Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
BUKAN MAHRAM


__ADS_3

Rara benar-benar tak bisa tidur, dia masih syok dengan kejadian tadi malam yang menimpanya. Dia hanya melamun di balik selimutnya mencari-cari alasan kenapa tantenya sendiri begitu tega membiarkan hal itu terjadi.


Adan subuh berkumandang, Rara langsung bangkit dari kasur melihat ke samping Tia masih tertidur pulas. Rara melepaskan hijabnya yang masih terpasang sedari tadi, dia membawa mukenanya lalu naik ke lantai atas untuk mengajak Bu Sriyantika salat jamaah seperti biasa.


Bu Sriyantika mengimaminya salat subuh, dan selepas itu seperti biasa dia memandu Rara mengaji Al Quran. Setelah satu lembar habis Rara mengakhiri pengajiannya. Sebelum Bu Sriyantika melakukan syiarnya, Rara menyela Bu Sriyantika tak sabar ingin berbicara dengannya.


“Tante, Rara mau ngobrol dulu sebentar boleh?” tanya Rara dengan suara pelan dan cepat.


“Iya nduk ada apa?”


“Tante mengenai tadi malam, tante tau betul yang Rio lakukan itu salah tante, kenapa tante ngebiarin Rio dan Rara tidur di dalam mobil berdua? Agama kita melarang hal itu tante,” tanya Rara lirih. Hatinya memang dipenuhi rasa amarah, tapi Rara menjaga attitudenya berusaha berbicara dengan tantenya dengan suara pelan tetap menjaga adab, Bu Sriyantika tersenyum memandangnya.


“Maafin tante ya sayang, udah buat kamu marah. Tante paham maksud kamu sayang.” Bu Sriyantika diam sejenak melihat ke arah Rara. Dia bisa melihat raut wajah Rara rasa kesal dan marah yang ditahannya.


“Nduk?”


“Ya tante?”


“Kamu udah lama kan mengenal tante?” tanya Bu Sriyantika lembut, Rara mengangguk.


“Sayang, mungkin kamu akan sulit memahaminya, tapi sejauh ini apa yang tante lakukan itu untuk kebaikan kamu nduk.” Rara mengerutkan dahinya bingung dengan penjelasan Bu Sriyantika.


“Gini aja, nduk, tante gak bisa memberikan kamu penjelasan yang lebih rinci, yang harus kamu percaya tante sayang banget sama kamu, dan Insya Allah apa yang tante lakukan sama kamu itu tidak akan melanggar peraturan agama kita.”


“Tapi tante, jujur Rara masih bingung dengan perubahan sikap tante. Tante yang selalu mengajari Rara tentang agama, selalu mengajari Rara untuk menjauhi hal-hal yang ditentang agama, dan selalu menasihati Rara untuk sekuat tenaga menjaga kehormatan kita. Kenapa tante selalu biarin Rio datang ke rumah kita seenaknya, bahkan tante tidak keberatan Rio jalan ato tinggal berdua serumah dengan Rara padahal tante tau persis dia bukan mahrom kita.”


“Rara sayang, ada satu alasan yang tak bisa tante katakan sama kamu, seperti yang tante bilang tadi, ini tante lakukan demi kebaikan kamu sayang. Di samping itu tante menyukai Rio nduk. Dia anaknya Sholeh, rajin pekerja keras, dan sopan. Tante sangat percaya sama Rio,” jelas Bu Sriyantika malah memuji Rio. Rara diam tambah bingung menerka alasan Bu Sriyantika yang dia sembunyikan darinya.


“Nduk apa kamu gak suka sama Rio?” tanya Bu Sriyantika memecahkan lamunannya.


“Gimana tante?”


“Apa kamu gak suka sama Rio?” ulang Bu Sriyantika.


“Enggak tante!”


“Loh kenapa?”


“Gak ada satu pun alasan yang membuat saya menyukainya tante.”

__ADS_1


“Satu pun?”


Rara menggelengkan kepalanya, yakin.


“Satu pun tante gak ada!” ujar Rara tegas, Bu Sriyantika tersenyum memandang Rara.


“Tante mau nanya sama kamu, itu jawaban kamu berdasarkan kamu mamang benar tidak menemukan satu hal pun yang kamu suka dari Rio, atau kamu masih menutup hati kamu karna Bagas?” pertanyaan tante, langsung menusuk hatinya. Rara diam bergeming menatap bu Sriyantika, terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


“Tante Rara rasa itu gak ada hubungannya dengan semua ini,” elak Rara berusaha menghindar.


Rara memang menutup hatinya atas kejadian sebulan yang lalu untuk kaum adam, masih ada batu-batu kerikil kecil yang menganjal di hatinya yang membuat hatinya sakit. Walaupun kejadian dengan bagas sekilas, tapi luka yang ditancapkan masih membekas ternganga perih jika di ungkit kembali.


“Nduk sekali lagi tante minta maaf ya, Insya Allah tante janji tante gak akan ngelakuin apa yang dilarang agama. Kamu mau kan maafin tante?”


Rara menatap Bu Sriyantika, wajahnya begitu lembut sama persis yang selama ini dia kenal, Rara tak habis pikir entah apa yang membuat kemarin dia berubah.


“Iya tante, gak papa,” jawab Rara tersenyum tipis.


“Sayang tante bacakan satu ayat ya.”


Rara mengangguk bersiap mendengar ayat yang akan dibacakan Bu Sriyantika.


“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)," ujar bu Sriyantika menyudahi.


“Sama halnya dengan kamu Rara, apa yang anggap kamu baik belum tentu baik dimata Allah, semisal kemarin kamu mencintai Bagas, tapi Allah memisahkan dia dari kamu karna dia tidak baik buat kamu. Dan sekarang kamu membenci Rio bisa jadi dia adalah orang yang tepat yang dikirim oleh Allah untuk melengkapi hidup kamu.” Rara diam mendengar Bu Sriyantika, mencoba mencerna syiarnya.


“Sayang tante gak berharap banyak, tapi setidaknya tante berharap coba aja kamu membuka hati sedikit aja untuk melihat kebaikan yang ada pada diri Rio dan bisa mengenal dia dengan baik. Kamu tau persis bagaimana Tia dan tante dalam berpegang teguh dalam hukum beragama nduk. Tia dan tante bisa melihat hal baik dalam diri Rio, tante yakin kamu juga pasti bisa.”


Rara diam mendengar nasehat Bu Sriyantika, Rio memang laki-laki baik dia tidak pernah berbuat macam-macam padanya. Hanya saja Rara paling tidak suka kalau Rio sering menyentuh tubuhnya karna dia memang bukan mahromnya, pikirnya.


“Nduk ini udah mulai siang, kamu mau bantuin tante masak? Rio juga nanti keburu ke rumah.”


“Tante masih mau nyuruh dia dateng ke rumah setelah kejadian tadi malam?” tanya Rara masih tak habis pikir.


“Nduk gak ada alasan bagi tante untuk membenci dia, dia udah baik mau ngerawat kamu, sudah mau bantu pekerjaannya Tia, kerja freelance di perusahaan Tia. Udah mau luangin waktu buat bantuin tante nyari oleh-oleh. Banyak nduk yang udah dia lakuin buat kita, malahan nanti dia mau nganterin tante ke bandara. Kalo soal tadi malem itu bukan sepenuhnya salah Rio nduk, tante yang nyuruh dia jagain kamu sampai kamu bangun, karna tante merasa bersalah sama kamu udah maksa kamu ikut tante beli oleh-oleh padahal kamu capek udah seharian kerja. Mungkin karna tante terlalu percaya sama dia jadi tante nyuruh Rio untuk jagain kamu di mobil,” jelas Bu Sriyantika lembut.


Rara diam berfikir, dia benar-benar tak mau ikut memasak untuk Rio, dia masih kesal dengan kejadian tadi malam.


“Ya sudah kalo kamu gak mau bantu, tante turun ke bawah dulu ya bantuin bi Atik,” ujar Bu Sriyantika.

__ADS_1


Rara mengangguk diam menahan kesal. Rencananya untuk membuat Rio berhenti mengunjunginya masih gagal. Kini Dia masih pasrah dengan keadaannya sekarang yang harus terus-terusan berinteraksi dengan Rio.


💚💚💚💚💚💚💚


Rara yang sudah terlihat segar membuka lemari pakaian sibuk memilih kerudung yang pas untuknya, Tia tiba\-tiba terbangun dari tidurnya.


“Ra loe gak bantuin mamih masak?”


“Gak!” jawab Rara jutek.


Dia duduk dipinggir ranjangnya bersiap-siap melipat kerudung segi empatnya menjadi segitiga.


“Loh kenapa?” tanya Tia heran.


“Males.”


“Tumben?”


Rara diam tak menjawab pertanyaan Tia.


“Akh gue tau, loe lagi marahan ya sama a Rio, cie yang lagi ngambek sama pujaan tercinta?” goda Tia sambil mencolek Rara dengan guling. Rara merasa kesal, dia menarik guling itu dan melemparnya pada Tia, sebal.


“Aduh sakit tau,” jawab Tia, Rara diam mendengar Tia mengaduh. Tia merasa kesal karna Rara yang mengacuhkannya lalu melempar balik gulingnya pada Rara.


“Auww!”


Rara mengaduh, dia tak tinggal diam mengambil bantalnya lalu melemparkan lagi membalas Tia.


“Gj!” ujar Rara kesal.


“Kok gue sih yang Gj, elo yang Gj!” timpal Tia sambil memukulkan bantal ke lengan Rara balik.


“Elo!” ujar Rara memukul balik.


“Enak aja elo.”


“Elo!”


Rara dan Tia saling memukul berantem seperti anak kecil. Mereka saling memukul bantal dihiasi tawa karna geli. Mereka perang bantal bak adik dan kakak.

__ADS_1


__ADS_2