
PATAH HATI
“Ra loe angkatan 2010 berarti sama kaya gue dong, terus loe kelahiran 92 gue juga, cuma bedanya gue bulan juli, kita sepantaran. Gue kira elo lebih muda dari gue, habis badan loe kecil sih, kayak kurang makan.” ejek Tia membuat Rara manyun, mendengar celoteh Tia sebal. Mereka sedang asik melahap sarapan pagi masakan bi Atik.
“Ti, soal kemarin...” Rara ragu melanjutkan pembicaraannya. Dia malah mengaduk-ngaduk makanannya malu.
“Kemarin yang mana?”
“Kejadian di kampus gue.” lanjutnya.
“Owh iya itu keren banget Ra, gue gak nyangka elo bisa gitu. Gue kira loe feminim loh, eh tiba-tiba loe pelintir tu tangan si bapa gendut. Padahal gue dah ancang-ancang mau nonjok dia.” jelas Tia pajang lebar sambil melahap nugget.
“Bukan itu.”
“Terus yang mana.” tanya Tia mengenyeritkan dahinya.
“Si bapak itu bilang...”
“Obrolan bapak itu? Yang dia bilang elo punya hubungan khusus sama dia? kaya gitu aja elo percaya. Ra dengerin gue ya, loe tu cantik, tu bapak-bapak cuma ngada-ngada doang, jangankan bapak-bapak gendut, cowok seganteng Bagas pun bisa pura-pura jadi calon suami elo.” potong Tia berceloteh panjang lebar.
“Bukan itu Tia, loe inget yang bapak-bapak itu cerita gue sering karokean sama dia? terus ada cowo dia juga ngajak karokean sama gue, bahkan si cowok itu tau dulu gue SPG, sama apa yang di bilang Bagas. Apa dulu gue cewek yang gak baik ya Ti?” ujar Rara sedih.
Tia memandang Rara iba, sekalinya dia dapat celah tentang identitasnya. Rara malah mendapatkan kejadian buruk dan data personal yang gak baik soal dirinya.
“Ra, gak ada jaminan ra, gak da jaminan loe seperti apa orangnya. Baikpun cowok-cowok kemarin kita temui ataupun data Bagas, mereka bisa aja ngarang. Bisa aja mereka cuma naksir loe terus ngomong yang aneh-aneh soal loe. Gue harap loe jangan suudhon dulu, sapa tau nanti kita ketemu dengan teman cewek loe, mereka bisa ngasih tau tentang diri loe yang baik.” tambahnya.
“Tapi ti...”
“Gini deh kita pake strategi, kalo nanti elo ketemu temen loe, loe jangan kasih tau dulu kalo elo amnesia, gue yang bakal nanya elo seperti apa orangnya, gimana?”
Rara tersenyum tipis menatap Tia.
“Gue kangen tante Sri, Ti.”
“Gue juga sama.”
Tia mengusap-usap bahu Rara.
“Assalamualaikum.” suara lantang Wildan datang dari depan rumah.
“Walaikumussalam.” sahut Rara dan Tia kompak.
“MASUK WIL.” teriak Tia yang tak mau beranjak dari kursinya.
“Ikh kok loe teriak-teriak sih gak sopan tau.” ujar Rara beranjak dari kursinya hendak menyambut Wildan ke depan rumah.
Tiba-tiba tubuh Rara menubruk Wildan tak sengaja, rupanya Wildan sudah keburu masuk rumah.
“Maaf maaf.” ujar Wildan.
“Eh iya gak papa mas.”
“Hahaha, Wil sini ikut sarapan, udah sini aja Ra, dia mah orangnya selow gak usah disambut segala.” sahut Tia yang asik mengunyah makanannya.
Rara kembali duduk di kursi nya, Wildan duduk di sebelah kanan Tia yang duduk dikursi utama.
“Gue udah sarapan, tapi gue nyemil ini aja ya.”
Wildan mengambil nuget, dilahapnya.
“Ti, gue puas sama event gue yang di Semarang, padahal ini baru event pertama, tapi udah masuk target, anak buah loe keren.”
“Owh iya dong Zoe agensi gitu loh, tuh si Rara pinter dia nyari SPG. Loe mau kontrol ke Semarang?”
“Wah gitu ya, keren Ra.” puji Wildan mengacungkan jempol pada Rara, membuatnya tersenyum malu.
"Sebenernya gue males, tapi gue belum dokumentasi, gue butuh jadi kayaknya besok kamis gue kesana.” tambah Wildan.
“Ya kalo dokumentasi gue gak bisa bantu, loe sendiri yang harus kesana.”
__ADS_1
“Iya sih, eh elo nerima SPG reguler di Bandung?”
“Iya ada, kenapa loe mau join?”
“Gini deh kalo event kedua bagus, gue joint, kan gue juga harus ngasih proof juga sama atasan gue.”
“Sip sip.” ujar Tia girang.
Wildan melihat ke arah Rara yang sedang makan. Dia terus memperhatikan wajahnya, Wildan pun sempat kagum dengan kecantikannya.
“Woii.” ujar Tia mengibaskan tangannya ke depan muka Wildan, Rara kaget dengan suara lantang Tia.
“Kenapa?” tanya Tia.
“Itu Rara...” ucap Wildan mulai salting.
“Rara kenapa? Cantik? Naksir ya?” goda Tia ceplas-ceplos malah membuat Rara canggung tak nyaman.
“Iya! Eh bukan gitu. Akh elomah, sorry sorry ya Ra, tapi kayaknya saya kenal sama kamu.” ujarnya berubah gaya bicara dari loe gue jadi saya kamu.
"Tapi dimana ya, aduh dimana ya?” Rara tersenyum mendengar celoteh Wildan yang mencoba mengingat-ingat tentang dirinya.
💚💚💚💚💚💚💚
SEMARANG 2019
Ranti sedang asik menyiapkan kemeja suaminya, dia memilih dasi berwarna navi siluet hitam, di taruhnya kemejanya di atas ranjang. Setelah itu dia menuju ruang makan, diliatnya Mila sedang duduk di meja makan sembari membaca buku tebal.
“Mau teh mil.” tawar Ranti tersenyum pada Mila. Mila mengangguk perlahan tak berkata.
“Mbak masak dulu sebentar ya.” tambahnya tersenyum pada Mila sembari menyodorkan secangkir teh hangat.
Mila tak banyak bicara hanya mengangguk-angguk, kalo saja bukan persyaratan dari Rara yang mengharuskan Mila tinggal dengan Ranti, dia tak mau melakukannya.
‘Sabar Mil, dua hari lagi’ gumam Mila pada dirinya sendiri mengacuhkan perubahan Ranti pada keluarganya. Dia hanya ingin kakanya Bagas segera bertemu Rara dan menceraikan Ranti. Dendam dalam hatinya sudah menempel kuat pada dirinya.
Tak lama Bagas datang ke meja makan, sudah disediakan teh hangat buatan istrinya, dia duduk di samping Mila. Diliatnya Ranti sedang asyik menyiapkan makanan di dapur bersama asistennya.
“Kayaknya ada yang lagi ngelobi nih.” ejek Mila melirik Ranti.
“Maaf ya lama nunggu.” ujar Ranti datang membawa lauk pauk di kedua tangannya.
"Ayo makan.” ajak Ranti sembari mengambil piring menuangkan nasi diatasnya. Bagas membiarkan apa yang di lakukan Ranti, sudah hampir seminggu sikap Ranti berubah. Dia menjadi pribadi lebih baik dan pendiam. Senyum manisnya selalu dia tawarkan pada keluarga Bagas. Tapi Bagas tidak bisa melihat itu semua karna di dalam otaknya hanya tertera nama Rara.
“Bang?” sahut Ranti tersenyum padanya, Bagas melihat ke Ranti menyahut panggilannya. Ranti mengambil sebutir nasi di dekat bibirnya Bagas. Mata mereka berpapasan, Bagas langsung mengelak mengambil serbet lalu mengelapnya.
“Abang mau pergi dulu ada rapat!” ujar Bagas menghindar.
“Apa gak sebaiknya sarapannya diabisin dulu, nanti abang sakit?” sahut Ranti memberi perhatian.
“Wassalamualikum.” Sahut Bagas cepat tidak menggubris perkataan Ranti.
“Bang bareng, wassalamualikum.” sahut Mila pada Ranti pamit.
“Wa'alikumussalam.” jawab Ranti yang di tinggal sendirian, Ranti bersabar tersenyum tipis melihat kelakuan mereka.
💚💚💚💚💚💚💚
Teng tong, Bu Hasiah membuka pintu utama, diliatnya kedua anaknya datang tersenyum menyabut tangan bu Hasiah, menciumnya. Mila langsung pergi menuju dapur, rupanya dia masih lapar karna tadi belum sempat menghabiskan sarapannya.
“Kenapa kesini dulu?” tanya bu Hasiah pada Bagas.
“Mila mau sarapan dulu mak, tadi Bagas buru-buru pergi.”
“Kenapa buru-buru?”
“Ya gak tahan sama sikapnya mbak Ranti lah mak.” sahut Mila menyela sembari mengambil selapis roti panggang dari dapur.
“Loh bukanya Ranti sudah berubah?”
“Paling gak lama, nanti juga dia balik lagi.” timpal Mila.
“Kamu gak boleh suudzon kaya gitu Mil. Bagas apa gak kamu batalin aja rencana perceraian kamu sama Ranti? bukannya dari dulu kamu berharap dia berubah sekarang kan dia udah berubah. Toh selama ini Ranti sudah baik sama kita?” ujar bu Hasiah membela menantunya.
__ADS_1
“Bagas gak bisa mak, Bagas cintanya sama Rara.” sahut Bagas menolak nasihat amaknya.
“Kalo Rara gak mau sama kamu gimana?”
“Bagas udah gak peduli amak, dua hari lagi Rara mau nemuin Bagas, Bagas mau yakinin dia mak, kalo cintanya Bagas cuma buat Rara.” jelas Bagas membuat Hasiah hanya menarik nafas sabar.
Dia berdoa agar hati anaknya terbuka bisa menerima Ranti. Teng tong, suara bel berbunyi.
“Bang itu pasti mbak Ranti, ayo bang.” ajak Mila seraya mereka sudah tau kalau Ranti sering ke apartemen amak selepas mereka berangkat kerja.
“Mak Bagas berangkat ya.” Bagas mencium tangan amaknya, lalu dia membuka pintu, diliatnya Ranti membawa misting untuk bekal amaknya.
“Bang, kok disini?” tanya Ranti.
“Buku Mila ketinggalan mbak, ayo bang.” Mila menarik tangan Bagas pergi ke luar.
Ranti masuk disambut senyum ramah Bu Hasiah, Ranti memeluknya, dan amak pun menerima pelukan hangat Ranti.
“Kamu yang sabar ya?” Sahut bu Hasiah pada Ranti iba. Ranti mengangguk tersenyum.
“Amak Ranti kuatir kalo Mila terus nginep di apartemen Bagas amak sendirian, gimana kalo amak tinggal di apartement Ranti, kan disana ada tiga kamar, amak bisa tidur dikamar yang satunya atau tidur bareng Mila.”
Bu Hasiah diam sejenak mendengar tawaran Ranti, dia mengangguk setuju. Perubahan sikap Ranti pada keluarga Bagas memang drastis. Ranti sungguh-sungguh tak mau kehilangan Bagas. Dia mengikuti apa yang Rara katakan padanya, hanya saja dia belum menunaikan tugasnya sebagai istri untuk memenuhi nafkah batinnya. Karna Bagas yang menolak Ranti untuk melayaninya.
Pada hari pertama perubahan Ranti, Ranti menyuruh Bagas untuk tidur di kamarnya, tapi itupun tidak digubrisnya. Dan pada hari kedua Ranti memberanikan diri menyusul ke kamar Bagas, Bagas memang tidak mengusirnya hanya saja dia tidak membiarkan Ranti menyentuhnya.
Ranti selalu sabar dengan perlakuan Bagas selama ini, dia memahami betul apa yang terjadi pada Bagas semua karna ulahnya. Jika Bagas selama ini bisa bersabar selama bertahun-tahun menghadapinya, begitupun dengannya Ranti akan sabar menghadapi sikap Bagas padanya.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Dua hari berlalu, Bagas pagi-pagi sudah bertamu ke rumah bu Sriyantika . Selama seminggu dia bersabar tidak memberikan perhatian lagi pada Rara, dan menahan diri tidak mencari keberadaan Rara, supaya bisa bertemu dengannya. Kini wajahnya semeringah tak sabar ingin menemui pujaan hatinya.
'Bismillah’ gumamnya.
“Bagas?” sahut bu Sriyantika sambil membawa sebuah amplop.
"Ini ada titipan dari Rara.” Bu Sriyantika menyerahkan amplop itu pada Bagas.
“Raranya dimana tante?” tanya Bagas tak sabar ingin menemuinya. Bu Sriyantika menghela nafas iba pada Bagas yang berharap lebih.
“Rara tidak ada disini Bagas. Dia sudah pergi, dia menitipkan surat itu untuk kamu.”
Netra Bagas berkaca-kaca mendengar perkataan bu Sriyantika. Hatinya yang berbunga berubah menjadi sesak.
“Rara pergi kemana tante?”
Bu Sriyantika diam menggelengkan kepalanya.
“Tante gak bisa bilang apa-apa Bagas, melalui surat itu kamu tau apa yang harus kamu lakukan.”
“Ndoro, mobilnya udah siap.” sahut pakde No mengingatkan ke majikannya untuk segera pergi. Bu Sriyantika mengangguk mengisyaratkan pakde No untuk menunggunya di luar.
“Bagas, tante harus pergi dulu.”
“Iya tante, makasih tante.”
Bu Sriyantika langsung pergi dengan mobilnya, Bagas yang sudah pergi terlebih dulu dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dia tak sabar membaca surat pemberian Rara. Berharap ada petunjuk dimana keberadaan Rara. Diliat tulisannya, Bagas begitu mengenal tulisan tangan mungil kekasihnya.
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Untuk yang pernah menjadi orang terkasih, bang Bagas.
Abang, Rara minta maaf Rara tidak bisa menepati janji Rara untuk bertemu dengan abang. Rara sengaja pergi dari kehidupan abang, dari kota ini. Rara tidak mengelak apa yang Rara rasakan pada abang saat ini, dan Rara pun tau perasaan abang untuk Rara. Yang harus abang pahami adalah cinta yang kita rasakan ini salah abang. Abang tidak seharusnya mencintai Rara. Ada orang yang lebih berhak dari pada Rara, yaitu istri abang Ranti. Rara tau selama ini sikap Ranti pada abang tidak baik, tapi jauh dihati yang paling dalam, Ranti mencintai abang. Dia menyesali perbuatannya selama ini pada abang, amak, maupun Mila. Ranti tak ingin kehilangan abang, dia berjanji untuk merubah sikapnya menjadi lebih baik. Mungkin sekarang pun abang sudah merasakan perubahan sikap Ranti. Abang, Rara mohon cintai Ranti sebagai istri abang. Tuntunlah dia jadi pribadi lebih baik. Jadilah abang imam yang baik bagi Ranti. Cintai dia karna Allah abang, Insya Allah dengan begitu abang akan bahagia. Ini semua bentuk kasih Rara ke abang, Rara ingin abang bahagia dengan keluarga abang yang sekarang. Rara yakin pelan-pelan akan tumbuh rasa cinta abang ke Ranti. Dan cukupkan hubungan kita sebagai sahabat. Semoga Allah selalu menjaga abang sekeluarga. Salam kasih untuk Mila, amak dan Ranti.
Mutiara
“RARAAAA.” teriak Bagas didalam mobilnya. Dia menangis histeris memukul-mukul setir. Hatinya hancur serasa tidak percaya dengan apa yang didapatnya. Orang yang dicintainya lebih memilih pergi dari kehidupannya.
💚💚💚💚💚💚💚
Patah Hati, sebutan yang tepat untuk yang Bagas rasakan saat ini. Dua hari dia sudah tak pulang ke rumah bermalam di kantornya. Beberapa kali dia membaca surat dari Rara. Beberapa kali dia datang memohon pada bu Sriyantika untuk memberitahukan keberadaan Rara. Tapi bu Sriyantika tidak pernah memberi jawaban yang diinginkan Bagas, dia selalu menyuruhnya pulang. Pernah dia menunggu seharian di depan kantor Rara bekerja, tidak pernah sosok Rara ditemukannya. Dia ingin sekali mengetahui keberadaan Rara. Dia menebak-nebak kemana Rara pergi, ke Bandung? atau pasti ke Solo. Dia pikir Rara pergi ke Bandung mencari identitasnya atau ke Solo mencari keberadaan keluarganya. Dia harus menyusulnya.
Ranti selalu melayaninya Bagas walaupun dia bermalam di kantor, dia datang ke kantor untuk membawa pakaian ganti dan makanan untuknya. Ranti tidak menyerah walaupun Bagas sangat mengacuhkannya.
__ADS_1