Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
8 THE ACCIDENT


__ADS_3

Assalamualaikum ra


Hari ini check up ya? Gmna hasil check upnya?


Abang tadi titip bekal di Ayu ya, jangan lupa dimakan 🥰


Jangan lupa shalat juga ya


Owh ya ada salam dari amak


“Jadi gimana hasilnya dok?” pertanyaan Tia membubarkan lamunan Rara yang mengotak-ngatik hp touchscreennya.


Banyaknya pesan Bagas yang masuk belum satu pun dibalasnya. Sang dokter spesialis itu mengela nafas melihat kearah Rara.


“Gimana keadaan kamu?” tanya Dokter pada Rara.


“Alhamdullillah, baik dok.”


“Mbak Rara kalo diliat dari hasil rontgen dan pemeriksaan lainnya gak ada masalah, semuanya udah bagus.” Dia diam sebentar membetulkan kaca matanya, Rara dan Tia saling bertatapan heran.


“Tapi dok, masalah ingatan saya gimana?” tanya Rara yang semakin penasaran.


“Sama yang seperti yang saya katakan sebelumnya, InsyaAllah ingatan kamu akan pulih cepat atau lambat. Hanya saja kita gak tau kapan persisnya ingatan itu kembali. Memory biasanya bisa dipancing dengan kamu sering mengunjungi tempat yang sering kamu kunjungi sebelumnya, atau sering berinteraksi dengan orang yang paling dekat dengan kamu yang selalu ada di kehidupan kamu. Bila hal itu terjadi biasanya kepala akan terasa sakit atau pusing diiringi bayangan-bayangan kejadian pada masa lalu,” jelas dokter spesialis tua yang masih terlihat bugar.


“Itu dia masalahnya dok sampai saat ini saya belum mengetahui identitas saya. Kami sudah melapor ke pihak kepolisian, tapi belum ada satu pun keluarga yang menemukan saya. Jadi bagaimana saya bisa memancing ingatan saya bila saya sendiri tidak mengetahui diri saya sendiri, dan dari mana asal saya,” ujar Rara cemas.


Sang dokter menghela nafas dalam, dia melepaskan kacamatanya, menaruhnya. Lalu menggenggam kedua tangannya diatas meja, terlihat dia berfikir keras menyampaikan sesuatu.


“Untuk saat ini yang bisa kamu lakukan adalah jalani hidup kamu yang baru seperti biasa, bersabar dan berdo’a,” ucapnya tersenyum lebar menyemangati.


Rara terdiam diruang tunggu, raut mukanya begitu sedih. Dia mengusap-ngusap jari manisnya, air matanya terjatuh tanpa ia sadari. Hari ini begitu mendung, Semarang yang biasanya panas dihiasi dengan cuaca begitu dingin. Angin pagi yang begitu kencang seakan akan ikut menggambarkan betapa sedih hatinya. Dia bukan sedih karna perkataan dokter, dia sedih karna dia sudah membuat salah satu keputusan yang menyakitnya dalam hidupnya dengan mengembalikan cincin pemberian Bagas.


Tia yang baru saja menebus obat dari apotek berjalan perlahan melihat kearah Rara. Dia merasa mengerti bagaimana perasaan Rara yang kehilangan dunianya. Tia merasa bersalah, dia langsung memeluk Rara erat dari belakang membuyarkan lamunan Rara.


“Yang sabar, yang kuat, ada gue, ada mamih, ada Allah.” Tia sepertinya salah paham atas apa yang Rara pikirkan. Tia pikir Rara menangis karna ucapan dokter tadi.


“Iya.”


Rara mengangguk dan mengelus-ngelus tangan Tia. Tia langsung menyeka air mata yang membasahi pipi Rara. Kasih sayang yang hangat inilah yang membuat Rara begitu bersyukur atas apa yang Allah berikan selama ini. Dia merasa tidak masalah kehilangan dunia lamanya, karna Tuhan menggantinya dengan yang lebih baik. Kasih sayang Bu Sriyantika dan Tia keluarga barunya.


#


“Mbak cantik,” Ayu gadis berbadan bongsor itu memanggil Rara yang lewat di meja resepsionis. “ biasa dari pangeran,” godanya sambil tersenyum mengangkat-angkat kedua halisnya, menyerahkan kotak makan siang.


“Buat Tia aja.” Rara yang terlihat muram langsung menyelonong masuk ke kantor Tia. Ayu merubah raut mukanya heran melihat ke arah Tia yang datang dari belakang menyaksikan kejadian tersebut.


‘Kenapa?’ Tanya Ayu berbisik ke arah Tia. Tia langsung memberi kode dengan menaruh satu jari didepan mulutnya menyuruh Ayu untuk diam. Dia langsung mengambil bekal punya Bagas dan masuk ke dalam kantornya.


“Yakin nih gak mau makan? Enak nih masakannya,” bujuk Tia, yang lahap memakan makanan dari Bagas.


“Buat loe aja,” jawab Rara tersenyum tipis.


Mendengar jawaban Rara, Tia langsung berhenti makan, menaruh piringnya diatas meja. Mukanya berubah sedih dan bersalah. Rara yang melihat tingkah laku Tia langsung berfikir Tia salah paham dengannya. Rara menghampiri Tia dan mengambil piringnya.


“Ti denger ya, gue kaya gini bukan gara-gara check up tadi kok,” ujar Rara menyuapi Tia. "Ini cuma karna mungkin gue ... lagi biasalah cewe moody,” sahut Rara tersenyum lebar yang terlihat dipaksakan.


“Mungkin bentar lagi gue mau M, jadi loe jangan mikir aneh-aneh ya. Nih!” Rara menyodorkan piring menyuruh Tia untuk melanjutkan makannya.


“Gue keluar dulu ya, mau ketemu klien, minta doanya ya, event gede nih.” Rara mengambil ranselnya langsung pamit bergegas keluar.


Tia yang mendengar penjelasan Rara langsung berfikir, Rara terlihat sedih memang bukan hari ini saja. Tadi pagi juga dia tidak menghabiskan sarapannya. Sudah beberapa hari ini dia sering melamun, Tia mengingat-ingat sejak kapan Rara terlihat mulai murung.


DRRRT! DRRRT! Hp Tia berbunyi, diliat layar hpnya bertuliskan nama Bagas. ‘Tumben,’ gumamnya.


“Assalamualaikum Ti? Rara ada?”


“Wa’aikumussalam, baru aja pergi.”


“Owh, gimana hasil check upnya?bagus?”


“Ya bagus sih, mmm ... tapi ... eh loe ada masalah ya sama Rara?” potong Tia, ia teringat Rara mulai murung setelah Bagas mengajaknya pergi keluar. Bagas diam tak menjawab, Tia melihat layar hp memastikan teleponnya masih tersambung.


“Gas? Loe masih disitu kan?”


“Ya ya, gimana?”


“Gimana? Apanya? gue tanya loe ada masalah ya sama Rara?”


“Hmmm, eng-gak kok,” jawab Bagas terbata.


“Bagas kita harus ketemu siang ini juga. Wa’aikumussalam!” ujar Tia tegas langsung menutup telepon mendengar jawaban Bagas. Dia bergegas keluar kantor mencari sosok Rara.


“Kenapa mbak?” tanya Dian sedang duduk di meja resepsionis menggantikan Ayu yang sedang keluar bersama Rara.


“Rara mana, Ayu mana?”

__ADS_1


“Lho baru aja keluar.”


💚💚💚💚💚💚💚💚


“Mbaknya?” panggil Ayu manja pada Rara yang sedang menyetir.


“Hmmm.”


“Mbaknya kenapa tho, mbaknya jelek tau murung terus dari kemarin.” Rara tersenyum tipis kearah Ayu. Ayu yang begitu polos dan humoris selalu membuat Rara terhibur karna logatnya bicaranya yang lucu dan pencicilan.


“Ndak opo-opo mbakyu,” jawab Rara mengejek Ayu.


“Aku tau! aku tau! cewek nih kalo udah kaya gini nih , butuh shoping, jalan-jalan ato nonton. Kita jalan yuk kita jalan yu yuk yuk yuk yuuukk!” rayu Ayu pada Rara sambil menggoyang-goyangkan tangan kirinya Rara.


“Ayo!” jawab Rara singkat tertawa melihat kelakuan Ayu. Dia pikir mungkin sesekali dengan menyibukkan diri lambat laun akan mengurangi rasa sedihnya.


“Bener nih, kapan?”


“Gimana kalo tahun depan?”


“Ikh mbaknya, aku tu serius tho!”


“Ha ha ha, boleh nanti malam bada isya ya.”


“Hore! aku samper ke rumah yah.” Rara mengangguk tertawa renyah menyetujui ajakan Ayu.


💚💚💚💚💚💚💚


“Kamu keterlaluan Tia, bener-bener keterlaluan! Mau kamu tu apa?” ujar bu Sriyantika marah dan merasa amat sangat jengkel pada Tia. Ibu dan anak tersebut bertengkar di dalam mobil. Tia tak menjawab diam menyetir mobil X-Trail bu Sriyantika dengan kesal mendengar omelan mamihnya yang terus sedari tadi tak ada putusnya.


“Kamu denger gak sih?!” Tia mengacuhkan mamihnya lagi, masih diam asyik menyetir mobilnya.


“TIA!!” bentak bu Sriyantika menunggu jawaban anak semata wayangnya.


“Mamih yang maunya apa?” teriak Tia balik pada mamihnya parau, dari tadi berusaha menahan tangis.


“Kamu bisa gak ngomong sama orang tua gak usah teriak-teriak ndak sopan!”


“Siapa yang gak sopan mih siapa? mamih ngajak aku ke restaurant terus tiba-tiba datang cowok yang mau dijodohin sama aku, tanpa sepengetahuan aku. Itu yang namanya sopan?!”


“Ya tapi kan tadi kamu ndak harus ninggalin dia gitu aja. Kamu bisa pamit baik-baik kan, lama tadi dia nunggu kamu berjam-jam yang mau pamit ke toilet, taunya malah kabur ke parkiran. Tidur di mobil! Itu tadi anak temen dekat mamih, dia pemuda yang baik, mapan, agamanya juga bagus, malu nduk mamih maluu!” keluhnya.


“Mih ini semua gak kan terjadi kalo mamih bilang baik-baik sama Tia dari awal. Mamih awalnya aja gak baik-baik gimana Tia mau pamit baik-baik?"


“Astagfirullohhaladzim, mamih harus bilang apa sama papih kamu kalo dia tau kelakuan anaknya kaya gini. Mamih ndak pernah ngajarin kamu kaya gini!” gerutu bu Sriyantika menggeleng-gelengkan kepalanya merasa kecewa dengan sikap Tia.


“Huh!? bilang sama papih dia yang ngajarin!” Jawab Tia cengengesan.


“TIA CUKUP!” tegas bu Sriyantika memotong, dia merasa sangat marah karna Tia sudah menjelek-jelekan mantan suaminya. “Mamih yang salah Tia mamih, Papihmu tu orang baik!”


“Baik mamih bilang?” ujarnya tambah sinis mendengar mamihnya memuji papihnya.


“TIAA?!” tegur bu Sriyantika marah melihat sikap putrinya yang meremehkan papihnya.


“Mana papih kalo dia baik? Apa pernah dia jengukin kita sekali aja? KEMANA PAPIH MIH KEMAN?” Tia berteriak dengan suara lantang, mulai menangis semakin kencang. Bu Sriyantika menyadari anaknya sudah mulai tak tenang. Tia menyetir mobilnya semakin cepat.


“Nduk sudah cukup, cukup nduk!” Bu Sriyantika panik, dia mengelus-ngelus bahu menenangkan Tia.


“Gak mih enggak!” Tia merasa ingin meluapkan perasaan yang dia rasakan selama ini tanpa menghiraukan perkataan mamihnya.


“Mamih yang harus dengerin Tia! Kalo papih kecewa sama Tia, Tia jauh lebih kecewa sama papih! Papih udah ninggalin kita! Tia sayang papih mih sayang, dari dulu sampe sekarang. Tapi tiap kali Tia berharap papih datang, semakin sakit rasanya...,” Tia diam sejenak menyeka air matanya yang terus mengalir deras.


“Semakin lama Tia berharap, semakin kecewa mih Tia sama papih! Papih tu..., ” teriak Tia menangis deras sejadi-jadinya, dia menyetir oleng gak karuan karna tidak bisa mengontrol emosinya, menghiraukan bu Sriyantika yang raut mukanya sudah ketakutan karna mobil melaju cepat menuju tikungan.


“Tia stop stop! Itu ada orang!” mamihnya berteriak kencang memotong memperingatkan Tia.


NJEDAK! Tia sangat terkejut menghentikan mobilnya. Tangannya gemetar langsung dilepasnya dari setir. Tia terdiam, jantungnya berdenyut kencang tak karuan, mukanya pucat. Tia dan mamihnya saling bertatapan. Mamihnya berkomat-kamit beristigfar, untuk menenangkan diri.


“Mih?” tanya Tia pada mamihnya dengan suara parau dan muka pias.


“Mih Tia nabrak!? Tia nabrak sesuatu Mih?” tanya Tia ketakutan. Bu Sriyantika berusaha menenangkan diri, mencoba untuk tidak panik.


“Iya Tia iya. Astagfirullah! Astagfirullah!” Mulutnya masih berkomat-kamit beristigfar sambil mengelus-ngelus pundak Tia. Bu Sriyantika melihat ke belakang beberapa kali mengecek sesuatu. Tia yang awalnya tidak berani langsung menoleh perlahan memberanikan diri melihat ke belakang, ada sepasang pemuda, mereka tengah sibuk terlihat menolong seseorang.


“Kamu diam dulu disini, mamih keluar dulu!” sahut Bu Sriyantika menenangkan putrinya.


“Enggak mih, Tia ikut, nanti kalo mamih diapa-apain gimana?”


“Disini sepi Tia cuma ada kita sama mereka.”


“Engak enggak, kalo mereka teriak-teriak manggil warga gimana? Tia ikut mih, ayo mih.”


Tia dan mamihnya langsung keluar mobilnya berlari cepat kearah kerumunan. Disana ada sepasang remaja sepantaran Tia. Si wanita yang di kerudung bergo lusuh sedang duduk dekat korban menggunakan daster berbahan jatuh, terlihat perutnya yang besar menandakan dia sedang hamil tua. Telapak tangan kanannya terluka diikat oleh scaft cantik yang ada seberkas darahnya. Si laki-laki berambut plontos, bertato mengenakan kaos abu dan celana jins lusuh terdapat beberapa lubang disana disini. Dia berjalan menghampiri Tia.


“Wah kowe ki tanggung jawab!” (wah tanggung jawab kamu!)

__ADS_1


Si laki-laki berteriak ke Tia, sambil menunjuk-nunjuk kearah si wanita hamil yang sedang duduk memangku kepala korban di pahanya.


“Iya iya mas pasti pasti!” Jawab Tia menenangkan sambil mendekat ke arah korban. Tia melihat ada wanita cantik yang sedang tertidur pingsan di pangkuan wanita hamil, di kepalanya mengalir darah segar dari lukanya.


“Mbak...mbak? tangi mbak tangi?” ( mbak...mbak? Bangun mbak bangun?")Si wanita hamil mencoba membangunkan korban. Tia langsung duduk mendekati kedua perempuan tersebut.


“Ini mbak yang saya tabrak?” tanya Tia.


“Ho’oh ***! kowe kudu tangguh jawab!” (iya! Kamu harus tanggung jawab)


Teriak si laki-laki yang terus mengeluarkan kata-kata kasar mencaci maki pada Tia. Dia berkeringat panik dan begitu nyolot.


“Sudah mas sudah kita pasti bertanggung jawab.” Tak lama bu Sriyantika datang menenangkan si laki-laki.


“Mas!! Uwes mas uwes.”( sudah mas sudah) tambah Si wanita hamil menenangkan. “Kita harus membawa dia ke rumah sakit bu,” ucap si wanita ke bu Sriyantika


“Iya ayuk, Tia bawa mobil kesini!” Tia mengangguk mengiyakan perkataan mamihnya, langsung berlari ke arah mobil. Sesampainya di dalam mobil Tia menarik nafas beberapa kali, berusaha mengontrol dirinya agar tidak panik.


‘Bismillah’ gumamnya, dia memutar balik mobilnya mendekat ke TKP.


“Mas ini siapanya mas?” tanya bu Sriyantika yang sedang duduk di samping korban pada si laki-laki yang sedang berdiri angkuh menaruh kedua tangganya di pinggang.


“Ra, ora kenal aku.”( gak, gak kenal aku) Si laki-laki menggeleng-geleng kepalanya. Dia terlihat begitu bringas, tangan dan kaki kirinya dihiasi tato-tato yang sudah tidak jelas gambarnya.


Bu Sriyantika masuk duluan ke kursi belakang, si laki-laki membantu memangku si wanita tersebut ke mobil.


“Sini mas sini. Biar kepalanya di pangkuan saya,” ujar bu Sriyantika. Setelah memasukkan korban ke mobil si pria langsung menutup pintu belakang kencang.


“Lho lho mas, mau kemana ayuk ikut?!” ajak Tia.


“Ndak! Aku ora urusan.” ( gak aku gak mau ikut campur) dia mengangkat kedua tangannya tak mau ikut campur.


“Lho ini siapa?” Tia panik si laki-laki gak mau ikut bersamanya.


“Mbak denger yo!” si laki-laki memukul pintu depan membuat Tia kaget. Dia terlihat garang marah ketakutan.


“Aku orang kenal mba nde'e ( aku gak kenal dia), mbak sing nyerempet dede, jadi mbak sing kudu tanggung jawab!” teriak si laki-laki. Bu Sriyantika semakin takut melihat si laki-laki temperamental tersebut berteriak.


“Aku meh ngurusi bojoku.” ( aku mau ngurusi istriku) ujarnya menendang ban mobil kencang lalu pergi berlari ke arah istrinya, membantu istrinya berdiri.


“Udah Tia udah, kita langsung ke rumah sakit!” sahut bu Sriyantika, menepuk-nepuk bahunya.


Tia langsung mengemudikan mobilnya kesal. Bu Sriyantika membersihkan darah di kepala korban, darahnya terus keluar perlahan. Dia mengeluarkan jilbab cadangannya dari ditasnya, mengikatnya ke kepala wanita tersebut mencoba menghentikan pendarahannya.


Dilihatnya pakaian wanita tersebut bagus, dia menggunakan mantel ping baby, rok hitam dan sepatu sport. Kulitnya putih, rambutnya panjang yang diikat kuda sudah berantakan tak karuan, wajahnya terlihat cantik seperti putri yang sedang tertidur tapi pucat.


💚💚💚💚💚💚💚


Tia mondar-mandir menggigit jarinya di depan ruang operasi yang berjalan hampir tiga jam lebih. Bu Sriyantika membaca aplikasi alquran yang ada di gawainya. Lampu operasi padam, Tia tak sabar menunggu dokter keluar.


“Dokter, Dokter gimana dok?” dengan cepat Tia memburu dokter yang baru keluar dari ruang operasi.


“Sebentar mbak, nanti saya panggil mbak ke ruangan saya. Ijinkan saya untuk masuk ke ruangan saya dulu,” ujar dokter langsung menyelonong berjalan menuju ruangannya bersama para asistennya.


“Sabar, kita tunggu dokternya.” Bu Sriyantika mengelus-ngelus Tia menenangkannya. Tia mengangguk menuruti mamihnya.


“Keluarga bu Sriyantika?” Seorang suster memanggil. Tia dan mamihnya langsung bergegas menghampiri suster.


“Mari bu mbak ditunggu diruang dokter,” ujar suster ramah. Mereka lanjut berjalan mengarah ke ruang dokter.


“Jadi gimana dok?” tanya bu Sriyantika harap-harap cemas.


“Ini ibu sama mbaknya ada hubungan sodara sama pasien?” tanya dokter.


“Enggak dok. Kami yang menemukannya di jalan, kami membawanya kesini. Kami belum tau siapa keluarganya karna pasien tidak membawa identitas apa pun,” jelas Tia terburu-buru berbohong.


“Baik untuk saat ini keadaan pasien sudah stabil, kita hanya bisa menunggu pasien pulih dan siuman.”


“Berapa lama dok?” tanya Tia.


“Tergantung keadaan pasien mmm... bisa satu sampe dua hari, paling lama tiga hari. Sejauh ini kita berdoa agar keadaan pasien cepat pulih agar cepat sadar lebih baik. Ibu dan mbaknya pulang besok pagi kalian bisa kesini lagi.”


“Kami bisa liat pasien dok?” tanya bu Sriyantika .


“Bisa tapi dari luar.”


💚💚💚💚💚💚💚


Tia iseng mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananya. Dia menuliskan kata maaf di kaca tersebut. Di balik jendela yang berhiaskan tirai putih carang tersebut terbaring seorang wanita yang diserempetnya. Tia memandangnya iba dengan mata berkaca-kaca dipenuhi rasa penyesalan.


“Gimana kalo dia gak sadar mih? gimana kalo Tia masuk penjara?" gumamnya.


“Sttt, kamu jangan nglantur, untuk saat ini kita berdoa agar dia cepat siuman.” Tia langsung memeluk mamihnya menangis di pelukan mamihnya.


“Tenang ada mamih, Ada Allah.” Mamihnya mengelus-ngelus bahu dan menciumi kepala putrinya menguatkannya.

__ADS_1


__ADS_2