
Bu Sriyantika datang jam setengah sebelas ke rumah Ayu. Dia menjelaskan detail pada Rara pertemuan dirinya dengan keluarga Bagas pagi ini.
“Mbak bos, kok aku malah mesake mbe mas Bagas ya.”(Mbak kok aku malah kasian sama mas Bagas ya?) ujar Ayu sedih yang sedang memasak ditemani Tia yang bercerita tentang Bagas di dapur.
“Hust , ya gimanapun Bagas itu suami orang, apa yang dia lakuin salahlah. Ditambah lagi dia bohongin kita.” jelas Tia yang sudah mendengar penjelasan dari mamihnya sewaktu menjemputnya dijalan.
“ Iya ya lali aku (iya ya lupa aku), lagian kenapa sih yang namanya mantan tu bikin rusuh terus.” gerutu Ayu gemas.
“ Iya itu dia, makanya ada istilah buanglah mantan pada tempatnya. Tempat sampah!” gerutu Tia kesal.
#
“Nduk sekarang tante serahin ke kamu, tante harap kamu bijak dalam mengambil keputusan.” ujar bu Sriyantika berbincang di kamar Rara.
“Rara cinta sama Bagas tante.” isaknya.
“Bahkan sampai sekarang, ketika hari ini...” dia diam sejenak berusaha mengambil tenaga untuk berbicara, bu Sriyantika yang melihatnya iba.
“... hari ini Bagas masih perhatian ngirim makan siang buat Rara, Rara bahagia tante. Rara bisa aja menerima Bagas kembali dan menerima cintanya, tapi Rara tau itu salah tante, itu bukan jalan keluar yang terbaik tante, Rara tidak mungkin berbahagia diatas penderitaan orang. Ranti masih istri Bagas tante, dan Rara yakin melihat kejadian kemarin dia tidak mau kehilangan Bagas, bukan karna hanya harta tante. Mau bagaimanapun yang Bagas lakukan itu salah tante. Rara gak mau tante, Rara gak bisa!”
Rara menangis air matanya mengalir deras, Bu Sriyantika langsung memeluknya dan mengelus-ngelus wanita yang sudah dianggap anak tersebut.
“Tante bangga sama kamu Rara, semoga ALLAH selalu menjagamu nduk.”
“Rara gak mau ketemu sama Bagas dulu tante, itu bisa bikin Rara dilema tante. Rara takut, ketika dia bujuk Rara, Rara takut Rara gak bisa lihat mana yang benar mana yang salah. Rara butuh waktu tante.” isaknya berbicara dipelukan bu Sriyantika membuatnya lebih tenang.
“Ya sudah nanti tante sampaikan ke Bagas, kamu yang tenang dulu aja ya?” Rara mengangguk mengiyakan.
Bu Sriyantika pulang bada Ashar diantar Tia. Tia kembali ke rumah Ayu badha isa. Mamihnya menyuruhnya untuk menemani Rara, bu Sriyantika merasa kuatir dengan keadaan Rara.
“Ini hp loe, dan ini kartu perdana yang lo minta. Ada banyak telpon dan Wa dari Bagas. Berisik, jadi hpnya gue matiin, tapi pesanya belum gue buka.” ujar Tia dikamar Rara.
“Tolong blokir nomor Bagas dan Mila, hapus semua pesan dari Bagas, ganti nomor gue pake nomor perdana yang loe beli.” ujar Rara membuang pandangan berusaha tegar.
“Loe yakin ga kan baca pesan WA dari Bagas dulu?”
“Enggak ti, gue gak mau, gue takut ti, gue takut gue gak tega dengan isi pesanya dan membuat gue berfikir untuk balik sama dia.” ucap Rara tegas.
Rara tak mau memberinya kesempatan untuk mengambil suatu langkah yang salah.
“Ok!” Tia langsung membongkar hp Rara, dan mengganti sim card, dia juga memblokir kontak Bagas dan Mila.
Hari Senin Rara kerja kembali seperti biasa, keadaan kantor berjalan seperti biasa, Tia tentunya mengadakan brifing semua stafnya untuk bersikap seperti biasa seolah-olah tidak ada apa-apa.
“Assalamualaikum.” salam Arif masuk ke kantor Tia.
“Wa’alaikumussalam.” jawab Rara duduk diatas sofa yang sibuk dengan berkas-berkasnya.
“Lho bubos cantik, bubos galaknya dimana?”
“Gue disini!” jawab Tia yang baru keluar dari toilet.
__ADS_1
“Eh ini bu bos laporanya.” menyerahkan beberapa map ke Tia, Arif melihat Rara menghampirinya hendak menggodanya.
“Bubos cantik saya mau minta maaf.”
“Minta maaf?” tanya Rara heran.
“Gara-gara sayBu Sriyantika datang jam setengah sebelas ke rumah Ayu, Tia menjemputnya dari rumah. Bu Sriyantika menjelaskan detail pada Rara pertemuan dirinya dengan keluarga Bagas pagi ini.
“Mbak bos, kok aku malah mesake mbe mas Bagas ya.”(Mbak kok aku malah kasian sama mas Bagas ya?) ujar Ayu sedih yang sedang memasak ditemani Tia yang bercerita tentang Bagas di dapur.
“Hust , ya gimanapun Bagas itu suami orang, apa yang dia lakuin salahlah. Ditambah lagi dia bohongin kita.” jelas Tia yang sudah mendengar penjelasan dari mamihnya sewaktu dijalan.
“ Iya ya lali aku, lagian kenapa sih yang namanya mantan tu bikin rusuh terus.” gerutu Ayu gemas.
“ Iya itu dia, makanya ada istilah buanglah mantan pada tempatnya. Tempat sampah!” gerutu Tia kesal.
#
“Nduk sekarang tante serahin ke kamu, tante harap kamu bijak dalam mengambil keputusan.” ujar bu Sriyantika berbincang di kamar Rara.
“Rara cinta sama Bagas tante.” isaknya.
“Bahkan sampai sekarang, ketika hari ini...” dia diam sejenak berusaha mengambil tenaga untuk berbicara , bu Sriyantika yang melihatnya iba.
“... hari ini Bagas masih perhatian ngirim makan siang buat Rara, Rara bahagia tante. Rara bisa aja menerima Bagas kembali dan menerima cintanya, tapi Rara tau itu salah tante, itu bukan jalan keluar yang terbaik tante, Rara tidak mungkin berbahagia diatas penderitaan orang, Ranti masih istri Bagas tante, dan Rara yakin melihat kejadian kemarin dia tidak mau kehilangan Bagas, bukan karna hanya harta tante. Mau bagaimanapun yang Bagas lakukan itu salah tante. Rara gak mau tante Rara gak bisa!”
Rara menangis air matanya mengalir deras, Bu Sriyantika langsung memeluknya dan mengelus-ngelus bahunya.
“Tante bangga sama kamu Rara, semoga ALLAH selalu menjagamu nak.”
“Ya sudah nanti tante sampaikan ke Bagas, kamu yang tenang dulu aja ya?” Rara mengangguk mengiyakan.
Bu Sriyantika pulang bada Ashar diantar Tia. Tia kembali ke rumah Ayu badha isa, mamihnya menyuruhnya untuk menemani Rara, bu Sriyantika merasa kuatir dengan keadaan Rara.
“Ini hp loe, dan ini kartu perdana yang lo minta. Ada banyak telpon dan Wa dari Bagas. Berisik, jadi hpnya gue matiin, tapi pesanya belum gue buka.” Ujar Tia dikamar Rara.
“Tolong blokir nomor Bagas dan Mila, dan hapus semua pesan dari Bagas, ganti nomor gue pake nomor perdana yang loe beli.” ujar Rara membuang pandangan berusaha tegar.
“Loe yakin ga kan baca pesan WA dari Bagas dulu?”
“Enggak ti, gue gak mau, gue takut ti, gue takut gue gak tega dengan isi pesanya dan membuat gue berfikir untuk balik sama dia.” ucap Rara tegas.
Rara tak mau memberi kesempatan pada dirinya untuk mengambil satu langkah yang salah.
“Ok!” Tia langsung membongkar hp Rara, dan mengganti sim card, dia juga memblokir kontak Bagas dan Mila.
Hari Senin Rara kerja kembali seperti biasa, keadaan kantor berjalan seperti biasa, Tia tentunya mengadakan brifing semua stafnya untuk bersikap seperti biasa seolah-olah tidak ada apa-apa.
“Assalamualaikum.” salam Arif masuk ke kantor Tia.
“Wa’alaikumussalam.” jawab Rara duduk diatas sofa memeriksa file.
__ADS_1
“Lho bubos cantik, bubos galaknya dimana?”
“Gue disini!” jawab Tia yang baru keluar dari toilet.
“Eh ini bu bos laporanya.” menyerahkan beberapa map ke Tia, Arif melihat Rara menghampirinya.
“Bubos cantik saya mau minta maaf.”
“Minta maaf?”
“Gara-gara saya pernikahan bubos cantik gagal.”
Tia kaget mendengar ucapan Arif, dia ancang-ancang ingin menghajar anak buahnya yang mengingatkan Rara pada kejadian pahitnya.
“Gimana?” tanya Rara heran.
“Iya bubos cantik, tiap hari Arif berdoa agar bubos cantik mau menikah sama saya. Setiap malam saya berdoa semoga pernikahan bubos gagal, dan ternyata Allah lebih sayang sama Arif karna kesalehan Arif bu bos, jadi Allah mengabulkan doa-doa Arif, maafin Arif bu bos.” ujar Arif Pd, membuat Rara tertawa.
“Karna kesalehan mas Arif pernikahan saya gagal? Hahaha.”
Melihat tawa Rara, Tia yang biasa marah melihat Arif menggombalinya, kali ini dia tidak memotong dan membiarkan mereka ngobrol, sosok Arif yang selalu humoris membuat Rara tertawa.
“Assalamualaikum?” salam Sinta masuk ke ruang Tia.
“Lho mas Arif itu ditunggu sama pak Toni.” sahut Sinta ke Arif, kliennya sudah menunggu dari tadi.
“Owh iya gue lupa, bubos cantik saya pamit dulu ya?” Rara menangguk. “Boss duluan ya?” Arif pamit ke Tia lalu berlari keluar dari kantor.
“Mbak ini ada makan siang lagi dari mas Bagas lagi, trus ini ada paket, sama ini kemarin amplop buat mbak Rara saya waktu Sabtu kemarin lupa dikasihin ke mbak.” Sinta menaruhnya diatas meja.
“Makan siangnya buat anak-anak aja Sin, makasih ya paket sama amplopnya?”
“Paket dari sapa ra?” tanya Tia menghampirinya.
“Gak tau, gak ada nama pengirimnya.”
“Gue buka ya amplopnya.” ujarnya ikutan Kepo.
Rara mengangguk, dia sibuk mengotak-ngatik paket kardus seukuran kardus sepatu, dibungkus kertas kado warna coklat.
“Astagfirullah.” Tia langsung terkejut melihat isi amplop.
“Kenapa?” tanya Rara penasaran langsung merebut amplopnya. Dia kaget, diliatnya foto dirinya dicoret coret tinta merah, di belakangnya ada tulisan PELAKOR.
Tia langsung membuka paketnya, Rara pun dengan cepat merapat pada Tia ingin mengetahui isi dari paket tersebut. Mereka berdua semakin terkejut melihat isi paket ada boneka Tedi putih yang ditusuk-tusuk paku, wajah boneka dihiasi potongan foto Rara dan surat kaleng berisi tulisan
JANGAN GANGGU SUAMIKU PELAKOR!!
“Wah gila tu cewe berani macem-macem.” gerutu Tia marah, Rara terlihat cemas.
“Hatinya pasti hancur ti, gue yang salah gue yang bodo.” ujarnya terisak menyesal.
__ADS_1
“Ya bukan salah elolah ra, kalo elo tau si Bagas udah punya istri dari awal juga gak kan kaya gini!” bela Tia pada Rara. “Kita lapor polisi aja!” tambahnya.
“Jangan, dia lagi cemburu, lama-lama juga nanti ilang sendirinya.” ujar Rara yang merasa malu karna sudah mengacaukan rumah tangga orang lain.