Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
POTONGAN WORTEL


__ADS_3

“Oke gini! A Rio tadi bilang aa ahli motong sayur, aa bagian potong bahan sayur sop di meja makan, saya masak ayam disini!” ujar Rara antusias memberi intruksi seperti master chef di dapur.


“Terus gue ngapain?” sela Tia yang ingin ikut bergabung masak malah membuat Rara setengah kaget. Tia yang paling anti dengan kata memasak malah ingin ikut nimbrung mau menyentuh dapur.


“Ya udah elo bantuin motongin sayur sama a Rio,” sela Rara sembari menyiapkan dua talenan dan dua buah pisau di meja makan.


Mereka kompak bekerja pada jobdesknya masing-masing, Rio memotong kembang kol sedangkan Tia memotong wortel bulat- bulat yang sebelumnya diberikan contoh oleh Rara. Sedangkan Rara begitu asyik mengupas rempah-rempah untuk membubui ayam goreng.


Rio memang lebih lihai dalam memotong sayur sampai-sampai dia selesai duluan, sedangkan Tia dia begitu pelan memotong wortel. Rio iseng mengambil satu potongan wortel, lalu dia ukir menjadi bentuk tabung dengan ada dua tanduk kanan kirinya.


“Ti? tebak ini apa?” tanya Rio memperlihatkan hasil ukirannya pada Tia.


“Wortel?”


Rio menggeleng tersenyum mendengar jawaban Tia. “Elektroda.”


Rio rupanya bermain-main membuat salah satu komponen elektro dari wortel.


“Hahaha, aku juga bisa a, bentar!” sela Tia antusias mengambil potongan wortel dan mengukirnya.


“Ini apa a?” tanya Tia meladeni Rio.


“Mmm dioda?” jawab Rio.


“Haha bukan resistor!” ujar Tia girang salah dengan tebakan kakak tirinya.


Rio dan Tia bukannya memotong sayur malah asyik bernostalgia tentang komponen elektro yang mereka pelajari sewaktu kuliah dengan mengukir wortel, seperti adik dan kakak yang asyik sedang bermain pasaran. Lalu Rio membuat ukiran hati, dia memaju mundurkan lengannya yang memegang ukiran wortel hati ke arah Rara yang asyik mengulek bumbu membelakangi mereka berdua, Tia tertawa melihat kelakuan Rio.


DRRT DRRT hp Rio berbunyi, diliat Bu Sriyantika meneleponnya .


“Tante Sri,” ujar Rio ke Tia. Tia mengangguk mengisyaratkan Rio untuk mengangkatnya.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh tante, apa kabar?” ujar Rio sembari menjauh pindah ke ruang tamu. Sedangkan Tia masih asik mengukir wortel. Rara menghampiri meja makan untuk mengambil sayuran yang akan di masukkan ke air yang mendidih. Dia kaget melihat meja yang berantakan dengan sisa ukiran wortel yang dibuat Tia dan Rio. Dia yang emosi hendak mengomel gak jadi ketika melihat wortel yang bentuk potongannya bermacam-macam ukiran, terutama ukiran wortel berbentuk hati.


Tiba-tiba memorinya kembali, didalam bayangannya dia memarahi seorang pria membuat berbagai macam potongan wortel yang diukir untuk membuat sayur. Hatinya semakin tersentuh ketika bisa mengingat salah satu adegan hangat.

__ADS_1


“Ya ampun yank, ini apa?” ujar Rara mengomel pada seorang pria yang tak bisa terlihat jelas wajahnya. Dia hanya bisa melihat, pria itu tertawa senyum pada Rara.


“Hore aku bisa bikin hati,” sorak anak kecil berusia sekitar lima tahunan. Rara juga melihat dirinya sedang menyuapi sayur sop pada pria dan anak kecil tersebut dengan bentuk potongan wortel bermacam-macam, mereka begitu bahagia, begitu hangat.


Rara yang merasa haru langsung duduk, air matanya pecah, sedih karna hanya bisa mengingat sejauh itu tentang memorinya yang indah. Dia tak menyerah mencoba mengingatnya lagi, dan lagi bukan memorinya yang kembali malah rasa sakit yang datang menghantam kepalanya. Rara memegang kepala kesakitan, Tia yang tidak ngeh masih asyik membuat ukiran wortel malah menunjukkan ukirannya pada Rara.


“Ra ini apa?” ujar Tia dengan antusias, senyum Tia pudar kaget melihat Rara yang kesakitan memegang kepalanya.


“Ra elo kenapa?” tanya Tia panik. Rara hanya mengerang kesakitan, dia mencoba rileks meemutuskan berhenti mengingat memorinya.


“Ra kita ke dokter,” ujar Tia cemas. Rara menggelengkan kepalanya seraya dia tidak setuju dengan saran Tia.


“Bentar!”


Tia langsung berlari ke kamar mencari obat pereda nyeri resep dari dokter yang lupa ditaruh dimana. Dia sibuk mengobrak-ngabrik kamarnya, sampai dia ingat obatnya ditaruh di lemari pakainya. Kemudian dia kembali kemeja makan, diliatnya Rara sudah mulai tenang. Dia memencet-mencet kecil dahinya untuk mengurangi rasa sakitnya, di pipinya masih ada bekas jalan air mata yang mengalir.


“Elo minum ini dulu,” tawar Tia. Rara mengambil obat ditangan Tia, dan Tia sigap mengambilkan air untuk Rara. Rara langsung meminum obat dan menghela nafas lega, merasa lebih baik.


“Loh ada apa?” tanya Rio menghampiri mereka, diliatnya Rara tengah sibuk menyeka air mata tak ingin terlihat sakit oleh Rio. Tapi raut wajah gadis asia tersebut terlihat pucat membuat Rio mencemaskannya.


“Biar saya antar,” tawar Rio inisiatif memegang tangan Rara hendak memapahnya, tapi Rara menghindar malah memasang wajah jutek. Tak suka dengan tawaran Rio.


“A?, aa ‘kan udah janji gak akan sentuh-sentuh saya lagi sembarangan. Saya bisa jalan sendiri a,” ujar Rara kesal karna Rio sudah mulai melupakan janjinya.


“Biar sama saya aja a,” sahut Tia menenangkan Rio. Tia langsung memapah Rara ke kamar lalu membatunya berbaring di atas kasur.


“Elo kenapa, inget sesuatu?” tanya Tia masih mencemaskan keadaan Rara. Rara mengangguk mengiyakan.


“Ti gue sedih,” ujar Rara haru dihiasi tersenyum tipis.


“Sedih kenapa?”


“Tadi ingatan gue balik, gue liat adegan yang bahagia banget, menyentuh hati gue. Gue keliatan bahagia bertiga.”


“Bertiga?” tanya Tia tambah kepo.

__ADS_1


“Iya ada cowok yang gue panggil yang, terus ada nak kecil lucu banget Ti. Kita lgi masak bareng, makan bareng. Gue bisa inget itu gara-gara wortel yang elo buat.”


“Wortel?”


“Iya, tadi elo buat ukiran wortel kan? Apalagi pas gue liat ukiran wortel yang bentuknya hati,” tambah Rara.


“Elo liat siapa cowok itu?”


Rara menggelengkan kepalanya perlahan seakan kecewa.


“Gue berusaha nginget, tapi semakin gue paksakan semakin sakit.”


“ Sekarang masih sakit?” tanya Tia cemas membuat Rara menggelengkan kepalanya lagi.


“Dikit.” ujar Rara tersenyum pada Tia yang tak mau membuatnya khawatir. Tia menghela nafas tersenyum iba pada Rara.


“Ya udah jangan dipaksa, kata dokter ‘kan dibiarkan mengalir. Mending sekarang loe istirahat dulu, ya!” ujar Tia tersenyum. Rara mengangguk, sesekali dia masih memegang dahinya. Tia membantu Rara melepaskan hijabnya dan menyelimuti tubuhnya membiarkannya beristirahat.


💚💚💚💚💚💚💚


“As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki, As Alullohal Adzim Robbul ‘Arrsyil Adzim Ayyasy Fiyaki,” terdengar suara lirih Rio yang membacakan doa membuat Rara terbangun. Dia kaget diliatnya Rio memegang dahinya untuk ke sekian kali, di kamarnya, hanya berdua. Rio sepertinya tidak serius dengan janjinya untuk tidak terlalu berdekatan dengannya.


“A?” ujar Rara cepat menghindar.


“Ya?”


“Ngapain aa disini?” Rara panik langsung mengambil hijab dan memayungkannya di kepalanya. Rara kesal dan lagi-lagi Tia membiarkan Rio masuk ke kamarnya seenaknya.


“Ngedoain kamu,” ujar Rio melemparkan senyum manis. Rara menghela nafas kesal pada Rio, dia hendak beranjak dari kasurnya.


“Hati-hati!” ujar Rio kuatir menyentuh lengan Rara bermaksud memapah.


“A bisa tolong keluar dari sini, saya udah baikan!” Rara to the point mengusir Rio. Rio malah menatapnya sedih.


“A bisa?” tanya Rara ulang dengan suara agak lantang.

__ADS_1


“Baik.” Rio langsung keluar dari kamarnya sesekali dia menoleh ke arah Rara seperti dia enggan keluar dari kamar Rara. Masih sangat mengkuatirkanya.


__ADS_2