
“Saya kenal Rara kami sekampus tante, dulu dia sahabat dekat saya namanya bukan Rara Febriani tapi Febby Febriani.” jelas Bagas malu pada bu Sriyantika.
Bagas, Mila dan amaknya datang pagi-pagi ke rumah Tia.
“Terus kenapa kamu bohong?” Tanya bu Sriyantika menahan kesal.
“Bagas adalah salah satu anak sulung saya yang paling rajin.” sela bu Hasiah, “ Dia satu satunya harapan apaknya. Apaknya ingin Bagas bisa merubah keadaan keluarga kami.” Tambahnya menatap dalam bu Sriyantika, seraya memohon sedikit rasa iba atas kesalahan yang sudah dibuat anaknya.
“Sampai-sampai dia pinjam uang pada sahabatnya, pa Igor, ayahnya Ranti untuk biaya kuliah, tapi Bagas menolak. Bagas lebih memilih kuliah di kampus swasta kecil mengambil kelas karyawan, agar bisa bekerja untuk mencukupi biaya kuliahnya. Bagas menolak karna sifat Ranti dan ibunya yang selalu menginjak-injak harga diri keluarga kami sebagai orang tak punya.” ujarnya diam sejenak, pinggiran matanya sudah terlihat berkaca.
“Berbeda dengan bu Igor dan Ranti, pak Igor begitu menyukai Bagas. Dia menyukai Bagas karna sifatnya yang berbeda dengan lelaki atau pacar Ranti yang pernah kenalkan padanya. Sampe suatu hari apaknya Bagas sakit, kami meminjam uang pada pak Igor, dan dia memberikan persyaratan untuk Bagas mau menikah dengan Ranti. Baik Bagas atau Ranti tidak menyetujui hal ini, tapi Ranti diancam kalo dia tidak mau menikah dengan Bagas dia tidak akan dianggap anak olehnya. Sampai pernikahan diantara Bagas dan Ranti terjadi. Tapi itu semua bukan jalan keluar, Ranti selalu saja meremehkan kami. Dia selalu menganggap saya dan Mila sebagai benalu, tapi Bagas tentu tidak akan bisa meninggalkan kami. Bagas selalu menyiapkan fasilitas buat kami keluarganya, apaknya Ranti memberikan 30 persen sahamnya pada Bagas dari situ dia memberikan biaya pada kami, dan Bagas juga bekerja di perusahaan apaknya Ranti.” Ibu Hasiah dan Mila menangis menceritakan kejadian perih dalam hidupnya.
“Saya tak merasa masalah apabila Ranti tidak bisa berbuat baik pada kami, yang kami sesalkan kelakuannya pada Bagas, dia sama sekali tidak menghormati Bagas sebagai suami. Jangankan menyiapkan makan, secangkir teh pun tak pernah dia sediakan untuk suaminya. Cercaan, hinaan sering dia lontarkan pada Bagas maupun keluarga kami.”
Bu Hasiah diam sejenak berancang-ancang untuk bercerita lagi, serasa perih ketika harus mengakui aib keluarganya sendiri.
“Ranti sering minta cerai pada Bagas, tapi Bagas sudah berjanji pada apaknya sebelum dia meninggal untuk menjaga Ranti.”
“Dan suatu ketika saya dirawat dirumah sakit Bagas bertemu ibu, Tia dan Rara. Dia bercerita bertemu teman lamanya Febby atau Rara. Setiap hari Bagas menjenguk saya setiap hari Bagas menengok Rara dirumah sakit diam-diam. Dia selalu membawa dua buah tangkai mawar putih, satu untuk saya satu untuk Febby. Bagas menyukai Rara semenjak dia kuliah bahkan sampai sekarang. Bagas pun tau Rara hilang ingatan, karna beberapa kali Bagas bertemu dengan Rara, Rara tidak menegurnya. Bagas mencari latar keluarga bu Sriyantika. Dia mengetahui bahwa bu Sri adalah ibu yang baik, ibu menganggap Rara seperti anaknya sendiri, disitu Bagas paham pasti akan sulit meminta restu ibu Sri. Makanya Bagas berbohong kalau dia tunangannya. Agar Bagas bisa mendekati Rara.” jelas bu Hasiah sudah merasa malu.
“Awalnya saya juga tidak setuju bu Sri, tapi melihat Bagas bisa tersenyum, bercerita tentang Rara, ada raut kebahagiaan diwajahnya yang dia tidak bisa dapatkan dari Ranti. Disitu lama-lama saya terenyuh, apalagi ketika Rara bertemu dengan saya, sayapun jatuh cinta padanya. Dia anak baik, sopan dan pengertian. Saya setuju Bagas mau menikahinya, dan Bagas pun sudah siap akan menceraikan Ranti, Ranti pun sudah diberitahu kalau Bagas akan memenuhi permintaannya untuk bercerai dengan Ranti.”
Bu Sriyantika menghela nafas, melihat iba pada bu Hasiah.
“Kalo Ranti setuju kamu akan menceraikannya, kenapa dia datang ngamuk-ngamuk dan gak kan rela melepaskan kamu?” tanya Bu Sriyantika.
“Itu karna harta apaknya yang diberikan pada saya tante. Dia gak rela saya pergi begitu saja, tapi saya sudah bilang ke dia, saya akan mengembalikan semuanya tante.” jelas Bagas.
“Bagas apa kamu tak pernah mencoba mencintai Ranti, dan merubah sifatnya?”
“Sering tante.” jawab Mila, “Pernikahan bang Bagas dan Ranti berlangsung tiga tahun, selama ini bang Bagas selalu bersikap baik bahkan mencoba romantis, tapi itu semua sia-sia tante, mbak Ranti tidak berubah. Bahkan setelah kematian apaknya dia makin menjadi jadi tante, Mila sering liat dia berpacaran dengan lelaki lain. Itu yang membuat Mila sedih tante, Mila tak terima bang Bagas diperlakukan seperti itu.” potong Mila terisak membela abangnya.
“Bagas sejauh apa hubungan kamu dengan Rara waktu kuliah, apa kamu kenal dengan keluarganya Rara?”
“Tidak tante, hubungan kami dulu sahabat dekat saya berlima, Tania, Isti saya, Andri dan Febby. Saya dan Febbypun pernah menjalin hubungan tapi itu tak berlangsung lama.”
“Maksud kamu pacaran? Kamu mantan pacar Rara?” tanya bu Sriyantika.
__ADS_1
Bagas mengangguk mengiyakan.
“Tante saya mohon ijinkan saya bertemu dengan Rara untuk menjelaskan ini semua tante.” pinta Bagas memohon.
“Bu Hasiah, Bagas, Mila ... Rara sedang tidak ada disini. Begini saja, Saya akan jelaskan semua ini pada Rara, setelah itu saya serahkan semuanya pada Rara. Bagaimana?”
“Iya tante, tante gak papa. Sekarang saja Bagas sudah bersyukur tante yang mau memberikan kesempatan Bagas dan amak untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Bagas minta maaf yang sebesar besarnya tante, dan terima kasih atas kebaikan nerima kami disini.”
“Bagas tante memohon sesuatu sama kamu, apapun keputusan Rara nanti kamu harus terima!”
“Iya tante asalkan Rara mendengarkan penjelasan Bagas dulu, Bagas terima tante.”
#
“Mbak’e” tanya Ayu pada Rara yang sedang asyik menonton tv.
“Ya yu?”
“Jalan-jalan yuk, gimana kalo kita ke warung, kita masak buat nanti siang, mbak e mau makan apa tak masakin sing uenak nak nak”
“Emang kamu bisa masak?”
“Kirain beli.”
“Hahaha, kalo mbak icipi masakanku dijamin ketagihan toh.”
“Hahaha ok ok”
DRRT DRRT hp Ayu berbunyi.
“Sinta mbak bentar ya?” Rara mengangguk mengiyakan.
“Hallo Assalamualaikum Sinta ada apa?”
“Wa’alaikumussalam, yu ini ada titipan makan siang dari mas Bagas sama ada kiriman amplop tapi ga ada pengirimnya buat mbak Rara. Gimana ya, bingung aku?”
“Mmm hmmm,” Ayu malah bingung dibuatnya menjawab pertanyaan Sinta, dia melirik lirik ke arah Rara, “Itu anu mmm.”
__ADS_1
“Apaan sih kau tu ngomong apa mmm aaaa mmm ?” gerutu Sinta.
“Kenapa yu?” tanya Rara.
“Itu mbak nganu, apa ya, ini Sinta.”
“Sinta mau ngomong sama mbak?”
“Huum.” Ayu langsung menyerahkan hpnya pada Rara.
“Ya hallo gimana Sin?” tanya Rara.
“Eh mbak Rara, Ayu gak bilang mbak?”
“Bilang apa?”
“Aduh gimana ya mbak ini soal-soal itu?”
“Kenapa kamu mau ngomong apa sih?” Sinta merasa tak enak dia bingung menjelaskan pada Rara. “Sin ngomong aja ada apa?”
“Itu mbak, ada kiriman makan siang dari mas Bagas sama ada kiriman amplop buat mbak tapi gak ada nama pengirimnya?”
“Owh gitu.” Rara diam sejenak. “Gini kalo makanannya kamu makan aja, kalo banyak bagiin ke anak-anak, kalo amplopnya bawa pulang nanti ya.” Jelas Rara santai, Ayu kaget mendengar jawaban Rara.
“Udah kan sin gak ada lagi?”
“Owh gak ada mbak, makasih ya Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Walah mbak, kok dikasihin anak-anak toh, kalo saya jadi mbak tak suruh buang-ang-ang, ndak mau aku...” Ayu menghentikan celotehnya, dia tau Rara menatapnya.
“Mubazir yu, makanannya kan gak salah.” jelas Rara tersenyum tipis.
Rara memang marah hanya saja dia tak mau kehilangan akal sehatnya melampiaskan amarahnya ke berbagai hal.
Sebaik baiknya seorang muslim, dia bisa menahan amarah walaupun dia sering disakiti, kata-kata bu Sriyantika yang sering diajarkan berusaha Rara aplikasikan dalam hidupnya.
__ADS_1
Bersambung.....