Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Kedudukan Seorang Istri


__ADS_3

Seminggu berlalu dari kejadian batalnya pernikahannya, Rara mengembalikan semua barang pemberian Bagas menyuruh kurir mengirimkan ke apartement amaknya, termasuk laptop kerjanya.


Seminggu Rara bersabar atas kiriman-kiriman teror aneh yang berisikan sindiran, hinaan, cercaan Ranti pada Rara. Seminggu pula Bagas tetap setia memberi perhatian pada Rara makan siang dan hampir tiap hari Bagas menunggu Rara pulang dari kantornya, terkadang dia menunggu dirumah bu Sriyantika. Bagas bersikeras ingin berbicara dengan Rara, tapi Rara tak pernah mau menemuinya.


Setiap hari dia seperti menerima kiriman racun dan madu dari Ranti dan Bagas. Rara sering sembunyi-sembunyi berangkat dari kantor supaya tidak bertemu dengan Bagas. 


Sampai suatu hari di hari Jum’at ketika Rara berangkat pagi , halaman rumah sudah penuh dengan ibu-ibu komplek yang membeli sayur. Mereka terlihat berbisik-bisik satu sama lain sembari melihat ke mobil bu Sriyantika yang diparkir diluar rumah. Ternyata mobilnya di gores-gores menggunakan benda tajam, lalu ada tulisan besar “PELAKOR” menggunakan cat merah. Rara yang hendak berangkat merasa sangat malu dan kembali ke kamar menangisi nasibnya.


“Sayang udah nduk nanti mobilnya juga bisa dibersihin!” Bu Sriyantika  menghampirinya menenangkan Rara yang menangis, mukanya ditutupi bantal.  Rara bangkit, duduk memeluk bu Sriyantika.


“Tante apa Rara pergi aja dari sini tante!” ujarnya terisak deras.


“Eh kok gitu, denger tante sayang liat tante!” bu Sriyantika  memegang wajahnya dan menatapnya dalam, “Ini bukan salah kamu! kamu udah mengambil keputusan yang benar dengan menjauhi Bagas, kamu jangan kalah hanya karna tulisan itu. Udah udah itu bisa dibenerin kok mobilnya.” bujuknya, Rara memeluk bu Sriyantika lagi dan menangis dipelukannya.


“Tante Rara harus ketemu Ranti tante, Rara harus jelasin semua ini.” isaknya.


“Tante gak setuju sayang, gimana kalau dia nyakitin kamu? Udah nanti itu kita pikirin lagi, sekarang kamu yang tenang dulu!” bu Sriyantika mengelus-elus badannya.


‘ya Allah jagalah anakku Mutiara'. gumam bu Sriyantika dalam hati.


Apa yang menimpa Mutiara mengingatkan akan masa kelamnya dulu. Bu Sriyantika sangat bersyukur Allah masih menyelamatkan Mutiara dengan menggagalkan pernikahannya.


Setelah kejadian itu bu Sriyantika  menyuruh Tia mencari alamat rumah Ranti ingin menemuinya, awalnya Tia tidak setuju tapi dia juga merasa gak tega dengan berbagai macam teror yang diterima Rara dari Ranti.


Ranti Oktaviani Sinaga, perempuan cantik ini tengah asik menyiapkan teror untuk Rara. Dia memotong rapi wajah Rara yang dia dapatkan dari  paparaji yang dia suruh untuk memotret Rara. Kali ini bukan boneka tedi tapi boneka monyet berwarna hitam, lalu dia menyiapkan tinta merah, paku berkarat dan sebuah kertas buffalo.


‘Apa dikasih bangkai tikus aja ya, akh nanti kusuruh orang menambahkan bangkai tikus’ gumamnya dalam hati. Kecemburuannya pada Rara yang membuat dia seperti ini.


TENG TONG. Suara bel apartemennya berbunyi. Ranti membuka pintu dilihatnya perempuan paruh baya dengan seorang perempuan muda.


“Assalamualaikum?” salam bu Sriyantika.


“Wa'alaikumussalam siapa ya?” tanya Ranti heran.


“Loe lupa sama gue?” ujar Tia.


Ranti mengerutkan dahi mencoba mengingat-ingat, sampai dia ingat Tia adalah sodaranya Rara, dia langsung menutup pintunya tapi dengan cepat Tia menahannya.

__ADS_1


“E..e..e ada tamu kok ditutup gak sopan tau!” Tia langsung menyelonong masuk ke dalam apartemennya di susul bu Sriyantika.


“Mau apa kalian kemari?” teriaknya dengan suara lantang.


“Kami mau bicara!” sahut bu Sriyantika  dengan suara yang masih lemah lembut.


“Aku tak mau! Sekarang kalian pergi dari sini! ” teriaknya marah.


“Elo kan yang neror Rara?” teriak Tia balik.


“Jangan nuduh sembarangan kau!”


Tia kesal dia langsung menyelonong mencari-cari kamar Ranti.


“Mau kemana kau?” ujar Ranti mencoba meraih baju Tia menahannya, tapi Tia langsung mendorongnya keras sampai Ranti terpental kebelakang.


Tia benar-benar menghiraukan ocehan Ranti dan langsung masuk ke kamar utama, dan ternyata benar di temukan kardus berisi teror yang Ranti siapkan untuk Rara.


“APA INI?” bentak Tia marah.


  Ranti hendak mengambil kardus tapi Tia penghalau dan mendorongnya lagi ke belakang, mudah bagi Tia yang tomboy bermain fisik selama yang dihadapinya kaum hawa. Dengan cepat Tia mengeluarkan hp lalu memfoto isi kardus tersebut.


Tia menghiraukan Ranti lagi masih sibuk memfoto kardus dan isinya, dari jarak jauh maupun jarak dekat, dia juga memfoto Ranti dan kamar beserta view jendela apartemen.


“HEH JAWAB!!” bentak Ranti kesal.


“Ini buat bukti ngelaporin loe kepolisi! ” bentak Tia balik.


“Apa kau jangan macam-macam ya?” Ranti dengan cepat hendak meraih hp Tia, dengan cepat pula Tia mengelak dan langsung keluar kamar menuju ruang tamu menghampiri mamihnya  sedang menunggunya.


“Mih ayo pulang kita udah dapet buktinya, kita sewa pengacara handal, minimal puluhan tahunlah dia mendekam dipenjara.” ujar Tia pada mamihnya mengancam Ranti, Ranti panik dia langsung menghalangi pintu keluar dengan tubuhnya.


“Tolong jangan lakukan itu tolong!” sahut Ranti yang suaranya sudah mulai merendah. Tia memutar bola matanya malas.


“Kalo gitu loe duduk!  dengerin mamih gue ngomong!” bentaknya.


Ranti mengikuti perkataan Tia, dia mempersilahkan bu Sriyantika duduk sedangkan Tia berdiri di samping mamihnya bak bodyguard yang siap menjaganya. Ranti duduk berhadapan dengan mereka.

__ADS_1


“Ranti, apa kamu mencintai Bagas?” Tanya bu Sriyantika.


“Pertanyaan apa itu?”jawabnya sewot.


“Jawab aja bisa gak sih? IYA ATO ENGGAK??” Bentak Tia yang tak ingin bertele-tele dengannya. Ranti diam, dia ketakutan pada Tia.


“Iya tante saya cinta.”


“Ranti dengar, Rara sudah mengambil keputusan tidak akan mendekati Bagas lagi....”


“Tapi tante Bagas suka sama Rara, dan sampe sekarang pun saya tau Bagas masih perhatian sama Rara dengan mengirimkan makanan, saya tau Bagas suka menunggu Rara dirumah bu Sri  hampir setiap hari dia begitu!” potong Ranti cepat.


“Jadi menurut kamu ini semua salah anak saya Rara?” Ranti diam. “ Kamu sudah dewasa Ranti, kamu tentu tau siapa yang mengejar siapa yang dikejar, lagi pula Rara sudah memutuskan membatalkan pernikahannya apa itu kurang?”


“ Tapi Tante kalo seandainya Rara pergi setidaknya nya Bagas tidak bisa mengejar-ngejar dia lagi dan...”


“Kalo seandainya Rara pergi maka akan ada Rara Rara yang lainya!” potong bu Sriyantika mulai tegas.


“Gimana?” tanya Ranti kebingungan.


“Selama kamu tidak merubah sikap kamu, akan terus ada wanita lain yang Bagas kejar selain Rara, karna dia membutuhkan sosok istri yang perhatian dan lemah lembut, bukan sosok wanita yang selalu tidak menghargainya dan selalu merendahkannya!”


Ranti diam mendengar penjelasan bu Sriyantika, dia merasa ada benarnya. Sikapnya selama ini pada Bagas memang tidak pernah baik.


“Ranti fitrahnya seorang lelaki itu imam, pemimpin, dia akan pergi bila harga dirinya direndahkan, jadi bakal percuma bagi kamu terus-terusan mencoba menggenggam harga diri Bagas dengan menginjak-injaknya seperti ini.” tambah bu Sriyantika diam sejenak menghela nafas menahan kesal.


“Satu hal yang harus kamu tau Ranti, kita sebagai perempuan mau setinggi apapun kita, setinggi apapun pendidikan kita, mau sekaya apapun kita, kodrat seorang istri tetap kedudukannya di bawah suami, kita harus hormat sama suami kita!”


“Denger baik-baik tuh.” ucap Tia kesal yang ikut menyerobot, Ranti hanya diam malu merasa bersalah.


“Pikirkan baik-baik Ranti, rubah sikap kamu terhadap Bagas atau kamu cepat atau lambat akan kehilangan dia!” ujar Bu Sriyantika memperingatkan.


“Dan gue gak mau tau, loe harus berhenti neror Rara, minta maaf sama dia, kalo dalam dua hari loe gak minta maaf, gue laporin loe kepolisi!” ancam Tia pada Ranti.


“Ayu nduk kita pulang?”


“Ayu mih, Wassalamuaalaikum!”

__ADS_1


Bu Sriyantika dan Tia pergi meninggalkan Ranti, Ranti menangis di kursinya. Ucapan bu Sriyantika menyentuh hatinya, benar apa yang dikatakannya, dia mau tak mau harus berubah. Dia sadar semua ini terjadi karna ulahnya sendiri.


__ADS_2