
“Halo Yu, hari ini loe jangan langsung pulang, elo ke rumah sakit ya!” ujar Tia menelpon Ayu.
“Lho mbak siapa yang sakit, mbaknya sakit?” tanya Ayu kuatir.
“Enggak, pokoknya nanti kita ketemu disini, loe boleh pulang dulu bawa salin.”
“Lho gimana mbak?” tanya Ayu yang masih bingung dengan instruksi atasannya.
“Nanti gue jelasin disini! Wassalamuaalaikum!” Tia langsung menutup telpon. Dia bersandar di dinding, diam sejenak menghela nafas panjang. Berharap bisa mengusir sedikit kepanikannya.
Sudah mulai tenang, kemudian Tia masuk ke sebuah ruangan VIP. Dari pintu masuk terdapat lorong kecil berjarak dua meter. Lorong yang menembus ke sebuah kamar yang besar. Di sebelah kiri ruangan terdapat sepasang sofa cream berbahan kulit memanjang dihiasi meja kayu kotak beralaskan kaca megah. Tak jauh disebelah nya terdapat ranjang pasien. Di sana berbaring wanita yang ditabraknya kemarin. Bu Sriyantika duduk di kursi chitose samping ranjang pasien. Dia yang sedang khusyuk membaca mushaf terhenti melihat Tia datang yang langsung melemparkan tubuhnya di sofa.
“Gimana nduk? Dokter bilang apa?” Bu Sriyantika langsung memburu Tia tak sabar.
Tia menghela nafas panjang lagi, dia melihat wajah mamihnya yang dipenuhi kecemasan dan penasaran.
“Katanya kondisinya semakin membaik Insya Allah besok kalo gak ada halangan apa-apa dia bakal bangun mih.”
“Alhamdulillah, terus, terus?”
“Ta-pi!”
“Tapi apa nduk?”
“Intinya aja ya mih.”
“Iya apa tho? mamih penasaran nih.”
“Ada konsekuensi dari luka di bagian kepalanya, dokter masih memperkirakan. Dokter nyuruh kita berdoa terus mih, mudah-mudahan itu gak terjadi.”
“Apa? apa? ”Mamihnya makin diliputi rasa penasaran. Tia malah diam melihat iba kearah pasien, merasa bersalah.
“Tia apa?” rengek mamihnya membubarkan lamunannya.
“Amnesia mih.”
“Astagfirullah.” Maminya tercengang mendengar perkataan putrinya.
“Tapi itu masih perkiraan mih, kita berdoa aja mudah-mudahan gak terjadi apa-apa.”
Bu Sriyantika beranjak dari sofa menghampiri pasien, perlahan duduk di kursi memperhatikan wajah pasien.
‘Masih muda,’ gumamnya iba dalam hati, ‘Semoga Allah selalu melindungimu nduk.’
“Dia mirip kamu Tia,” ujar mamihnya lirih tak tega,“ umurnya mungkin di bawah kamu.”
Sejenak ruangan hening, tak ada kata.
“Mih kemarin... ta-di pagi juga Tia balik ke tempat kecelakaan. Tia nyari mbak ato mas yang kemarin, mau nanyain identitas si mbaknya, tapi gak ketemu,” ucap Tia malu gagal dalam usahanya.
“Kamu sendirian ke sana?!” tanya mamihnya kaget, Tia mengangguk.
“Tia kalo ada apa-apa sama kamu gimana tho? Apalagi itu si masnya temperamental gitu!” gerutu mamihnya mencemaskannya.
“Awalnya Tia juga ragu mih, tapi Tia kasian mih.”
“Kita harus lapor Tia, lapor ke kantor polisi.” Tia langsung gemetar mendengar ucapan mamihnya. Dia takut ditangkap polisi, bagaimana kalo dia masuk penjara?
“Mih, enggak mih! Tia belum siap mih Tia takut.”
“Tia sayang, pasti dia punya keluarga, kasian dia, keluarganya pasti nyariin,” sahut bu Sriyantika menghampirinya.
“Ta-pi miihh....”
“Tia kita lapor jangan karna kecelakaan, kamu lapor aja dulu sebagai orang hilang aja dulu.” Potong mamihnya membuat Tia diam berfikir. “Mau ya sayang?” bujuk mamihnya mengusap lengan Tia lembut.
“Mih Tia mau salat Ashar dulu sebentar, nanti kita lanjut lagi obrolannya,” elak Tia menghindar langsung pergi berwudu.
Bu Sriyantika kembali mendekat pada pasien sembari mengusap-usap tangannya. Tangan yang lembut nan lemah tak berdaya. Dia memutuskan kembali mengaji mendoakannya.
Sehabis salat Ashar Tia bermunajat pada sang Khalik meminta ampun, dia menyadari semua ini adalah hukuman sudah membenci papihnya dan bertengkar dengan mamihnya pada saat itu. Tia menangis tersedu-sedu, hatinya dipenuhi rasa penyesalan yang teramat dalam. Bu Sriyantika yang sedang membaca mushaf berhenti melihat putrinya menangis, mengerti akan perasaan putrinya. Dia langsung menghampiri Tia, memeluknya, memenangkannya. Menguatkannya.
“Mihh...,” ucap Tia manja terisak menangis. “Tia minta maaf mih sama mamih, ini semua terjadi gara-gara Tia mih.” Dia menangis semakin deras merasa berat atas apa yang terjadi menimpa dirinya.
“Hust sudah nduk sudah.”
Mamihnya menyeka air mata dan mengelus-ngelus wajah putrinya. Terlihat jelas penyesalan yang teramat di wajah yang dikasihinya.
“Semua ini sudah terjadi atas kehendak yang di Atas Tia, kita harus sabar, kamu harus sabar.” Tia bersandar pada pelukan mamihnya, melepaskan bebannya.
“Ini bukan sepenuhnya salah kamu sayang, coba saja kalo mamih ndak maksa nyuruh kamu ta’aruf, ini pasti semua gak kan terjadi. Maafin mamih juga ya sayang,” sahut mamihnya ikut menyesal. Tia mengangguk perlahan.
__ADS_1
“Nduk, cantik, dengerin mamih!” Bu Sriyantika langsung meraih wajah Tia, menatap dalam-dalam mata hazel putrinya.
“Sayang mamih berterima kasih banget sama kamu, kamu masih sayang sama papih.” Tia diam mendengar celoteh mamihnya, air matanya masih berjatuhan.
“Apa pun yang terjadi kamu harus percaya Tia, kamu harus percaya kalo papih kamu tu orang baik.” Tia mengangguk cepat dalam tangis, memeluk mamihnya lagi.
💚💚💚💚💚💚💚
DRRT! DRRT! Gawai Tia bergetar, tertulis nama Ayu dilayar. Tia cepat mengangkat panggilan Ayu.
“Hallo Assalamualaikum Yu, dimana Yu?”
“Wa’aikumussalam mbak. Mbak dimana? mbak saya sudah nyampe di Rs ni?”
“Di ruang mawar no satu yuk, VIP.”
“Oh ok ok mbak Assalamualaikum mbak.”
“Wa’aikumussalam.”
Diliatnya terdapat beberapa pesan Whatsapp dari Ayu yang belum dibaca. Rupanya Ayu sudah datang sedari tadi menanyakan keberadaan Tia.
“Siapa nduk?” tanya Mamihnya menghampirinya duduk di sofa.
“Ayu mih, mih mamih pulang ya!”
“Ndak mau mamih, mamih mau nginep sini aja, lagian di sini juga bisa tidur.”
“Jangan gitu dong mih, malem mamih udah nginep di sini. Liatin itu mamih mukanya udah capek gitu, kalo di sini ‘kan mamih gak bisa istirahat full. Mamih juga harus pikirin kesehatan mamih dong,” ucap Tia kuatir.
“Mamih gak tega kalo harus ninggalin kamu sendirian, lagian dia kan belum siuman Tia,” ujar Bu Sriyantika sekilas melihat ke arah pasien.
“Mamih tenang aja, aku disini sama Ayu!” Tia tersenyum lebar sembari mengelus lembut bahu mamihnya. Bu Sriyantika terpaksa mengangguk setuju mengikuti perkataan Tia.
Teng Tong! “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Terdengar samar Ayu berteriak mengucapkan salam.
“Wa’aikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Kompak penghuni ruangan menjawab salam, Tia langsung beranjak menyambut Ayu.
“Masuk Yu!” ujar Tia tersenyum membuka pintu. Raut muka Ayu langsung girang melihat bosnya, diliatnya Tia dari atas sampai bawah.
“Kenapa Yu? Ayo masuk?”
Dia memutar-mutar badan Tia ke kiri ke kanan. Memeriksa memastikan Tia baik-baik saja.
“Aduh duh duh, yuk yuk stop!” Tia memegang kedua tangan Ayu yang dari tadi meraba-raba badannya.
“Aduduh mbak aku ki wes (udah) panik mbak, panik! Aku kira mbak ki kenapa napa, dari kemarin mbak gak masuk kantor teruss...,” Ayu berceloteh dengan suara lantang.
“Sstttt!” Tia menaruh telunjuknya di depan mulut Ayu. “Jangan berisik! ada orang sakit di dalem, udah ayo masuk!”
Ayu langsung mengikuti Tia masuk. Mulutnya masih bergumam berbisik dengan suara yang masih terdengar gaduh.
“Yo tho mbak, gimana aku...,” Diliatnya bu Sriyantika sedang duduk di sofa. “eh tante, Assalamualaikum tante.” Ayu langsung menyambut tangan bu Sriyantika mencium punggung tangannya.
“Apa kabar nduk?”
“Baik tante, tante gimana sehat?” bu Sriyantika tersenyum mengangguk, Ayu melihat keranjang pasien. Penasaran siapa yang sakit.
“Tante siapa yang sakit?” tanyanya, Bu Sriyantika diam entah bagaimana harus menjawab pertanyaan Ayu, dia langsung melihat ke arah Tia.
“Mih mamih telpon pakde No ya, suruh siap-siap kebestment. Mamih langsung pulang. Ayo mih Tia anter ke besment.” Potong Tia cepat, sebelum mamihnya menjawab pertanyaan Ayu.
Ayu diam, dia mengerti pasti ada sesuatu yang tidak boleh dia ketahui kalo bosnya memotong pembicaraan.
“Yu tante pulang dulu ya, makasih ya Yu udah mau nemenin Tia.”
“Owh siap tante ndak popo, nih aku udah bawa salin,” ujar Ayu tersenyum menepak-nepak ransel gemuk yang dibawanya.
“Yu gue tinggal dulu bentar ya, ayo mih.” Tia langsung menuju lorong yang terhubung dengan pintu keluar.
“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Yu!” ujar Bu Sriyantika pamit.
“Wa’aikumussalam Warohmatullahiwabarokatuh, tante.” dia langsung mengambil tangan kanan bu Sriyantika, salim.
Ditinggal nya Ayu di ruangan tersebut, Ayu mulai dihantui rasa penasaran siapa yang terbaring di ranjang pasien. Dia mengangkat lehernya tinggi-tinggi melihat lihat ke arah pasien. Lalu dia memutuskan beranjak dari sofa dan berjalan perlahan menuju pasien. Begitu hati-hati dia melangkahkan kakinya berusaha tidak mengeluarkan suara. Dia berharap agar si pasien tidak terganggu dan terbangun dengan apa yang dilakukannya.
Semakin lama semakin jelas secarik wajah bening berkulit putih yang sedang terlelap. Kepalanya diikat perban, bibirnya yang pias pucat, alis matanya begitu tipis, rambutnya terurai hitam lebat disebelah kanan kirinya.
'Iki turu opo pingsan?’ ( ini tidur atau pingsan?) gumamnya penasaran.
‘Mayan ayu yo.’ ( lumayan cantik ya?) gumamnya lagi memuji salah satu keindahan makhluk yang diciptakan sang Khalik. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan muka pasien, memeriksa si pasien tertidur ato tidak.
__ADS_1
“Ngapain loe!” bentak Tia tiba-tiba membuat Ayu kaget memegang dadanya.
“Mbaknya bisa gak tho ndak ngagetin wong ( orang), nanti yen aku jantungan piye ( gimana)?” gerutu Ayu masih mengelus-ngelus dadanya.
“La ko bentar nganter mamih’e ?”
“Barusan ketemu pakde No di depan, mamih nyuruh cepet-cepet gue kesini, kasian loe katanya.”
“Owalah, mamih njen perhatian yo mbe (sama) aku, iku sopo tho ( itu sapa) mbak?” tanya Ayu penasaran dengan identitas pasien.
“Yu, loe temanin gue nginep sini ya, nanti gue itung lembur ya?” ujar Tia mencoba mengalihkan perhatian Ayu.
“Mbak ki koyo mbe sopo wae, uwes mbak, ndak sah lembur-lemburan, sing penting perutku wareg malem ni ndak popo, cukup aku.” ( mbak tu kaya sama sapa aja, gak usah lembur-lemburan, yang penting perutku kenyang.) ujar Ayu sembari menghampiri Tia duduk di sebelahnya.
“Bener nih?”
“Eh ada satu lagi mbak.” Potong Ayu cengengesan.
“Apa?”
“Hehehe besok ijinin aku masuk siang yo?” bujuk Ayu menaik turunkan alisnya. Tia mengangguk setuju dengan persyaratan Ayu.
“Mbak, mbak ki ko ndak jawab aku tho, iku sopo?” ( mbak kok gak jawab tho, itu siapa?)
Tia terdiam mendengar pertanyaan Ayu, dia berfikir keras menyusun alibi yang pas menjawab pertanyaan Ayu.
“Owh itu kemarin i-tu mamih sama gu-e nemu dia di pinggir jalan. Dia keserempet mobil katanya,” jawab Tia berusaha santai tidak jujur pada Ayu, dia merasa malu pada dirinya sendiri.
“Owalah mesake (kasian) ya mbak, kasian aku liatnya. La terus yang nyerempetnya mana? dia tanggung jawab tho, la ko malah mbak yang disini?”
“Gak tau yu, gak ada kabar,” ucapnya berbohong lagi.
“OWALAHH, Wong edan! uwes nyelakani uwong, Ra tanggung jawab meneh, ngrepoti wong lio wae...!” ( o dasar orang gila, udah bikin orang celaka, gak tanggung jawab lagi, ngerepotin orang lain aja) gerutu Ayu lantang.
Ssttt!
Tia memotong memperingatkan Ayu untuk tidak berisik. Ayu langsung membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri sadar akan suara lantangnya.
“Maaf mbak maaf, aku ki kesel to, yen aku ketemu orang yang bikin dia kaya gini ni, uwes tak plites plitesss...tes ...tes..tes.” ( maaf mbak, aku kesal, kalo aku ketemu orangnya yang udah bikin dia kaya gini, dah aku plites tes tes) Ayu menepak-nepak kepalan tangannya kesal.
Tia tersenyum paksa pada Ayu merasa tidak enak dengannya. Terlebih jika Ayu tau kalo dialah penyebab kecelakaan itu terjadi.
“Mbak tak do’a ne mugi-mugi kebaikan mbak sama mamih dibalas sama Allah Subhanallohuawatala.”
Tia mengaminkan omongan Ayu. Dia tidak berharap lebih atas kejadian yang menimpa dirinya, yang paling dia inginkan adalah ampunan Rab-nya atas kesalahan terbesarnya yang dia lakukan.
💚💚💚💚💚💚💚
Udara malam begitu dingin, Semarang yang identik dengan hawa panas malam ini dihiasi gerimis. Di sebuah kamar utama yang besar, ada seorang wanita paruh baya yang sedang bersujud lama bermunajat memohon pada yang Maha Kuasa, dalam sujud akhirnya. Dia mendoakan putri semata wayangnya. Lalu dia bangun melakukan tahiat akhir. Tertera jelas bekas air mata di atas sajadahnya. Dia membaca bacaan salat dengan tertatih-tatih. Sesekali dia menghentikan bacaan karna berusaha fokus menguatkan diri mengumpulkan kekhususannya dalam beribadah. Air matanya masih mengalir deras sebisa mungkin dia tahan untuk tidak dia seka, agar dia bisa menjaga gerakan salatnya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap bu Sriyantika yang melakukan salam menutup salatnya.
Dia langsung berzikir menyebut nama Allah, mulutnya begitu khusuk mengucapkan takbir, tahmid, tasbih serta salawat nabi. Setelahnya dia menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas setinggi wajahnya, wajahnya yang sayu berharap-harap cemas dihadapkan ke atas.
“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbayaa nii shaghiiraa, Ya Alloh ya tuhanku AL Ghaffaar ampunilah dosa hamba ,ya Allah ampunilah dosa putri hamba yang saat ini sedang kau uji, jangan sampai dia berkecil hati menghadapi besarnya masalah yang kau berikan karna engkau Maha besar ya Rab, sungguh tidak hal yang sulit bagi-Mu tapi kami hambamu lemah ya Rab....” bu Sriyantika diam sejenak terisak.
"Oleh karna itu itu berilah kekuatan kepada kami semua untuk menghadapi semua ujian Mu. Ya Allah As Salam berilah keselamatan pada kami berdua ya Allah, dan berikanlah kesembuhan pada wanita yang tidak sengaja Tia tabrak, angkatlah penyakitnya, tidak ada kesembuhan yang sempurna selain kesembuhan-Mu yang tidak menimbulkan penyakit lain. Karna engkau Maha penyembuh. Aaaamiiiin.”
TOK TOK TOK! “Permisi Ndoro ini tehnya ndoro,” sahut mbok Sum sambil menaruh teh di atas meja.
“Makasih mbok.”
“Owh ya ndoro, makanannya udah siap, tadi non Tia telpon, nyuruh saya memastikan ndoro mau makan malam.”
“Iya, nanti saya turun saya ke bawah sebentar lagi ya.”
“Baik ndoro.”
“Mbok?” panggil bu Sriyantika menahan langkah mbok Sum yang hendak pergi keluar.
“Satu lagi, panggilkan pakde No ya, sebentar lagi siap-siap nemenin saya makan malem tunggu di meja makan ya?”
“Owh iya ndoro.”
Begitu sederhananya bu Sriyantika , Allah menganugerahi hatinya dengan kebaikan. Terkadang dia menyuruh pegawainya makan bersamanya satu meja.
Dia membuka mukenanya lalu duduk di sofa kecil, di sebelah nya ada lemari mini dihiasi bunga dengan vas cantik. Bu Sriyantika meminum teh yang disediakan mbok Sum, dia menghela nafas dalam, beristigfar.
Bu Sriyantika membungkuk membuka laci kecil di dalam lemari mengambil sebuah album berwarna coklat. Dibukanya album itu helai per helai dengan wajah haru. Terkadang dia tersenyum, terkadang dia menangis sendu. Album yang berisikan kenangan bahagia ketika keluarganya masih utuh. Beberapa lembar setelah membuka helai album terdapat foto yang paling dia sukai. Foto berisikan Bu Sriyantika, Tia dan papihnya di depan Gedung sate terlihat bahagia, dibalik fotonya bertuliskan.
-Bandung 1997 -
__ADS_1