Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Good Leader


__ADS_3

Rara yang sedang asyik melipat baju seragam SPG untuk karyawannya duduk di sofa ruang tamu, dia menyiapkan segala sesuatu kebutuhan untuk event Fruitbar produk ternama makanan ringan pada event besar yang akan diadakan di Java Land jam satu siang ini. Matanya melirik ke jam dinding yang ada dibelakannya.


‘masih jam sembilan kurang.’ gumamnya.


“power pointnya udah siap ra?” tanya Tia nonggol dari ruang makan.


Rara mengangguk tetap fokus pada baju yang dilipatnya, seragam atasan berwarna hijau cerah dan bawahan celana panjang berwarna putih. Dia begitu telaten melipatnya, memastikan seragamnya bersih dan rapi. Rara menyukai seragamnya yang terliat begitu sopan, tidak terlalu terbuka pikirnya.


“Mana dong gue mau liat?” 


“Di ransel.” ujar Rara.


Tia langsung mengambil ransel yang berada dekat kaki Rara mengeluarkan laptop dan menaruh nya diatas meja. Tia fokus dengan laptopnya dan mencari file yang diincarnya.


‘Ahh ketemu’ gumamnya. Tia membuka power point mengecek slide per slide power point karya Rara, dia merasa senang dengan power pointnya.


“Oke ra, bagus bagus, pasti pak Rian suka, udah dikirim ke pak Rian?” tanya Tia sembari melihat power point mengulang-ulang mengecek kembali dari awal.


“Udah dong.” ujarnya sembari tersenyum.


“Ra by the way gue liat ya, ini cuma yang gue rasain aja ya, kayanya dulu kerja di agensi juga deh.”


“So toy.” celetuk Rara.


“Ya habisnya lo jago dibidang ini, bikin promo bisa, nge-dealin event juga bisa, mungkin loe juga punya E.O sendiri sama kaya gue.” ujarnya cengengesan, Rara tersenyum mendengar ucapan Tia.


“Sip kita berangkat, bentar ya gue ke kamar dulu ambil file.” ujarnya pergi meninggalkan Rara.


   DRRT DRRRT Ponsel Rara berbunyi, dilayarnya tertera tulisan ‘Ayu (ZOE AGENCY)’, dia meraih ponselnya dengan cepat mengangkat telponnya.


“Hallo Assalamualaikum mbak Rara, mbak sama mbak Tia masih dimana?” tanya ayu sekretaris kantor Tia, logatnya Ayu yang begitu medok menandakan dia gadis Jawa asli.


“Wa’alaikumussalam, ini masih dirumah yu, ada pa yu?”


“Owh iya mbak ini mas SPB SPG-nya udah pada datang semua, mereka nunggu seragamnya, saya cari-cari di lemari kok gak ada ya mbak?”


“Owh iya tenang yu seragamnya ada di mbak, kemarin mbak bawa pulang biar dicuci dulu biar bersih.”


“Oawalah mbaknya kok repot repot tho, padahal ndak usah mbak.”


“Ga papa yu, lagian yang nyuci bukan mbak kok.”


“Masa mbak?, jadi yang nyuci mbak Tia mbak? aduh mbak serius mbak ?” suara ayu meninggi kaget ketakutan bosnya yang mencuci seragam karyawannya, dan kalo pun ada yang mencuci harusnya sudah tugas pak Dito yang menjadi officeboy kantor, Rara tertawa mendengar celoteh ayu.


“Bukanlah yu, mbok Sum yang cuci.” terdengar Ayu menghela nafas lega mendengar penjelasan Rara.


“Owh ya sudah, mbak kira-kira kapan mbak Rara sama mbak Tia kesini?” 


“Ok sekarang Otw!”


“Sip mbak kalo gitu ditunggu ya mbak, wassalamualaikum.”


“Wa’alaikumussalam.” Rara menutup telponnya tersenyum geli.


Tia terheran-heran melihat expresi Rara yang baru datang dari kamarnya.


“Kenapa Ra?”


“Ayo kita berangkat, Ayu barusan telepon katanya karyawan udah pada dateng.”


“Trus lucunya dimana?”


“Lucu apanya?”


“Lah loe barusan ketawa-ketawa?”


“Owh ga papa kok?”


“Eh aneh, ini pasti ada yang loe sembunyiin ya? kenapa lagi si Ayu bikin salah ya?”


“Loe bisa ga sih gak suudzon gitu sama orang, di bilangin gak ada apa-apa. Orang barusan si ayu Cuma ngelucu aja, ngguyon.” jelas Rara.


“Kirain, kunci mobilnya mana?”


“Ini”. Rara melempar kunci mobil Avanza ke arah Tia.


Ayu sekretaris plus receptionist kantor CV. Zoe Agency perusahaan milik Tia, dia lebih suka berhubungan mengenai hal pekerjaan dengan Rara dari pada bosnya sendiri Tia, mungkin karena perawakan Tia yang ketus dan suka marah bila Ayu melakukan kesalahan. Perawakan Rara yang lebih lembut membuat Ayu lebih nyaman melaporkan segala permasalahan kantor pada Rara.


Tia yang mengendarai mobil Avanza melaju dengan kecepatan sedang menuju pusat kota Semarang, Rara yang sedang asyik dengan laptopnya mengedit file produk dari format power point ke format video.


Udara Semarang yang begitu panas membuat Tia menaikkan suhu Ac-nya. Walaupun di Semarang  udaranya panas Kota Semarang adalah kota yang cukup rapi dan mempunyai penduduk yang begitu ramah, jalanannya tidak begitu macet seperti ibu kota kita, pusat kota yang ramai menyediakan berbagai kuliner didalamnya.


Selain itu sepanjang Simpang lima Semarang terdapat berbagai pusat pembelanjaan dimulai dari pedagang kaki lima yang tersusun rapi sampai beberapa gedung pusat pembelanjaan.


Sesampainya Rara dan Tia di kantor CV. Zoe Agency di jalan Erlangga yang berada di pusat kota Semarang. Cv. Zoe perusahaan kecil yang Tia dirikan selepas lulus dari masa kuliah di Bandung, dia merasa tidak cocok bekerja di suatu industri atau instansi yang harus mengikat dia 8 jam kerja, atau mungkin karna Tia anak lulusan teknik yang lebih suka kerja lapangan dari pada standby di Office.


Perusahaan kecil yang lumayan berkembang tersebut bergerak di bidang EO atau yang disebut Event Organizer yang biasa mengadakan event sebagian besar di bidang Retail. Mereka mengadakan event produk tertentu dalam waktu kurun tertentu pula. Karna namanya Zoe agency banyak yang mengira owner-nya adalah seorang laki-laki, Tia mengambil nama tersebut bukan karna ada hubungannya dengan orang yang bernama Zoe, nama tersebut terdengar keren pikirnya. Mamihnya pun sempat protes mendengar nama agensinya yang terdengar begitu identik dengan ke laki-lakian, dia pikir nama itu tidak cocok untuk perusahaan yang dimiliki oleh seorang perempuan.

__ADS_1


Cv Zoe Agency memiliki empat karyawan BackOffice yang standby dikantornya, yaitu Ayu gadis Jawa tulen yang masih belia berusia dua puluh lima tahun, Ayu berbadan bongsor merangkap jabatan di perusahaan tersebut sebagai sekretaris dan receptionist, dia gadis yang rajin, cara bicaranya pecicilan dan humoris. Ayu salah satu karyawan kesayangan Tia karna dia bisa lebih diandalkan dibandingkan dengan Dian, dan Sinta, staf Tia yang lainya. Dian dua puluh empat tahun berparas oriental Jawa tidak jauh dari Ayu, dia memiliki badan yang proporsional. Dian mantan SPG yang direkrut Tia sebagai staf, keahliannya dalam mengoperasikan Office yang begitu cekatan membuat Tia tidak ragu mengangkatnya jadi karyawan.  Sinta satu satunya staf yang mengenakan hijab dua puluh lima tahun gadis keturunan batak, gaya bicaranya selalu dengan intonasi yang tinggi. Sinta tidak kalah humoris seperti ayu. Satu lagi Office Boy andalan Tia yaitu pak Dito empat puluh Lima tahun, dia mempunyai badan yang cukup kekar tapi pendek dan sikap yang santun. Bahasanya sangat medok Jawa, hal yang paling Tia suka dari pak Dito selain rajin adalah karna dia tidak merokok.


Tia merekrut karyawan BackOffice-nya lulusan SMA/ SMK/ Sederajat. Dia satu satunya orang yang bergelar SI Sarjana Teknik Elektro. Bidang yang digarapnya memang tidak nyambung dengan titel yang dia miliki, tapi sejauh ini tidak masalah baginya. Tia begitu menikmati apa yang dia dirikan selama ini.


Kantor yang berukuran seperti rumah tipe empat puluh lima mempunyai dua lantai bisa menampung cukup banyak karyawan. Sisa dari karyawannya adalah Supervisor, Leader, SPG atau SPB tetap non tetap yang bekerja di lapangan di beberapa toko retail di Semarang. Beberapa leader dan dua supervisor bertitel S1, ada juga yang tingkat SMA , baginya pendidikan bukanlah masalah selama mereka mampu dan kompeten, memiliki cukup pengalaman dalam menjalani jabatanya. Sisanya SPG yang bertingkat SMA/SMK, ada juga SPG event kebanyakan anak kuliah yang mencari uang tambahan untuk biaya kuliahnya.     


#


“Rara Rara!" panggil Tia panik di lokasi event di mal. Rara dan team begitu sibuk membereskan properti event yang sudah selesai sedari tadi.


“Kenapa?” Tanya Rara yang masih sibuk mencorat-coret laporannya.


“Pak Rian mau ke sini!  Sekarang! 15 menit lagi sampe katanya.” ujar Tia panik.


“Ya terus kenapa?”


“Ra terus pakaian kita ini gimana? Aduh dadakan lagi ayo ganti baju dulu!” ajak Tia menarik-narik tangan Rara. Tia mempermasalahkan pakaiannya yang begitu santai seperti anak kuliah. Dia tidak biasa menggunakan pakaian santai didepan kliennya.


“Ga usah Tia, orang eventnya udah selesai, kalo soal pakaian kan kita kerja lapangan wajar kalo pake kaos, toh yang promo bukan kita, kita standby di belakang.” jawab Rara santai.


“Ya udah kalo loe gak mau gua ganti ya?” Rara mengangguk mengiyakan.


Tia langsung berlari menuju mobilnya yang diparkir di ground untuk ganti baju. Rara menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya Tia.


“Oke guys kita kumpul dulu bentar!” Rara mengumpulkan teamnya, Team yang terdiri 3 SPG 2 SPB dan 1 TL.


“Oke Pak Rian bentar lagi kesini, kalian kalo udah selesai tolong propertinya beresin ke gudang, ya kalo udah beres langsung pulang, saya standby disini nunggu pak Rian.”


“Lho mbak itu gak papa kita malah pulang, apa sebaiknya gak nunggu pak Rian dulu aja, kalo perlu propertinya nya di pasang lagi, kan gak enak sapa tau pak Rian mau dokumentasi sama kita.” sahut Rani  Team Leader, dia takut hal tersebut mencoreng reputasi perusahaannya, tapi pernyataannya membuat anak buahnya cemberut menandakan mereka ingin segera pulang, karna mereka lelah sudah bekerja sedari siang.


“Gak papa, kan perjanjiannya selesai jam tujuh, jadi ini waktunya kalian pulang, lagian soal dokumentasi kan udah mbak kirim tadi ke pak Rian langsung, kalo dia pengen dokumentasi sama kita harusnya dia datang pas jam kerja tadi, ato gak masih ada waktu besok sampe minggu, lagian yang penting event hari ini berhasil dan sesuai dengan target harian.” jelas Rara lebih membela karyawannya dari pada kliennya, dia tidak ingin teamnya merasa dirugikan oleh waktu jam kerja yang tidak sesuai dengan perjanjian awal.


‘Horeeee.’ mereka berteriak pelan gembira mendengar pernyataan Rara. Rani sang leader tersenyum tipis merasa malu anak buahnya lebih pro ke Rara.


“Ok bubar ya, See you tommorow, wassalamualikum.” Sahut Rara membubarkan teamnya. Rani merasa tidak puas, dia bukan ikut bubar malah mendekati Rara.


“Mbak, bukanya pak Rian besok udah mau pulang ke Jakarta?” sahut Rani mengingatkan schedule pak Rian yang besok tidak bisa ikut foto untuk dokumentasi. Rara yang masih asyik membereskan ranselnya tersenyum pada Rani.


“Mbak, ini kalo mbak Tia marah gimana hayo?” tanya Rani cemas pada Rara.


“Ran, udah gak papa, kamu beres-beres sana terus pulang! ” ujar Rara santai.


Rani masih belum puas dengan jawaban Rara. Dia orang yang begitu idealis dan cerewet, segala sesuatu yang dikerjakannya haruslah sempurna, dia langsung menelpon Tia yang sedang sibuk mengganti baju di mobilnya. Siapa Rara pikirnya, kan bosnya selama ini Tia, jadi Tia harus tau hal ini.


“ Hei ra! Assalamualaikum.” sapa Pak Rian datang, sembari menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.


Dia masih berpakaian rapi untuk ukuran jam pulang kerja, sepatunya yang hitam mengkilat menandakan dia orang yang bersih. Lelaki berusia 42 tahun tersebut berambut hitam klimis bermata belo, badannya masih gagah dan mempunyai perut yang sedikit buncit, dia bekerja di Pt. Panbe divisi pemasaran.


“Owh iya gak papa.” ujarnya sembari memasukkan tangannya ke saku celananya, tanpa ada rasa tersinggung atas penolakan Rara.


“Ra saya puas lho sama kerja team kamu, baru satu hari kerja udah nyampe target hampir dua hari, sayang besok saya harus pulang ke Jakarta Ra, padahal saya pengen ikutin perkembangan event ini!” ujarnya santai.


“Kita ngobrol disana aja yuk pak.” Ajak Rara menunjuk ke sebuah meja restaurant tidak jauh dari stand, Pak Rian mengangguk setuju.


“Jadi gini pak, saya berterima kasih atas sanjungannya.” sahut Rara santai, “Tapi inikan baru hari pertama di minggu ini pak, hasil masih ditentukan dua hari lagi saya masih takut hasilnya tidak seperti bapak harapkan.” jelasnya.


“Ah kamu mah suka merendah ya, saya pake team kamu bukan sekali ini Ra, minggu lalu aja kamu ngelebihi target, kamu pasti bisa!” sahutnya menyemangati Rara.


“Insya Allah pak.” jawab Rara tersenyum ramah."Owh ya bapak mau makan, mau pesen apa?”


“Owh enggak Ra saya sudah makan tadi, saya kesini mau nanya aja kalo Zoe ini ada cabangnya ga sih di Bandung? Saya butuh buat event beberapa bulan lagi buat di Bandung?”


“Maaf enggak pak, kita belum buka cabang, ya sudah saya pesen minum aja ya pak?”


“Oke.” sahut pak Rian. Rara Langsung mengangkat tangan ke arah waiters untuk pesan minuman.


“Ya mbak mau pesen apa?” sahut waiters berbadan cungring mendekat ke meja Rara.


“Saya pesen jus mangga dua, sama..., bapak mau pesen apa?” tanya Rara pada pak Rian.


“Samain aja mas.” sahut pak Rian santai.


“Jadi tiga jus mangganya ya, tunggu sebentar ya pak, mbak!” ujar waiters langsung pergi ke arah konter jusnya.


“Kalo kamu punya kenalan agensi di Bandung yang bagus gak?”


“Saya gak punya pak, tapi coba saya tanya Tia, barangkali dia punya kenalan agensi yang bagus, dia kan pernah kuliah di Bandung pak.”


“Owh yah? saya baru tau, Tianya kemana ya Ra?”


“Lagi ke bawah sebentar pak, pak by the way bukanya bapak juga langganan event di Bandung ya, selama ini agensinya sapa ya?”


“Itu dia Ra, saya sering kalo event gini ganti-ganti agensi, disana banyak agensi tapi rata-rata kurang bagus ra, ada sih yang bagus tapi ngebookingnya  minimal 6 bulan sebelumnyalah, sedangkan Event yang saya akan jalani sekitar tiga ato empat bulan lagi lah.”


“Owh kenapa gak pake SPG kantor sendiri pak, lagian kan produknya  banyak, pasti udah punya SPG sendirikan di toko.”


“Wah susah Ra, kita ijin ke toko 3 hari untuk event susahlah, lagian event ini akan berlangsung selama tiga bulan, gak mungkin kita narik SPG dari toko tiap minggu, lagian cari SPG yang berkualitas susah banget ra, saya sih pengengnya kamu buka cabang disana biar saya langganan terus ke kamu, kamu bakat cari karyawan bagus Ra.” Ujar pak Rian tertawa lebar, Rara ikut tertawa mendengar celoteh pak Rian.

__ADS_1


#


“Rani?” sahut Tia, yang masih sibuk menata rambutnya yang lurus sebahu keluar lift. Rani dari tadi menunggunya, Tia begitu tergesa-gesa takut kliennya cepat datang.


“Mbak Tia, ini anak-anak udah pada pulang, mbak Rara yang nyuruh mereka pulang, padahal saya udah usul anak-anak jangan pulang dulu biar nunggu pak Rian dulu. Takutnya pak Rian minta dokumentasi wat kita mbak, soalnya beliaukah besok ke Jakarta, jadi....” cerocosnya tanpa spasi.


“Rani pak Rian udah datang belum?” Tia memotong pembicaraan Rani yang panjang dengan cuek, malah menanyakan keberadaan pak Rian.


“Udah mbak, tapi ini anak-anak....”


“Dimana?” potongnya lagi.


“Disana mbak sama mbak Rara.” sembari menunjuk kearah kemeja yang tidak jauh dari bekas standnya.


Tia langsung melangkah cepat menuju meja tersebut. Langkahnya terhenti mencari sosok Rani yang dikiranya


mengikutinya. Dia menoleh ke belakang “Ayo!” tangannya melambai menyuruh Rani untuk ikut.


“Hei Tia?” sahut pak Rian meliat ke arah Tia yang baru datang. “Pa kabar?”


“Baik pak.” Tia menyambut jabat tangan pak Rian humble.


“Rani? sehat?” sapa pak Rian pada Rani.


“Sehat pak.”


“Owh Ran minumanya kurang satu kamu pesen ya, owh Tia ini buat loe.” sahut Rara sambil menyodorkan jus mangga.


“Iya mbak.” Rani yang belum duduk langsung pergi menyelonong ke arah counter jus, sebenernya hatinya panik takut ditanya soal kepulangan anak buahnya oleh pak Rian.


“Tia katanya kamu dulu pernah di Bandung, kamu punya kenalan agensi yang bagus gak disana?”


“Ada pak, Amera pak.” sahut Tia sambil mengaduk-ngaduk sedotan yang ada di minumannya.


“Iya itu bagus Ti, tapi kan harus schedule enam bulan sebelumnya. Ini eventnya sekitar tiga ato empat bulanan lagi lah.”


“Wah susah pak, emang kalo agensi yang bagus di Bandung harus dari jauh-jauh hari ya pak.” Pak Rian mengangguk menyetujui pernyataan Tia.


“Jadi gini pak, dulu waktu saya kuliah saya kan suka jadi SPG event, nah emang kalo agensi yang bagus disana masuknya aja susah. Kesejahteraan ke karyawannya juga berkualitas selalu On Time, saya pernah ke beberapa agensi kecil tapi ya gitu, kualitas agensinya bobrok lah. Jadi yang Bagus kaya Amera, Pratama, Univ, D&G, itu mang dari jauh-jauh hari pak, karna  temen-temen saya ada yang pada kerja disana juga pada banyak yang pake jasa mereka ngantri katanya, saya udah lama gak ke Bandung jadi saya kurang tau kalo selain agensi itu.” jelas Tia.


“Ya udah gak papa.” sahut pak Rian tersenyum tipis. Tak lama Rani datang dengan minumannya, dia langsung duduk di samping Pak Rian.


“Rani, kerja kamu bagus lanjutkan ya, kontrol terus anak buah kamu!” sahut pak Rian menyemangati Rani.


“Iya makasih, ini semua berkat kerja sama Team pak.” Rani tersenyum mendengar pujian pak Rian.


“Anak-anak udah pulang ya Ran?” tanya pak Rian, Rani mengangguk tersenyum mendengar pertanyaan pak Rian. Akhirnya pertanyaan yang Rani takutkan keluar juga dari mulut kliennya. Rani langsung melihat ke arah Tia meminta bantuan.


“Iya pak dari jam tujuh tadi.” sahut Tia cepat.


“Owh ya udah gak papa. Kalo gitu saya pamit dulu ya, Ran yang semangat ya!” pak Rian menepuk bahu Rani menyemangatinya, Rani mengangguk malu.


“Tadinya sih pengen foto, tapi ya saya yang salah saya telat, padahal ini event terakhir ya, besok saya harus balik ke Jakarta.” jelas Pak Rian beranjak dari kursinya.


“Iya pak tadi...”Rani hendak menjelaskan panik.


“Iya pak kan eventnya selesai jam tujuh, tapi Rara punya dokumentasi bapak sama anak-anak minggu lalu kok. Katanya udah dikirim ke bapak via email, dibuatin power point juga lho pak.” potong Tia sambil menggoda Rara dengan menyenggol bahunya.


“Wah kreatif sekali kamu Ra, ya sudah nanti saya cek emailnya, saya duluan ya coz saya buru-buru udah ditunggu.” Pria berbaju rapi tersebut mengeluarkan beberapa uang lembar berwarna merah dari dompetnya dan menaruhnya di atas meja. “Ini buat jusnya sekalian buat kalian makan.” ujarnya tersenyum ramah.


“Wah gak usah pak.” Tia menolak mengembalikan uang tersebut ke pak Rian .


“Eh rezeki jangan ditolak, lagian saya puas sama kerja kalian. Sudah ya Wassalamuaalaikum.”


“Waalaikumussalam.” jawab mereka bertiga. Pak Rian tersenyum langsung menyelonong pergi, tinggalah tiga gadis di meja tersebut.


“Mas?” Rara mengacungkan tangan ke arah waiters kurus tadi sembari mengambil uang yang ada di meja. “ Berapa?”


“Enam puluh ribu mbak.”


Rara langsung mengambil selembar uang merah tersebut, dan sang waiters  mengeluarkan uang kembalian dari tas pinggangnya.


“Rani, Tia mau makan?” tawar Rara.


“Enggak akh, gak tau tuh si Rani.” Tia meliat kearah Rani sambil beranjak dari kursinya.


“Ra gue ke bawah duluan, gerah nih, gue tunggu di mobil. Owh iya tadi Rani ngomong ke gue soal kepulangan anak-anak, Ra gue gak mau tau jelasin aja tu peraturan ke Rani kayanya dia masih belum mudeng (ngerti).” Tia langsung menyelonong pergi mengibas- mengibaskan kerahnya terlihat tidak nyaman menggunakan kemeja femininnya. Rara melihat ke arah Rani heran.


“Jadi tadi kamu ngomong ke Tia?”


“Iya mbak, aku takut mbak Tia marah mbak.”


“Kamu tau peraturan kerja?”, Rani mengangguk menjawab pertanyaan Rara. “Ya sudah ikuti.” tegas Rara pada Rani.


“Mbak maksud saya tadi supaya pak Rian merasa puas, biar gak kecewa sama kita.” Jelas Rani.


“Ran, mbak disini bukan atasan utama kamu tapi mbak bertanggung jawab atas apa dan team kamu lakukan, karna gimanapun kalian teamnya mbak yang mbak percaya wat ngambil event ini, kalo sampe tadi anak buah kamu nunggu dulu pak Rian wat foto, butuh waktu lama? belum lagi masang properti butuh waktu lama, belum buat bongkar lagi, berapa jam yang harus mereka habiskan buat standby disini, kasian mereka udah cape, belum lagi mereka yang udah ditunggu sama suaminya buat dijemput, ditunggu sama anak-anaknya, ada yang harus ngerjain tugas kuliah mereka, mbak tau kamu orangnya perfectsionist, itu bagus Ran tapi please jangan berlebihan, ikuti peraturan, jangan sampai kita zalim sama mereka dengan ngambil waktu yang bukan hak kita. Jadi pemimpin yang bagus gak cukup Ran, jadilah pemimpin yang bagus dan adil buat anak buah kamu, disitu kamu akan dihargai sama bawahan kamu karna kamu bisa berlaku adil sama mereka.” Rani fokus pada apa yang disampaikan Rara, dia menyadari kesalahannya hampir saja merenggut waktu anak buahnya.

__ADS_1


“Rani TL yang baik, pekerja yang baik, jangan hanya berlaku baik pada atasan kita saja tapi kita juga berlaku baik pada patner kita, juga bawahan kita.” ujar Rara menyentuh hati Rani.


Rani yang selalu ingin melakukan hal terbaik merasa mendapat petunjuk atas apa yang harus dia lakukan sedari dulu, selama ini memang dia selalu mendapat pujian dari atasannya, tapi tidak dengan anak buahnya karna Rani yang terlalu idealis terkadang menyuruh anak buahnya menunggu satu atau dua jam setelah jam pulang hanya  untuk beberapa hal kecil agar terlihat baik dimata atasannya ato klien. Rani TL senior yang suka ceplas-ceplos terkenal gigih dan pekerja keras. Keinginannya naik jabatan menjadi supervisor kadang membuatnya berlebihan dalam bekerja.


__ADS_2