
“Assalamualaikum Warohmatullahiwabarokatu,” sapa Andri memberi salam di depan rumah Tia, Rara menyuruhnya datang pagi-pagi.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu,” jawab Tia yang sedang duduk santai diruang tamu.
“Eh teh Tia? Febby nya ada?”
“Ada.” Tia menyambut Andri dengan ramah. “sini masuk.” Andri masuk ke rumah Tia lalu duduk di sofa.
“Bi Atik?” teriak Tia, tak lama bi Atik datang dari dapur.
“Ya neng?”
“Buatin minuman sama makanan ya buat tamu, owh ya Rara di mana?”
“Ada di belakang neng.”
“Sekalian panggilin ya bi.”
“Baik neng.”
Bi Atik langsung masuk ke dalam.
“Eh Andri btw trik yang elo kasih ke Rara keren, gue suka,” ujar Tia to the point cengengesan, Andri bingung dengan celoteh Tia belum memahami pembicaraannya.
“Trik apa?”
“Trik cara bikin cowo alim kabur ha ha ha.”
Tia tertawa geli mengingat cerita Rara.
“Owh itu hehe iya, emang gimana trik nya berhasil?”
“Ya kalo...,”
“ANDRII!” Teriak Rara membuat Andri kaget menoleh keruang tengah. Rara langsung mengambil bantal sofa lalu memukul Andri dengan bantal berkali-kali kesal, Tia tertawa terbahak-bahak melihat mereka berdua.
“EH Feb stop feb!” ujar Andri.
“LOE GILA YA?” teriak Febby marah.
“Auww, apanya yang gila?” teriak Andri kebingungan.
“TRIK konyol loe!”
“Trik?” tanya Andri heran, bukannya trik itu berhasil melihat expresi Tia barusan.
“Elo jangan pura-pura amnesia!” Bentak Rara pada Andri, dia langsung memukul Andri lagi dengan bantal.
“Aduh Feb, Stop stop! Denger dulu, kenapa emang?” ujar Andri coba menenangkan sahabatnya.
“GATOT! Gagal total!” Teriak Rara melemparkan bantalnya lagi pada Andri.
“Masa? Aduh udah dong Feb jangan kaya gini, gue gak mau murid-murid liat gue pulang dalam keadaan babak belur.”
Rara menarik nafas, menjatuhkan badannya ketas sofa, mengontrol emosinya.
“Feb gue yakin cowok macam kaya gitu, jangankan elo cium elo nginep berdua di rumahnya juga, udah habis diusir duluan,” jelas Andri masih mencoba menguatkan pendapatnya.
“Iya Ra, mau coba trik kedua nginep dirumah Rio? Gue ijinin deh,” celetuk Tia cengengesan meledek Rara.
“Udah, gue gak mau ngejalanin trik apa-apa lagi dari elo,” bentak Rara sama Andri.
“Emang gimana? gak berhasilnya dimana? Coba cerita sama gue.”
“Au akh?” elak Rara yang malu menceritakan kejadian yang dialaminya pada Andri.
“Apa jangan-jangan elo keblablasan nyium dia?” tebak Andri ngasal, Tia malah tertawa mendengar celoteh Andri.
“Keblablasan gimana? dalam lima centi nyali gue udah menciut, gue hampir batalin eh malah dia...,”
Rara menghentikan ceritanya merasa malu.
“Dia apa?” sambung Andri heran.
“Dia agresif mau nyium gue!” timpal Rara cepat.
“APA?” teriak Andri serasa gak percaya. “gak mungkin Feb gak mungkin, apa jangan-jangan dia suami elo?”
__ADS_1
“APA, elo kalo ngarang jangan ngawur,” timpal Rara tak terima.
“Iya Ra bener kata Andri, Rio suami elo,” tambah Tia cengengesan.
“Tia jangan memperparah!” Bentak Rara pada Tia yang dari tadi menggodanya.
“Enggak gini Feb gini, cowo yang selalu menjaga kehormatannya, dia hanya mau bersentuhan dengan mahromnya, dan dia hanya mau ngelakuin hal itu dengan istrinya gue yakin itu, kalo sejauh itu dia nanggapi ya berati elo ...,”
“Stop!” sahut Rara memotong.
“Cukup ndri gue gak mau denger teori elo yang aneh-aneh lagi, sapa tau imannya gak sekuat itu, dia jugakan punya hasrat,” tambah Rara menjelaskan, jengkel.
“Iya juga sih, tapii...,”
“Udah Dri jangan dibahas lagi, gue malu,” elak Rara pada sahabatnya.
“Iya iya, Feb sorry ya.”
Andri meminta maaf atas kegagalan triknya pada Rara, Rara membuang muka kesal pada Andri.
“Udah dong jangan marah, ini gue udah mau balik ke Kalimantan nih, please mafin ya,” bujuk Andri melihat wajah sahabatnya yang masih ditekuk kesal.
“Jadi ada apa?” tanya Rara berusaha biasa lagi pada Andri, merasa iba.
“Gue mau pamit sekalian gue tadi malem bikin fb baru, karna fb lama gue gak ada satupun yang gue inget paswordnya. Kayaknya saking banyak fb yang gue bikin, gue minta tolong simpen paswordnya loe juga add gue ya?”
“Elo punya fb banyak buat apa?”
“Hehe,loe pasti lupa ya, biasa cewek-cewek gue,” ujar Andri cengengesan. “ya intinya fb yang sekarang mau gue jalanin serius buat contack temen-temen. Cuma gue suka lupa sama passwordnya, gue udah add temen-temen yang lain, tapi belum ada satupun yang ngecofrim. Ya pokoknya kalo elo ada kabar dari sahabat- sahabat kita kasih tau ya lewat fb?”
“Kenapa lewat fb kenapa gak lewat WA?”
“Sering angus nomor gue Febby, kalo ngisi pulsa harus ke kota jauh lokasinya dari tempat dinas gue, paling sering ke kota gue sebulan sekali. Ya elo gue kasih passwordnya jaga-jaga aja takut gue lupa lagi, udah gue catet sih tapi takut ilang, ya intinya ini jaga-jaga aja.”
“Oke, apa fb dan passwordnya?”
“Gue kirim via WA ya.”
Andri langsung mengirimkan nama fb nya dan pasword ke Rara. “Mulai besok pagi gue udah gak bisa nge Wa elo ataupun sebaliknya, karns disana gak ada sinyal Feb, jadi elo kalo butuh sama gue harus sabar nunggu jawaban satu bulanlah, tapi gue dapet cuti pas idul fitri. InsyaAllah nanti gue balik ke Bandung.”
“Iya, lo hati-hati ya disana, terus cepet tobat, cepet nikah!” ujar Rara ceplas-ceplos menasehati sahabatnya.
“Gue pamit langsung ya, gue doain semoga ingatan elo balik. Aaamiiin.”
Rara dan Tia ikut mengamini doa Andri.
Andri pamit diantar Rara dan Tia sampai depan rumah, dia pergi dengan mobil Honda jazznya.
💚💚💚💚💚💚💚
I LOVE MONDAY. Sriker yang menempel di kaca lemari pakaian yang ditempel Tia untuk menyemangatinya bekerja hari Senin. Rara tengah asyik memilih kerudung yang akan dikenakan dengan tunik merah maroonya. Mata Rara terhenti melihat kantong yang ada pada pojok lemari. Dia meraih kantongnya, di bukanya masih ada dua kerudung pemberian Rio yang dipilihnya waktu di CIWALK. Rara menyingkapkan kerudung warna purple, dia tersenyum dan memakaikannya di kepalanya.
“Toh hari ini Rio off,” gumamnya dalam hati yang mengira Rio tidak akan masuk kantor pada setiap hari senin, sama seperti biasanya.
Semenjak Rara mengetahui Rio kaka tiri Tia, Rara sering berfikir untuk bersikap baik padanya, dia mencoba mengikuti perkataan Tia untuk mencoba membuka hatinya dan mengenal Rio lebih baik dari pada sebelumnya.
Jam delapan Rara sudah berada dikantornya, dia duduk di kursinya memandangi tempat duduk Rio. Dia flasback pertemuan pertamanya dengan lelaki tampan itu di BEC, lalu ketika Rio merawatnya waktu sakit, ketika Rio bekerja dikantornya. Beberapa kali Rara tersenyum mengingat kejadian lucu, hampir Rara tidak pernah bersikap baik padanya, padahal Rio sering memberikan banyak perhatian untuk Rara.
“Assalamualaikum Rara?” Rio datang memberi salam langsung menghampiri meja Rara duduk di depan gadis berkulit putih itu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Rara setengah kaget dengan kedatangan Rio.
“Rara? Dengerin penjelasan aa dulu, sekali lagi saya benar-benar menyesal atas kejadian kemarin malam, saya sudah bersikap kurang ajar. Itu benar-benar diluar kendali saya, saya minta maaf Rara sungguh saya tidak bermaksud untuk melakukan hal itu,” jelas Rio meminta maaf panjang lebar tanpa titik koma. Melihat kepanikan Rio, Rara malah menaikkan ujung bibir sebelah kanannya tersenyum melihat expresi menyesal Rio untuk pertama kalinya. Lelaki yang biasanya garang, posesif dan keras kepala, kali ini dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
“Ra?”
“Ya?”
“Kenapa? Ada yang lucu?” tanya Rio yang melihat Rara tersenyum.
“Enggak,” elak Rara sambil tersenyum ramah. “A itu semua juga bukan salah aa.” Tiba-tiba Rara juga mengakui kesalahannya. Rara sadar hal itu terjadi karna dia berusaha menggoda Rio, jadi dia paham dia juga salah dalam kejadian kemarin.
“Gini deh,” Rara mengangguk-anggukan kepalanya perlahan, “gimana kalo kita mulai dari awal?”
Rio diam, bingung belum memahami perkataan Rara.
“A saya sadar selama ini sikap saya juga tidak baik dari awal, jadi kita mulai lagi dari awal,” ujar Rara tersenyum.
__ADS_1
“Mutiara.”
Rara tersenyum menyodorkan tangan kanannya meminta berkenalan lagi dengan Rio.
“Rio.” Rio tersenyum bahagia, langsung menjabat tangan Rara dengan hangat, mereka berdua tertawa satu sama lain.
“ Aa gak ngajar?”
“ Saya ijin.”
“Loh kenapa?”
“Ada urusan penting.”
“Owh iya, apa?”
“Saya tidak sabar mau meluruskan kesalah pahaman sama kamu,” ujar Rio tersenyum.
“Terus?” ujar Rara tertawa, “urusannya udah selesai?”
“Udah,” ujar Rio tersenyum semakin lebar, mereka berbicara sembari saling melempar tawa dan senyum.
“O-ke, kalo menurut saya aa lanjutin mengajarnya kasian murid-murid aa.”
“Iya, saya mengajar jam sembilan, Alhamdulillah Allah mempermudah saya dalam urusan saya, jadi masih ada waktu,”
Rara mengangguk tersenyum geli mendengar celoteh Rio. “saya berdoa orang yang mempermudah urusan saya, semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan.”
“hahaha aaaamiiiin.”
Rara tertawa mendengar celoteh Rio.
“Owh iya kamu terlihat cantik pake kerudung itu, makasih kerudungnya udah dipake.”
Ternyata Rio ngeh kerudung yang dipake Rara adalah kerudung pemberiannya.
“Sama-sama,” ujar Rara tersenyum malu.
“Kalo gitu saya langsung pamit, saya mau ngajar dulu, wassalamualikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Rara dengan senyuman khas nya yang manis. Rio keluar kantor dengan perlahan, sesekali dia menoleh ke belakang melempar senyum pada Rara, dan Rara merasa geli melihat tingkah Rio membalas senyum Rio.
Sampainya parkiran Rio diam sejenak tengah menikmati memandang jendela kantor Rara, betapa sangat berat baginya untuk kembali kesekolah. Melihat Rara yang bersikap ramah seperti ini membuatnya ingin berlama-lama dikantor.
‘Kalo aja sekarang bukan jam ngajar,’ gumam Rio dalam hati yang berandai-andai ingin meliburkan jam mengajarnya.
“Eh a Rio?” tanya Nuray salah satu Tl lewat bareng Tari.
“Ya?”
“Lagi apa kok senyum-senyum gitu?” tanya Nuray keheranan yang melihat Rio tersenyum-senyum melihat gedung kantor.
“Gak papa.”
“Owh ya a ini?” Nuray memberikan kotak makan untuk Rio.
“Apa ini?” tanya Rio, melihat bingkisan yang di berikan Nuray.
“Ini ucapan makasih.”
“ Makasih?” ujar Rio kebingungan.
“Ya waktu itu aku dapet makan siang dari a Rio, nah sekarang giliran aku yang kasih,” jelas Nuray tersenyum.
“Gak usah buat kamu aja, lagian waktu itu saya syukuran aja ngasih buat semua staf.”
“Ikh gak papa a, aku sengaja kok beli ini buat aa,” ujar Nuray membujuk.
“Ga usah, lain kali jangan ya, saya takut ada yang marah,” ucap Rio melarang.
“Ada yang marah? Siapa?” tanya Nurani heran.
“ Rara, saya takut Rara salah paham dan cemburu, karna hati saya cuma buat dia,” jelas Rio tersenyum to the point mematah hatikan Nuray langsung, membuat gadis itu melongo. “saya permisi, Wassalamuaalaikum.”
Rio pamit langsung pergi dengan mobilnya, sedangkan Nuray masih cemberut berdiri ditemani Tari.
“ Udahlah Nuray udah jelas-jelas dia sukanya sama teh Rara,” ujar Tari menasihati.
__ADS_1
“ Tar, satu kantor juga tau, teh Rara gak suka sama dia. Jadi masih ada kesempatan dong buat aku atuh,” ucap Nuray keukeuh, Tari hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Nuray.