
Selama dua hari Rara kerja keras mentraining anak-anak, dia tak ingin pak Rian kecewa dengan event pertamanya di Bandung. Tapi sayang hal ini membuat badan Rara drop, Kamis sore Rara merasa tidak enak badan, jam lima Rara tertidur di sofa kantornya Tia. Tia baru saja datang mengecek berkas masuk ke kantornya, suara pintu membangunkan Rara yang sedang berbaring. Rara dengan lemas bangkit dari tidurnya.
“Sorry ke bangun ya?” ujar Tia tak enak membangunkan.
“Gak papa, gue cuma rebahan bentar.”
“Ra loe sakit ya? wajah loe pucat loh!”
“Enggak ini gue cuma kecapean aja kok. Istirahat bentar, besok juga pulih,” elak Rara. Tia tak langsung percaya mengukur suhu tubuh Rara dengan tangannya di kepala Rara.
“Ra ini panas loh! Kita ke dokter yuk?”
“Gak mau akh! Ini cuma butuh istirahat aja Ti, udah yuk kita pulang.”
“Ya udah a Rio juga udah nunggu di bawah, kita nebeng sama dia.” ujar Tia membuat Rara mngerutkan dahi, terperangah kaget berasa tak suka.
“Kok bisa bareng dia? Mobil loe kenapa emang?”
“Kan elo tau diservice buat besok , gue minta tolong mang Ikin nanti anterin mobilnya ke rumah!” jelasnya santai.
Akh!
Keluh Rara, menutup wajahnya dengan map dan mengentak-entakkan kakinya gereget, dia males harus berurusan dengan orang yang terus-terusan menggodanya. Tia tersenyum melihat tingkahnya.
“Hayu?” ajak Tia mengulurkan tangan, Rara cemberut meraih tangan Tia yang membantunya berdiri.
“Ra, tangan loe panas tau!”
“Iya makin panas pas denger nama Rio,” gerutu Rara membuat Tia tertawa merasa lucu dibuatnya.
Rara dan Tia turun ke bawah bertemu Rio memakai kaos oblong biru langit dan celana joger coklat terlihat rapi, seperti hendak pergi jalan-jalan.
“Assalamualaikum Rara?” sapa Rio humble, senyumnya terpasang lebar terlihat tampan.
“Wa’aikumussalam.” Rio melihat wajah Rara yang pucat membuatnya kuatir.
“Kamu sakit?” tanya Rio hendak menyentuh dahi Rara mengukur suhu tubuhnya, Rara otomatis mengelak dengan tangannya.
“E-e mau ngapain?” ujar Rara kesal menghindar tapi Rio malah mengukur suhu Rara dengan meremas-remas tangan Rara. Rio terlalu berani pikir Rara.
“Iya kamu sakit, kita ke dokter ya, Ayuk Ti kita ke dokter?” ajak Rio.
“Hayu,” jawab Tia tanpa mendengar pendapat Rara. Rara diam, kesal melihat tingkah mereka yang asal mengambil keputusan tanpa melibatkannya.
“Hayu?” ajak Rio ke Rara yang malah diam.
“Gue gak mau ke dokter!” ucapnya tegas.
__ADS_1
“Kenapa takut? nanti aku temani kamu periksa ke dalem!” tawar Rio membuat
Rara tercengang .
“Iya tuh, nanti ditemani a Rio periksa ke dalem,” ujar Tia cengengesan malah ikut menggodanya. Rara makin kesal jadinya.
“Kalian pulang aja duluan, saya naik angkot aja!” ujar Rara kesal.
“Loh kok gitu?” tanya Rio.
“Saya mau pulang tapi jangan ke dokter, saya gak papa. Ini cuma butuh istirahat aja!” elak Rara.
Rio diam meliat Rara
“Iya kita langsung pulang.” ujar Rio tak mau ribut langsung mengiyakan. Rara langsung mengikuti langkah Tia setelah mendengar penjelasan Rio.
Seperjalanan pulang Rara yang duduk di belakang, terkulai lemas tidak enak badan, hijabnya terlihat semi basah oleh keringatnya. Dia tertidur di jok belakang.
“Ra ra bangun?” Rio membangunkannya, Rara kaget Rio sudah disampingnya. Sangat dekat refleks Rara geser menjauhi Rio.
“Kamu kuat gak? mau digendong?” tawar Rio.
Rara malah diam melihat Rio, kesal berfikir. Entah Rio serius atau tidak dengan tawarannya, menurutnya hal itu terlalu berani. Rara mana mungkin mau digendong oleh seorang yang bukan mahromnya. Aneh pikir Rara tiap kali dia berinteraksi dengan Rio. Rio selalu memperlakukannya bak seorang kekasih. Entah menggombalinya atau dia berani berinteraksi sangat dekat dengannya. Apa mungkin dia melakukan itu karna rasa kasihan karna Rara terkulai lemas atau pengetahuan tentang agamanya minim? Padahal dia orang yang baru dikenalnya.
“Gak usah lah, aa nya minggir!” ujar Rara kesal. Rio menyingkir memberi space Rara untuk keluar. Rara yang masih di ambang pintu mobil melihat sekitar tampak lingkungan asing baginya.
“Kita ke dokter dulu ya, itu wajah loe udah pucet gitu, loe sama Rio masuk gue tunggu sini,” jelas Tia membuat Rara kaget yang menyuruhnya masuk berdua dengan Rio.
“Gimana sih, tadi loe bilang langsung pulang?” protes Rara.
“Iya langsung pulang setelah loe periksa,” ucap Tia santai cengengesan. Rara menatapnya tajam, sebal.
“Ayo dong Ra, gue gak mau ya besok tambah parah , itukan Event pertama kita. Setidaknya tubuh loe harus periksa, kalo gak bakal tambah parah,” bujuk Tia. Rara diam mendengar penjelasan Tia yang ada benarnya. Badannya terasa sangat ringsek.
“Tapi sama loe periksanya, a Rio tunggu disini!”
“Iya hayu sama gue,” ujar Tia mengiyakan.
Rara merapikan hijabnya, Tia memapahnya keluar. Rara tampak sempoyongan jalan, kepalanya terasa pusing. Rio yang ingin sekali memapah Rara hanya diam di pinggir mobilnya.
💚💚💚💚💚💚💚
“Pusing teh?” tanya dokter Ririn wanita paruh baya setelah memeriksa Rara.
“Iya dok, baru ja kok dok, saya barusan badannya lemes.”
“Ini udah panas ya, teteh harus istirahat total. Saya tuliskan resep ya, obatnya dihabiskan!”
__ADS_1
“Jadi besok saya ga bisa kerja dok?”
“Ya gak bisa teh, kasian tubuh teteh. Tubuh sakit tandanya butuh istirahat, teteh jaga pola makan, minum air putih yang banyak minimal delapan gelas sehari. Istirahat total minimal tiga hari Insya Allah nanti sembuh!”
“Tiga hari dok?” ucap Rara kaget. Dia harus bedrest selama itu, sedangkan besok adalah hari terpenting untuk pekerjaannya. Hari pertama event pak Rian berlangsung.
“Iya.”
“Tapi dok besok saya harus....” Rara keras kepala mencari jalan keluar agar besok bisa kerja.
“Teteh mau sembuh gak?!” potong dokter Ririn bertanya tegas pada Rara, Rara dibuat malu olehnya.
“Iya dok saya akan pastikan dia Istirahat total selama tiga hari,” sela Tia melihat Rara memberi isyarat menggelengkan kepalan cepat, seraya menyuruh Rara mengikuti perkataan dokter.
Keesokan paginya sehabis salat subuh Rara langsung tidur kembali, Badanya menggigil semalaman dan suhunya sangat panas sampai 39.2 . Jam tujuh Tia mengukur suhu tubuhnya. Suhu turun mencapai 38,7 derajat.
“Untung aja kemarin loe langsung ke dokter,” ucap Tia sedang menyuapi Rara bubur ayam yang dibuat bi Atik.
“Ti maafin gue ya, gue gak bisa nemenin loe kerja, padahal ini event pertama kita,” ucap Rara lemas, bersalah. Dia duduk di ranjangnya mengenakan jaket dan selimut tebal. Wajahnya masih pucat, rambutnya dia kucir kuda sudah gak karuan bentuknya.
“Loe jangan mikirin itu, manusia hanya bisa berencana Ra. Ya ini tandanya elo disuruh istirahat dulu sama Allah. Gue malah bingung loe gimana sekarang, gue gak mungkin ninggalin loe dalam keadaan kaya gini.” Tia selesai menyuapi Rara, memberinya segelas air putih.
“Loe berangkat aja. Jam delapan kan mulainya, gak papa kan ada bi Atik.”
“Tapikan bi Atik pulang jam delapan Ra, dia gak bisa ada urusan urgent keluarganya. Yang layanin elo makan siang sapa nanti?”
“Gue gak papa kok sendiri juga bisa,” sahut Rara tersenyum meyakinkan Tia.
“Guenya yang gak tenang Ra.” Tia membuka gawainya mengirim pesan pada seseorang.
“Alhamdulillah!” sahut Tia membaca pesan Whatsapp.
“Kenapa?” tanya Rara.
“Alhamdulillah ada temen gue nganggur, dia nanti kesini jagain elo!”
“Sapa?”
“Loe juga kenal.”
“Karyawan kita?” tebak Rara. Tia mengangguk tersenyum.
“Sekarang minum obat dulu ya, bis itu loe tidur aja nanti kuncinya gue kasih ke dia. Nanti dia datang buat ngerawat loe. Loe jangan sungkan ya sama dia, kalo butuh apa-apa ngomong aja. Dia orangnya baik kok.”
Rara mengangguk tersenyum lemas.
‘Paling Dini,’ gumam Rara dalam hati.
__ADS_1
Setelah minum obat Rara tertidur. Rasa pusing yang teramat membuat dia tertidur pulas. Tia menunggu temannya yang akan merawat Rara, tak lama dia datang diserahkannya kunci rumahnya padanya. Ditinggalnya Rara dan temannya berangkat kerja berdua dirumah Tia.