
Andri dan Rara tengah santai duduk di kursi payung. Rara memberikan sample minuman dingin gratis pada Andri. Andri dengan antusias menerimanya dan meminumnya.
“Wezz zegar warbiazah,” sahut Andri sambil mengeleng-gelengkan kepalanya semeringah, Rara tertawa lucu melihat tingkah sahabatnya yang pecicilan.
“Feb itu si Tia Tia itu cantik tapi judes ya, dia yang ngerawat elo selama ini?”
“Andri elo jangan macem-macem ya sama dia.” Rara kesal pada Andri yang memperhatikan Tia.
“Ish Feb cewek-cewek macam elo, Tia buka tipe gue. Gue tu ya sukanya sama cewek yang lamah lembut, lucu, yang ngomongnya manja, aduh gue suka tuh yang kaya gitu.” Andri malah curhat menceritakan tipe ceweknya.
“Kaya Tania?” tebak Rara mengetahui Andri mantan salah satu sahabatnya.
“Hahaha, iya sih. Gue masih inget dulu sampe nangis bombai patah hati gara-gara diputusin dia, sekarang dia dimana ya? Udah nikah belum ya? Semoga aja dia bahagia walaupun bukan sama gue.”
“Aaamiiin,” Rara tersenyum mengamini celoteh sahabatnya. “ jadi Rio gimana?” tanya Rara to the point.
“Dari tadi gue merhatiin dia,” ujar Andri sembari sesekali melihat ke arah Rio diam-diam tak ingin membuat Rio curiga.
“Terus?” tanya Rara makin kepo.
“Mmm kesimpulan gue, dia cowo baik- baik,” ujar Andri yakin dengan penilaiannya.
“Baik loe bilang?”
“Huum, lebih tepatnya alim.”
“Apa? Alim? Dia kemarin gendong-gendong gue, masukin gue ke dalam mobil gara-gara cemburu gak jelas, Itu yang elo bilang alim?” tanya Rara tak terima dengan jugsment Andri pada Rio.
“Euh dengerin gue dulu dong! Wajarlah dia cemburu Feb, karna dia gak mau elo sampai tersentuh cowo lain.”
“Gue nga ngerti Andri.” ujar Rara dibuat bingung dengan penjelasan Andri.
“Gini ja deh Feb. Tipe-tipe cowo kaya dia tu mentalnya aja keliatan gede di depan cewek yang dia suka, tapi aslinya kikuk kikuk.” Andri membentuk tangannya seperti ayam lalu digerak-gerakan dengan menaik turunkan lengannya. “Mental ayam,” tambah Andri.
“Maksudnya?” tanya Rara makin gak ngerti.
“Feb kalo loe mau bikin dia benci sama loe gak usah cape capek lari, percuma karna loe bakal luluh sama dia suatu hari!”
“Jadi gimana gue gak ngerti omongan loe?”
“Cara bikin benci cowo alim yang naksir sama loe ya loe harus bersifat sebaliknya!” jelas Andri membuat Rara berfikir.
“Agresif?” tebak Rara.
“Cerdas loe!”
__ADS_1
“Ta-pi dia gak alim Ndri, dia tu...,”
“Itu kan menurut pandangan elo, karna elo cewek yang ditaksirnya. Tau gak Feb, cowo alim kaya gitu cuma mau naksir cewek alim kaya loe, mutiara yang susah didapat. Kenapa? karna loe tidak ter-kon-ta-mi-na-si,” tangan Andri memperagakan ikut berbicara, “jadi semakin loe menjauh semakin besar tenaga yang dia dapet untuk meluluhkan hati loe!” jelas Andri yakin.
“Dan kalo loe mau buat dia benci sama loe, gak ngejar loe lagi, terus illfeel sama loe, ya elo harus jadi tipe cewek yang dibenci dia, yaitu cewek agresif, bener gak?” sahut Andri menjentikkan jari dengan Pede membenarkan teorinya.
“Dan kalo loe agresif, gue yakin seratus persen mentalnya langsung menciut, dia gak akan berani genit-genit sama elo lagi gak kan deketin elo lagi yang ada dia ilfeel sama loe.”
“Caranya?” tanya Rara bingung.
“Ya loe agresiflah sama dia!”
“Ya caranya gimana gue gak tau cewek agresif tu gimana?”
“Masa kaya gitu ja gue yang ajarin, gini deh gue kasih trik. Cara bikin cowok alim illfeel dalam sepuluh menit, langsung dijamin tu cowo kabur.”
“Gimana?” tanya Rara polos.
“Loe pura-pura mau cium bibirnya,” ujar Andri genit menaik turunkan halisnya.
“APA LOE GILA YA?” teriak Rara kaget dengan celoteh Andri.
“Ini bukan cium beneran Febby, gue bilang pura-pura mau cium bibirnya dia!”
“Ya tetep aja itu gila Andri, gak mau gue!”
“Gimana caranya?” tanya Rara terlanjur kepo dengan teory Andri.
“Pertama-tama loe pancing dia dulu, bikin dia gak nyaman dengan kegenitan loe?”
“MAGSUDNYA GUE HARUS GENIT SAMA DIA?” Suara lantang Rara mengagetkan Andri lagi.
“Ya iya lah , gak papalah Feb ‘kan cuma bentar sepuluh menit paling, habis itu cek detak jantungnya, kalo dia berdebar-debar berarti dia sudah mulai gak nyaman.”
“Caranya ngeceknya?”
“Loe bawa stetoskop, ya lo sandaranlah di dadanya, loe cek kan bisa!”
“APAAA?!” teriak Rara lagi yang semakin lama teori Andri semakin aneh dipikirnya.
“Upa apa upa apa, loe bisa gak sih gak usah teriak-teriak sakit telinga gue! Febby ini cuma bentar sepuluh menit, jadi ga nih triknya?”
“Terus gimana?” tanya Rara masih penasaran.
“Kalo jantungnya udah dag dig dug, baru loe agresif, tarik kerah bajunya deketin wajahnya mendekat ke wajah loe.” Jelas Andri dengan memperagakan tangannya. “ Elo harus ngelakuinya dengan tenang Feb, inget seperti yang gue bilang cowo alim yang kaya gitu dari jauh keliatan kekar macho tapi aslinya kalo cewe udah beraksi kikuk kikuk kikuk,” jelasnya lagi menekukkan lengannya lagi seperti ayam, digerak gerakan lengannya keatas ke bawah, wajah Rara berubah menjadi cemas tapi masih diam menyimak.
__ADS_1
“Loe pelan-pelan aja deketin wajahnya ke arah loe. Dalam jarak lima centi, empat centi dia masih bisa tahan.” Andri memperagakan dengan kedua jari telunjuknya yang semakin lama semakin mendekat.
“Tapi tiga senti, dua senti jantungnya udah deg degan, pasti dia keringatan, dan dalam jarak satu senti disitu...,”ucap Andri berhenti menjelaskan triknya.
“Disitu apa?”
“Puncak iman dan nafsunya berperang, loe tahan aja bentar dalam jarak satu centi biarin loe berhenti, kasih dia waktu untuk berfikir!”
“Berfikir?” tanya Rara heran.
“Cowo pastinya punya hasrat tapi kalo cowo alim kaya gitu dia akan berfikir sebelum melakukan maksiat, lalu dia akan berdo’a.”
“Berdoa apa?”
“Ya Allah ya tuhanku aku mencintai gadis ini, tapi ternyata gadis ini tidak baik. Aku lebih mencintai-Mu ya Rab, tolong berilah hamba kekuatan untuk meninggalkannya, dan gantilah dengan gadis yang lebih baik dari pada dia.” Andri menengadahkan tangannya mempraktik berdoa. “Dan dia akan mendorong badan loe ke belakang lalu dia akan...,” jelas Andri tiba-tiba diam.
“Akan apa?” tanya Rara yang makin penasaran.
“Beristigfar,” lanjut Andri dengan gaya bicara yang sudah mulai puitis. “dan otomatis, dia wuzz loe ditinggal pergi.”
Rara diam menyerap celoteh Andri, “Konyol Ndri! kok gue ragu ya?”
“Euh elo mah! Nih gue buktiin ya, kita udah ngobrol lama, gue perhatiin itu dari tadi si Rio liatin elo. Dia gak nyaman mutiara yang dia taksir dekat-dekat dengan cowo lain, walaupun itu sahabatnya sendiri.” tangan Andri tak bisa diam memperagakan apa yang dibicarakannya.
“Nih ya lima menit lagi dia bakal nyamperin kesini, dan duduk diantara kita. Terus dia bakal nanya, lagi ngobrol apaan kok keliatan asyik banget?”
“Terus?” tanya Rara.
“Terus gue jawab, biasalah nostalgia!”
“Terus?” tanya Rara lagi.
“Terus dia bakal bilang, bukanya gak bolehnya cowo dan cewe bukan mahrom ngobrol berdua?”
“Gue jawab ini kan tempat umum. Tapi Dia gak mau kalah, dia pasti bilang ‘ya tetep aja gak enak keliatan orang nanti bisa timbul fitnah’. Tuh dia udah keliatan gusar dia pasti kesini. Gue itung mundur ya lima, empat, tiga, dua, satu!”
Rara melihat kearah Rio yang sedang ngobrol dengan Tia dan ternyata benar ucapan Andri, tak lama Rio menghampiri mereka dia duduk kursi antara Rara dan Andri.
“Lagi ngobrol apaan kok keliatan asik banget?” ujar Rio dengan wajah kesal.
“Owh biasa a nostalgia cerita kuliah” jawab Andri santai.
“Bukanya gak boleh ya cewek sama cowo yang bukan mahrom ngobrol berdua?” pertanyaan pertama sesuai yang diperkirakan Andri, dan Rara setengah terkejut, masih diam fokus membuktikan teori Andri.
“Loh tapi kan ini tempat umum banyak orang?” bela Andri.
__ADS_1
“Ya tetep aja gak enak diliat orang ngobrol berdua, nanti bisa timbul fitnah.”
Andri diam dan mengangkat kedua alisnya ke Rara seraya dia berhasil dengan experimentnya. Rara tekagum-kagum dengannya, semua apa yang dikatakan Andri tidak meleset satu pun.