduk tegak dan lehernya sedikit mendangak ke atas, menunjukkan dia bukan perempuan biasa. Dandanannya yang berkelas mengenakan kemeja putih tak berlengan dan celana kulot berwarna coklat cream silk. Rambutnya terurai lebat, wajah cantiknya dihiasi full make-up, di sebelahnya terdapat tas import mahal, menggambarkan bahwa dia wanita sosialita.


Ranti pun melihat Rara dari atas sampai bawah, berbanding terbalik dengan dirinya Rara yang rambutnya di kucir kuda yang sederhana hanya menggunakan kemeja biru berlengan panjang dan celana katun ditambah sepatu flatnya. Dua wanita cantik yang mempunyai tingkat fhasion yang berbeda.


“Mau pesan?” tawar Ranti. Rara menggelengkan kepalanya.


“Ok! to the point pertama-tama saya meminta maaf atas teror yang selama ini saya buat, kedua saya minta kamu untuk pergi dari kota ini, saya tahu selama ini kamu menumpang pada bu Sriyantika dan bekerja di kantor anaknya. Kamu jangan kuatir saya akan membiayai semua hidup kamu. Kamu mau pergi kemana saya akan fasilitasi semua yang kamu butuhkan dan saya akan menawarkan pekerjaan yang dengan jabatan jauh lebih baik dari ini, bisa?” ujarnya sombong.

__ADS_1


Kedua tangannya dilipat menyilang didepan dadanya dan berbicara dengan nada angkuh.


“Tidak.” jawab Rara cepat.


“Loh kenapa? Kalo masalah uang kamu jangan kuatir, saya akan...”


“Satu anda meminta maaf tetapi tidak ada raut penyesalan didalam diri anda, kedua anda meminta saya meninggalkan kota ini, tapi anda seperti memesan sebuah burger dari restoran cepat saji, maaf nyonya Ranti saya bukan anak buah anda, permisi!” Rara berdiri dia hendak pergi, tapi Ranti dengan cepat meraih tangan Rara.


“Saya mohon, duduklah sebentar saya akan jelaskan semuanya.”


Nada sombongnya mulai memudar, amarahnya turut surut, Rara duduk kembali dia bersiap-siap mendengar penjelasan Ranti.


“Saya dan Bagas sudah kenal sedari kecil, ayah Bagas teman dekat apak saya. Dia adalah seorang buruh dipabrik apak saya. Kedua orang tua saya memiliki sifat yang jauh berbeda, apak saya selalu melihat orang dari hatinya, rajinnya, atau giatnya orang tersebut, dia tidak terlalu memikirkan materi, sedangkan amak saya, yang dipikirkannya hanya kedudukan, uang, harta dan materi. Dia selalu menyuruh saya untuk mencari suami yang sederajat dengan keluarga kita. Karna amak yang lebih sering mendominasi saya dirumah, pola pikir saya setuju dengan amak. Tentunya pasti kamu sudah tahu kenapa pernikahan kami terjadi?”


Rara mengangguk perlahan.


“Pada saat itu tidak ada cinta diantara kami. Saya mempunyai cinta sendiri begitu juga dengan Bagas. Pada awal pernikahan Bagas merima takdir dengan ikhlas, tapi berbeda dengan saya, saya selalu memberontak pernikahan ini. Jangankan saya melayaninya, bersikap sopan pun saya tidak pernah melakukannya, cacian dan hinaan pun sering saya lakukan terhadap dia dan keluarganya. Setelah menikah pun amak saya menyuruh saya bercerai beberapa kali, saya tidak bisa menggugatnya ke pengadilan karna apak saya memberikan wasiat saya akan tidak dianggap sebagai anak apabila saya menceraikan Bagas dan semua harta yang saya punya akan disumbangkan. Makanya saya berusaha sekuat tenaga membujuk Bagas agar mau menceraikan saya, tapi Bagas tidak mau, oleh karna itu saya berulah dengan mengencani beberapa teman pria saya, agar dia benci pada saya, sampai saya sadar kalo...” Ranti diam sejenak seraya mengambil ancang-ancang.


“sekarang saya sudah jatuh cinta padanya.” lanjutnya dengan penghayatan.


Mendengar kata jatuh cinta ada rasa sakit menusuk hati Rara, dia tidak suka kata-kata yang dilontarkan Ranti. Tapi apa daya orang yang didepannya lebih berhak.


“Rara, saya mengetahui kamu adalah kekasih suami saya, sejak sebulan yang lalu tidak sengaja saya melihat kamu jalan sama Bagas dan Mila. Saya pikir mungkin Bagas hanya balas dendam sama saya, sampai saya kaget ketika melihat Bagas fiting baju pengantin. Saya menyewa seseorang untuk mencari latar belakang kamu, saya tau kamu amnesia dan kamu tidak tau Bagas sudah menikah dan memiliki istri, dan saya tau kamu adalah seseorang yang Bagas cintai sewaktu kuliah. Satu hal yang membuat saya bingung mengapa dia menyembunyikan nama asli kamu, Febby Febriani menjadi Rara Febriani. Ternyata itu dia manfaatkan untuk memanipulasi pesan whatsapp dia untuk saya, menjadi dia untuk kamu, dia selalu memanggil nama singkat saya ‘Ra’.  Pesan singkat yang dia perlihatkan ke kamu yang berisikan video call, itu semua untuk saya. Bagas selalu melakukan video call untuk mengingatkan makan, atau memberi perhatian pada saya, tapi semakin kesini hal itu jarang, bahkan tidak pernah dilakukannya." ucap Ranti sedih.


Ranti Mulai mengeluarkan tetesan air mata, Rara menawarkan tisu padanya, Ranti tersenyum menerimanya.


“Rara saya mengenal Bagas, dia bukan pria yang mudah menyerah. Apalagi dia pernah mencintai kamu sebelumnya. Kamu bisa saja suatu saat luluh dengannya, saya yakin Bagas tidak akan berhenti mengeja kamu terkecuali kamu pergi dari kota ini Rara. Jadi saya mohon sama kamu Rara tolong selamatkan rumah tangga saya, saya akan memfasilitasi  semuanya Rara, semua yang kamu butuhkan.”


Ranti berubah haluan, yang tadinya berlagak sombong kini dia menangis memohon pada Rara.


“Apa kamu beniat memperbaiki rumah tangga kamu?”


Ranti menangguk dengan cepat berkali-kali semangat menjawab Rara.


“Kita harus buat dia jatuh cinta sama kamu.” ujar Rara membuat Ranti bahagia mendengar perkataannya yang mau bekerja sama dengan Ranti. Ranti menggenggam kedua tangan Rara dengan erat.


“Rara makasih, makasih, tapi kamu maukan pergi dari kota ini?” bujuknya.


Rara mengangguk.

__ADS_1


"Dengan syarat.”


“Apa? apa saja akan aku kabulkan.”


“Satu kamu harus menunaikan kewajiban kamu sebagai istri, kewajiban lahir dan batin.”


“Pasti.” ujar Ranti bersemangat.


“Kedua kamu harus melayaninya sebagai istri yang baik, setiap pagi menyediakan sarapan dan minuman kesukaannya, pulang kerja kamu harus melayaninya sigap membatu mecopot dasinya, menaruh tas kerjanya dan memasak makanan untuknya, hal-hal dasar saja setidaknya menyiapkan nasi ke piringnya meladeninya menyiapkan air minum untuknya, bisa?”


“Tapi kan itu bisa dilakukan oleh asisten ra?” ujarnya, hal tersebut tak terbiasa Ranti lakukan sebagai anak yang manja.


“Bisa atau tidak?” Rara tidak mau bernegosiasi rupanya membuat Ranti berfikir sejenak.


“Baik, lalu apa?”


“Ketiga berbuat baik pada amaknya Bagas, terima dia seperti ibu sendiri. Lalu dekati Mila, raih hatinya. Kamu bisa ajak dia pergi seminggu sekali, terserah mau makan bareng atau shopping saya rasa itu bukah hal berat yang bisa kamu lakukan untuk menaklukkan hatinya Mila. Lalu temani amak Bagas untuk chek up sebulan sekali, sisanya ajak dia pergi jalan-jalan.”


Ranti menghela nafas dia merasa berat melakukan itu semua, tapi harus  mengiyakan agar Rara mau pergi dari kota ini.


“Terus, ada lagi?”


Rara menggelengkan kepalanya. Lalu Ranti mengeluarkan cek, dia menuliskan sejumlah uang  diberikannya cek itu pada Rara.


“Ini untuk akomodasi dan uang yang kamu butuhkan."


Rara mengembalikan cek tersebut.


“Saya tidak butuh ini, saya akan memperhatikan kamu melalui Mila. Satu hari saja kamu lalai, saya akan kembali ke kota ini, dan kamu harus mengizinkan Mila tinggal departemen mu, tidak untuk selamanya hanya awalnya saja untuk memastikan kamu melakukan apa yang sudah kita sepakati.” ancam Rara.


“Ranti kita harus bicara pada amak akan hal ini, kita harus membujuknya bahwa kamu serius akan berubah, atur pertemuan kita dengan amak, tanpa Bagas ataupun Mila.”


“Kapan?”


“Secepatnya.”


“Kalo begitu bagaimana kalo besok, besok Senin, Bagas pasti berangkat kerja, dan Mila kuliah.”


Rara mengangguk setuju.

__ADS_1


Ranti terkejut dengan penolakan Rara terhadap cek nya. Ditambah lagi dia mau membantunya memperbaiki rumah tangganya. Pantas saja Bagas jatuh hati padanya, Tuhan menganugerahinya dengan hati yang dipenuhi kebaikan. Dari penampilan mungkin biasa, tapi hatinya, Ranti mungkin tidak bisa menandinginya.


Ranti tau pasti Rara pun sudah jatuh hati pada Bagas sehingga dia mau menikah dengannya. Tidak mudah seseorang melakukan apa yang dilakukan Rara, jika saja yang dihadapinya bukan Rara, mungkin wanita itu sudah merebut Bagas darinya, Ranti sempat iri dengannya.


__ADS_2