
Bandung, Juma’t Februari 2019 08.30
“Assalamualaikum pak Rio, damang (sehat)?” tanya pak Sultan salah satu guru agama, yang bersetel baju olah raga.
“Alhamdullillah sae-sae( baik-baik) bapak gimana?” tanya Rio balik.
“Alhamdulillah pak, pak hayu atuh (ayo) biasa volly.” ajak pak Sultan untuk ikut olah raga .
“Assalamualaikum pak?” sapa Gery murid kelas tiga sambil mencium kedua tangan gurunya. “Pak Hayu atuh pak Diki udah nunggu dilapang, pak Rio ikut kan, udah lama loh pak ga gabung?” ajaknya.
“Iya pak Rio biar badan kita sehat, Al-mu'minul qowiyyu ahabbu ilallah minal mu'minidh dha'if. Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah.” jelas pak Sultan tersenyum mengeluarkan hadisnya.
“Iya pak Hayu.” ujar Rio menyetujui.
Pertandingan volly yang diadakan Tiap jumat ini diikuti guru vs siswa, Pak Jefri membuka pertandingan dengan pukulan floating servisnya bolanya melambung ke area lawan diterima oleh Fajar murid kelas tiga, pada ronde pertama dimenangkan oleh guru. Pada saat ronde kedua Rio servis bawah sampai bola melambung ke lapang lawan, matanya tiba-tiba terhenti pada seorang wanita yang mengenakan coat pink, dia berusaha melihat siapa wanita tersebut. Rio maju berjalan beberapa langkah memastikan penglihatannya, sampai tiba-tiba bola yang dipukul oleh seorang murid menuju ke arahnya, Rio tidak fokus pada pertandingan.
“Pak Rio awas, pak Rio awas.” semua guru berteriak memperingatkannya, tapi dia tidak menghiraukan peringatan para guru. Sampai bola tersebut jatuh tepat diatas kepala Rio. Rio langsung terjatuh jongkok, dia menghiraukan rasa sakit yang dirasa masih berusaha mencari tau siapa wanita tersebut.
“Pak Rio gak papa?” tanya pak Sultan dan pak Jefri menghampirinya mengecek keadaannya.
“Bapak punten (maaf) saya tidak sengaja.” sahut Anton merasa bersalah, salah satu murid yang memberikan passing.
“Itu siapa pak Sultan? “tangan Rio menuju perempuan berjaket pink tersebut.
“Owh itu orang tua murid pak, kenapa bapak kenal?” ujar pak Sultan, Rio menutup wajahnya beristigfar. “Pak Rio ingat Mrs?” tambah pak Sultan.
“Pak sepertinya saya udahan dulu, saya mau shalat dulu.”
“Owh mangga-manga (silahkan-silahkan) pak Rio.” sahut pak Sultan.
“Bapak-bapak saya pamit mau salat dulu.” Rio meminta ijin undur diri ke guru-guru lainya.
Durasi setengah jam Rio ikut join olah raga dengan teman-teman sepengajarnya. Dia pergi menuju tempat wudhu akhwan yang mempunyai banyak keran untuk para murid. Rio memutar salah satu keran, air jernih mengalir dingin menyegarkan wajahnya. Lalu dia mengucap basmalah berwudu dengan tartil. Setelahnya dia masuk ke Masjid, sedari pagi hatinya dilandai rasa gelisah dan was-was, dia merasa gundah tidak karuan. Empat rakaat salat duha dia lakukan dengan khusyuk, doanya dihiasi zikir menyebut asma-asma Allah. Rio menangis berdoanya pada Rab-nya meminta ketenangan atas kegundahan hatinya, dia mendoakan agar semua orang yang dia dicintai dalam lindungan Allah . Setelah itu dia membaca Al-kahfi dengan tartil. Rio yang sedari kecil meraih juara qori memiliki suara yang begitu indah, dia membaca surat Al Kahfi sampai selesai menjelang duhur.
\#
Semarang, Juma’t Februari 2019 09.00
Pada jam sembilan acara dimulai, para tamu duduk di permadani besar mewah berwarna merah keemasan. Tak lama rombongan Bagas datang. Bu Sriyantika menyambut mereka dengan ramah. Mila dan Bu Hasiah, amaknya mendampingi Bagas yang terlihat gagah mengenakan peci dengan jas pengantin serasi berwarna silver ke biruan terlihat casual. Rombongan pengantin dibelakangnya membawa berbagai seserahan indah dan mewah.
__ADS_1
Bu Sriyantika mempersilahkan duduk Bagas di panggung meja ijab, disana sudah ada penghulu dan pakde No yang menunggu. Bu Sriyantika meminta pakde No untuk menjadi wali Rara, Mila dan amaknya duduk di belakang Bagas. Tak lama Rara turun dari tangga didampingi Tia di sebelahnya, dan mbok Sum dibelakangnya. Wajahnya tersipu malu tertunduk. Bu Sriyantika menjemputnya di akhir anak tangga dia menggandeng Rara di sebelah kirinya. Tia dan mamihnya mengantarkan dia duduk di samping Bagas. Bagas yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya pada Rara terpesona dengan kecantikannya. Dia mengagumi salah satu ciptaan sang Khalik.
Setelah Rara duduk, dia menoleh ke arah Bagas menyambut Bagas dengan senyum manisnya, diliatnya calon suaminya yang begitu tampan, lalu wajahnya tertunduk malu. Bu Sriyantika menudungkan Bagas dan Rara dengan kerudung akad yang elegant.
‘Bismillah’ gumam Rara deg degan.
“Bagaimana siap?” tanya pak penghulu pada Bagas.
“Insya Alloh siap.” Ujarnya.
“Kalo begitu kita langsung mulai acaranya.”
Jantung Rara begitu berdebar\-debar, wajahnya terus menunduk, beberapa kali dia mengucapkan basmalah. Matanya tertuju pada jari jemarinya yang dihiasi hena berwarna putih silver begitu mewah. Tiba\-tiba perhatiannya teralihkah dengan teriakan seorang wanita.
“ABAAANG!!!” teriak seoarang wanita yang mengenakan dress kemeja warna merah elegant, rambutnya terurai berwarna hitam kemerah-merahan, terpasang kacamata hitam brand ternama. Dia cantik bak seorang artis, mulutnya dihiasi lipstik merah. Rara melihat ke arah wanita itu yang berjalan cepat menghampirinya.
“APA APAAN INI?” teriaknya lagi. Dia dengan cepat naik ke panggung ijab, dengan cepat pula dia menarik kerudung akad Bagas dan Rara keras sampai kerudung dan piara yang Rara pakai juga ikut terlepas.
“Auwww!” ujar Rara kesakitan. Tia yang melihat kejadian ini tidak langsung diam, dia langsung berdiri dan mendorong wanita tersebut. Wanita tersebut terhontal beberapa langkah ke belakang, dia berusaha kuat mengendalikan tubuhnya agar bisa berdiri sempurna kembali.
“KAU SUDAH HILANG AKAL BANG!!! AKU INI ISTRIMU.” teriaknya lagi kencang, mendengar ucapan wanita tersebut Rara terkejut langsung berdiri, serasa tidak percaya berharap salah dengar.
Hatinya dipenuhi rasa cemas, dia seperti bermimpi buruk. Rara berusaha mengontrol diri, dia masih positif thingking mungkin ada kesalah pahaman dengan ini. Didalam kondisi beribu-ribu kegelisahan melandanya, dia masih berusaha tenang, mencoba mengendalikan diri. Dia melihat ke arah sekitar, para tamu berdiri mereka berbisik-bisik satu sama lain. Diliatnya bu Sriyantika ikut berdiri menghampirinya dengan wajah panik. Rara melihat Mila dan Bu Hasiah, diliatnya raut wajah mereka yang berubah menjadi panik. Lalu melihat kearah Bagas, yang menunduk sambil memegang keningnya tidak bisa melihat expresinya. Wanita berbaju merah itu kembali dengan cepat menuju arah Rara, dan memukul-mukul tangan Rara.
“STOP LOE GILA YA???” Teriak Tia, Bagas sontak berdiri melihat calon istrinya disakiti. Dia memegang wanita tersebut dan mendorongnya ke belakang, hingga wanita tersebut terhuyung ambruk ke arah Mila dan amaknya Bagas.
“Ranti STOOOPPP!”teriak Bagas.
“Abang tega kali kau! Kau mau menikah dengannya?” teriak wanita itu sambil berusaha berdiri.
“Bukannya ini yang kau mau Ranti?” teriak Bagas dengan suara lantang. Rara tercengang mendengar ucapan Bagas membuat air matanya pecah, Bu Sriyantika memeluknya sedari tadi.
“MAU APANYA!? Aku tak mengira kau akan berbuat sejahat ini, ini balasanmu pada apaku?!”
“Hei, sudah cukup! Aku tak pernah sedikitpun memaksa kamu untuk mau menikah denganku!” bantahnya.
“Kau pikir pernikahan kita terjadi gara-gara aku mau saja? Kalo kau tak sudi menikahiku kenapa kau ada disana mengijabku!?” teriak wanita itu balik.
“Aku akan menceraikanmu Ranti!” bentaknya lagi.
“Tak semudah itu bang! Setelah apa yang anakku berikan padamu, tak semudah itu aku melepasnya!”
__ADS_1
Dialog sepasang suami istri itu hanya menyakiti Rara. Dia beberapa kali memejamkan mata berharap semua ini mimpi, dan ingin terbangun dari mimpi buruknya. Rara merasa tidak kuat, air matanya yang bercucuran mengalir deras tak tahan dia pendam. Ditambah lagi dia merasa sangat malu dengan para tamu yang menyaksikan semua ini, terlebih lagi hatinya begitu sakit menerima kenyataan lelaki yang ia banggakan, yang ia harapkan menjadi pelindung kini menjadi bumerang dihari pernikahannya. Hatinya hancur dadanya terasa sesak seperti ratusan belati menancap di badannya, badannya lemas, sekuat tenaga dia berdiri, dia hendak keluar berlari turun dari panggung.
“Rara .... Rara.” panggil bu Sriyantika dan Tia. Bagas dengan cepat menyusulnya, memegang tangannya.
“Rara dengerin abang dulu, abang akan jelasin semuanya, tolong jangan pergi.” bujuk Bagas.
“LEPAS!!!” teriak Rara berusaha melepaskan cengkeraman Bagas, tapi tenaga Rara hanya tenaga kaum hawa dia tidak mampu melepaskan cengkeraman Bagas yang kuat. Sampai suatu kepalan tangan dengan keras mendarat diwajahnya Bagas. Bagas terpental melepaskan cengkeramannya, dia kaget ternyata Tia menonjoknya.
“LEPASIN RARA!” teriaknya pada Bagas. “Loe gila ya! Loe sadar apa yang udah loe lakuin? Loe udah nyakitin dia!”
Rara yang terlepas dari cengkeraman Bagas langsung berlari keluar cepat dengan kaki telanjang. Sesampainya didepan rumah bu Sriyantika dia berfikir keras, tidak mungkin dia berlari terus, pasti dengan cepat Bagas menyusulnya. Dia tidak ingin Bagas menemukannya, jejeran parkiran mobil tamu membuat Rara berfikir ingin sembunyi di mobil tamu. Rara menunduk satu persatu memeriksa pintu mobil yang berharap menemukan mobil yang tidak dikunci.
“Rara Rara, Rara!”
Orang-orang mulai berhamburan keluar mencarinya. Rara Semakin tersudut, sampai dia menemukan mobil berwarna merah berada diujung jalan tidak terkunci dan berhasil dibukanya. Dengan cepat dia masuk dan bersembunyi di bawah jok belakang. Rara yang menangis menutup mulutnya berharap tidak membuat kegaduhan dan tidak menarik perhatian orang-orang yang mencarinya. Sesekali dia menghela nafas menyeka air matanya, menguatkan diri tapi hatinya terlalu hancur, rapuh, membuat air matanya terus mengalir deras. Dia hanya bisa menangis sembari menutup mulutnya, sakit.
Terdengar suara Bagas, pakde No, Tia, disusul beberapa orang mencarinya melewati mobil tempat persembunyiannya. Rara menangis dan berdiam diri di dalam mobil , ingin segera suasana cepat tenang, dan kejadian pahit ini cepat berlalu.
Setengah jam lebih Rara bersembunyi di mobil tersebut, sampai sang pemilik mobil masuk ke dalam mobilnya dan mulai menstater mobilnya. Dia kaget ketika dia melihat ke belakang jog mendapati sang mempelai wanita.
“Sttt ..mas, saya mohon jangan beri tahu siapa-siapa saya disini!” pinta Rara dengan suara parau, si pria diam melihat Rara. Dia merasa iba dan memenuhi permintaan Rara. Si pria tersebut bersikap seperti tidak ada apa-apa, sedangkan di jalanan orang-orang yang kebanyakan staf CV. Zoe, masih ada mondar-mandir mencari Rara. Mobil Honda jazz tersebut melaju keluar perumahan Kencana Resident.
“Mbak ini udah diluar perum, mbak mau kemana?” tanya si pria tersebut sambil menawarkan tisu pada Rara.
“Ma-ka-sih” ujar Rara terbata. “Tolong carikan saya masjid mas.”
“Mbak sekarang duduk aja dijok.” Rara bangkit dan menuruti perkataan si pria tersebut. Air matanya sesekali masih mengalir, dia berzikir sepanjang jalan. Si pria mengendarai mobil mencari-cari masjid, sesekali melihat kearah belakang mengecek keadaan Rara. Dilihatnya Rara, pandangannya kosong masih diam diri, hanya mulutnya saja bergerak menyebut nama-nama Allah.
“Mbak ini udah sampai di masjid Agung.”
Rara melihat ke luar jendela mobil, dilihatnya masjid megah Masjid Agung yang berlokasi di jalan Raya Gajah Semarang ini.
“Makasih ya mas, Semoga Allah membalas kebaikan mas.” Ujar Rara parau.
“Sebentar!” Rara yang hendak membuka engsel pintu mobil berhenti menyaut si pria. “Mbak gak bawa apa-apa, bagaimana nanti mbak pulang?” Rara diam mendengar pertanyaan pria tersebut.
“Kalo mbak mau menenangkan diri disini silahkan, saya tau anda sodara nya Tia, saya Wildan temanya Tia. Bagaimana kalo saya menghubungi Tia untuk menjemput anda disini, saya akan kasih waktu dua jam untuk menenangkan diri, sembari saya menunggu waktu dhuhur, setelah itu saya akan memberi tau Tia kalo anda disini, bagaimana?”
Rara mengangguk menyetujui tawaran Wildan. Wildan membuka jasnya dia menyerahkannya pada Rara.
“Pake ini, pakaian anda terlalu menarik perhatian, saya takut dikira saya membawa kabur mempelai pengantin.”
__ADS_1
“Makasih.” ujar Rara.
Rara langsung mengambil jas hitam dari tangan Wildan dan memakainya dan turun dari mobil Wildan, lalu masuk menuju masjid Agung. Dia melihat ke sekitar masjid yang begitu luas dan megah, dia merapikan beberapa helai rambut yang berantakan di depan wajahnya. Rara berjalan memasuki tempat wudhu, setelah itu masuk ke serambi masjid, dan dia mengenakan mukenanya. Diliatnya jam besar menunjukkan hampir jam sebelas. Dia niatkan salatnya untuk duha empat rakaat, untuk mengadu mencari ketenangan pada Penciptanya.