
Malam ini Semarang dihiasi hujan Rara yang mengenakan piama panjang mendekat ke jendela melihat rintikan hujan. Dia terkejut mendapati Bagas didepan rumahnya sedang menunggunya. Sudah berapa lama dia disana? tanyanya.
Tak lama Bagas melihatnya, mereka saling berpandangan dari kejauhan. Hati nya masih milik Bagas, seandainya Bagas tidak berbohong mungkin kini mereka sudah bahagia, pikirnya. Hujan semakin deras, petir-petir kecil menyambar. Rara semakin tak tega orang yang dicintainya kedinginan diluar. Walaupun dia memilih mundur entah mengapa kali ini dia berasa tak tahan, Rara berlari turun ke bawah membawa payung langsung menghampiri Bagas.
Bagas melihat kekasihnya mendatanginya, terpasang senyum yang semakin lama semakin lebar. Bagas langsung berlari menghampirinya, memeluk tubuh Rara.
“ I love you, truly... just you.” Ucap Bagas lirih di pelukan Rara.
“Ra?” tanya Tia meremas pundaknya sampai Rara tersadar tadi hanya angan-angannya semata.
“Liat apa?” tanya Tia. Rara dia tak menjawab hanya melihat kearah Bagas yang masih berdiri menunggunya.
“Duh bener-bener ya tu anak.” Ujar Tia kesal yang ikut melihat Bagas. Dia langsung turun ke bawah meninggalkan Rara sendiri.
Betapa sangat ingin Rara turun menemui Bagas, tapi itu hanya sebatas angan, nyalinya tetap kecil membuatnya tetap berdiri dibalik jendela hanya memandanginya.
Sesekali setan berbisik untuk kembali menerima cinta Bagas, toh selama ini Bagas tak bahagia dengan istrinya. Toh memang hubungan mereka sebelumnya sudah renggang, dia tak terlalu salah kan kalo seandainya dia menerima cinta Bagas?
Tak lama Rara melihat bu Sriyantika menghampiri Bagas mengenakan payung. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, bu Sriyantika berbalik melihat ke arah jendela Rara. Rara malu berasa terpergok, dengan cepat dia menutup gordennya.
Sedih rasanya, sakit, sesak. Rara merobohkan badannya diatas ranjangnya menangis sejadi-jadinya. Rara mencoba menguatkan diri, dia menyeka air matanya menarik nafas dalam, tapi hatinya masih hancur. Sangat hancur.
Air matanya terlalu kuat untuk dia tahan, dia kembali menangis deras. Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya, untuk menjadi orang ketiga bahkan menjadi perusak rumah tangga orang lain. Mencintai orang yang bukan miliknya itu sama halnya dengan menyakiti diri sendiri. Akh sakit Rasanya. Benar-benar sakit. Terlalu sakit.
Terdengar suara gaduh langkah kaki Tia datang.
“Kuat Rara kuat kuat, Bismillah.” gumamnya menyeka air matanya lagi, sekeras tenaga berusaha kuat. Rara memalingkan badannya berpura-pura tidur.
#
Keesokan paginya seperti biasa , Rara berada di kamar bu Sriyantika menyimak syiarnya. Kali ini beliau menceritakan kisah cinta terindah sepanjang sejarah. Kisah cinta Saidina Fatima dan Ali bin Abi thalib, kisah cinta dalam diam. Dua sejoli yang saling mencintai memilih memendamnya karna rasa takut pada Rabnya lebih besar, sehingga Allah mempersatukan mereka dalam ikatan pernikahan sebagai buah hadiah dari taqwa.
“Semoga kelak kamu mendapatkan kisah cinta indah seperti itu nduk, aaamiiin.” ucap Bu Sriyantika.
Rara diam tak mengamini doa bu Sriyantika. Dia benar-benar tak bisa berkonsentrasi, hanya Bagas yang ada di otaknya, walaupun dia memilih mundur tapi hati tak bisa berbohong, cintanya masih kuat untuknya.
“Nduk?” tanya Tante Sri membuyarkan lamunannya.
“Ya tante?”
“Tadi malem Bagas kesini, dia bersikeras ingin ketemu kamu. Tapi tante usir.” Ujar bu Sriyantika, Rara diam menyimak.
__ADS_1
“Kamu masih cinta sama Bagas?”
Rara mengangguk perlahan, malu mengakui perasaannya.
“Ini.” Tunjuk bu Sriyantika pada dada Rara. “ Tidak bisa kita kontrol. Tapi ini.” tunjuknya lembut pada kepalanya.
“Bisa!”
Rara diam menahan air matanya.
“Kuncinya adalah agama kita, iman kita, seorang muslimah yang baik, seseorang yang takut sama Tuhannya dia tidak akan berani mengambil yang bukan haknya.” ucap bu Sriyantika.
“Dan kehilangan sesuatu karna Allah itu jauh lebih baik nduk.” tambahnya.
Astagfirulloh apa yang barusan dia pikirkan, Rara merasa malu. Hatinya bergetar ketika bu Sriyantika menyebut nama tuhannya.
Enggak, enggak boleh! Mau bagaimanapun Bagas suami orang. Rara meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak jatuh pada godaan setan.
Rara mengangguk perlahan setuju, air matanya jatuh dia seka dengan cepat, menguatkan diri. Menguatkan tekadnya. Tak peduli apapun yang dia rasakan, hanya Allah yang utama.
Pernikahan merupakan bentuk ibadah terpanjang bagi kaum muslim, Begitu pun juga Rara yang menganggap pernikahan sesuatu hal yang sakral dimana di dalamnya terdapat ibadah terpanjang selama hidupnya. Dia bisa saja menerima cinta Bagas dan mengacuhkan Ranti, tapi dia tidak mau ketika Tuhannya marah mengambil cinta yang salah. Dia ingin menjadi seorang muslimah yang terhormat yang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya atas nama cinta.
Dia tak mau di cap sebagai pelakor selamanya.
Memang kita bisa memutuskan untuk menikah dengan siapa, dan kita tidak bisa memutuskan mencintai siapa, tapi Allah Maha mengendalikan hati. Dia bisa mengambil dan memberi cinta pada seorang hamba dengan mudah, dan Allah lebih mencintai hamba-Nya yang mempunyai adab baik yang tidak menghancurkan kebahagiaan orang lain untuk membangun surganya.
#
“Aduh gak nyangka ya cantik-cantik kok mau jadi pelakor.” Ujar Rani salah satu staf Cv.Zoe ditoilet sedang asik menata riasannya ditemani Lisna.
“Iya ya mbak, padahal kan mbak Rara cantik bisa aja dapetin cowo lain. Toh banyak kok yang suka sama dia.”
“Aduh Lisna zaman sekarang pernikahan antara kecantikan sama kekayaan tu udah biasa, itu namanya timpal balik.” Ujar Rani.
Rara yang berada disalah satu kamar mandi hanya diam mendengar pembicaraan mereka berdua. Sakit hatinya, betapa sangat ingin dia keluar melabrak mereka berdua yang asal membicarakannya seenak jidat. Tapi dia malah memilih diam menunggu mereka selesai sampai keluar, rasa malunya lebih besar. Dia hanya duduk menangis meremas celana katunnya. Bersembunyi.
“ Ikh serem juga ya mbak.” Ujar Lisna sembari memakai lipstik merah mudanya. Tak lama Ayu datang dari luar langsung gabung mencuci tangannya.
“ Ya mau gimana lagi, kalo hati udah gak secantik wajah gitu tuh, gak kuat kuat iman jalan pintas buat jadi kaya pun diterjang.” jelas Rani membuat Ayu mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang dibicarakan Rani dan Lisna.
“Ya gak papa kali ya dicap pelakor yang penting jadi horang kaya.” Tambahnya legek.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Ayu langsung naik pitam, menyipratkan air dari keran ke Rani.
“Hei mbak ki kalo ngomong dijaga ya!” bentaknya pada Rani.
“Apaan sih yu gj, ngapain loe nyiprat-nyiprat gue!” bentak Rani kesal.
“Gj gj, kalian lagi ngomongin mbak Rara tho?” ujar Ayu kesal.
“Kalau iya kenapa?” ujar Rani angkuh, tanpa sesal.
“ Owalah dasar cangkeme ki ( mulutnya tu) lemes men to mbak.” ujar Ayu geram menarik rambut Rani.
“ E-e loe gila ya.” Bentak Rani balik menarik rambut Ayu, mereka berdua berantem bak anak kecil saling menjenggut dan melontarkan cacian.
“Mbak-mbak-mbak.” ujar Lisna panik berusaha melerai mereka berdua.
Rara yang mengetahui hal ini langsung menyeka air matanya bergegas keluar melerai mereka.
“Stop! Stop! STOP!” teriak Rara.
Mereka berhenti kaget melihat Rara.
“Loh mbak dari tadi di-si-ni?” ujar Lisna kaget merasa bersalah.
Rara mengangguk tersenyum tipis melihat kearah Rani dan Lisna.
“Ayo yuk.” Rara menarik lengan Ayu keluar dari Toilet.
“Mbak? mbak gimana sih? mbak kok malah diam aja, orang kayak gitu tu harus di kasih pelajaran.” ujar Ayu kesal hendak kembali ke toilet.
“ Yu, yu udah stop yu, udah biarin.” Rara menahan Ayu.
“Ndak bisa mbak! Orang kaya mereka tu ndak bisa dibiarin, yang ada mereka malah makin menjadi nanti, owalah harus lapor mbak Tia ini.” ujarnya kesal hendak pergi ke kantor Tia, dengan cepat Rara meraih lengannya menahannya lagi.
“Ayu stop, cukup yu cukup! please jangan diperpanjang.” ucap Rara tegas dengan mata berkaca seraya memohon.
“I-ya mbak.” ucap Ayu iba tertunduk malu, Rara pergi meninggalkannya.
Kehidupan Rara memang tak mudah pasca batalnya pernikahannya. Image pelakor sudah tertera pada dirinya walaupun statusnya juga korban. Rupanya masih banyak segelintir orang tak pandang bulu mencacinya dan menjudgenya pelakor tanpa tau dan tak mau tau duduk permasalahannya.
Bullian netizen +62 benar benar dia rasakan dari teman sekantornya ataupun kalangan tetangga. Rara hanya bisa pasrah dan sabar karna masih ada beberapa orang yang mendukungnya. Dia berusaha tegar melewati hari-harinya seperti biasa.
__ADS_1