Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
BELANJA


__ADS_3

Ahad, Rara duduk di depan rumah menghirup udara segar di pagi hari. Seperti biasa embun pagi menghiasi daun dan rumput hijau. Rara melepas sandalnya dan menginjakkan kakinya ke rumput jepang yang berada di halaman rumah.


“Ndak dingin nduk?” tanya Bu Sriyantika melihat kaki telanjang Rara menginjak rumput basah oleh embun pagi. Rara tersenyum menggelengkan kepalanya perlahan.


“ Nduk, tadi malem kan belanja bulanannya gak jadi, mau gak nanti siang kita belanja, cuma kita berdua aja?” tawar Bu Sriyantika. Rara tersenyum mengangguk.


💚💚💚💚💚💚💚💚


Jam sepuluh Rara dan Bu Sriyantika pergi ke Citylink, Rara menyetir menggunakan mobil Fortuner milik Bu Sriyantika. Mereka belanja mulai kebutuhan dapur dan harian, sampai troli mereka terisi penuh. Mereka mengantre di Kasa. Di depan mereka ada sepasang kekasih, si laki-laki berkulit putih mengenakan kemeja hitam siluet navi dan celana katun. Tangannya di taruhnya di pinggul si wanita yang mengenakan celana jins ketat dan kaos tak berlengan.


“Makasih ya sayang udah temenin aku belanja, kamu baik banget dech,” ujar si wanita manja.


“Sama-sama sayang, apa sih yang enggak buat kamu?” jawab si laki-laki genit sambil mengusap pinggulnya.


Rara yang sedang sibuk dengan gawainya tidak menggubris mereka, berbeda dengan Bu Sriyantika yang tak nyaman dibuatnya.


“Astaga sayang ada yang lupa, aku belum beli skincare,” ujar si wanita terperangah.


“Ya udah ambil aja, biar aku tunggu sini, ini nanti sama aku di bayarin.”


“Akh makasih sayang,” ujar si perempuan tambah manja mencubit dagu si laki-laki.


Lumayan lama si laki-laki di tinggal wanita tersebut. Gawainya itu berbunyi, dia mengangkat panggilannya.


“Halo sayang, cinta, maaf sayang baru aku angkat aku lagi bantuin mamah di rumah, kamu jangan marah donk....” ujarnya.


Mendengar percakapan laki-laki itu di Hp, Bu Sriyantika tercengang merasa risih dengan tingkahnya. Antrian maju si laki-laki membayarkan belanjaan wanita tadi sambil bercengkerama merayu wanita lain via telpon, Bu Sriyantika merasa jijik dengannya. Tak lama dia menyudahi teleponnya, lalu wanita yang mengenakan kaos putih tak berlengan datang kembali menghampiri kekasihnya.


“Sayang barusan telpon dari siapa?” tanya si wanita.


“Owh itu mamih, biasa nanyain lagi dimana? Terus aku jawab lagi jalan sama calon mantu,” jelas laki-laki tersebut pencicilan membuat si wanita tersenyum manja padanya.


Bu Sriyantika menatap sinis laki-laki hidung belang tersebut. Dia terus-terusan beristigfar dan berdoa semoga laki-laki macam seperti itu dijauhkan dari anak-anaknya, Tia dan Rara.


“Nduk, habis ini lita ke foodcourt dulu ya tante laper,” ujar Bu Sriyantika, Rara mengangguk.


Mereka mencari foodcourt makanan sunda, Rara dan Bu Sriyantika duduk di meja bundar berkursi empat. Bu Sriyantika menaruh tas nya di kursi kosong. Dia masih beristigfar mengingat jijik kejadian tadi.


“Kenapa tante?” tanya Rara melihat gelagat tantenya.


“Itu tadi ada cowok kurang ajar, dia lagi jalan sama cewek nya, eh terus pas ceweknya ijin pergi mau ambil skincare, dia malah telponan sama cewek lain genit-genit gitu. Dia ngakunya lagi di rumah bantu mamihnya. Terus pas cewek yang ambil skincare balik, dia malah ngakunya lagi teleponan sama mamihnya, ngasih tau lagi belanja sama calon mantu katanya. Kurang ajar banget kan tu cowoknya,” gerutu Bu Sriyantika menceritakan panjang lebar pada Rara.


“Ha ha semua ceweknya dianggap mamihnya ya tante?” ujar Rara tertawa.


“Ikh pokoknya tante berdoa jauh-jauh anak-anak tante dari macam cowo kaya gitu.”


“Emang yang mana tante orangnya?”


“Itu yang tadi di depan kita waktu ngatri di kasa!”


“Wah Rara gak ngeh tante, mungkin karna Rara sibuk ngebales chat anak-anak tante.”


“Ya udah nduk, gak penting juga buat tau yang mana orangnya. Tante mau ke toilet dulu ya.”


“Mau di temenin tante?”


“Jangan dong, kamu di sini aja nunggu pesenan!” ujar Bu Sriyantika tersenyum membawa tas di lenganya.


💚💚💚💚💚💚💚


Selepas dari toilet Bu Sriyantika berjalan menuju foodcourt, gawainya berbunyi membuatnya berhenti berjalan meraih gawai dari tasnya.


“SAYANG?” teriak wanita berkulit putih mengenakan blouse orange dan rok mini. Bu Sriyantika mengeyeritkan dahi melihat kearahnya, dia mengira wanita tersebut memanggilnya dengan sebutan sayang.


“HAI sayang!”


Sahutan laki-laki terdengar dari belakangnya. Bu Sriyantika menoleh ke belakang dilihatnya laki-laki playboy berkemeja hitam tadi, rupanya dia sudah berganti cewek lagi. Si wanita berlari kearah laki-laki dengan sepatu tingginya, saking semangatnya Bu Sriyantika yang berdiri di antara mereka, tak sengaja lengannya tersenggol sampai membuat Hpnya jatuh. Si wanita kaget langsung menghampiri Bu Sriyantika.


“Aduh ibu maaf gak sengaja,” ujar wanita berok mini tersebut menyesal. Si Laki-laki membantu memungut Hp nya lalu diserahkan pada Bu Sriyantika.


“Ini ibu, maaf pacar saya gak sengaja,” ujar si laki-laki ramah, tersenyum.


Bu Sriyantika merebut Hp nya dengan cepat menatap sinis pada laki-laki tersebut. Dia malah melihat iba pada wanita yang menyenggolnya.


“Aduh, cantik kamu harus hati-hati, inget pesen tante harus pintar jaga diri!” ujar Bu Sriyantika menasihati si wanita, membuat sepasang kekasih itu bertatapan heran.


“Iya tante,” ujar si wanita tersenyum.


Bu Sriyantika pergi menjauh dan mengecek layar Hp siapa yang menelpon, diliat nama Tia di panggilan tak terjawab. Bu Sriyantika langsung menelpon Tia balik.


💚💚💚💚💚💚💚💚

__ADS_1


Setelah itu dia kembali ke foodcourt, dia kaget melihat dari jauh laki-laki tersebut duduk dengan kekasih barunya di sebelah meja nya terpisah sekitar lima meter. Dia menghampiri Rara berusaha cuek dengan sepasang remaja yang sedang bermesra-mesraan tersebut. Sesampainya di meja, si wanita berok mini melihat Bu Sriyantika, lalu melemparkan senyum ramah padanya sekan-akan memberi senyum perminta maafan yang kedua. Bu Sriyantika yang masih berdiri membalas senyuman wanita tadi. Si laki-laki ikut tersenyum juga melihat ke arah Bu Sriyantika, tapi dia malah cuek tidak membalas senyuman si laki-laki.


Lalu si laki-laki melihat ke arah Rara yang duduk di samping Bu Sriyantika. Dia meruncingkan penglihatannya pada Rara. Bu Sriyantika merasa tak suka dengan tingkahnya yang terus-terusan memperhatikan Rara.


“FEBBY!” teriak laki-laki tersebut.


“FEBBYYY!!” Suara kedua lebih lantang memanggil Rara dengan nama Febby sampai Rara menoleh kearahnya. Si laki-laki bangkit dari kursinya tersenyum semeringah pada Rara dan berlari kearahnya.


Bu Sriyantika kaget si laki-laki mengenal Rara, si laki-laki hampir mencapai mejanya dengan tangan terbuka seperti hendak memeluk Rara. Bu Sriyantika kesal, resfleks memukul laki-laki tersebut dengan tasnya.


“E-ee-ee mau ngapain kamu! mau ngapain kamu?” ujar Bu Sriyantika marah memukul lengan si laki-laki.


“Tante?” ujar Rara kaget berdiri melihat tingkah Bu Sriyantika.


“Feb Feb! Feb! Auw auw auw!” teriak si laki-laki mengaduh. Laki-laki itu langsung cepat menghampiri dan bersembunyi di belakang Rara menghindar pukulan Bu Sriyantika .


“Kamu mau ngapain anak saya, dasar laki-laki kurang ajar!” hardik Bu Sriyantika makin kaget dengan apa yang dilakukan si laki-laki memegang-megang Rara. Dia mengejar si laki-laki lalu memukulnya lagi dengan tasnya, tapi laki-laki tersebut menghindar memutari badan Rara.


“Feb Feb!, ini tante loe? bantuin dong, Auw Auw tante stop tante!” ujar si laki-laki.


Bu Sriyantika dan si laki-laki saling kejar-mengejar memutari badan Rara seperti Tom and Jerry. Si perempuan berok mini tersebut malah bingung melihat kekasihnya kejar-kejaran dengan seorang ibu-ibu. Semua pengunjung tertawa melihat adegan lucu tersebut.


“Tante udah tante cukup!” Rara memegang tangan Bu Sriyantika, melerai mereka.


“Feb itu kenapa tante loe?” tanya si laki-laki memegang lengan kanan Febby kencang.


Rara kaget laki-laki tersebut memegang lengannya, dia langsung mendorong kuat si laki-laki sampai terhontal beberapa langkah kebelangkang. Si laki-laki pun kaget dengan yang Rara lakukan padanya.


“Feb?” ujarnya hendak menghampirinya hendak meminta penjelasan.


PRITT PRITT PRITT.“Ada apa ini?” teriak seorang satpam datang menghampiri mereka.


“Ini pak cowok kurang ajar ini mau godain anak saya!” ujar Bu Sriyantika lantang.


“Enggak pak, tantenya salah paham, orang saya mau ngobrol sama sahabat saya Febby!” jelas si laki-laki hendak menghampiri Rara lagi.


“E-ee-e, jangan dekat-dekat!” teriak Bu Sriyantika pada si laki-laki.


“Stop! Stop! stop!” ujar satpam melerai.


“mbak apa benar anda mengenal laki-laki ini?” tanyanya, Rara menggelengkan kepalanya.


“E... kamu tu! sudah sayang bilang jangan dekati anak saya!” ujar bu Sriyantika bersiap-siap maju memukul si laki-laki, tapi terhenti oleh bunyi peluit si satpam.


“Pak saya benar-benar gak mengenal dia, dan nama saya juga bukan Febby tapi Mutiara.” Rara mengeluarkan kartu identitasnya menyerahkan pada satpam, Pak satpam membaca kartu tersebut.


“Bener a dia bukan Febby tapi Mutiara!” jelas pak satpam memperlihatkan kartunya pada laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut melihat ke arah Febby, dia begitu yakin yang di hadapannya itu Febby. Dia amat sangat mengenal sahabatnya.


“Akh pak gak percaya, saya yakin seratus persen sen sen dia Febby, paling dia sekarang lagi ngerjain saya. Dia kan orangnya jail,” ujar si laki-laki keukeuh menaruh kedua tangganya di pinggang.


“Anda jangan maksa dong,” sahut Bu Sriyantika.


Tapi si laki-laki menghiraukan perkataan bu Sriyantika dengan cepat menerobos satpam menghampiri dan memegang kedua lengan Febby.


“Feb kalo loe marah sama gue, gue terima! tapi setidaknya kasih tau dimana Tania dan Isti ato Trisan aja, yah yah yah?” Bujuk si Laki-laki dengan tatapan serius diiringi gayanya yang pecicilan mengoyang-goyangkan lengan Rara. Rara terkejut dengan sikapnya, Bu Sriyantika hendak mengayuhkan tasnya lagi tapi tiba-tiba,


PLAK!


Tamparan keras mendarat di pipi si laki-laki membuatnya kaget. Dia melepaskan tangannya dari lengan Rara.


“Febby?” ujar si laki-laki memegang pipi kirinya yang sakit ditampar Rara. Pacarnya langsung menghampiri.


“Sayang kamu gak papa?” ujar wanita berok mini. Laki-laki tersebut masih diam, bergeming memandang Rara serasa tak percaya dengan apa yang dilakukan sahabatnya.


“Saya peringatkan, jangan sentuh tubuh saya lagi!” ujar Rara marah.


“Ayo kita pulang tante!”


Bu Sriyantika tersenyum bangga atas apa yang dilakukan Rara. Mereka berdua pergi dari foodcourt membawa barang belanjaannya.


“Udah mas sebaiknya jangan ganggu mereka,” nasehat bapak satpam pada si laki-laki yang masih melongo.


💚💚💚💚💚💚


“Dasar laki-laki kurang ajar, berani-beraninya dia megang-megang kamu nduk!” gerutu Bu Sriyantika duduk di sofa ruang tamu baru datang.


“Tante kesel, kok bisa-bisa nya dia tidak menghormati perempuan, gonta ganti perempuan dalam satu hari!”


Rara yang ikut duduk diam mendengar celoteh tantenya.


Tia yang berada di kamar, mendengar keributan langsung datang menghampiri mereka ke ruang tamu. Dia mendengar mamihnya marah-marah, menggerutu.

__ADS_1


“Kenapa sih mih, baru datang langsung marah-marah gak jelas.”


“Gimana mamih gak marah sayang, tadi ada cowo playboy kurang ajar berani nyentuh-nyentuh Rara!” ujarnya emosi.


Tia melihat ke arah Rara yang malah tersenyum padanya.


“Untung aja kamu tadi ngakunya Mutiara nduk,” lanjut Bu Sriyantika.


“Tante bangga kamu nampar dia barusan, emang cowok kurang ajar gitu harus digituin!”


“Itu serius Ra?” tanya Tia kaget. Rara mengangguk.


“Mih itu gak berlebihan ya? masa nampar-nampar orang sih!” protes Tia.


“Nduk kalo kamu liat gimana tingkah cowoknya. Mamih yakin kamu bukan cuma nampar dia, tapi pasti nojok dia abis-abisan,” ujar Bu Sriyantika.


“Nduk tante kuatir sama kamu nduk, kamu pulang lagi aja yuk ke Semarang,” bujuk bu Sriyantika pada Rara.


“Loh loh kok gitu? ya gak usah gitu juga dong mih, Rara disini aja baru dua minggu masa kita balik lagi?”


“Iya tante, yang diomongin Tia bener tante.”


“Tapi tante kuatir, nanti kalo ada cowok yang kurang ajar lagi sama kamu gimana?” ujarnya cemas.


“Kan ada Tia mamih di sini jagain Rara,” sela Tia. Rara mengangguk setuju.


“Kalo gak gini aja, gimana kalo kamu ta’aruf aja! Kamu nikah terus kamu bisa stay di sini sama suami kamu. Jadi tante tenang nduk ninggalin kamu. Tenang sayang tante punya banyak teman di Bandung yang punya anak baik, sopan, dan soleh lagi. Nanti tante kenalin ya ya ya, kamu mau ya?” celoteh Bu Sriyantika membuat Tia dan Rara tercengang bertatapan kaget.


“Mih mih mih! jangan lebai mih, mamih parno itu!” sela Tia.


“Tante, tenang tante, Rara bisa ngelindungi Rara sendiri kok. Rara kan bisa ngaku sebagai Mutiara dulu tante, lagian kan ada Tia, ada Allah.” Rara mengelus pundak Bu Sriyantika menenangkannya.


“Kemarin Bagas ngaku-ngaku tunangan kamu eh dia punya istri. Terus tadi cowok playboy ngaku-ngaku sebagai sahabat kamu. Nanti kalo ada cowok kurang ajar yang ngaku-ngaku suami kamu gimana?” keluh Bu Sriyantika.


“Ya Rara pergi lagi aja ya dari Bandung.” Rara tersenyum menjawab khayalan Bu Sriyantika.


“Ke Semarang?” tanya Bu Sriyantika semeringah.


“Emm, kalo ke Semarang kasian Ranti tante, kan dia lagi deketin Bagas nanti kalo Mutiara ketemu dia gimana? Gimana kalo ke Solo, di sana kan ada keluarga Rara. Rara bisa cari mereka, lagian jarak Solo Semarang kan lebih deket, jadi Rara bisa sering-sering ngunjungi tante?”


“Iya nanti buka cabang lagi di Solo!” celetuk Tia kesal memotong.


“Ini kalian berdua halunya ampun deh!”


“Apa itu halu nduk?”


“Halusinasi mamihh!”


“Enggak mamih enggak halusinasi kok, ini namanya rencana. Iya kan Ra? kamu bakal pergi kalo ada cowok kurang ajar yang ngaku suami kamu?” Rara mengangguk tersenyum menenangkan pada Bu Sriyantika.


“Tante sekarang tante yang tenang dulu aja, di sini Rara mau fokus kerja sama cabang yang ada disini, lagian Rara mau hidup sebagai Mutiara aja dulu buat ngelindungin Rara.”


“Iya nduk tante setuju,” ujar Bu Sriyantika tersenyum, Tia malah menggelengkan kepala gemas melihat kelakuan Rara dan mamihnya.


Yang dilakukan bu Sriyantika memang terlihat berlebihan, pengalamanlah yang membuatnya bersikap seperti itu. Ya dia pernah menyerahkan segalanya demi cinta, cinta pada seorang pria yang membohonginya mengakibatkan hidupnya terasing. Yang membuat Tia kehilangan kasih sayang papihnya. Hal itu membuatnya hati-hati dalam mengerahkan sekuat tenaga untuk benar-benar selektif dalam memilih calon pasangan untuk putrinya kelak.


💚💚💚💚💚💚💚💚


Pada hari senin pagi Bu Sriyantika pulang ke Semarang, Tia dan Rara mengantarnya ke bandara dan meluncur ke kantor setelahnya.


Tia duduk di kursi putarnya melamun terngiang cerita mamihnya soal kemarin tentang sikap Rara yang menampar seorang pria. Rara tak pernah sekasar itu pada orang lain, bahkan pada Bagas yang menyakitinya.


“Assalamualaikum teh, ada tamu?” sahut Dini dari daun pintu.


“Siapa?”


“Gue.” ujar Wildan sambil menongolkan kepalanya ke dalam kantor.


“Hei masuk Wil!” ujarnya semeringah mengetahui sahabatnya datang. Wildan duduk di sofa.


“Wah tumben main sini, ada pa?”


“Ini gue udah janji sama loe, kalo udah dua kali event sukses gue mau pake agensi elo wat SPG reguler di Bandung.” jelasnya tersenyum.


“Wah serius?”


“Huum.” ujar Wildan sembari menyerahkan map pada Tia.


“Alhamdulillah, buat dimana aja ini?” tanya Tia mengambil map nya, tapi Wildan tidak fokus malah melihat ke arah luar kantor celingak-celinguk seakan mencari seseorang.


“Loe nyari siapa, Rara?” sela Tia membuat Wildan tersenyum dengan tebakannya. Ya Tia memang sudah bisa menebak sahabat kuliahnya menyukai Rara.

__ADS_1


__ADS_2