
“Bener loe bilang!? Dia mempetin tubuh gue ke tembok ngancam-ngancam gue, loe bilang yang dilakuin Rio itu bener?” bentak Rara pada Tia mengadukan kejadian kemarin sore di rumah saat sarapan pagi.
“Aduh Ra, omonganya yang gue maksud,” bela Tia santai sembari sibuk dengan gawainya.
“Gue nanya kelakuannya Tia!”timpal Rara kesal sembari mengambil gawai Tia dan menaruhnya di atas meja makan menyuruhnya untuk fokus.
“Tapi dia gak ngapa-ngapain elo kan, cuma mepetin ke tembok aja?”
“Cuma elo bilang?!” bentak Rara kesal mengeleng-gelengkan kepalanya. “Elo mau nunggu sampe gue digimanain sama dia, biar elo sadar apa yang dilakuin dia ke gue tu salah?”
“Ya tapi nyatanya sejauh ini dia gak ngapa-ngapain elo.”
Rara benar-benar tak percaya pada Tia yang selalu membela Rio yang selalu bertingkah seenaknya padanya. Sekuat tenaga dia menjelaskan kesalahan Rio, selalu dipandang benar oleh Tia. Capek rasanya, serasa percuma menjelaskan panjang lebar. Rara kesal, marah, jengkel memutuskan untuk diam beristigfar dan bersikap acuh pada Tia seharian.
💚💚💚💚💚💚💚
“Cantik,” goda Tia pada Rara di meja makan. Ini hari kedua Rara mengacuhkannya, wajahnya masih ditekuk karna marah.
“Udah deh Rara marahnya lama amat, lebih dari tiga hari dosa tau,” tambah Tia membujuk Rara.
“Belum tiga hari!” ujar Rara judes melahap sarapannya.
“Gimana ya Ra, to the point ya, loe tu pokoknya jangan kuatir, gue yakin dia gak akan ngapa-ngapain loe. Loe percaya deh sama gue, Lagian....”
“Kalau masih ngomongin tentang Rio apalagi kalau loe masih belain dia, gue nggak mood ngobrol,” potong Rara cepat.
“Ya udah deh nggak usah ngomongin Rio lagi, gue minta maaf deh. Gini-gini buat bikin elo happy gimana kalo habis isya nanti kita jalan-jalan ke Dago pakar kebetulan gue mau ketemu klien disana? Gue tau restaurant yang bagus di sana, apalagi pemandang malemnya Ra, loe pasti suka,” ujar Tia melobi antusias, Rara masih menatap Tia kesal.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Rara terlihat cantik dengan tunik biru dan kerudung babyblue, sedangkan Tia terlihat sporti dengan celana jins dan blazer panjangnya. Bada Isa mereka sudah rapi hendak pergi ke Dago pakar. Tia menstater mobilnya tapi mobilnya tetap tak mau menyala.
“Kenapa ti?” tanya Rara.
“Gak tau gak mau nyala,” jawab Tia yang masih mencoba menstater mobilnya.
“Gue coba,” ujar Rara. Mereka bertukar jok, Rara mencoba menstater mobilnya tapi tetap tak mau menyala.
“Udah udah Ra, gue coba telpon Rio.”
“Ngapain telpon dia, elo jangan bikin gue badmood lagi.”
“Dia kan anak teknik, guru lagi ilmunya masih di pake, gue ‘kan udah lupa, sapa tau dia ngerti,” jelas Tia.
Rara langsung badmood dibuatnya, tak lama Rio datang memeriksa mobil Tia. Dia membuka kap mobil, Tia membekalinya dengan senter.
“Ini harus ke bengkel Ti, dinamonya harus diganti,” jelas Rio. Rara asyik mengotak-atik gawainya mengacuhkan Rio.
“Wah, aduh gimana ya a, saya harus berangkat ini,” ujar Tia panik.
“Emang mau kemana?”
“Dago pakar, ketemu klien penting.”
“Saya antar, bentar saya ambil mobil dulu.”
“Asiiik, Ok deh,” sahut Tia girang, Rio pergi ke rumahnya mengambil mobil.
“Tia elo gimana sih ngapain ngajakin dia?” gerutu Rara kesal.
“Siapa juga yang ngajak, dia sendiri yang mau nganter.”
“Kenapa gak pake taxi online aja sih? Sekarang elo telpon dia bilang ke dia kita pake taxi!”
“Enak aja, ngapain pake taxi kalo ada gratisan, udah deh Ra, loe tenang aja ada gue ini.”
“Kalo gitu gue gak ikut!”
“Ra please deh jangan mempersulit gue, bi Atik kan udah pulang, gue janji sama elo gak lama paling satu jam aja.”
“Gue gak mau!”
“Gue gak tega ninggalin elo sendirian di rumah, ya udah gue cancel aja ketemu klientnya,” rengek Tia dengan wajah memelas. Rara merasa bersalah dibuatnya dan Akhirnya dia menyetujui Rio ikut dengannya.
__ADS_1
💚💚💚💚💚💚💚
Pemandangan kota Bandung memang selalu indah dimalam hari, terutama keindahan Dago. Rara yang duduk di belakang begitu menikmati Bandung dengan tenang, sesekali mulutnya berzikir memuji ciptaan sang khalik bulan dan bintang ikut bersinar menghiasi malam. Sampai mobil mereka berhenti di restaurant, tempat parkir nya berada di bawah dihadapkan pemandangan kota Bandung dihiasi lampu berkelap\-kelip.
“Ti gue nunggu disini ya?” ujar Rara yang tak ingin turun dari mobil.
“Kok gitu?” tanya Tia kecewa, melihat ke arah Rio yang sudah berdiri diambang pintu.
“Gue berasa gak enak badan, anginnya dingin. Gue disini ya, elokan bisa ditemenin Rio,” pinta Rara tersenyum.
“Mmm ya udah ayo a.”
Tia turun dari mobil.
“Tapi Rara sendirian?” ujar Rio mencemaskan Rara.
“Udah a, dia gak papa kok. Yuk?” ajak Tia. sedangkan Rio berasa berat meninggalkan Rara sendiri.
“Saya gak papa a.”
Rara tersenyum menenangkan Rio, Rara berasa mendapat rezeki gede ketika Tia menyuruh Rio menemaninya bertemu klien dan membiarkan bebas sendiri di mobil.
“Ayo a.”
Tia menarik lengan Rio yang masih berat meninggalkan Rara.
‘YES YES YES’ bisik Rara sambil tersenyum melihat Rio dan Tia pergi dari parkiran.
💚💚💚💚💚💚💚
Lima belas menit berlalu, Rara begitu bahagia menikmati indahnya malam yang begitu dingin sendirian di dalam mobil. Kerlipan lampu kota Bandung bak lautan bintang menjadi penghibur dirinya. Dinginnya malam membuat kaca mobil berembun tebal, Rara membuat tulisan namanya di kaca MUTIARA dengan jari mungilnya.
”TOK TOK TOK.”
Tiba-tiba Rio mengetuk jendela kaca membuat Rara terperangah kaget. Wajah gadis berkulit putih itu seketika menjadi cemberut melihat Rio datang. Terpaksa Rara membuka pintu, diliatnya laki-laki berbadan bidang itu membawakan cup gelas ditangannya, entah apa isinya.
“Aa ngapain disini?” tanya Rara kesal.
Rio tersenyum pada Rara menyerahkan segelas cup teh hangat.
Rara menepuk jidatnya dan memijat-mijat kecil kepalanya, serasa tak percaya baru saja Tia menjebaknya lagi. Rara yakin Tia sengaja melakukan ini. Pantas saja dia tadi langsung setuju ketika Rara tak mau turun di mobilnya, agar bisa membuat Rio kembali ke mobil menemaninya. Harusnya dia tau dari awal ini merupakan strategi Tia untuk bisa membuat Rio berdekatan dengannya. Lagi, untuk yang ke sekian kali.
“Kenapa Ra kamu pusing?”
Rio lancang ikut memijat-mijat kelapa Rara, cepat Rara menghalau tangan Rio, tapi Rio malah meremas-remas tangan Rara.
“Tangan kamu dingin Ra, kamu gak enak badan?” tanyanya cemas.
‘Kurang ajar banget sih ni anak, rasanya gue pengen tempeleng,’ gumam Rara dalam hati, menghela nafas menahan kesal. Rara hendak memarahinya tapi tak jadi dia lakukan, karena hal itu hanya membuat dirinya capek.
Ping suara Whatsapp Rara berbunyi lembut, Rara mengambil hpnya.
‘Assalamualaikum Feb, besok siang gue pulang ke garut, malamnya gue balik ke Kalimantan, kalo bisa besok pagi kita ketemu, ada yang mau gue omongin.’ Pesan singkat dari Andri
‘oke.’ jawab Rara singkat.
‘Btw loe udah ngejalanin triknya :D? Berhasil gak?’ Rara diam tidak membalas Andri melihat kearah Rio yang masih berdiri di ambang pintu mobil.
‘Apa gue lakuin trik bodohnya Andri aja gitu ya? Iya gitu ja! Oke pertama agresif, haduh apa yang harus gue lakuin ya? Owh ya suruh dia masuk dulu.’ Gumam Rara dalam hati, bimbang.
“A?” Rara memegang tangan Rio membuatnya setengah kaget, Rara bisa menyentuhnya dengan lembut.
“Ya?”
“Masuk sini, diluar dingin,” ujarnya sembari bergeser menyiapkan space untuk Rio duduk.
“Disini?” tangan Rio menepak-nepak jok belakang memastikan maksud Rara. Gadis itu mengangguk tersenyum lembut. Rio langsung masuk, duduk di samping Rara. Rio tersenyum bahagia melihat Rara begitu ramah padanya.
“Itu buat saya?” tanya Rara menunjuk minuman yang dibawa Rio. Rio mengangguk menawarkan minumannya, Rara mengambilnya dan langsung meminumnya membuat tubuhnya merasa lebih hangat.
“Makasih ya?” ujar Rara tersenyum manis, otomatis Rio membalas senyumnya dengan bahagia, Rara menaruh tehnya di dudukan mobil.
‘Elo bisa Ra bisa, cuma sepuluh menit biar dia illfeel semangat semangat!’
__ADS_1
Rara mengumpulkan mentalnya dengan memeluk dan mengelus-elus tubuhnya menyemangati diri sendiri.
“Kamu kedinginan?” tanya Rio salah paham dengan pergerakan Rara. Tak mau ambil pusing Rara tersenyum mengangguk mengiyakan.
“Bentar saya nyalain penghangatnya dulu.”
Rio memegang engsel pintu hendak keluar mobil untuk menyalakan penghangatnya di stir depan.
“Jangan aa,” ujar Rara menolak, memegang tangan Rio di engsel pintu mobil menahannya. Rara menghela nafas kecil melempar senyum terbaiknya dan memberanikan diri bersandar ditubuh Rio membelakanginya.
“Fell better,” ujar Rara lembut. Rio tersenyum bahagia lalu merangkul gadis mungil itu mencoba membuatnya hangat.
“Better?” tanya Rio mengelus-elus tangan Rara. Rara berasa illfeel dengan apa yang dia lakukan sekarang, sekuat tenaga Rara menahan diri agar triknya berhasil dia lakukan.
‘Tenang Ra tenang, sepuluh menit. Astagfirullah astagfirullah, oke next genit, aduh gimana caranya?’ Guman Rara panik dalam hati.
“A?” tanya Rara dengan terlembut halus.
“Ya?”
“Saya minta maaf karna selama ini saya bersikap tidak baik sama aa,” ujar Rara dengan suara paling manjah berusaha tenang.
‘Segitu udah genit belum ya? Udah kali ya? bodo akh cek detak jantung Ra,” gumamnya lagi, adegan ini terlihat lucu dilakukan Rara. Walaupun Rara berusaha tenang, kekikukan tetap menguasai pergerakannya. Rara menarik nafas dalam ancang-ancang, lalu menyandarkan kepalanya di dada lelaki bertubuh bidang tersebut. Dia bisa mendengar detak jantung Rio yang berdegup kencang. Rara tersenyum seraya hampir berhasil dengan triknya, pikirnya.
“A saya ingin kita bisa memulainya lagi dengan baik.” Celotehnya, tak ada celoteh dari Rio seakan lelaki itu diam menyimak. Kemudian Rara merasa Rio mencium kepalanya, tapi dia ragu dan menghalau firasatnya.
“Saya ingin mengenal aa lebih jauh,” lanjutnya. Satu kecupan mendarat di kepala Rara, kali ini dia benar-benar bisa merasakannya. Rara terperangah kaget langsung menghindar dari Rio. Diliatnya wajah Rio sudah full dengan air mata, Rio menangis membuat Rara bingung.
‘Kenapa ni anak nangis? apa Rio bener-bener udah berperang di dalam hatinya? apa dia jadi ngerasa bersalah karna udah meluk gue? Kok gue gak tega ya?’ beribu pertanyaan menyerbu otak Raara melihat expresi Rio. Rara benar di buat tak tega, dia hendak menyeka air matanya.
‘Bentar bentar ngapain gue hapus tu air mata, bukanya ini yang gue pengen? bikin dia jadi ngrasa bersalah Rara, biar dia ilfeel sama gue! Oke Ra lanjut Ra lanjut, tarik kerahnya!’ Gumam Rara menyemangati dirinya sendiri.
Mereka berdua beradu dalam diam. Rara memberanikan diri menarik kerah Rio, mendekatkan wajah lelaki bermata hazel itu mendekat ke wajahnya. Sepuluh senti meter, tujuh senti, lima senti. Dalam lima senti meter nyali Rara sudah menciut, dia diam berfikir keras berusaha mengumpulkan keberanian untuk menarik kerah Rio semakin dekat, bukannya Rara yang bergerak malah Rio spontan agresif merangkulnya. Rio antusias mendekatkan wajahnya pada Rara, mulut mereka hampir bertemu. Rara kaget dengan apa yang Rio lakukan, dengan cepat dia mendorong Rio.
“ASTAGFIRULLOH A?” hardik Rara, mereka hampir berciuman. Rara langsung cepat keluar mobil meninggalkan Rio berlari masuk ke restaurant. Jantungnya berdegup kencang. Trik yang diajarkan Andri tak sesuai dengan expestasinya, Rio malah agresif hampir saja menciumnya.
“Ra kenapa?” tanya Tia melihat Rara datang terengah-engah.
“Ti kita pulang sekarang!” ujar Rara panik.
“Ayu, gue udah selesai kok.”
“Tia kita pake taxi aja.”
Rara menarik lengan Tia menuju jalan memanggil taxi.
“Loh kenapa? Rio dimana?” tanya Tia heran dan sebuah Taxi berhenti menghampiri mereka.
“Masuk Ti! Dia diparkiran, nanti gue jelasin please ya ikut gue pake taxi!”
“Ra elo kok tega banget? Rio udah nganter kita malah kita tinggalin?”
“Ti gue mohon kali ini aja kali ini aja, ayo masuk!”
“Ra apa-apaan gue gak mau!” Tolak Tia hendak pergi menuju parkiran, Rara cepat menahannya menarik tangannya.
“Tia Tia Tia please dengerin gue dulu, gue jelasin di mobil please kali ini aja ikutin gue, gue janji bakal jelasin semuanya Tia gue mohon,” ujar Rara memohon. Tia melihat iba pada Rara terpaksa menurutinya. Mereka berdua masuk ke dalam taxi dan langsung pergi.
“Sekarang loe jelasin ada apa?” tanya Tia memburu tak sabar.
“Gak Tia, gue gak bisa jelasin disini!” tolak Rara. Dia malu kalo sampe supir taxi mendengar percakapannya.
“Tuh kan elo mah, udah gue telpon Rio suruh jemput kita, pak berhenti pak!” ucap Tia kesal.
“Eh pak jangan pak, jalan pak, Tia kita cari tempat dulu, gue janji bakal jelasin semuanya di sana.”
“Jadinya gimana ini neng?” tanya bapak taxi yang kebingungan sedari tadi melihat mereka ribut.
“ya udah jalan pak kita cari restaurant,” sahut Tia.
DRRT DRRT, gawai Tia berbunyi Rara bisa melihat tertera nama Rio dilayar hp Tia.
“Ti please bilang sama dia kita udah pulang, suruh dia pulang sendiri,” ujar Rara memohon pada Tia, Tia menarik nafas heran melihat kelakuan Rara, dia menuruti kemauan Rara menyuruh Rio pulang sendiri.
__ADS_1