Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Tampar


__ADS_3

Kegiatan ospek ini begitu padat dilalui maba, mereka saja baru bisa tidur jam  sepuluh malam. Ditenda Tia, terdapat dua kelompok perempuan semua jumlahnya dua belas kelompok dari beda-beda jurusan. Mereka tidur berimpit-impit bak ikan bandeng, suasana dingin mencengkam mereka.


“Bangun! Bangun! Bangun!, cepat kelapang kelapang kelapang!” teriak senior menggoyang-goyangkan tenda, semua maba berburu berpakaian lengkap lalu pergi  lapang. Tia melihat arloji waktu menunjukkan jam satu pagi.


Akh Baru saja dua jam dia tidur, sudah dibangunkan lagi. Tia sibuk mencari-cari sabuknya.


“Waktunya lima belas menit lagi, bagi yang telat anggotanya akan dihukum!” teriak kang Toni dengan Toanya.


“Ayo ti!” ajak Sarah, Tia masih sibuk mencari sabuk. Karna Tia takut anggotanya dihukum, dia berlari ke lapang tanpa sabuk.


Semua maba sudah berkumpul berbaris rapi di lapangan, tidak ada satupun maba yang berani berisik, gaduh ataupun barisannya bengkok. Sedikit saja mereka melakukan kesalahan, bentakan dan hukuman harus siap mereka terima.


“Sudah lengkap?” teriak kang Toni.


“Siap belum, siap sudah!” ada maba yang menjawab belum dan sudah.


“Yang belum lengkap angkat tangannya tinggi-tinggi.” sahut kang Toni.


Tia mengangkat tangan nya, tiba-tiba,


Plak!


tamparan teh Ina mendarat di pipinya. Ini pertama kali Tia di tampar seumur hidupnya, kalo saja mamihnya tau apa yang dialaminya sekarang, pasti dia sudah disuruh keluar dari universitas ini. Tamparan tidak hanya diterima Tia saja, semua maba yang belum lengkap baik cewek maupun cowo mendapatkan hal yang sama.


“Itu semua hukuman bagi kecerobohan kalian! Sekarang saya kasih waktu sepuluh menit, sepuluh menit untuk mengambil perlengkapan pos to pos dan mencari atribut kalian, lalu kembali lagi kesini, kalo atribut kalian tidak lengkap kelompok kalian mendapat hukuman. Go!” ujar kang Toni memberi intruksi.


Semua kelompok berbalik arah berlari menuju tendanya, Tia berlari cepat mencari-cari sabuknya lagi. Dia mengobrak-abrik isi tenda, tapi dia tak menemukannya. Dia bertanya ke anggota lain tak ada satu pun yang tau ke mana sabuknya menghilang.


“Dua menit lagi.” teriak kang Toni.


Waktu semakin mepet Tia tidak bisa menemukan sabuknya, dia berfikir keras bagaimana caranya agar kelompoknya tidak mendapat hukuman. Akhirnya dia menggunakan tali tambangnya sebagai sabuk, itu memang terlihat aneh, dia hanya berikhtiar bagaimana caranya agar anggotanya tidak dihukum, lalu Tia balik lagi ke barisan.


Kang Toni menyuruh mereka untuk duduk di atas tanah yang basah karna embun malam, rasa dingin menggigil menyelimuti para maba. Kelompok per kelompok pergi dalam jarak lima menit untuk pos to pos.


Kini giliran kelompok mawar maju, Tia menyiapkan barisannya. Lalu dia jalan sekitar dua km untuk menemukan pos pertamanya, mereka berjalan sambil menyanyikan lagu yel-yel untuk melawan rasa dingin yang amat menusuk tulang.


“Team mawar team mawar, team yang lembut dan tangguh.” teriak team mawar. Di pos pertama ada satu team laki-laki  sedang berbaris di pandu dua senior laki-laki dan satu senior perempuan mengurusi team perempuan. Tia menyiapkan kembali teamnya.


“Sudah lengkap?” tanya teh Yuni.


“Siap sudah!” sahut kelompok mawar lantang.


“Sudah lengkap?” tanya teh Yudi kedua kalinya lebih lantang, rupanya teh Yuni belum puas dengan jawabannya. Tia menyadari  pasti ini ada hubungannya dengan tali yang dipakainya sebagai sabuk.


“Siap sudah!” jawab team mawar lagi.


Plak!


Dan lagi tamparan teh Yuni mendarat di pipi Tia. Hawa panas di pipi mengusir rasa dingin ditubuhnya.


“Kamu pikir kamu sudah lengkap? itu kenapa sabuknya beda sendiri?”


“Hilang teteh, saya pake ini supaya anggota saya tidak di hukum.” teriak Tia tegas.


Plok plok plok


Teh Yuni tepuk tangan, salut.


“Good leader,” puji teh Yuni pada Tia. “ ini kalian anggotanya gak mikir?” tambahnya.


Anggota lain saling menatap dan berbisik, apa yang dimaksud omongan teh Yuni.


“Jangan berisik!”


Plak plak plak plak plak


Lima tamparan didapatkan semua anggota team Mawar.

__ADS_1


“Yang namanya anggota itu harus kompak, ini ketua kalian sedang kesusahan kalian malah gak kompak, sekarang saya gak mau tau gimana caranya team ini kompak.” teriak teh Yuni.


Ternyata dia menginginkan semua anggota mengenakan tali sebagai sabuk untuk menyamai Tia. Otomatis semua anggota mengganti sabuk mereka dengan tali tambang.


Pada pos pertama team Mawar lolos, mereka berjalan menuju pos berikutnya.


“Guys ada yang haus gak? kita rehat minum dulu!” instruksi Tia pada anggotanya.


“Heh, elo jadi ketua kok ceroboh banget sih, liat kita jadi pake kaya ginian.” protes Elin menunjuk-nunjuk sabuk talinya.


“Udah lin namanya juga musibah, sekarang gimana caranya kita bisa meminimalisir kesalahan.” bela Winda.


“Iya udah, jangan memperparah, kita udah cape. Jangan abisin energi buat berantem!” timpal Sarah, semua anggota membela Tia dan hal ini membuat Elin muak.


Di pos kedua mereka sampai, seperti biasa Tia menyiapkan anggotanya.


“Dingin?” tanya senior perempuan tertera name tagnya Resti.


“Siap dingin!” jawab team mawar kompak.


Plak plak plak plak plak plak,


Dan lagi team mawar mendapatkan tamparan.


“Masih dingin?” tanya teh Resti lagi.


“Siap tidak.” jawab team mawar.


Hampir di semua pos, mereka mendapatkan push up, bending dan tamparan gara-gara hal sepele. Itu pun menjadi hal biasa bagi mereka dan membuat tubuh mereka lebih hangat melawan dinginnya malam.


Sampai team mawar tiba di pos kedisiplinan pos enam. Diliatnya dua senior laki-laki salah satunya kang Rio dan teh Yanti senior perempuan. Tia tidak memperhatikan Rio karna dia fokus pada instruksi teh Yanti, hanya saja Tia mendengar suara Rio yang lembut menjadi menggelegar di depan kaum adam, dan dia juga ikut andil dalam memberikan hukuman  push up, bending dan tamparan untuk kaum adam.


‘ngeri juga tu anak’ gumam Tia dalam hati.


💚💚💚💚💚💚💚


Pos to pos selesai tepat sebelum subuh tiba, semua maba kembali dalam keadaan lapar, haus, capek dan kotor. Ada maba yang pingsan, jatuh sakit dan sebagainya. Tia bersyukur mendapatkan team yang kuat tak ada satupun anggotanya jatuh sakit atau pingsan.


Mereka bersiap-siap mengantre mandi di toilet yang antreannya begitu panjang, Yeni dan Tia berdiri dibelakan Winda dan Sarah, dibelakangnya Elin menyusul datang.


“Rima mana?” tanya Tia ke Elin.


“Mana gue tahu.” jawabnya ketus.


Tak lama Rima datang berlari kearah mereka.“Kemana aja sih loe!” bentak Elin pada Rima sewot.


“Udah jangan ribut, Rim biasakan kalo pergi kasih tau salah satu dari kita, biar kita gak kuatir.” sahut Tia didepanya.


“Oke.” Rima menjawab dengan nafas masih terengah-engah.


💚💚💚💚💚💚💚💚


Di hari kedua kegiatan ospek, di lapangan sudah ada daun pisang panjang banyak berjejer. Setiap satu daun pisang disediakan untuk satu kelompok sebagai alas makan, di atasnya ada nasi dan lauk pauk kangkung, ikan asin, tahu, tempe, dan telur balado.  Ada juga aqua gelas sebanyak jumlah anggota team.


Para maba mengenakan kaos putih, dan celana PDL. Team mawar masih mengenakan tali sebagai sabuk untuk menandakan kekompakan team.


“Yen mana topi gue?” tanya Tia ke Yeni.


“Bentar.”


Yeni membuka tasnya mencari topi di bagian paling atas, tapi dia tidak menemukan topinya, dia hanya menemukan topi miliknya. Yeni mengeluarkan sebagian isi tasnya.


“Bukannya loe naruh paling atas ya tadi, kenapa di keluarin semua?” tanya Tia, Yeni tidak menggubris Tia masih sibuk mencari.


“Ti gak ada!” ujar Yeni yang membongkar habis tasnya.


“Kok bisa?” Tia ikut membongkar tas Yeni, dan dia tidak bisa menemukan topinya.

__ADS_1


“Aduh kena hukuman lagi deh kita!” sindir Elin. “Elo ceroboh banget sih, kaya gini jadi ketua tim.” ejeknya.


Tia tidak menggubris Elin. Jujur hatinya tambah panik masih sibuk mencari, berharap topinya keselip.


“Gimana dong Ti?” tanya Yeni merasa bersalah.


Tia berfikir keras, dia berdiri melihat kearah sekitar sampai dia melihat ke tenda P3K.


“Guys sekarang cepet kalian ganti sabuk kalian pake sabuk biasa, terus kalian duluan ke lapang, bentar lagi gue nyusul.”


“Loe yakin?” jawab Elin meremehkan Tia.


“Elin cepet!” bentak Tia, kelompok mawar mengganti sabuk lalu pergi ke lapang.


Tia langsung berlari ke tenda P3K, di lihatnya banyak pasien berbaring.


“Ada apa?” sahut teteh senior yang mengenakan almamater P3K.


“Ini teh mau jenguk temen.” sahut Tia sesantai mungkin.


“Jangan lama-lama!” jawabnya judes.


“Baik teh.”


Tia langsung masuk, dia mencari siswa yang terlihat parah. Hampir semua pasien tak sadar diri atau tidur, ada yang sadar dia memegang perutnya. Tia menghampirinya, diliat papan dadanya Wildan.


“Wildan?” sapa Tia.


“Ya?” sahutnya lemas kesakitan. “Loe siapa?”


“Gue mo minta tolong Wil?”


“Loe mau minta tolong sama orang yang gak bisa berdiri?” ujar Wildan  menyeringai tersenyum kecut.


“Bukan itu, gue mau pinjem topi sama sabuk loe, cuma buat seharian ini, gue Tia dari kelompok mawar, nanti sore gue balikin.” Wildan diam berfikir.


“Please bantuin gue, kasian team gue kalo atribut gue gak lengkap, nanti mereka kena hukuman, cuma sehari ini, setengah hari deh.” tawar Tia.


Wildan mengangguk setuju, dia membuka topi dan sabuknya lemas, Tia membantunya melepaskan atributnya. Setelah itu Tia langsung berlari ke tukang cilok yang jualan di dekat masjid.


“Mang?”


“Ya neng? mau beli berapa?”


“Mang, saya bisa minta tolong, beliin topi dan sabuk hitam kaya gini di pasar, ini uangnya, terus ini ongkos buat emang.” ujar Tia menyerahkan dua lembar uang berwarna merah.


“Serius neng?” ucap mang tukang cilok terbelalak melihat uang yang ditawarkan Tia.


“Eh serius mang, saya bayar sisanya kalo emang sudah kasih sabuk dan topi nya ke saya, bisa?” ujar Tia masih memegang selembar uang merah dan biru. Tia beruntung, baginya materi bukanlah hal sulit untuk didapat.


“Wah bisa-bisa atuh neng, neng tunggu sini ya?”


“Iya mang, mang jangan nyamperin saya atuh, saya aja yang nyamperin emang nanti siang.”


“Oke oke.” Ujar mang cilok mengangguk-anggukan kepalanya semangat.


Tia langsung bergabung dengan teamnya ke lapangan dengan atribut lengkap  tersenyum semeringah, kelompoknya menyambut dengan gembira.


“Kok bisa ketemu?” tanya Sarah ikut girang.


“Bisa dong, Tia tea, hayu akh makan.” ajak Tia.


Kegiatan ospek pada hari kedua membuat konsentrasi maba menurun dikarenakan bayaknya pelatihan yang harus mereka kerjakan, sedangkan para  senior tak ada satupun dari mereka yang bersikap lembut, bentakan hukuman push up, dan tamparan masih di dapatkan para maba bagi yang melanggar peraturan. Termasuk team Mawar bagi anggotanya yang membelot.


Jam sebelas malam semua maba berkumpul membentuk lingkaran besar, api ungun besar dinyalakan membuat tubuh mereka hangat. Para senior saling meminta maaf pada yuniornya. Mereka bernyanyi lagu jurusan dan hiburan pun dari tiap kelompok disediakan.


Dari team mawar Sarah yang maju membacakan puisi berjudul “Ospek” buatannya sendiri satu bait yang menyentuh hati Tia

__ADS_1


Kerasnya didikanmu kakak kelas, membuatku berdiri semakin tegar untuk bekal hidupku kelak.


Hal itu yang dirasakan Tia, selama hidupnya dia mendapatkan perlakuan manja dari mamihnya, kini dia harus merasakan kerasnya ospek jurusan teknik. Dia tidak pernah mendapatkan ospek sekeras ini sebelumnya. Tia merasa bangga akan pilihannya, dia tidak pernah sedikit pun menangis, baginya kerasnya fisik yang didapatkan pada ospek ini tidak sekeras kehidupan pribadinya.


__ADS_2