
“Jadi bisa dirolling kok mas, satu SPG bisa rolling dua sampai tiga toko. Semisal dari Senin sampe Rabu di toko A dari kamis sampe Sabtu di toko B,” ujar Rara menjelaskan idenya.
“Bener juga ya Ra,” sahut Wildan mengangguk perlahan. Cukup lama Rara dan Wildan membahas pekerjaan, tiba-tiba Rio dan Tia datang ke cafe menghampiri mereka.
“Assalamualaikum?” salam Rio dan Tia.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Wildan dan Rara kompak.
“Wil mana laporannya gue butuh sekarang juga!” ujar Tia cepat, “elo ikut gue!”
Tia menarik lengan Wildan menjauh dari Rara.
“Bentar bentar Ti! Gue udah jelasin ke Rara soal...,” ujar Wildan sambil digeret pergi dari hadapan Rara.
Rara heran melihat tingkah Tia pada Wildan. Diliatnya Rio di sampingnya berdiri dengan wajah merah. Rara langsung bangkit dari kursinya pergi menuju parkiran mengacuhkan Rio, tapi Rio malah mengikuti di belakangnya. Ketika sampai di depan mobil Rio mengambil lengan mungil Rara dan merebut kunci mobil dari tangannya.
“Saya yang nyetir!” ujar Rio dengan wajah kesal. Rara diam kebingungan dengan tingkah Rio. Rio membukakan pintu mobil untuk Rara.
“Masuk!” ujar Rio marah.
“Aa apa-apaan sih, kenapa aa gak bareng Tia aja tadi?” elak Rara.
“Tia udah pulang, masuk!” ujar Rio tambah kesal.
“Saya gak mau! saya naik angkot aja,” timpal Rara berpaling pergi. Rio makin kesal mendengar jawaban Rara, dan lagi Rio tiba- tiba mengendong Rara lalu memasukkan tubuhnya mungilnya ke mobil.
“A LEPAS A!?” teriak Rara kaget meronta-ronta minta Rio untuk melepaskannya. Rio bersikap acuh menutup kencang mobilnya, Rara ketakutan dengan sikap Rio.
“AA! Buka pintunya, saya mau keluar!” teriak Rara mengoyang-goyangkan engsel pintu mobil.
“Jang ada apa?” tanya bapak parkir melihat mereka ribut.
“Gak papa pak, istri saya lagi ngambek,” jelas Rio santai pada tukang parkir masuk ke mobilnya.
Rio langsung menancap gas tak menggubris Rara yang teriak- teriak sedari tadi. Dia menyetir dengan kecepatan tinggi, Rara hanya pasrah ketakutan dengan laju mobil yang sangat cepat .
“A? Aa jangan ngebut!!” teriak Rara ketakutan. Melihat Rara yang takut Rio mengerem mendadak mobilnya, parkir di pinggir jalan.
“YANG KAMU LAKUKAN ITU SALAH RARA!” bentak Rio marah pada Rara suaranya menggelegar membuat Rara kaget.
“Apanya yang salah?” bentak Rara kesal.
__ADS_1
“Kamu lunch sama laki-laki yang bukan mahram kamu!” bentak Rio.
“SIAPA?” teriak Rara.
“WILDAN!” teriak Rio balik, kini Rara paham Rio cemburu pada Wildan.
“A saya bingung bener-bener bingung! Aa yang selalu seenaknya gendong-gendong saya, megang tangan saya, nyentuh saya seenaknya! Terus aa bilang soal mahrom gak mahrom? Kalo Wildan bukan mahram saya, harusnya itu juga berlaku buat aa! Apalagi waktu kejadian di mobil. Jujur a saya gak bisa bedain mana yang benar mana salah sama staatment aa!” jelas Rara dengan lantang membuat Rio diam. Rio menarik nafas dalam, beristigfar mengontrol emosinya.
“Apa ini balas dendam?” tanya Rio dengan intonasi yang mulai merendah.
“Maksudnya ?”
“Apa kamu lunch berdua dengan Wildan balas dendam pada saya karna kita tidur semobil?”
Rio mulai mendatarkan suaranya, menginterogasi. Rara menggelengkan kepalanya atas kesalah pahaman Rio.
“A, saya ketemu dia gak sengaja! lalu kita cuma bahas masalah kerjaan,” jelas Rara kesal.
“Tapi harusnya kamu menghindar, kamu bisa suruh dia datang ke kantor dan bahas kerjaan di kantor. Apalagi tadi di cafenya gak ada orang, cuma waiters aja. Cuma kalian berdua!” jelas Rio detail. Rara sampai terheran-heran Rio memperhatikannya sedetail itu.
“A? Ini apaan sih Gj tau! ngapain juga saya harus ngikutin omongan aa?”
“Oke gini! saya janji, saya akan menjaga diri saya dengan menaati aturan agama sebagai muslimah untuk tidak lagi berdua-duan dengan lelaki yang bukan mahrom saya. Tapi aa juga janji, aa juga harus ngelakuin hal yang sama!” jelas Rara.
“Maksudnya?”
“Aa gak boleh gendong-gendong saya lagi sembarangan, aa gak boleh pegang-pengang tangan saya lagi sembarangan, aa juga harus janji mau menjaga kehormatan saya sebagai perempuan muslim,” ujar Rara mencoba sabar menghadapi Rio.
“Iya!” jawab Rio singkat.
“Janji?”
“InsyaAllah janji.”
“Oke saya pegang kata- kata aa.” Rara menarik nafas tak habis pikir olehnya. Kenapa dia harus berhadapan dengan orang macam Rio? Sepanjang jalan Rara berdoa memohon perlindungan pada Rab-nya dari orang macam Rio. Rio menancapkan gas dia mulai menyetir dengan tenang.
💚💚💚💚💚💚💚
Sesampainya di kantor Rara langsung mencari Tia di ruangannya dan ternyata dia belum kembali. Rara memutuskan menunggu diruangan Tia. Pada jam tiga Tia kembali dan Rara langsung mengadu apa yang sudah Rio lakukan padanya, tapi bukan pembelaan yang Rara dapat malah omelan yang Rara dapat.
“Ra tanpa Rio marah-marah gue juga marahlah sama elo, yang di omongin Rio tu bener. Kenapa loe berdua-duan sama Wildan, dia kan bukan mahrom elo. Gue aja gak pernah ngebiarin elo berduaan sama Bagas,” bentak Tia malah membela Rio atas pengaduan Rara.
__ADS_1
“Sama Rio?” tanya Rara balik.
“Ya kalo Rio bedalah, orang dia udah gue anggap sebagai kakak sendiri, gue kenal Rio lama Ra.”
“ Bukannya elo juga udah kenal Wildan udah lama? Satu kelas lagi,” bela Rara kesal.
“Loe jangan berkelit deh Ra, salah ya salah.”
“Berkelit gimana? gak masuk akal Tia!”
“Ni maksud loe apa sih, apanya yang gak masuk akal?”
“Gue minta loe adil dalam menjudge Tia, loe marah-marah sama gue, padahal gue sama Wildan cuma bahas kerjaan. Sedangkan Rio, dia barusan gendong gue malah loe bela. Gue gak ngerti sama pola pikir loe!” bentak Rara.
TOK TOK TOK, “Assalamualaikum,” salam Gilang terdengar dari luar ruangan.
“Wa’aikumussalam, masuk Gilang.” teriak Tia. Gilang membuka pintu lalu masuk.
“Teh Rara disini?”
“Ya ada apa?” jawab Rara menahan emosi.
“Event Swarscoff teh, ini hari ketiga belum dikontrol di weekend ini. Wina udah nunggu di toko dari tadi. Dia baru datang kesini teh, katanya mau ngontrol gak?”
“Astagfirullah lang, saya lupa! Habis Ashar ajak Wina, kita bertiga berangkat sekarang,” sahut Rara.
“Ni udah Ashar teh udah jam setengah empat lebih.”
“Iya saya salat dulu, saya belum salat.”
“Baik teh, punteun teh Tia,” ujar Gilang sopan. Tia tersenyum padanya, Gilang langsung keluar ruangan.
“Tia loe pulang duluan, nanti gue balik sama Wina!” ujar Rara judes pada Tia.
Rara langsung keluar menuju mushola untuk melaksanakan salat Ashar. Diliat Rio baru keluar dari mushola melemparkan senyum pada Rara. Rara acuh tak membalas senyumnya, kesal. Baru saja kemarin dia memaafkan kesalahan Rio, dia sudah berulah lagi siang ini. Gimana Rara mau mencoba baik sama Rio kalo Rio terus terusan selalu membuat Rara illfeel.
Rara pulang jam delapan malam. Tia menunggunya diruang makan dan menawarkannya makan, Rara menolak dan dia benar\-benar marah pada Tia. Rara menyiapkan basahan, mandi lalu dia pergi tidur. Malam ini Rara mengacuhkan Tia, Tia hanya menghela nafas sabar menghadapi sikap Rara.
Keesokan harinya, Wina menjemput Rara pagi\-pagi sekali, jam tujuh. Rara memang menyuruh Wina menjemputnya pagi karna Rara tak mau banyak interaksi dengan Tia, dia masih marah dengan Tia yang lebih membela Rio dari pada dirinya.
__ADS_1