
Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar damai di telinga Rara. Suaranya merdu membuat Rara yang terpejam menitikkan air mata ke pipinya, terhanyut. Terenyuh.
Rara rindu qiraah bu Sriyantika yang selalu menyejukkan hatinya. Sampai dia sadar suaranya yang didengarnya adalah suara laki-laki, Rara langsung membuka matanya. Dilihatnya Rio sedang membaca mushaf miliknya, membacakan surat Al Baqoroh. Rara kaget mendapati seorang pria asing di kamarnya. Rara langsung bangun posisi duduk dengan cepat.
Auww!
Rara mengaduh sakit, kepalanya terasa pusing bak hantaman batu mendarat di kepalanya.
“Eh! jangan langsung bangun nanti pusing,” ujar Rio memegang tangannya. Rara langsung mengelak, marah.
“Aa ngapain disini!”
“Jagain kamu, Tia yang minta tolong. Ini kunci rumahnya, tadi dia ngasih ke saya,” jelasnya santai.
“Astagfirullah Hal Adzim!” ucap Rara terkejut menutup mulutnya seraya tidak percaya apa yang di katakan Rio.
“A ikut saya!” Rara langsung mengambil kunci rumah dari tangan Rio bangkit jalan cepat sempoyongan keluar kamar. Dia lupa tidak memakai hijab, lalu ia menudungkan kupluk jaketnya di kepalanya. Rio mengikutinya di belakang.
“Kamu mau kemana? Kamu jalannya hati-hati!” ujar Rio yang malah mencemaskannya.
Rara menghiraukan perkataan Rio dan terus berjalan ke depan rumah sampai pagar rumah. Rara mengumpulkan tenaga bersandar, memegang pagar rumah yang tingginya sebadannya.
“Aa pulang!” ujar Rara sambil tangannya menunjuk keluar jalan.
“Gak bisa Rara, saya harus jagain kamu!”
“A kita bukan mahrom, kita gak bisa satu rumah bareng!” jelas Rara tegas.
“Saya hanya jagain, kamu gak lebih,” ujarnya keukeuh.
“Gak usah saya baik-baik aja!”
“Ra saya tidak bisa ninggalin kamu sendirian lagi pula Tia udah...,”
“Pulang!!” potong Rara tegas.
Dia hampir terjatuh menahan pusing, panas nya terik matahari siang membuatnya kepalanya semakin pusing, dan dia jatuh sempoyongan lagi.
“Tuh kan ayo kita masuk,” ujar Rio menahan badan Rara yang sempoyongan.
“Lepas a!” Rara yang lemas sekuat tenaga mendorong Rio.
“Ra, disini panas, kamu harus masuk ke dalem, kalo gak nanti kamu pingsan!”
“A? aa gak denger ucapan saya tadi? Saya bilang aa...,”
Rio tak memedulikan ucapan Rara, dia langsung menarik lengan dan menggendong kaki Rara, otomatis tubuh Rara terjatuh ke pundak Rio. Rara kaget dengan apa yang dilakukan Rio, dia meronta-ronta minta diturunkan.
“LEPAS A LEPAS A!” teriaknya meronta, tapi Rio masih mengacuhkannya langsung masuk membopong Rara ke dalam rumah dan mendaratkan tubuh Rara di atas ranjang, Rara kaget ketakutan.
“Rara tenang, aa disini cuma jagain kamu, gak lebih!” ujar Rio memegang bahunya mencoba meyakinkan.
“Gak mau a, gak bisa!” timpal Rara berteriak parau, melepaskan tangan Rio dari bahunya.
“Aa keluar ato saya panggil polisi!” ancam Rara bangkit dari ranjang lalu mengambil pasmina di lemari dan mengkudungkannya ke kepalanya. Rara tak ingin rambutnya dilihat oleh Rio, lalu pergi menuju ruang tamu membawa gawainya. Rio mengikutinya di belakang, Rara duduk di sofa karna gak kuat menahan pusing. Badannya masih lemas.
“A please aa pulang sekarang, kalo dalam hitungan tiga aa gak pulang, saya panggil polisi beneran!” ancamnya tegas sembari membetulkan pasmina nya.
“Saya gak peduli, saya gak bisa pulang, kalo mau panggil polisi silahkan!” tantang Rio membuat Rara kaget.
Rio begitu keras kepala, dia pikir Rio mau main-main dengannya. Dengan cepat Rara mensearch nomor polisi daerah Bandung. Dia langsung memanggil polisi, Rio masih duduk dengan santai melihat apa yang dilakukan Rara.
“AA masih gak mau pulang, sebentar lagi polisi datang loh?” ancam Rara. Rio menggelengkan kepalanya santai.
__ADS_1
“Kamu masih pusing? Kamu tidur lagi aja di kamar ini masih jam sebelas, nanti kalo polisinya datang saya bangunin, terus sekalian kamu makan buat minum obat siang,” jelas Rio yang malah memberi perhatian pada Rara.
Rara terheran-heran dengan kelakuan Rio, beberapa kali dia ternganga dibuatnya. Rio malah diam, bersikap santai tak menggubris ancaman Rara. Rio bangkit dari sofanya pergi kearah dapur. Rara masih duduk di sofanya langsung menelpon Tia hendak melaporkan kejadian ini, tapi tak diangkat telponya oleh Tia. Pasti dia sedang sibuk dengan event, pikir Rara.
Tak lama, Rio datang dengan membawa gelas tinggi berisi air putih penuh, ditawarkannya pada Rara.
“Gak mau!” tolak Rara.
“Kenapa? Kamu harus banyak minum Rara, kalau eneuk, minumnya sedikit-dikit dulu aja biar gak mual, biar kamu cepat sembuh, tolong jangan mempersulit saya, saya senang bisa berlama-lama merawat kamu, tapi saya juga sedih melihat kamu sakit seperti ini.”
‘Astagfirullah GR banget ini anak, siapa juga yang mau dirawat sama dia,’ gumam Rara kesal dalam hati. Jelas-jelas sedari tadi dia berusaha mengusir Rio, tapi malah tidak digubris.
“Kalo airnya dicampur obat tidur gimana? Kalo aa macem-macem sama saya gimana?” ujar Rara sewot, melihat Rio sinis.
‘Bismillah,’ gumam Rio. Dia langsung meminum setengah gelas air putihnya, lalu ia serahkan setengah gelas lagi ke Rara.
“Berarti kita sama-sama tidur!” timpal Rio tegas. Sekali lagi Rara dibuat kaget dengan tingkah laku Rio.
Rara tak mau ambil pusing dia ambil gelas yang ditawarkan Rio, dan meminum airnya sedikit demi sedikit. Rio mengeluarkan termometer digital dari tasnya. Dia hendak menembakkan termometer ke telinga Rara. Rara menghindar.
“Diem! ini cuma sebentar,” ujar Rio mulai tegas membuat Rara menurut.
Rara diam, membiarkan Rio menyingkirkan pasmina di daerah telinganya untuk mengukur suhu tubuhnya, Rio melihat hasil termometer.
“38,5,” sahut Rio mengangguk perlahan.
“Rara lepas sweternya ganti pakai kaos longgar, gak baik tubuh demam pake sweter, nanti malah panasnya ngebalik ke badan kamu.”
Rara diam mendengar celoteh Rio hatinya masih dipenuhi rasa kesal.
“Mau saya bukain sweternya? kalo kamu susah, mempersulit saya, saya lepas sweternya dengan paksa. Sekarang kamu istirahat di kamar, lalu lepas sweternya, tutup pintunya tolong jangan dikunci, itu membuat saya kuatir, biar nanti kalo polisinya datang saya bisa panggilkan.” Dan lagi Rara kaget dengan perkataan Rio, dia merasa diancam.
Rara langsung pergi ke kamar, mengunci kamar rapat-rapat menghiraukan perkataan Rio. Hatinya dipenuhi kesedihan dan ketakutan, bagaimana bisa Tia mengirimkan penjaga seperti dia? Capek, lelah, pusing yang dia rasakan, Rara sangat merindukan bu Sriyantika. Dia ingat betapa lembutnya bu Sriyantika ketika merawatnya di rumah sakit dulu.
‘Ya Allah jaga hambamu ini ya Rab.’ gumamnya sembari menyeka air matanya, Rara menangis tak lama tertidur masih lengkap mengenakan pasmina.
TOK TOK TOK “Rara bangun! Rara waktunya minum obat, tolong buka pintunya,” ucap Rio lembut mengetuk kamar Rara. Rara terbangun berbaring menghiraukan Rio.
“Rara kamu gak papa kan? Tolong jawab saya?” ujar Rio terus mengetuk pintu dwngan suara mulai meninggi. Rara masih menghiraukan Rio, tak peduli dia malah menutup kedua telinganya kencang tidak mau mendengar apa pun, tak mau bertemu dengannya.
“Rara saya dobrak ya pintunya,” teriak
Rio menunggu jawaban Rara, dia merasa kuatir tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Oke sekarang saya dobrak ya? kamu menjauh dari pintu!”
DJORRR!!
Rara kaget dengan bunyi pintu yang didobrak Rio, dia langsung bangun dengan posisi duduk di atas kasur.
DJORRR!!
Suara dobrakan pintu yang kedua berhasil membuka pintu kamarnya, Rara tercengang dengan perbuatan Rio.
“AA GILA YA!?” teriak Rara. Rio dengan cepat menghampirinya.
“Kamu gak papa kan?” tanya Rio yang malah mencemaskannya.
“AA YANG KENAPA?!” bentak Rara lagi beranjak dari tempat tidurnya pergi ke ruang tamu.
“Maaf Rara, kamu bikin saya kuatir. Kenapa kamu gak jawab pertanyaan saya tadi?” jelas Rio mengikutinya dari belakang.
HUWIW HUWIW HUWIW
__ADS_1
Mobil polisi datang di depan rumah. Rara langsung pergi ke teras rumah tak sabar ingin segera mengusir Rio dari rumahnya.
“Selamat siang mbak? Apa benar ini kediaman rumah mbak Mutiara?” sahut kedua polisi yang menggunakan seragam.
“Siang pak, benar pak, saya Mutiara. Pak tolong saya didalam ada laki-laki gila yang gak mau pergi dari rumah saya, dia malah mendobrak pintu kamar saya pak!”
“Boleh kita masuk ke dalam? Mbak tunggu sini,” ujar pak polisi yang satunya lagi.
“Silakan pak.”
Kedua polisi langsung masuk rumah, hati Rara berdebar siap-siap melihat Rio ditangkap polisi. Dia menjauh dari pintu dan duduk di teras rumah, entah apa yang harus dia jelaskan pada Tia. Dia pasti marah mengetahui editornya ditahan oleh polisi dan yang melaporkannya adalah dirinya. Kalo saja Rio menurutinya, mau pergi dari rumahnya hal ini tidak akan terjadi.
Cukup lama Rara menunggu di teras, dia duduk di tangga teras yang tersambung dengan halaman rumahnya.
“Ra, masuk yuk, disini anginnya kenceng, kamu kan belum minum obat,” ajak Rio keluar dari pintu menghampirinya.
Rara kaget, dia merasa sangat bingung, ke mana dua polisi tadi yang masuk ke rumah, kenapa tidak menangkap Rio?
“Rara ayo, saya gak mau lho kalo harus gendong kamu ke dalem lagi,” ucapnya santai.
Ucapan Rio malah membuat dia takut, di lihatnya mobil polisi masih terparkir di depan rumahnya. Dia yakin tadi ada dua orang polisi yang masuk ke dalam rumah.
Rara masuk rumah dilihatnya kedua polisi sedang duduk santai tersebut di jamu Rio. Di atas meja ada makanan dan minuman, salah satu polisi tersenyum kepadanya. Rara langsung menghampiri polisi tersebut.
“Bapak tu laki-lakinya, kenapa bapak malah duduk disini?” jelas Rara pada pak polisi mengenakan name tag Bardun.
“Teh tadi a Rio sudah menjelaskan, kalo teteh istrinya a Rio sedang sakit, disini a Rio hanya bertugas merawat teteh. Dan tadi kenapa a Rio mendobrak kamar karna dia kuatir sama teh Rara, kenapa gak ada jawaban dari teh Rara waktu a Rio manggil teteh, saya juga sebagai suami pasti melakukan hal yang sama,” jelas pak Badrun santai.
“BOHONG PAK! Apa yang dia ucapkan itu bohong. Apa buktinya kalo saya istrinya dia?” ucap Rara lantang.
“Teh Rara yang tenang dulu...,” sahut pak polisi menaik turunkan kedua tangannya.
“Teh, teteh bisa bayangin betapa banyak pekerjaan kita, ada pembunuhan, ada penculikan, ada percopetan, ada pencurian, ada pemerkosaan banyak sekali kasus-kasus besar yang kita hadapi diluar sana, banyak orang yang tersakiti diluar sana yang masih jauh membutuhkan bantuan kita. Saya mohon sama teteh jangan membebani kami dengan kasus kecil percekcokan antara suami istri, itu cuma bumbu dalam rumah tangga teh, teteh harus mandiri bisa menghadapinya. Kalo teteh gak kasian sama kami setidaknya teteh kasian sama korban yang jauh lebih membutuhkan waktu dan jasa kami, teteh paham?” Rara terdiam mendengar penjelasan pak polisi, benar pikirnya. Banyak diluar sana yang lebih membutuhkan jasa mereka, Rara malah dibuat merasa bersalah.
“Iya pak saya paham,” ujar Rara malu.
“Ya sudah kami berdua pamit dulu, saya do’a kan semoga teteh sama aa nya cepet rukun, gak baik lama-lama berantem teh, nanti rumah tangganya gak berkah!” ujar pak polisi tersenyum menasihati.
“Aaaamiiiin.” Rio malah mengamini doa bapak polisi, tersenyum. Sebaliknya Rara malah kesal menatap Rio sinis.
“Ya sudah, kita pamit ya, wassalamualikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Rio dan Rara kompak.
Rio mengantar kedua polisi tersebut sampai depan gerbang. Mobil polisi pergi dari rumah Rara. Rara hanya bisa menarik nafas pasrah menghadapi takdirnya dijaga oleh Rio.
“Ganti baju pake ini di kamar, terus habis itu makan, kamu harus minum obat Rara.” Rio menawarkan kaos oblong berbahan katun adem, Rara terpaksa menerimanya.
Rara masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Dia lemparkan tubuhnya ke atas kasur, wajahnya ditutupi bantal meronta-ronta berteriak meluapkan amarahnya dengan kesal.
“Ra kenapa kamu gak papa kan? udah belum ganti bajunya?” tanya Rio di depan pintu kamar.
“BENTAR!” teriak Rara kesal.
Kali ini Rara menuruti semua perkataan Rio, dia tak mau Rio berbuat nekat. Rio selalu mengancamnya sesuatu apabila Rara tak menurutinya. Setelah minum obat, Rio menyiapkan mukena untuk Rara salat dhuhur, Rio menyuruh Rara untuk tayamum dulu, dia mengimaminya di kamar Tia.
“Kamu boleh duduk, kalau gak kuat berdiri.”
“Saya berdiri aja,” jawab Rara jutek.
“Baik, saya kan baca surat-surat pendek, biar kamu tak usah lama berdiri,” ujar Rio tersenyum humble.
ALLOHUAKBAR. Rio dan Rara salat berjamaah di kamar Tia. Selepas salat Rio menyuruh Rara untuk tidur kembali, Rio menunggu di ruang tamu. Ketika Ashar Rio membangunkan Rara, dan menyiapkan mukena untuk salat, begitu pun seterusnya salat magrib dan Isya.
__ADS_1
Semakin lama Rara terbiasa dengan Rio yang menyediakan makanan dan obat untuknya. Dia merasa bersalah pada Tuhannya, dia terus-terusan beristigfar memohon ampun karna dia dilayani oleh seseorang yang bukan mahromnya. Rara berharap Tia cepat pulang tapi itu tidak mungkin, untuk event pertama pasti Tia pulang malam.
Selepas Isya Rio menunggunya di kamar, dia meminjam mushaf Rara membacakan surah Al Baqoroh, dan Rara pun tertidur dengan lantunan suara merdu Rio yang membacakan ayat-ayat suci.