Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Berbanding Terbalik


__ADS_3

Lantunan ayat suci Al-Quran membuat Rara terbangun, tangannya meraba-raba ke atas meja di samping rajangnya mencari jam weker, diliatnya masih pukul setengah empat subuh. Dinginnya udara pagi yang membuat pipinya merah merona tidak membuatnya menarik selimut untuk bersembunyi dibaliknya. Suara  yang terdengar merdu membuat Rara penasaran dan beranjak dengan hati-hati agar Tia teman tidurnya tidak terbangun.  Dia membuka dan menutup pintu kamar perlahan berusaha agar tidak mengeluarkan bunyi. Kakinya melangkah menuju kamar tempat sumber suara itu berada. Dia berhenti didepan pintu kamar yang sedikit terbuka.


‘Tante Sri mengaji’ gumamnya. Rara duduk dilantai samping pintu kamar bu Sriyantika yang sedang mengaji. Dia duduk bersandar ditembok memeluk lututnya karna dinginnya udara subuh. Rara menghayati setiap bacaan Al- Quran yang bu Sriyantika lantunkan, suaranya begitu merdu, membuat hatinya tenang. Sesekali dia ikuti bacaannya pelan sembari memejamkan matanya serasa hafal dengan lantunan ayat suci yang bu Sriyantika baca.


“Innaa ja'alnaa maa 'alal-ardhi ziinatal lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amalaa, am hasibta anna ash-haabal-kahfi war-roqiimi kaanuu min aayaatinaa 'ajabaa, iz awal-fityatu ilal-kahfi fa qooluu robbanaaa aatinaa mil ladungka rohmataw wa hayyi` lanaa min amrinaa rosyadaa.”


Bu Sriyantika berhenti mengaji, tapi Rara masih memejam dan mengulang ulang ayat terakhir yang bu Sriyantika baca.


“Fityatu ilal-kahfi fa qoo luu robbanaaa... robbanaaa....” gumamnya melanjutkan bacaannya.


Bu Sriyantika wanita paruh baya berusia 52 tahun beranjak dari sajadahnya berniat keluar kamar untuk mengambil segelas air minum, dia  kaget menemukan Rara yang duduk di samping kamarnya.


“ Lho nduk kamu ngapain?” tanya bu Sriyantika heran.


“ Eh tante Maaf, Rara ganggu ya?” Rara kaget bu Sriyantika memergokinya, langsung berdiri.


“Enggak, tante kaget aja, ngapain kamu duduk di bawah nanti kamu kotor?” ujarnya sambil menepuk punggung Rara takut kotor karna duduk di sembarang tempat.


“He he dengerin tante ngaji.” Rara tersenyum merasa bersalah takut gumamannya terdengar dan menghentikan tantenya mengaji.


“Kenapa ndak masuk saja tho nduk?”


“Takut ganggu tan, tante mau kemana? kok gajinya berhenti, biasanya tante berhenti klo udah adzan?”


“Lho kamu sering duduk disini dengerin tante ngaji?”


Rara mengangguk tersenyum tipis menelan salivanya. Dia takut tantenya marah dan merasa terganggu atas apa yang dia lakukan selama ini. Bu Sriyantika menggeleng-gelengkan kepalanya tersenyum melihat tingkah Rara.


“Nduk tante bisa minta tolong ambilin segelas air putih?”


“Siap Tante!” ujarnya  girang. Dengan cepat Rara mengambil air dan kembali ke kamar utama rumah tersebut.


Tok Tok Tok. Rara mengetuk pintu perlahan. ”Assalamualaikum tante?”


“Wa’alaikumussalam, masuk nduk kan pintunya gak ditutup?” Rara masuk menghampiri bu Sriyantika yang sedang duduk disajadahnya sembari memegang mushaf.


“Ini airnya Tante.” Rara menyodorkan segelas air duduk di samping tantenya. Bu Sriyantika mengambil air yang ada ditangan Rara dan meminumnya perlahan.


‘Bismmillahirohmanirohim’ gumamnya meneguk air seteguk dan mengucapkan hamdalah setelahnya, Bu Sriyantika mengulangnya tiga kali.


Rara diam fokus melihat cara tantenya minum dengan perlahan begitu anggun pikirnya. Bu Sriyantika sedikit pun tidak merasa terganggu yang menyadari Rara memperhatikannya.


“Kamu tau ga ra? apa perbedaan cara minum orang berilmu sama yang enggak?”Rara menggelengkan kepalanya, rasa penasaran terbesit dikepalanya.

__ADS_1


“Orang berilmu bisa mendapatkan beberapa pahala kebaikan dalam sekali minum.” Rara begitu menyimak perkataan bu Sriyantika.


“Dia mengambil minuman dengan tangan kanannya mendapatkan satu pahala, ketika akan meneguknya dia mengucapkan bismillah, dia mendapatkan dua pahala, ketika minumannya panas dan dia tidak meniupnya dia akan mendapatkan tiga pahala, bila dia minum dalam tiga kali tegukan dia mendapatkan empat pahala, ketika setelah minum membaca hamdalah dia mendapat lima pahala, ketika minum dia dalam keadaan duduk tidak berdiri maka dia akan mendapatkan pahala kebaikan lainnya.” Tutur bu Sriyantika lembut.


“Jadi Rara kalo bisa minum sesuai sunah Rosul kamu akan mendapatkan banyak pahala dan kebaikan nduk.” Rara mengangguk setuju seraya akan mengamalkan apa yang bu Sriyantika katakan.


“ Jadi kamu setiap subuh duduk didepan kamar tante, dengerin tante ngaji?”. Rara diam dia tersenyum malu.


“Enggak tiap hari kok tante, kalo ke bangun aja”


“Kamu mau ngaji Ra? Sekarang kan hari Jum’at  bagusnya ngaji Surat Al Kahfi.”


“Mau tante.” Ujar Rara melihat ke mushaf yang bu Sriyantika bawa berukuran sedang.


“Kamu pake ini ya.” Bu Sriyantika memberikan kerudung instan berwarna merah muda. Rara langsung memakainya di bantu Bu Sriyantika merapikan hijabnya. Rara tersenyum, bu Sriyantika terkagum-kagum melihat kecantikan Rara mengenakan hijab, begitu anggun begitu cantik.


“Kamu cantik nduk kalo pake jilbab.” tuturnya menyentuh dagu Rara. Rara tersenyum malu dengan pujian yang dilontarkan bu Sriyantika.


“Coba kamu baca ini.” telunjuknya mengarahkan pada surat Al Khafi ayat satu.


“Al-ham   du lillaa   hil laziii an za la 'a laa 'ab di hi  -ki taba.” baca Rara terbata bata.


“ 'Abdihil.” sahut bu Sriyantika membenarkan bacaan Rara.


“Ab dihil – ki taaba wa lam yaj'al lahuu 'iwajaa. Qoyyi mal liyunziro ba san syadiidam mil ladun\-hu wa yubasysyirol\-mu miniinallaziina ya'maluunash-shoolihaati anna lahum ajron hasanaa.”


#


TIDID TIDID TIDID! Jam weker berbunyi begitu kencang, Tia gadis tomboy masih tertidur lelap. Dia terbangun malas, matanya enggan ia buka, tangannya malah merogoh-rogoh selimut yang ada diujung kakinya, dia tarik selimutnya menyelimuti tubuh dan kepalanya.


“Ra matiin wekernya!” sahutnya malas, tetapi jam weker masih berbunyi kencang, dia tidak sadar Rara sudah tidak berada disisinya. Tia terbangun  duduk diatas ranjangnya melihat ke arah jam weker, waktu menunjukkan jam 7.30.


‘OMG’ Gumamnya panik, Tia langsung beranjak dari kasurnya dan lari tergesa-gesa menuju kamar mandi.


Rara yang sedari tadi sibuk membantu bu Sriyantika dan mbok Sum menyiapkan sarapan di meja makan. Dia begitu fokus dengan pisau roti mengoleskan nuttela pada roti tawar.


“Biar saya saja non.” sahut mbok Sum sambil mencoba mengambil roti dan pisau yang dipegang Rara.


“Gak papa Mbok.” Rara tersenyum tangannya mengelak mbok Sum yang hendak meraih roti yang dihiasnya.


“Coba Tia selembut kamu Ra, Tante pasti seneng banget.” sahut bu Sriyantika yang duduk dikursi utama.


“Tia juga baik kok tante, baik banget malah. Hatinya juga lembut, Dia mau nerima Rara disini, malah anggap Rara kaya adik sendiri.” Sahutnya tersenyum.

__ADS_1


“Tia belum bangun Ra?”


“Paling dia lagi mandi tan, sebentar lagi juga keluar paling 10 menitan lagi.”


“Ya udah kita sarapan duluan, biarin mbok Sum yang nyiapin sarapannya Tia, temani tante ya? tante laper.” Rara mengangguk duduk dan melahap roti lapis yang dibuatnya.


DUG DUG DUG! suara langkah kaki terdengar begitu gaduh dari tangga. Gadis tomboy dengan jaket coklat berukuran XXl terlalu besar dibadannya dan menggunakan celana jins standar turun dari tangga tergesa-gesa.


“Ra kok loe gak bangunin gue? mbok kunci mobil mana?” Gerutu Tia jengkel pada Rara melaju tergesa menuju meja makan.


“Nduk bisa gak kamu pelan-pelan jangan rusuh gitu ah gak elok!” tegur bu Sriyantika marah pada Tia.


“Aduh mih ngomelnya ditahan dulu deh mpe nanti Tia pulang, ini Tia udah telat, Ra ayo!” dia menarik-narik tangan Rara yang baru saja melahap setengah roti tawarnya. Rara menaruh rotinya berdiri menarik balik tangan Tia dan menyuruhnya duduk dikursi sebelahnya.


“Sarapan dulu.” bisiknya ke telinga Tia. Tia kesal hendak bangkit dari kursinya dan Rara menahannya dengan tangannya.


“Ra? loe tau ga ini jam berapa?” tanyanya sewot.


“Loe tau gak ni hari apa?” tanya Rara balik tersenyum sabar menghadapi Tia.


“Jum’atlah!”


“Jadi?”


“Jadiiii?” Tia mengerutkan dahinya mencoba mengingat-ingat sesuatu.


“Jadi eventnya dimulai ba’da Jum’at” sahut bu Sriyantika menyela.


“Owh iya.” Tia memukul jidatnya cengengesan melihat mamihnya malu. Dia langsung mencomot roti lapis yang dibuatkan mbok Sum sedari tadi.


“Kamu tu nduk kebiasaan! Mbok ya segala sesuatu tu yang telaten bisa to, kasian kan Rara jadi diburu-buru ga jelas!!” Celoteh mamihnya sembari memotong roti lapisnya. Tia fokus melahap roti nutella yang lezat karna perutnya yang lapar.


“Kamu denger gak?” tanya Mamihnya lagi kesal.


“Denger mamihku sayang, mamih boleh ngomel panjang lebar, hari ini Tia dengerin dengan te-la-ten karna hari ini Tia berangkat siang.” Ucapnya santai tersenyum, sambil melahap roti lapisnya. Bu Sriyantika menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putri semata wayangnya.


“Ya sudah kalian berdua sarapan lagi, Ra kamu tambah lagi rotinya.” Tawar Bu Sriyantika memutuskan berhenti untuk mengomel. Dia mengira bakal sia-sia berbicara panjang lebar dengan putrinya yang begitu keras kepala.


Rara tersenyum, melihat kelakuan ibu dan anak yang sudah dianggap sebagai keluarganya.


Bu Sriyantika melihat ke arah dua gadis yang duduk di samping kanannya. Dua wanita yang memiliki sifat yang berbeda, dia selalu membayangkan seandainya Tia sikapnya selembut Rara. Dua wanita yang sepantaran usianya, dia bisa menerka dengan tepat usia putrinya Tia 28 tahun tapi tidak dengan Rara, dia hanya bisa menerka usia Rara, mungkin 25 atau paling tua sekitar 29. Akh tapi dia masih terlihat muda pikirnya, Bu Sriyantika tidak tau berapa persis usianya, jangankan usianya, siapa dia, dari mana asalnya nya juga dia bahkan tidak tau, yang dia tau dia sangat menyukainya dan menyayanginya seperti anaknya sendiri. 


Rara memakai kaos oblong berlengan panjang dan celana jins milik Tia yang sedikit longgar di badannya, mungkin karena badan Rara lebih kecil dari pada Tia jadi terlihat longgar dipakainya. Rara mengikat kuda rambutnya yang tebal dan ikal. Matanya sipit seperti gadis Asia, bola matanya hitam, kulitnya begitu putih sebersih susu, parasnya begitu cantik, sinar mentari pagi membuat pipi meronanya terlihat jelas.

__ADS_1


Gadis disampingnya Tia nama aslinya Putri Tyaningsih Suryadi tidak selembut namanya. Dia begitu tomboy, badannya sedikit lebih bongsor dari Rara, kulitnya coklat sawo matang dan parasnya cantik manis, matanya yang belo menunjukkan wajah oriental gadis Jawa asli.


Kendatipun dia tomboy, mamihnya selalu mendidiknya dengan baik sesuai ajaran Islam. Tia dilarang berkeluyuran pada malam hari kecuali urusan pekerjaan, dari cara berpakainya pun selalu mengenakan celana panjang dan baju gombrang berlengan panjang tak membentuk tubuh. Dia paling sering menutupi kepalanya menggunakan topi, entah alasan apa dia susah untuk diajak berhijab. Walaupun mamihnya sering memarahinya untuk dia mengenakan hijab tapi Tia selalu mengabaikannya. Rara lebih patuh pada Bu Sriyantika dibandingkan Tia, Rara selalu mendengarkan bu Sriyantika mengaji dan siarnya bada magrib, berbeda dengan Tia yang selalu tidur kembali bada shalat subuh. Dua gadis cantik ini memiliki sifat yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat yang lebih pantas terlihat sepupu dari pada kakak adik.


__ADS_2