Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Pengakuan


__ADS_3

“Ping”. Bunyi lembut dari hp Rara pertanda pesan masuk, diliat whats upnya dari pak Rian membalas chat.


(Walaikum salam Alhamdullillah sehat, ini dengan siapa ya?)


Rupanya pak Rian belum mengetahui Rara ganti nomor.


(Ini dengan Rara Zoe pak Rian, saya ganti nomor.)


(Owh Rara, kiarain siapa, soalnya nomor baru, maaf baru bales ra, ada apa ya?)


(Gimana pak udah dapet agensinya buat event dibandung?)


(Belum ra, malah eventnya dimajuin bulan depan, ini masih nyari, mudah mudahan dapet secepatnya, kenapa Rara punya kenalan agensy yang bagus?)


(Pak gimana kalo event di Bandung saya yang ngelola?)


Rara menunggu balasan cukup lama, terlihat pemberitahuan diatas hp nya pak Rian sedang mengetik.


(Wah Rara mau pindah ke Bandung? atau cv zoe mau buka cabang ya?)


(Iya pak saya mau pindah ke Bandung)


(Wah boleh boleh, kalo gitu saya senang malah, nanti saya telpon ya, saya lagi di jalan, jam set sembilanan lah)


(Ok pak)


Rara tersenyum dengan jawaban pak Rian.


“Ra makan dulu!” teriak Tia mengingatkannya untuk makan malam. Rara langsung turun ke bawah, diliatnya bu Sriyantika dan Tia sudah duduk asyik melahap buah.


“Ti, gue pinjem hp loe dong mau nelpon, boleh?”


“Tuh.” Tia memonyongkan bibirnya menunjukkan hpnya diatas meja.


“Thank ya.”


Rara langsung mengambil Hp Tia menjauh untuk menelpon Mila. Dia scroll mencari kontak Mila dan menswipe call.


“Hallo Assalamualaikum mbak Tia ada apa?" suara lembut Mila menjawab.


“Mil ini mbak Rara.”


“MBAK MBAK RARA??“ jawab Mila histeris senang, “Ada pa mbak mbak mau ngobrol sama bang Bagas, bentar mbak.” Mila berlari hendak keluar apartemennya menemui Bagas.


“Stop mil denger mbak!”


“Ya mbak?” Mila menghentikan langkahnya.


“Mil mbak mau bicara sama Bagas dengan syarat.”


“Syarat? Syarat apa mbak?”


“Bilang ke Bagas selama seminggu ini stop mengirim makan siang untuk mbak, dan menunggu mbak pulang dirumah, dan kamu selama seminggu menginap diapartementnya Bagas. Bisa?”


“Mbak tapi?”


“Bisa gak? kalo gak bisa mbak gak pernah mau ketemu kalian lagi.”


“Iya mbak bisa, tapi mbak janji ya habis itu mbak mau nemuin kita, paling enggak ngobrol sama abang minimal denger penjelasannya dulu.”


“Iya.” ujar Rara singkat.“Wassalamualaikum mil.”


“mbak bent...”.Tettt.

__ADS_1


Rara menutup panggilannya. Dia menarik nafas dalam menggenggam hp Tia.


‘Bismillah.’ gumamnya sambil menghapus riwayat panggilannya dengan Mila, dia kembali kemeja makan dan duduk disebelah Tia.


“Makasih ya ti.” ujar Rara mengembalikan hp Tia.


Tia mengangguk masih asyik makan buah.


“Buahnya nduk.” tawar bu Sriyantika  menyodorkan piring berisi buah pir.


“Makasih tante.” Rara mengambil potongan buah pir melahapnya.


"Ti?”


"Hmmm?"


“Kenapa gak buka cv zoe di kota lain?”


“Siapa yang ngelola ra, elo?” jawab Tia santai.


“Boleh?”


Tia langsung mengerutkan dahi, mendengar jawaban Rara menoleh kepadanya.


“Loe kenapa?”


“Ya gue tanya kenapa gak buka cabang, di Bandung misalnya?”


Tia dan mamihnya bertatapan heran mendengar celoteh Rara.


“Kamu gak mau pindah kan nduk?” terka bu Sriyantika.


Rara diam sejenak, berancang-ancang menyampaikan sesuatu.


“Gue ga setuju!" timpal Tia cepat.


“Apanya?”


“Ya loe pindahlah.”


“Ini bukan minta persetujuan tapi ini pemberitahuan.” jelas Rara tersenyum.


“Nduk apa sebaiknya kamu gak shalat istiqarah dulu, minta petunjuk?”


“Udah tante tiga hari ini Rara salat Istiqarah, dan jawabannya semakin jelas ke mana Rara harus pindah.”


“Loe mau ke Bandung kemana, loe kan amnesia? Loe gak tau apa-apa tentang Bandung, loe kan udah lama tinggal disini.”


“Gue udah dapet kerjaan kok disana?”


“Kapan? dimana?” tanya Tia kaget Rara sudah pekerjaan secepat itu.


Rara mengeluarkan hp dari sakunya dan memperlihatkan chat pak Rian, dengan cepat Tia membacanya.


“Kalo loe mau buka cabang, gue siap itu akan mempermudah gue disana, ya tapi kalo gak mau, gue cari agensi lain buat event pertama gue.”


Bu Sriyantika dan Tia bertatapan bingung mendengar celoteh Rara.


“Terus kapan kamu mau pindah?”


“InysaAlloh kalo gak besok malem, kalo gak lusa tante.”


“Ko cepet banget, nduk?”

__ADS_1


“Kan eventnya sebentar lagi tan.”


“Gue ikut, gue mau buka cabang disana gue ikut.” ujar Tia cepat.


“Ya kalo mau buka cabang loe gak usah ikut gak papa Ti.” jelas Rara.


“Rara, inget selama ingatan kamu belum pulih kamu tanggung jawab tante, Tia jadi pendamping kamu disana. Tante gak kan melepas kamu  sendirian gitu aja, apalagi kamu tu perempuan!” ujar Bu Sriyantika malah menyetujui anaknya.


“Gak usah tante, Rara bisa jaga diri, kalo Tia ikut nanti tante gimana?”


“Ini tanggung jawab gue, Ra pokonya gue ikut, Ra gue mau jujur sama elo.” ujar Tia cepat menyela.


“Apa?” tanya Rara heran.


Tia yang menghela nafas berat mencoba mengumpulkan keberanian menyampaikan sesuatu.


“Gue yang nabrak loe, gue yang udah bikin ingatan elo ilang, jadi please, gue ikut gue gak bisa ninggalin elo gitu aja, elo tanggung jawab gue.” jelas Tia dengan wajah ketakutan, jantungnya berdegup kencang mengakui kesalahannya yang selama ini dia tutupi.


“Owh kalo itu juga gue udah tau.” ucap Rara santai.


“Kapan? Kok bisa?” tanya Tia heran.


“Ukh udah lama, waktu awal-awal, gak sengaja ngedengerin percakapan tante  sama elo.”


“Terus?” tanya Tia.


“Terus gimana?” ujar Rara mengangkat kedua bahunya santai.


“Kamu gak benci sama kami nduk?” tanya bu Sriyantika .


“Benci? Tante bercanda ya, mana mungkin Rara benci sama orang yang udah baik nolongin Rara.”


“Tapikan ra...” ujar Tia menyela.


“Udah, kan tante yang bilang, kejadian ini udah terjadi ini semua kehendak yang di Atas, ya kita tinggal sabar aja mengedepinya, iya kan tan?” jelas Rara tersenyum.


“Iya sayang.” bu Sriyantika tersenyum mendengar penjelasan Rara yang bijak. Tia langsung memeluk Rara kencang.


“Raraaaaa gue beruntung kenal sama loe.”


“Gue lebih beruntung, kenal loe sama tante.”


“Alhamdulillah, tante seneng liat kalian akur gini. Tapi nduk tetep tante gak kan ngasih ijin, kamu harus didampingi Tia, tante disini masih ada mbok sum sama pakde no, ya?”


Rara mengangguk setuju atas keputusan bu Sriyantika. Dia bersyukur pada Sang Khalik yang sudah memberikan kebahagiaan selama ini. Walaupun dia tidak tau akan identitasnya, keluarga dan tempat tinggalnya, Rara tidak pernah merasa kekurangan dari materi ataupun kasih sayang. Rara sangat bersyukur Allah selalu menjaganya dan memberikannya kecukupan selama ini.


💚💚💚💚💚💚💚


Setelah bu Sriyantika masuk ke kamar Mutiara untuk membawakan pakaian, dia menyuruh Mutiara untuk beristirahat. Mutiara terbangun pas dhuhur dan Ashar untuk melaksanakan ibadah wajib. Selepas shalat Ashar, dia melihat pakaian bu Sriyantika yang tadi dibawanya masih tertinggal dikamarnya, lalu Rara keluar kamar hendak mengembalikan bajunya. Dia melihat mbok sum yang sibuk sedang membereskan meja makan.


“Mbok tante sri nya dimana?” tanya Rara pada mbok sum.


“Ada diatas non, dikamarnya non Tia, mau saya panggilkan?”


“Gak usah mbok saya saja yang kesana.”


Mutiara menaiki tangga menghampiri kamar Tia yang terbuka, disana terlihat Tia sedang tiduran di pangkuan bu Sriyantika. Dia yang hendak masuk langkahnya terhenti ketika tante Sri menyebut namanya, Rara menguping pembicaraan ibu dan anak tersebut.


“Nduk, sayang, besok ke kantor polisi yah? Kita lapor, kasian Mutiara keluarganya nyari-nyari?” bujuk Bu Sriyantika pada Tia.


“Mamih Tia masih belum berani, nanti kalo Tia dipenjara gimana, kalo polisinya tau Tia yang nabrak Mutiara gimana?” rengek Tia pada mamihnya manja.


Mutiara kaget mendengar perkataan Tia. Ternyata selama ini orang yang menolongnya adalah orang yang menabraknya dan membuat ingatannya hilang. Dia langsung berlari turun dan masuk ke kamar melemparkan badannya ke atas ranjang menangis sejadi-jadinya. Rasa amarah berkecamuk dalam hatinya dia ingin sekali pergi dari rumah ini, dia amat sangat kecewa dan ingin pergi dan menjauh dari orang yang sudah membuat dia seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2