
Assalamualaikum.” sapa Tia, jam setengah tujuh Tia pulang. Rara yang sedang membaca mushafnya berhenti mendengar suara Tia datang.
“Wa’alaikumussalam.” jawab Rio sedang asyik dengan gawainya duduk di kursi.
“Loh kok cepet?” tanya Rio.
“Iya ada sesuatu yang harus...,”
“TIAAA!” teriak Rara girang dengan kepulangan orang yang paling di tunggunya, dia berlari memeluk Tia erat. Rio tersenyum melihat tingkah Rara yang kelewat senang bak anak kecil.
“Aduduh sakit tahu!” ujar Tia mengaduh.
“Gue seneng tau loe cepet pulang, kangen,” rengek Rara sembari merapikan hijabnya.
“A Rio, aa pulang aja, biar sekarang saja yang jagain Rara.” ujar Tia.
Seketika terpasang raut keberatan di wajah Rio, sekan dia masih ingin berlama-lama dirumah itu.
“Tapi...,”
“Aa denger Tia ngomong apa? biar dia yang jagain saya, jadi udah aa pulang aja.” potong Rara cepat, to the point mengusir Rio.
“Ayo a, sama saya dianter ke depan,” ujar Tia.
“Hayu.” jawab Rio terpaksa
“Owh ya a, itu makasih ya udah jagain Rara, maafin dia ya atas sikapnya yang kemarin.” ujar Tia sembari melangkah keluar pintu Rio mengikutinya.
“Jangan sungkan saya malah seneng bisa bantuin kamu.”
Rara melihat mereka mengobrol di depan gerbang cukup lama terlihat akrab, dihiasi tawa. Mereka begitu dekat.
‘Kok mereka akrab banget ya, pake aku kamu lagi. Bukan gaya Tia banget, Apa jangan-jangan Tia selama ini suka sama Rio terus dia jadiin gue modus biar bisa deket sama Rio?’ gumam Rara penasaran
Tia datang menutup pintu rumah, diliatnya Rara membuka hijabnya.
“Loe gak usah pake hijab di depan Rio gak papa kali,” celetuk Tia.
“Diakan bukan mahrom gue!” jawab Rara ketus.
“Ra kata Rio elo tadi tiba-tiba pusing, kenapa?”
“Eh iya, Tia ingatan gue balik.”
“Serius?”
“Iya tapi dikit.”
“Emang elo inget apaan?”
“Waktu gue liat sup ayam buatan Rio, gue inget gue sering bikin itu.”
“Terus?”
“Gak ada lagi cuma itu aja, gue berusaha nginget malah kepala gue sakit banget.”
“Emang elo gak liat ada wajah siapa gitu di ingetan elo?”
“Enggak gue cuma inget gue bikin sup kaldu aja buat seseorang.”
“Siapa?”
“Gue gak tau Tia wajahnya ga jelas.”
Tia menghela nafas iba melihat Rara.
__ADS_1
“Eh tante Sri otw Bandung,” sela Rara tersenyum mengalihkan perhatian Tia.
“Iya gue tau, bentar lagi juga sampe, gue mandi dulu ya,” ujar Tia menyelonong masuk ke kamar.
‘Kok sikap Tia santai aja ya, apa jangan-jangan dia belum tau kalo tante Sri marah?’ gumam Rara.
💚💚💚💚💚💚💚💚
“Assalamualaikum Warohmatullahiwabarokatu.” Suara lembut Bu Sriyantika terdengar di pintu utama. Rara cepat membuka pintu menyambutnya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokatu, Tante.” jawab Rara girang langsung memeluk Bu Sriyantika, dia membantu Bu Sriyantika mendorong kopernya ke dalam rumah.
“Gimana nduk? kamu baikan?” Bu Sriyantika tersenyum hangat, Rara sangat merindukannya.
“Alhamdulillah, baik tante.”
“Mana si Rio Rio itu?” ujar Bu Sriyantika langsung mencari orang yang bernama Rio.
“Udah pulang tante baru aja. Bentar ya tante Rara ambil minum dulu tante pasti capek.”
“Udah-udah gak usah! tante udah istirahat di pesawat, yang sekarang tante butuhkah bukan minum, tante butuh penjelasan kamu, Tia mana?” ujarnya mengantar Rara duduk di sofa.
“Lagi mandi tante. Baru pulang kerja.”
“Ya udah, sekarang kamu cerita sama tante, semuanya!” Bu Sriyantika tak sabar mendengar penjelasan Rara.
“Jadi gini tante Rio itu kakak kelasnya Tia, dia juga karyawan freelance di kantor. Nah dari kemarin Rara sakit, Tia bingung nyari orang buat jagain Rara , jadi dia nyuruh Rio.”
“Kamu gak diapa-apainkan sama dia?”
“Enggak sih tan, tapi kan tante dia tetep bukan mahrom. Rara gak bisa kan satu rumah berdua sama dia? udah dua hari dia jagain Rara.”
“Ya pasti ndak boleh sayang yang ada dosa itu, terus gimana?”
“Ya Rara tau itu salah, Rara usir dia. Dia keras kepala banget tante gak mau pergi, sampe Rara pusing nunguin dia pulang susah banget. Eh tiba-tiba Rara malah dipangku ke dalam rumah, terus di jatuhin ke ranjang.”
“Iya tante kasur Rara!”
“ASTAGFIRULLOHALADZIM!! kurang ajar banget itu anak, berani-beraninya dia gendong-gendong kamu, dosa itu nduk.”
“Iya tante, Rara juga ketakutan. Rara masih pusing, langsung dengan sekuat tenaga pindah ke ruang tamu.”
“Terus?”
“Terus Rara bilang sama dia, aa pulang! kalo aa gak pulang saya panggil polisi!”
“Kamu panggil polisinya?”
“Ya iyalah tante, orang dia ga mau pulang, dia kira Rara main-main, jadi Rara panggil polisi berenan.”
“Terus?” tanya bu Sriyantika makin penasaran.
“Pas polisinya datang, kan Rara disuruh tunggu di luar sama pak polisinya. Rara nunggu diluar lama tante, terus Rio malah keluar nyuruh Rara masuk.”
“Kok bisa?”
“Gak tau tante, pas Rara masuk polisinya malah dijamu sama Rio, Rara malah diceramahi sama pak polisinya.”
“Diceramahi gimana?”
“Katanya Rara cuma ganggu waktu mereka, mereka di luar sana ngadepin kasus besar seperti pencopetan, pencurian, pemerkosaan, banyak orang yang tersakiti diluar sana yang masih jauh membutuhkan bantuan mereka. Jadi aja Rara diminta jangan membebani mereka dengan kasus kecil percekcokan antara suami istri, itu cuma bumbu dalam rumah tangga katanya, Rara harus bisa ngehadapinya. Rara harus kasian sama korban yang jauh lebih membutuhkan waktu dan jasa mereka, malah Rara yang dibuat bersalah tante, jadi aja pak polisinya pergi.”
“Itu si Rio ngaku-ngaku kalo dia suami kamu?”
“Sering tante bukan cuma sama pak polisi sama temennya juga, Rara sering dikira istrinya tapi dia gak nyangkal tante.”
__ADS_1
“Terus gimana?”
“Ya akhirnya Rara pasrah tante dirawat sama dia, Rara lapor sama Tia, Tia malah belain Rionya.”
“TIA bener-bener keterlaluan Rara, bagaimana bisa dia ngebiarin kamu tinggal bareng sama laki-laki, tante gak pernah ngajarin kaya gitu sama dia, pikirannya gimana sih dia?” gerutu Bu Sriyantika marah mengomel.
“MAMIHHH?” teriak Tia girang keluar dari kamar dengan Rambut basah, dia sudah Rapi memakai piama panjang.
“TIAAA!!” teriak Bu Sriyantika kesal tapi Tia malah langsung memeluk mamihnya kencang, menghiraukan bentakannya.
“TIA LEPAS, jelasin sama mamih!apa bener kamu nyuruh Rara tinggal seharian sama laki-laki?”
Bu Sriyantika marah besar, Rara sampai kaget. Dia tidak pernah melihat Bu Sriyantika semarah ini, bahkan pada Bagas pun yang menyakiti hati Rara. Dia tidak pernah melihatnya berteriak membentak-bentak.
“Mih, mamih salah paham bukan tinggal tapi jagain!” jelas Tia santai berusaha menenangkan mamihnya.
“APA BEDANYA! Memangnya gak ada apa, perawat atau penjaga perempuan di Bandung, emang harus laki-laki? Dosa nak Dosa!!” suara lantang Bu Sriyantika membuat telinga Tia sakit, Tia malah dengan santai menyelonong naik tangga.
“Kamu tau peris agama kita melarang itu! Kamu keterlaluan Tia, kamu mau kemana?!” teriak Bu Sriyantika mengomel mengikuti Tia dibelakangnya.
“Ke atas mih, Tia siapin kamar mamih, sekalian kita ngomong di kamar,” ujarnya santai.
“Kamu tau gak? Laki-laki itu udah berani gendong-gendong Rara ke kasur! Itu yang namanya ngerawat? Tia kamu denger gak sih, apa yang mamih omongin? Mamih udah percaya sama kamu, kenapa kamu melanggar kepercayaan Mamih, TIAA...?!”
DJORR. Suara pintu kamar tertutup kencang, Bu Sriyantika kesal membanting pintu kamar di atas. Sedangkan Rara di bawah memaku, cemas. Dia merasa bersalah pada Tia membuat Bu Sriyantika memarahinya. Rara tidak berani mendekati kamar Bu Sriyantika, didengarnya suara Bu Sriyantika samar-samar masih mengomel. Dia lebih memilih masuk ke kamarnya dan berzikir meminta perlindungan pada Maha Kuasa.
Selepas salat isya Rara keluar kamar, dia mengecek keadaan rumah terlihat sepi.
‘Kok tante Sri belum keluar kamar? Apa dia masih marah sama Tia ya? susul jangan ya?’ gumamnya gelisah.
Rara memutuskan menunggu Tia turun, lama sampai dia ketiduran di kamarnya. Adan subuh membangunkannya, dia hendak ke air mengambil wudhu diliatnya Tia tidak ada disampingnya. Rara keluar kamar, dia berpikir Tia marah lalu tidur di kamar sebelah. Rara perlahan membuka kamar sebelah, ternyata kosong.
‘Masa sih, Tia tidur sama tante Sri?’ gumamnya.
Rara memutuskan berwudu untuk salat subuh. Selepas salat bu Sriyantika mengetuk pintu kamarnya.
“Assalamualaikum nduk, Rara?”
“Wa’alaikumussalam, masuk tante.” jawab Rara.
Bu Sriyantika menghampirinya duduk di samping Rara yang masih duduk di atas sajadah.
“Nduk tante sama Tia mau keluar dulu sebentar ada urusan. Kamu di rumah dulu gak papa ya, nanti sebentar lagi kan bi Atik datang.”
“Tante Tia marah ya sama Rara, tante marahin Tia nya jangan lama-lama tante. Tia gak sepenuhnya salah, dia cuma nyuruh Rio jagain Rara aja tante,” ujar Rara memelas membela Tia, merasa bersalah.
“GR banget sih Ra, sapa juga yang marah sama loe. Orang gue kangen sama mamih, jadi aja tidur bareng sama mamih.” Tia datang menyender di pintu kamar.
“Nduk tante sama Tia pergi sekarang ya?”
“Tapi Rio tante?”
“Iya. Dia gak kan berani kesini tanpa ijin tante ko, kamu gak papa sendirian sebentar?”
“Gak papa tante.”
Bu Sriyantika dan Tia berangkat menggunakan mobil Tia. Jam setengah tujuh bi Atik membangunkan Rara, rumah masih sepi mereka belum pulang rupanya.
“Bi tante Sri sama Tia belum pulang?” tanya Rara di ruang makan.
“Belum non, non makan duluan aja, kan harus minum obat?” ujar bi Atik tersenyum.
“Sini bi temani saya makan.”
“Haduh, Bibi barusan sudah makan non, Bibi temani non duduk disini aja ya?” ujarnya duduk disebelah Rara.
__ADS_1
Rara menikmati sarapannya antara nafsu tak nafsu karna masih memikirkan Tia. Pikiran negatif terus menggandrunginya. Kenapa mereka lama sekali pergi. Mengingat kejadian kemarin beribu kecemasan menghantui Rara. Apakah bu Sriyantika memberikan hukuman yang berat pada Tia sehingga membuat mereka lama diluar.
Dia berdoa semoga Allah melindungi Tia.