
PACAR
“Mih Mutiara pinter lho , berkat dia banyak proyek yang masuk, dia juga bisa lho mah nge-dealin Project.” Tia dan mamihnya berbincang diruang makan.
“Iya sih mamih bisa liat, apa dia dulu juga punya agensi sama kaya kamu ya?” ucap mamihnya yang sedang sibuk memotong buah pir.
“Bisa jadi sih mih, keliatan kok ditau seluk beluk dunia retail.”
“Ya udah kamu angkat aja dia jadi GM, katanya kamu butuh GM.”
“Iya Tia setuju, dari pada nanti dia direkrut perusaaan lain ya?”
“Mamih yakin dia gak kan setega itu ninggalin kamu, ini Mutiara mana sih kok gak turun turun...mbok mbok?”
“Ya ndoro?”
“Mutiara mana kok gak turun-turun?”
“Loh tak kira sampun turun ndoro, tadi waktu saya susulin, dia bilang sebentar lagi, saya panggilkan lagi saja nggeh ndoro?”
“udah gak usah biar gue aja mbok.” ucap Tia.
Dia bergegas naik ke kamarnya, dilihatnya Mutiara sedang asyik mengerjakan pekerjaannya dengan laptop Tia diatas ranjang, Tia langsung masuk dan menutup laptopnya.
“Lho lho kok ditutup, itu bentar lagi?” protes Mutiara mencoba meraih laptop, dengan cepat Tia menghindar mengangkat laptopnya tinggi-tinggi.
“Makan dulu!!! Itu mamih udah nunggu!”
“Ya tapi bentar dulu!”
“Gue pecat ya, gue gak mau dikira bos diktator yang memperkerjakan karyawannya diluar jam kerja.”
Mutiara cemberut mendengar celoteh Tia, dia bangkit dari tempat tidur mengikuti langkah Tia turun menuju meja makan.
“Akhirnya gadis-gadis Semarang turun juga.” ucap bu Sriyantika yang udah siap duduk di mejanya.
“Iya mih, ada yang gila kerja nih!”
“Nduk, tante seneng liat kamu rajin, tapi jangan berlebihan, tante gak suka akh. Kasian tubuh kamu butuh asupan nutrisi.” Ujar Bu Sriyantika menasehati.
“Iya tante, maaf.”
“Ya sudah ayo kita makan.”
\#
“SUPRIESSEE!!” ujar semua staf serempak keluar mengagetkan Mutiara, beberapa staf ada yang membawa conffenty memeriahkan suasana. Ayu membawakan kue blackforest ada lima lilin kecil menghiasi kuenya. Semua orang menyalami Mutiara, mengucapkan selamat.
“Selamat ya mbak Mutiara, selamat.”
“Bentar-bentar ini selamat buat apa?” Mutiara tersenyum kebingungan.
Prok Prok Prok, Tia menepuk tangan meminta karyawannya untuk diam.
“Sebagai perayaan GM baru kita, hari ini semuanya langsung menuju Gubug Mang Engking!”
“HOREEEEE!” semua karyawan berteriak gembira, bertepuk tangan.
“Selamat mbak, emang mbak ki cen bakat.” ujar Ayu memberikan selamat.
Mutiara terkejut dengan keputusan Tia, dia merasa minder, baru saja 3 bulan kerja sudah naik jabatan. Mutiara protes, dia merasa ada orang lain yang lebih pantas dibanding dirinya
.
“Ya karna gue butuh GM dan yang kompeten cuma elo, ditambah lagi murah hehehe.” sahut Tia duduk di sofanya santai. Mereka sedang ngobrol di kantor Tia.
“Tia, nanti pasti bayak yang iri, nanti dikiranya gue KKN, gue kan baru?”
“Udahlah loe lakuin yang terbaik, wajar kalo gue memberikan jabatan yang sesuai dengan kemampuan, dan wajar banyak yang iri sama loe, gak usah dipeduliin.”
“Tia, kenapa cari orang lain, pasang lowongan kerja GM?”
“Kalo ada loe, ngapain gue harus nyari? Denger ya, masalah orang suka ayo gak suka itu pasti ada aja, jangankan GM sekelas cleaning service pun ada, yang bisa loe lakukan tetep lakuin yang terbaik. Gue butuh GM yang berkompeten, gak hanya ngurusi anak tapi nge-dealin proyek. Kalo gue tau dari awal bakat loe gini ya gue langsung pasang aja sebagai GM, gak dari TL dulu.”
Mutiara diam mendengar perkataan Tia. Memang Mutiara merasa ada beberapa staf yang iri selama ini dengannya, tapi benar juga pikirnya, dimana pun dia bekerja orang yang tak suka pasti ada.
‘Akh sudahlah! Lakukan yang terbaik Muti. lahaula walaquwwata illabillahil aliyil adzim. Ya Allah jadikan hamba amanah dalam mengemban jabatan ini.’ Gumamnya.
#
Selepas salat Ashar mereka menuju Restaurant Gubug mang Engking di daerah Ungaran. Restaurant mewah ini didesain asri dengan dipenuhi dinding bambu kuning, atap dari daun nipah sejenis jerami serta lantai kayu merupakan paduan Sunda, Yogyakarta dan Bali. Udara sejuk dari sawah, dan kolam ikan koi yang luas membuat restaurant seperti terapung diatas air. Pemandangan gunung Ungaran memperindah suasana.
Mutiara melihat terkagum kagum dengan restaurant ini. Begitu mewah dan asri, cahaya lampu yang indah membuat restaurant ini tampak megah berwarna keemasan. Dibawahnya terdapat kolam ikan yang luas, membuat restaurant ini bak terapung.
“Bagus banget Ti.”
“Loe suka?”
“Huum, kok gue berasa mau dilamar ya.” canda Mutiara.
“Ha ha ha, ya bentar lagi pangeran loe datang pake kuda putih.” canda Tia.
“Ayo akh join sama anak-anak.” Mutiara mengangguk, mereka berjalan menuju salah satu gubug restaurant.
Berbagai macam makanan pun dihidangkan, makanan sunda, see food, dan bermacam jus. Semua staff makan begitu lahap sambil bersenda gurau.
“Ra, Loe harus cobain ini!” ujar Tia membawa makanan di piring kecil.
“Ini namanya karedok, makanan favorite gue waktu jaman kuliah, dulu gue sering jajan ini. Ini cuma bisa loe temuin di Bandung.”
__ADS_1
Mutiara mengambil piringnya dan mencicipinya, pada suapan pertama raut Mutiara sudah mengekerut.
“Emmm.... pedes ti.”
“Ha ha ha pedes ya?” ujar Tia tertawa.
“Huum.” Mutiara sibuk mengipas-ngipaskan tangan ke mulutnya kepedasan.
“Gue kesana dulu, mau ambil minum!” Tia mengangguk tertawa melihat Mutiara kepedesan. Mutiara pergi melaju ke meja pojok yang terdapat sebuah teko, hendak minum.
“Eh mbak mau minum?”, sahut Silvi salah satu TL yang baru aja mengambil air. Mutiara mengangguk mengocorkan air dari teko ke gelasnya, belum sampe terisi penuh, dia langsung minum.
‘Alhamdullilah ’ gumamnya merasa lebih lega.
“Pedes ya, habis makan apa sih?” tanya Silvi.
“Itu mbak Tia, ngasih karedok pedes banget.” Dia mengisi gelasnya lagi sampai penuh.
“Haha dikerjain ya? Eh mbak sekali lagi selamat mbak semoga sukses selalu.”
“Iya vi sama-sama, kamu juga ya, kerja terus yang giat suatu hari kamu juga bisa, bahkan lebih sukses dari mbak.”
“Siap mbak.” ucap Silvi senyum.
“Ya susah lah Vi.” ujar Rani tiba-tiba ikut gabung pembicaraan mereka.
“Maksudnya gimana mbak?” tanya Silvi polos.
“Gampang buat mbak Mutiara loncat dari TL langsung ke GM dalam waktu tiga bulan, kan sodaranya bu boss. Ya kalo buat kita susahlah, butuh waktu lama, TL, baru naik ke supervisor, nunggu beberapa tahun langsung ke GM.” Silvi dan Mutiara langsung bertatapan mendengar celoteh Rani.
“Yang enak itu loe kerja di perusahaan sodara, terus nyentrikkan jari mau jadi apa aja, pasti langsung jadi.” Tambah Rani.
“Salah.” elak Mutiara “Itu semua gak bener, butuh skill yang kompeten untuk meraih suatu jabatan bukan karna alasan family, saya yakin mbak Tia orangnya bijaksana dalam menepatkan karyawannya sesuai kemampuannya.” jelasnya tegas.
“Iya ya, mbak bener bijaksana ya mbak , tiga bulan versus tahunan.” sindir Rani.
Silvi hanya diam mendengar penjelasan Rani tersenyum paksa. Tapi dia merasa apa yang diucapkan Rani ada benarnya. Rani, salah satu karyawan Tia ini yang selalu berbicara ceplas-ceplos menurut pemikirannya.
“Rani?” Mutiara menghela nafas, dia kesal dan mencoba sabar dengan sindiran Rani.
“Ya?”
“ALLOHU AKBAR ALLOHU AKBAR...” adan magrib berkumandang.
“Permisi saya mau salat dulu.” Mutiara langsung menyelonong keluar gubug merasa tidak akan ada habisnya meladeni Rani salah satu patner kerjanya yang keras kepala.
“Permisi mas, kalo mushola dibelah mana ya?” tanya Mutiara kesalah satu waiter yang berpapasan dengannya.
“Owh mbak tinggal ikuti jalan ini lurus aja nanti ada petunjuknya tulisan mushola.”
“Makasih mas.”
Mutiara berjalan pelan langkah demi langkah, sembari fokus menjawab adan. Sesekali terbesit omongan Rani melukai hatinya, di menghela nafas beberapa kali mencoba tenang. Tak kuat menahan rasa sakit, dia duduk di kursi depan kolam ikan menenangkan diri, tak sadar setetes air mata yang dia tahan jatuh ke pipinya. Mutiara menyekanya.
“Ini.” Arif dibelakangnya menyodorkan sapu tangan.
“Ciee yang terharu naik jabatan.” candanya menghibur Mutiara. Mutiara tersenyum, lalu diambil sapu tangan dari Arif, dia menyeka air matanya dengan rapih.
“Huhf.” dia menghela nafas, mencoba menguatkan diri lagi.
“Udah jangan didengerin!”
“Apanya?” ujar Mutiara parau.
“Ya omongan Rani, biasalah syirik.”
Arif duduk disebelah Mutiara yang tersenyum mendengar celotehnya, dia mengangguk setuju dengan pendapat Arif.
“Kalo gue ya, gue malah seneng punya bos cantik and baik lagi.”
“Apaan sih mas?” Mutiara tertawa mendengar gombalan Arif.
“Loh bener loh, gue bosen punya bos tomboy, cerewet, galak lagi, kaya...”
“Kaya gue?” Tiba-tiba Tia muncul didepan mereka.
“Eh mbak Tia?” Arif langsung berdiri kaget.
“Kalian berdua ngapain disini, ini dah waktunya sholat!” celetuknya ke Arif.
“Terus loe ra malah ikut-ikutan ....”Tia memperhatikan wajah Mutiara yang sembam terlihat sedikit air mata masih tertinggal pangkal pipinya.
“Loe nangis? Loe kenapa?” Tia langsung melihat ke arah Arif kesal.
“Loe apain sepupu gue?” Tia menarik kerah Arif, menyeretnya memojokkannya ke pinggir kolam. Arif pasrah dengan apa yang dilakukan bosnya.
”E-e mbak-mbak salah paham!!”
“Salah paham gimana??” bentak Tia yang mengira Arif membuat Mutiara menangis.
Tia takut pada Arif yang playboy selalu membuat SPG-SPG nya menangis patah hati olehnya.
Mutiara kaget dengan apa yang dilakukan Tia, dia langsung bangkit menahan tangan Tia dan mencoba menenangkannya.
“Ti ti udah Tia lepas loe salah paham!” ujar Mutiara melerai.
“Loe mau belain playboy cap kodok ini?” ujar Tia kesal yang membela Arif.
“Mbak ini gue jatuh loh gue jatuh loh!?” Arif sekuat tenaga memasang kuda-kuda agar dia tidak tercebur ke kolam.
“Gak peduli! loe boleh mainin ratusan SPG gue gak peduli, tapi kalo loe bikin sepupu gue nangis...!”
“Tia ti udah malu diliatin orang Tia.”
Mutiara mencoba melepaskan cengkraman Tia yang menempel kencang di kerahnya Arif. Tia malah makin kesal dengan Mutiara yang membela Arif.
“Ra loe jangan ikut campur!”
__ADS_1
Tak sengaja dengan kuat tangannya mendorong Mutiara. Mutiara terhuyung lepas kendali, dia tersentak kebelangkang menubruk bahu seorang pria, sampai dokumen si pria tersebut berjatuhan.
“Auww.”
Mutiara mengaduh kesakitan, dengan sekuat tenaga mengontrol tubuhnya berdiri sempurna. Dia sadar telah menubruk seseorang dan menjatuhkan dokumennya. Refleks Mutiara yang memegang lengannya langsung jongkok mengambil lembaran kertas yang berserakan. Sedangkan Arif dan Tia masih bernegosiasi dipinggir kolam.
“Maaf maaf!” Ujar Mutiara.
“Are you okay??” Ujar bule temanya si pria yang di tubruk Mutiara. Pria berjas navy tersebut mengangguk lalu ikut jongkok membatu Mutiara membereskan dokumennya. Mutiara berdiri berhasil merapikan beberapa lembar kertas.
“Ini, sekali lagi saya minta maaf.” ujar Mutiara sambil menyerahkan dokumen tersebut.
“Rara?” ujar pria berkas navy tersebut memanggilnya.
Mutiara diam mengerutkan dahi mendengar pria tersebut memanggilnya dengan nama Rara. Lalu pria itu mengambil tangan kananya dengan cepat. Mutiara panik berusaha melepas genggaman tangannya, tapi genggamannya kuat .
“Rara kamu kemana aja?” tambahnya excited girang mendekati Mutiara.
Mutiara yang merasa bingung dan ketakutan refleks langsung mundur.
“Ra?” tanyanya lagi tapi Mutiara masih diam kebingungan, sesekali dia melihat kearah bule temanya mencoba mengingat-ngingat sesuatu, apakah mereka salah satu klien yang pernah ditemuinya atau bukan.
“Excusme Mr Bagas, all is okay? did you know her?” tanya Si bule mendekati Bagas.
“Owh sorry, she is my girlfriend.” ucap Bagas yang masih memegang tangan munyil Mutiara.
Mutiara tercengang mendengar ucapan Bagas menutupi mulutnya kaget dengan pengakuan pria tersebut.
“Girlfriend mbak!?” celetuk Arif yang masih pasang kuda-kuda.
“APA!? loe pacaran sama Mutiara? Gila loe?” bentak Tia sewot berusaha keras ingin menjatuhkan Arif ke kolam.
“Mbak mbak ini jatuh mbak, bukan gue itu cowoknya bilang dia pacarnya Mutiara!!” tunjuk Arif ke belakang Tia, yang masih sempat memperhatikan Mutiara dalam keadaan hampir tercebur.
Tia langsung melihat ke belakang, diliatnya tangan Mutiara digenggam seorang pria yang tak dikenalnya, dia makin kesal dengan cepat melepaskan cengkeramnya langsung melaju ke arah Mutiara. Arif menghela nafas lega dia menjauh dari kolam.
“APA APAA nih!!” Tia langsung melepaskan tangan Si pria dari Mutiara dengan susah payah. “Siapa loe?”
“Saya Bagas, saya...”
“Ehem, gini ini udah magrib.” potong Mutiara menarik tangan Tia yang tadinya posisinya di tengah untuk mendekat padanya.
“Mas tadi bilang kenal sama saya?” Si laki-laki heran dengan tingkah laku Mutiara yang tak mengenalnya.
“ Saya sama temen-temen saya mau salat magrib dulu, nanti kita diskus lagi, gubug saya belah sana, dan silahkan mas selesaikan urusannya dengan patner kerjanya dulu.” tambahnya. Bagas melihat kearah patner bulenya, benar juga apa yang dikatakan Mutiara, dia merasa tidak enak dengan patner kerjanya.
“Kalo gitu, kita permisi mas.” ujar Mutiara.
“Tapi ra?” Tia hendak bertanya lagi.
“Ayu kita sholat.” ajak Mutiara tersenyum, menariknya pergi ke mushola.
#
Sepanjang shalat Mutiara berusaha khusuk, sesekali pikirannya masih terbesit dengan ucapan pria tadi.
“Ra loe ada hubungan apa sama cowok tadi, itu siapa?” tanya Tia di samping mushola sembari mengikat tali sepatu sportnya.
Mutiara diam mendengar pertanyaan Tia masih mengingat-ingat mungkin cowok tersebut salah satu kliennya.
“Ra gue gak lagi bercanda ya, jangan bilang dia pangeran berkuda loe, apa jangan-jangan selama ini loe pacaran diem-diem dibelakang gue?”
“Loe kok mikirnya gitu?”
Mereka ngobrol sembari berjalan kearah gubug mereka.
“Ya tadi dia bilang girlfriend girlfriend, maksudnya apa?”
“Ya gue gak tau Tia, gue aja ini masih nginget-inget, mungkin tadi dia klien kita?”
“Mana ada klien ngaku-ngaku pacar loe, kalo klien yang genit sama elo gue akuin ada.”
“Tia loe gak percaya sama gue?”
Tia diam melihat tajam Mutiara. Posesifnya Tia pada Mutiara, karena dia sudah mengangganya sebagai adiknya sendiri. Dia takut ada laki-laki yang menyakitinya, Tia memang trauma dengan kaum adam, mengingat papih nya yang meninggalkannya entah kemana.
“Ya terus tadi apa?”
“Gak tau Tia, dari tadi dia manggil gue Rara Rara, gue kira dia manggil nama belakang gue?” rengeknya berusaha meyakinkan Tia.
Sesampainya mereka di gubug mereka tidak melihat sosok pria berkulit putih tadi. Mutiara dan Tia masuk join dengan anak-anak yang sedang bersenda gurau.
“Mbak Mutiara sama mbak Tia udah salat?”
“Udah yu, kamu udah salat?” tanya Mutiara.
“Belum, ini mau sama mbak Dian.” Ujarnya.
Ayu dan Dian langsung melaju keluar gubug.
“Ra, kayaknya cowok tadi salah orang deh, buktinya dia ga ada, apa jangan-jangan dia cuma cowok genit yang berusaha deketin loe? emang gila tu cowok.” Mutiara mengangguk mendengar celoteh Tia.
“Lagian ra, loe tu baru ja bentaran gue nyelamatin loe dari gombalannya Arif, eh udah ada cowok yang gebet loe lagi.”
“Loe ngomong apa sih? orang gue gak sengaja tadi nubruk dia, mpe dokumennya jatuh, ya gue cuma bantuin beresin dokumennya, eh tau tau dia megang tangan gue, udah akh lanjutin tuh makannya?” ujar Mutiara kesal yang menuduhnya macam-macam.
PLOK PLOK PLOK “Hei hei mbak’e?mas’e? pengumuman!” tepuk tangan Ayu membuat perhatian staf beralih kepadanya. Dia yang sudah pergi ijin salat kembali begitu cepat, dia meminta pada rekan nya untuk diam.
“Ini ada mas ganteng namanya Bagas, mau cari pacarnya Rara, ada yang namanya Rara?”
Suara lantangnya mensenyapkan suasana, semua staf terdiam melirik satu sama lain mencari orang bernama Rara.
“Gak ada yang namanya Rara yuk disini.” celetuk Haris. Ayu langsung keluar lawang pintu, tampak dia sedang berdiskusi dengan seseorang. Mutiara dan Tia langsung bertatapan satu sama lain.
“Jangan jangan...” ujar Tia
“Itu orangnya!” Ujar Bagas dari lawang pintu menunjuk ke arah Mutiara, otomatis semua karyawan menengok ke arah Mutiara.
__ADS_1