Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
21. Terluka


__ADS_3

“Abang lepas abang!” Teriak Ranti kesakitan. Bagas menariknya ke kamarnya dan melemparnya ke atas kasur.


“Kau sadar apa yang sudah kamu lakukan? Gara-gara kau semua jadi kacau!” bentak Bagas geram.


“Biar bang biar kacau sekalian, aku tak sudi melihat kaumenikah dengannya!”


“APA MAUMU!? Bukankah dari awal kau sudah tidak setuju dengan pernikahan kita?”


“Tak bang, aku takan rela kalau kau pergi begitu saja, kalo saja ...”


“Cukup Ranti! Kalo masalah harta akan kukembalikan semuanya, takan ngambil sepersenpun harta apakmu! Puas!”


Bagas pergi meninggalkan wanita itu sendirian, Ranti menangis sejadi-jadinya. Dia berteriak melemparkan tasnya memecahkan kaca riasnya. Bagas sempat terhenti kaget dengan suara pecahan kaca, dia menghela nafas kesal lalu pergi dari apartemennya.


Bagas masuk lift, menekan angka menuju lantai bawah. Tak jauh beberapa lantai dibawanya, dia mampir menuju apartemen ibunya.


TENG TONG, suara bel berbunyi, tak lama Mila membuka pintu menunggunya disana.


“Gimana bang mbak Ranti gimana?” Bagas diam mendengar pertanyaan Mila, dia menghela nafas kesal.


“Dia marah mil.” jelas Bagas.


“Hatinya pasti hancur Bagas.” ujar amaknya yang membawakan secangkir teh untuknya.


“Biar saja mak, dia mungkin sekali ini hancur hatinya, la hati bang Bagas berkali-kali hancur dibuatnya.” ujar Mila membela Bagas.


“Belum lagi hati kita yang hancur berkali-kali, sering kita dibuat remeh olehnya, dia menganggap kita benalu, yang membebani hidupnya.” Tambah Mila, Bu Hasiah terdiam mendengar penjelasan anak bungsunya yang benar adanya, dia menghela nafas dalam.


“Terus sekarang kamu mau gimana?” tanya bu Hasiah pada Bagas.


“Yang pasti saya harus bertemu Rara dan menjelaskan semua ini mak.”


“Mila setuju bang, kalo perlu Mila temani jelasin ke mbak Rara biar bang Bagas bisa balik lagi sama mbak Rara, Mila jadi kesal kok bisa mbak Ranti datang pernikahan tau dari mana dia?”


“Gak tau mil, ya mungkin dia dapat info dari orang kantor yang kita undang, entahlah abang juga masih belum tau pasti.” Bagas mengambil cangkir teh yang dibuatkan amaknya, lalu meminumnya. Pikirannya kacau, setetes air mata jatuh ke pipinya.


“Abang yang sabar, abang yang kuat. ”sahut Mila menepuk pundaknya.


“Sabar Bagas sabar.” ujar amaknya  memeluknya, Bagas menangis dipelukan amaknya.


“Kenapa hidup Bagas jadi seperti ini amak, Bagas sudah gak kuat amak.” Bagas menangis memeluk amaknya. Amaknya pun menangis melihat penderitaan anaknya. Mila dan amak mengusap bahu Bagas menenangkannya.


“Sabar nak ini semua ujian.” ujar amaknya.


“Amak?” Bagas menyeka air matanya dia melepaskan pelukan amaknya. “Bagas harus balik ke rumah Tia, Bagas harus ketemu Rara.”


“Apa sebaiknya kamu istirahat dulu, tak baik engkau pergi dalam keadaan seperti ini?”


“Tak bisa amak, Bagas harus pergi sekarang juga”. Bagas berdiri dan langsung mengambil kunci mobilnya. Dia pergi ke rumah bu Sriyantika  untuk mencari Rara.


#


“Nduk gimana Rara udah ketemu ini udah jam satu lho?” tanya Bu Sriyantika gelisah.


“Belum mih, ini dari tadi Tia minta tolong pak Rt sama staf, tapi gak ada yang tau dia pergi kemana.”


“Non ini dari tadi hpnya bunyi terus?” kata mbok Sum menyerahkan hp ke Tia.


“Angkat nduk sapa tau itu Rara? ”Tia melihat puluhan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan Whatsapp dari Wildan.


“Bukan mih, ini dari Wildan, dia mau ngasihin proposal paling.”


“Astagfirullah, ya Allah lindungi Rara dimanapun dia berada.” doa bu Sriyantika.


DRRT DRRT hp Tia berbunyi lagi, Wildan menghubunginya beberapa kali. Tia mengacuhkannya, dia  tidak bisa fokus dengan pekerjaanya, lalu di reject pangilan Wildan. Tia menekan aplikasi WA hendak mengirim pesan semua staffnya via grup. Tapi Wa Wildan diposisi paling atas terbaca pesan singkatnya.


(ti sodara loe sama gue, kita lagi di masjid agung)


Tia mengerutkan dahi heran.


‘sodara yang mana maksudnya’ Tia diam sejenak


‘jangan- jangan!’ gumam Tia langsung menelpon Wildan.


“Halo assalamualaikum wil?”


“Walaikumussalam, loe kemana aja sih kok ditelpon susah, sodara loe...”


“Yang loe maksud itu Rara?”


“Gue gak tau, yang jelas mempelai wanitanya dia disini sama gua.”


“Kok bisa, dimana?”


“Dia sembunyi di mobil gue, di masjid Agung Semarang.”


“Ok ok ok gue kesitu, wassalamualaikum”

__ADS_1


“Waalaikumussalam.”


“Tia itu Rara?” Tanya mamihnya cemas.


“Mih kita berangkat sekarang mih Rara ada di masjid agung.”


“Ayu nduk ayu bentar dulu sayank, mbok sum?”


“Nggeh ndoro.”


“Tolong rapihin ini semua bilang ke orang EO-nya, beresin ini semua, kembaliin seperti semula, kalo perlu pakde No cari orang bantu mengembalikan dekorasi rumah ini, pokoknya saya ingin pas Rara kembali rumah ini sudah beres, kasian dia biar ga inget kejadian tadi!”


“Enggeh ndoro.”


“Ayo sayang.” ajak mamihnya.


Tia dan bu Sriyantika  berangkat menggunakan mobil  X Trail menuju masjid Agung. Sesampainya disana diliatnya Wildan sedang berdiri di samping mobilnya, Tia dan mamihnya langsung menghampirinya.


“Assalamualaikum, Mana Rara wil?”


“Wa’alaikumussalam, di dalem masjid ti.”


“Dan makasih ya, gue sama mamih ke dalem dulu.”


“Ok gue langsung balik ya?”


“Ok.” Tia hendak pergi dia teringat sesuatu, “Eh mana proposalnya?”


“Udah ga papa next aja, loe urusin aja sodara loe.” ujarnya merasa tak enak.


“Udah ga papa cepetan mumpung ketemu, loe besok harus balik ke jakarta.” ujar Tia.


“Owh iya,” Wildan membuka pintu dan mengambil map merah dari mobilnya ini, “Loe baca-baca dulu itu eventnya masih lama jadi mending loe beresin urusan keluarga dulu.”


“Ok sip ayo mih, Assalamualaikum.” ucap Tia pamit.


“Waalaikumussalam.” Jawab Wildan.


Rara masih berdzikir menyebut asma-asma Allah  sesekali air matanya menetes, bu Sriyantika dan Tia menghampirinya.


“Nduk sayank, kamu gak papa?”


“Tante?” Rara langsung memeluk bu Sriyantika menangis sejadi-jadinya, Tia disampingnya mengelus-ngelus bahunya.


“Sayang sabar sayang.”


Rara diam dipelukan bu Sriyantika cukup lama, bu Sriyantika  tidak mau banyak bertanya, dia ingin membiarkan Rara tenang lebih dulu. Sampai pada saat Rara melepaskan pelukannya Bu Sriyantika tersenyum mengelus-elus kepalanya.


“Gak mau tante Rara gak mau pulang dulu, pasti Bagas ke rumah cari Rara.” isaknya.


“Ya kalo dia datang nanti tante suruh pulang aja Bagasnya.”


“Tante Rara gak mau kesana dulu, Rara mohon tante ijinin Rara untuk nenangin diri dulu.”


“Ya udah loe chek in aja ya, gue temenin.”


“Ga sah ti gue di rumah Ayu sama Sinta aja ya.”


“Loe yakin??” Rara mengaguk dengan senyum tipis.


“Ok gue telpon Ayu ya?”


Rara dibawanya ke kontrakan  Ayu, Ayu dan Sinta ngekos satu rumah di salah satu komplek. Dirumah mereka masih ada satu kamar yang kosong Rara menepati kamar tersebut.


Tia mengantar bu Sriyantika pulang, untuk mengambil perlengkapan Rara.


Rumah mewah blok C4 ini kini sudah kembali seperti semula, panggung dan dekor di halaman rumah sudah tak ada. Dan ternyata benar tebakan Rara diliatnya Bagas sedang menunggu diteras rumah.


“Ngapain lagi sih tuh anak balik kesini, gak punya malu apa?” gerutu Tia geram.


“Hush jangan gitu, mamih juga marah, tapi kita harus tetep jaga sikap!” Bu Sriyantika dan Tia langsung turun dari Mobilnya, Bagas yang melihatnya dengan cepat menghampiri  mereka.


“Assalamualaikum tante?”


“Waalaikumussalam.”


“Ngapain loe kesini?” tanya Tia sewot.


“Nduk sudah cukup.” sela bu Sriyantika.


“Tia masuk  nih, males ngadepin dia.” ujarnya sinis langsung menyelonong ke dalam rumah.


“Bagas kita semua capek, kamu juga pasti capek.”


“Tapi tante Bagas mau jelasin....”


“Bagas! tante gak bisa mempercayai kamu begitu saja setelah kebohongan yang kamu lakukan, kalo kamu mau menjelaskan, besok bawa bu Hasiah. Tante cuma mau mendengar penjelasan dari dia saja!” ujar Bu Sriyantika tegas.

__ADS_1


“Baik tante, kalo gitu Bagas pamit tante.” bu Sriyantika  mengangguk. “Assalamualaikum tante.”


“Waalaikumussalam  warahmatullahi wabarakatuh.”


Bu Sriyantika  langsung masuk ke rumahnya, dilihatnya rumahnya sudah tertata seperti semula. Sedih rasanya, harusnya ini jadi moment terbaik untuk Rara.


“Kemana si Bagas mih, mamih usir dia?”


“Katanya dia mau jelasin, tapi mamih tolak, mamih suruh dia bawa amaknya besok, biar dia jelasin didepan amaknya.” ujar bu Sriyantika merobohkan tubuhnya di sofa.


“Mih kok mamih ngasih kesempatan sih?”


“Mamih gak ngasih kesempatan Tia, mamih cuma penasaran, kenapa mereka begitu tega sama Rara? apa salahnya Rara?”


Tia diam mendengar penjelasan mamihnya, dia juga penasaran dengan semua ini.


“Tia kamu balik ke rumah Ayu trus kamu nginep disana!”


“Iya mih.”


Tia tak berlama-lama dirumahnya, dia menyiapkan kebutuhan Rara, dimulai dari pakaian sehari-hari, pakaian dalam sampai basahannya, alat mandi dan lain-lain.  Bada magrib dia langsung meluncur ke rumah Ayu.


“Assalamualaikum.”


“Walaikumussalam, eh mbak masuk mbak.” Sinta mengenakan hijab coklat menyambut Tia.


“Rara dimana?”


“Lagi ngaji mbak, kayanya sekalian nunggu Isa.”


“Owh, Sin ini tolong ke piringin ya kita makan bareng.” ujar Tia sambil menyerahkan makanan yang dibawanya.


“Eh mbak Tia, loh bawa apa itu?” tanya Ayu yang baru nongol dari kamarnya.


“Makanan ini.” Jawab Sinta


“Owalah mbak gak usah repot-repot.”


“Gak papa sesekali ini yu, gue titip Rara gue gak tau sampe berapa hari, nanti gue bantu bayar sewa kosanya.”


“Astagfirullah mbak kaya sama sapa ja.” ujar Sinta.


“Iya mbak ki ono ono we, wes ra sah (mbak tu ada-ada saja, udah gak usah) mikir kaya gitu-gituan kita seneng mbak Rara disini!” tambah Ayu.


“Ok malem ini gue nginep sini ya?”


“Lho mamih gimana ti?” sahut Rara santai  keluar dari kamarnya, dia sudah ganti baju pake pakaian Sinta.


“Mamih yang nyuruh gue nemenin elo dulu.” jelas Tia, Rara perlahan mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ini makanan elo yang beli?”


“Iya, makan yuk, dari siang loe belum makan loh.”


“Ayo.” ujar Rara tersenyum terlihat kuat dengan mata sembam.Terlihat dia berusaha tegar atas apa yang terjadi.


Hari Sabtu Rara terbangun semenjak subuh, kegiatan yang paling sering dia lakukan setelah kejadian pahit kemarin adalah mengadu pada Tuhannya berdzikir dan mengaji.


Semalaman dia tidak bisa tidur, ada perasaan menganjal seperti batu besar menimpa dadanya yang membuatnya sesak, dan dia berusaha menyingkirkan batu itu melalui do’a-do’a yang dipanjatkannya.


“Ayu loe temani Rara, Sinta loe masuk kantor seperti biasa, dan loe jangan bilang anak-anak kalo gue sama Rara nginep sini!" Ujar Tia, mereka sedang mengobrol diruang tamu.


“Iya siap bos, bos mbak Rara gimana, masih nangiskah?” tanya Sinta kuatir.


“Kalian denger ya! hatinya pasti hancur, dia pasti sedih dengan kejadian kemarin, tapi seperti yang kita liat dia berusaha tegar didepan kita, dan kita harus menghormati sikapnya, bersikaplah seolah tidak ada apa-apa!”


“Siap bos.” jawab Sinta dan Ayu kompak, tak lama Rara keluar dari kamarnya sudah berpakaian rapi.


“Kok loe belum siap-siap?” ujarnya ke Tia.


“Ini loe mau kemana?” tanya Tia heran.


“Kerjalah, kan sekarang hari sabtu half day?” ucap Rara yang santai.


“Enggak, gue gak ijinin!” ujar Tia.


“Loh kenapa?”


“Mamih yang nyuruh, dia mau kesini, mau jelasin sesuatu jadi dia nyuruh loe standby disini!”


Rara diam melihat kearah Tia, Ayu dan Sinta, sebenernya ia ingin bersikeras masuk kantor agar bisa cepat melupakan kejadian kemarin, tapi dia tak mau terlihat berdebat dengan Tia didepan Ayu dan Sinta.


“Ok.” jawab Rara kembali ke kamar, Tia menghela nafas iba melihat sikap Rara.


“Bener-bener tegar mbak Rara tu.” ujar Sinta.


“Iyo yo yen aku di posisi de'e, sebulan aku moh keluar omah.”(Iya ya kalo aku di posisi dia, sebulan aku gak mau keluar rumah) tambah Ayu.

__ADS_1


“Bukan dia yang kuat yu, pasti dia bersikap biasa nyoba buat nyembuhin lukanya, gue malah bersyukur Allah yang masih menjaga dia dari orang macam Bagas.” Ujar Tia.


Orang yang terluka selalu bersikap biasa bukan karna dia kuat, justru dia lemah karna dia tak mau berlama-lama menggeluti rasa sakitnya, maka dari itu dia mencari kegiatan di luar berusaha mencari obat, bukan untuk menghilangkan luka karna dia tau itu sangat sulit, tapi dengan cara itu setidaknya lukanya bisa berkurang


__ADS_2