Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
DRAKOR


__ADS_3

Paginya seperti biasa Rio datang ke rumah, Bu Sriyantika dan Tia sudah duduk di meja makan menyambutnya. Rara masih di kamar berdiam diri melihat luar jendela, nafsunya untuk sarapan pagi benar-benar hilang, dia memutuskan untuk puasa.


“Tia Rara mana?” tanya mamihnya.


“Gak kan ikut sarapan mih.”


“Loh kok gitu?”


“Puasa katanya.”


“Puasa dihari Rabu?” tanya mamihnya heran.


“Huum,” ujar Tia mengiyakan sembari melahap makanannya.


“Mungkin dia masih marah sama saya tante,” terka Rio merasa bersalah.


“Tante udah jelasin sama Rara duduk perkaranya Rio, tante rasa dia gak akan semarah itu sama kamu, mungkin dia mau bayar fidyahnya. Kamu lanjut makan aja.”


“Tante Rio boleh minta nampan?”


“Buat apa, le?”


“Rio mau nyiapin sarapan buat Rara,” ujar Rio.


💚💚💚💚💚💚💚


TOK TOK TOK


“Nduk? Mutiara sayang buka pintunya.”


Ketukan pintu Bu Sriyantika membuyarkan lamunan Rara, tak lama Rara membuka pintu kamarnya.


“Ya, tan-te?” ujarnya terbata kaget melihat Rio di belakang Bu Sriyantika sudah standby membawa nampan berisi makanan.


“Rio mau ngobrol sama kamu,” sahut Bu Sriyantika tersenyum lembut, lalu mereka berdua ditinggal di daun pintu. Bu Sriyantika kembali ke meja makan.


“Sarapan dulu,” sahut Rio menawarkan makanan pada Rara.


“Puasa!” jawab Rara ketus.


“Gak sah!” ujar Rio.


“Apa!?”


“Puasa kamu gak sah kalo kamu puasa gara-gara marah saya dan gak mau sarapan sama saya,” jelas Rio.


“Aa Pd banget itu!”


“Tanpa saya memberi tahu kamu sah atau tidak, kamu pasti sudah tau syarat sah puasa Rara. Kamu bukan anak kecil lagi yang harus didikte sama saya. Rara pilihan kamu cuma dua, makan disini saya temanin atau gabung sama Tia di meja makan,” ucap Rio tegas.


“Basi tau a! bisanya cuma ngancam. Walaupun aa nunggu disini sampai ratusan tahun juga saya gak kan makan!” sahut Rara kesal langsung masuk ke dalam kamar, Rio mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


“Rara, saya tau kamu sangat marah dengan kejadian tadi malam. Kalo seandainya saya tau dari awal hal itu benar- benar membuat kamu menjadi seperti ini, saya tidak akan menuruti perkataan tante Sri untuk menunggu kamu di dalam mobil. Saya benar- benar minta maaf, saya mohon Rara kalau seandainya ada orang yang harus dihukum itu adalah saya orangnya. Tolong makan jangan menyiksa diri kamu seperti ini, itu lebih menyakitkan bagi saya Rara,” tungkas Rio memelas dengan mata berkaca-kaca hendak menangis. Rara malah dibuat merasa bersalah olehnya.


“A saya itu puasa bukan mogok makan!” ujar Rara yang mulai iba padanya.


“Kalau gitu tolong batalkan puasanya, kamu boleh puasa besok pas hari kamis,” ujar Rio.


“Apa!?” Siapa dia berani ngatur-ngatur puasa, pikir Rara.


“Puasa sunah jatuhnya hari Senin Kamis, kamu bisa sahur dulu nanti malam biar ke kamunya juga kuat,” tambah Rio memberi perhatian.


“Kalo kamu puasa hari ini, saya tau itu karna kamu marah pada saya Rara,” tambahnya keukeuh dengan pendapatnya. Rio terdiam wajahnya melukiskan rasa menyesal yang mendalam, Rara malah tak tega dibuatnya. Mata mereka beradu dalam diam. Mata itu, ya mata yang indah. Tatapan mata Rio yang tulus, Rara terenyuh, terhanyut.


“Oke a, saya mau makan. Aa duluan keluar saya nyusul lima menit lagi,” ujar Rara mengalah sembari membuang pandangan menghindar dari tatapan Rio yang selalu meluluhkan hatinya.


“Baik,” jawab Rio dengan wajah semeringah. “Rara?”


“Apa?” jawab Rara ketus.


“Terima kasih,” ujar Rio tersenyum manis membuat Rara canggung. Dan lagi Rara terheran-heran mengerutkan dahi bingung dengan tingkah Rio.


💚💚💚💚💚💚💚


Rio langsung bergabung kemeja makan, tak lama Rara menyusul. Bu Sriyantika dan Tia menyambutnya dengan hangat. Rio terlihat senang dengan joinya Rara di meja makan. Tia terlihat berusaha keras menahan tawa, dia malah senyam\-senyum sendiri gak jelas. Seraya ada yang lucu.


Whahahaha


Tia tertawa terbahak, tak kuat menahan tawa.


“Heh nduk kamu kenapa kalo makan jangan sambil tertawa ndak elok!” tegur Bu Sriyantika marah pada anaknya.


“Apanya yang gak kuat?” ujar mamihnya. Tia berusaha mengontrol tawanya hendak menjelaskan.


“Tia tu ngerasa lagi nonton sinetron mih ha ha,” jelas Tia.


Rio dan Rara bertatapan heran dengan celoteh Tia.


“Maksud kamu gimana?” tanya mamihnya heran.


“Ini anak dua, kemarin marahan. Tadi malem mesra-mesraan, eh paginya marahan lagi. Drakor mih!”


“Apa itu drakor nduk?” tanya mamihnya mulai tersenyum.


“Drama korea mamih hahaha!” lanjut Tia tertawa semakin keras, Bu Sriyantika ikut tertawa mendengar celoteh Tia yang merasa ada benarnya. Rio tersenyum melihat Tia dan tantenya, sedangkan Rara cuek sibuk dengan makanannya.


“Heh! udah nduk, itu ketawanya kok kaya gitu, ndak elok!” ujar mamihnya melihat cara anak semata wayangnya tertawa.


“Iya iya, mih!” Tia langsung menghentikan tawanya.


Hahaha!


Tak berhasil menahan rasa geli, Tia melanjutkan tawanya lagi.

__ADS_1


Auww!


Mamihnya mencubit pipinya menyuruhnya untuk diam, Rara tersenyum melihat kelakuan ibu dan anak itu.


💚💚💚💚💚💚💚


Sesampainya di bandara, Rio membantu Bu Sriyantika membawakan kopernya. Bu Sriyantika selalu menyukai sikap Rio yang sopan terhadapnya.


“Tante ini masih ada waktu buat nunggu, mau Rio belikan minuman dulu?”


“Aku mau, cappucino ya a,” timpal Tia cepat.


“Tante?” tawar Rio pada tantenya.


“Samain aja ya Rio.”


“Rara?” tanya Rio pada Rara.


Rara tak menjawab, dia menggelengkan kepalanya diam. Rara memang membatasi dirinya untuk tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Rio, rasa marah dan illfeel masih tertancap dihatinya.


“Kalo gitu saya pergi dulu sebentar.” Rio langsung pergi membelikan pesanan mereka.


“Nduk, kamu jangan marah terus dong sama Rio kasian dia,” bujuk Bu Sriyantika pada Rara.


“Mih paling nanti juga baikan lagi. Tia yakin mih, harusnya mamih di sini yang lama, biar bisa liat episode drakor berikutnya!” Goda Tia pada Rara. Rara sudah kebal dengan bulian Tia malah diam tak menggubris omongan Tia.


“Iya kan mamih ini pulangnya dadakan sayang, mamih kuatir gara-gara Rara sakit kepalanya kambuh. Jadi urusan kantor buru-buru mamih tinggalin tanpa persiapan,” jelas Bu Sriyantika.


“Owh iya nduk, ini kerudung hadiah buat kamu.”


Bu Sriyantika menyerahkan kantung pada Rara.


Rara langsung membukanya, diliatnya kerudung yang dia beli tadi malam bersama Rio.


“Loh ini kan?”


“Iya nduk, Rio pengen beliin kamu kerudung. Cuma kalo dia yang ngasih kamu pasti nolak.”


Rara kesal dengan perkataan Bu Sriyantika yang terus-terusan membantu Rio untuk mendekatinya.


“Nduk diterima ya,” bujuk Bu Sriyantika tersenyum lembut.


“Iya tante,” ujar Rara tersenyum paksa menerima pemberian Rio.


“Mih mau tau gak judul drakornya apa?” lanjut canda Tia pada mamihnya.


“Apa nduk?”


“Kekasihku yang ambekan hahaha.”


Tia tertawa lagi dengan keras, Bu Sriyantika yang merasa dibuat lucu oleh anaknya, berusaha menahan tawa untuk menghormati Rara yang diliat wajahnya makin kesal karna bulian Tia. Rara mencubit Tia yang sedari tadi mengejeknya.

__ADS_1


💚💚💚💚💚💚💚


Bu Sriyantika berangkat jam sembilan pagi. Tia mendrop Rio ke rumahnya, lalu Tia dan Rara langsung pergi ke kantor. Sikap Rara pada Rio malah semakin cuek dari pada sebelumnya. Dia tak membiarkan Rio berbincang lama dengannya, sedangkan bulian yang Tia lontarkan sudah kebal dirasanya.


__ADS_2