Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
La Tahzan


__ADS_3

"Ti gue izin ya, mo pergi dulu ya?” ujar Rara mereka sedang berbincang di kantor Tia.


“Mau kemana? sama sapa?”


“Apartemen amak.”


“Mau ngapain?” tanya Tia sewot, kesal Rara masih berurusan dengan keluarga Bagas.


“Ada yang harus gue selesain.”


“Gue ikut.” Rara mengangguk setuju Tia ikut dengannya.


Sebenarnya Rara tidak ingin Tia ikut, tapi pasti Tia akan memaksa dan mempersulit Rara untuk pergi.


💚💚💚💚💚💚💚


Rara menekan tombol lift menuju apartemen amaknya Bagas. Diliatnya disana ada Ranti yang sudah standby menunggu didepan pintu.


“Ngapain tu anak?” tanya Tia kesal.


“Gue udah janjian sama dia, kita mau ngobrol sama amak, Ranti mau berubah sikap jadi istri baik buat Bagas. Dia butuh bantuan gue untuk bujuk amak.”


“Kok loe mau sih?”


“Karna gue mau Bagas bahagia.”


Ucapan Rara membuat Tia tidak bisa berkata-kata. Kok mau-maunya membantu orang-orang yang sudah menyakitinya? Tia bersyukur mempunyai sodara yang baik, walaupun bukan sodara kandung. 


“Ra semoga loe mendapatkan cinta yang lebih baik dari Bagas.” ujar Tia menyemangatinya, Rara tersenyum dan mengamini do'a Tia dalam hati.


Tia memencet bel apartemen tak lama Amak membukakan pintu.


“Rara?” sapa bu Hasiah langsung memegang tangan Rara dan cepat memeluknya." Amak kangen sama kamu nak.”


Melihat kedekatan bu Hasiah dan Rara, membuat Ranti iri. Ada segores penyesalan dalam hatinya, kenapa ibu mertuanya bisa sedekat ini dengan wanita lain.


Bu Hasiah kaget melihat ada Ranti datang bersama Rara. Dia melihat Ranti seperti orang yang ketakutan.


“Amak kita boleh masuk?” sahut Rara lembut.


“Mari-mari silahkan.” tawar bu Hasiah kebingungan pada Ranti dan Rara terlihat biasa, kenapa sikap Ranti pada Rara tidak kasar seperti yang dia pikirkan. Bu Hasiah duduk di samping Rara tidak melepaskan tangan Rara menggenggamnya erat karna takut pada Ranti.


“Amak, Rara kesini mau mengantar Ranti amak. Dia ingin minta maaf ke amak dan Mila atas selama ini dia lakukan pada amak, Mila dan Bagas. Dia ingin menyelamatkan rumah tangganya amak.” jelas Rara.


“Tapi Rara, Bagas cintanya sama kamu?”


“Amak apa yang dirasakan Bagas salah amak, orang yang harus dia cintai itu istrinya, Ranti.”


“Rara tapi Ranti ...”  tiba-tiba Ranti bersimpuh duduk di bawah memegang lengan bu Hasiah.

__ADS_1


“Mak, Ranti minta maaf mak, Ranti mengaku salah mak, Ranti tak mau berpisah sama Bagas, tolong mak maafkan sikap Ranti selama ini.” potong Ranti terisak memohon.


“Bukannya selama ini kamu ingin bercerai dengan Bagas Ranti? kamu selalu menghina kami tidak selevel dengan mu.” ucap bu Hasiah menangis, merasa sakit hati atas apa yang sudah Ranti lakukan pada keluarganya.


“Iya amak, Ranti akuin semua kesalahan Ranti amak, itu dulu amak, kini Ranti sadar Ranti jatuh cinta sama Bagas amak. Ranti tak mau kehilangan dia amak. Tolong amak bilang ke Bagas jangan ceraikan Ranti amak.” Ranti menangis dan memohon pada amak membuat hati Bu Hasiah terenyuh merasa iba pada menantunya.


“Amak?” sahut Rara. “Amak seorang ibu, pasti tidak mau melihat rumah tangga anaknya hancur, amak harus memberi kesempatan pada Ranti. Ranti janji akan berubah amak, kalo amak tidak percaya, amak bisa suruh Mila tinggal diapartementnya Bagas, biar Mila jadi saksi perubahan Ranti.” bujuk Rara pada amak.


“Itu tidak mungkin Rara, jangankan tinggal bareng melihatnya pun Mila tak sudi.” ucap bu Hasiah.


“Nanti biar Rara bicara sama Mila, asalkan amak mau memberi kesempatan pada Ranti dan membujuk Bagas untuk tidak menceraikan Ranti.”


Bu Hasiah mengangguk setuju, perkataan Rara benar, sebagai seorang ibu dia tidak mau melihat rumah tangga anaknya hancur.


“Makasih amak.” ucap Ranti langsung memeluk bu Hasiah, dengan terbuka bu Hasiah memeluk Ranti kembali.


Bu Hasoah merasa senang, selama ini Tuhannya menjawab doa-doanya, agar hati menantunya terbuka bisa menerima Bagas. Dia merasa bahagia dia menuntun tangan Ranti untuk duduk disampingnya, bu Hasiah menyeka air mata Ranti. Ranti memeluknya kembali berterima kasih karna bu Hasiah berbesar hati mau menerimanya.


“Amak kalo gitu Rara pamit pulang ya?”


Bu Hasiah mengangguk, dia memeluk Rara.


“Semoga Allah Subhanallohuataa’la memberikan jodoh terbaik buat Rara.” do'a amak menyertainya.


“Aaamiiin, makasih amak, ayo Ti?” Rara dan Tia berdiri mereka pergi menuju pintu keluar.


“Tunggu!” suara Ranti menghentikan langkah Rara dan Tia.


“Semoga ini bermanfaat buat kamu, sekali lagi terima kasih.” ujar Ranti tersenyum.


“Ini...?”


“Ini bukan uang atau cek, ini sebuah benda, dan Insya Allah bermanfaat buat kamu.”ujar Ranti, Rara tersenyum menerimanya. 


💚💚💚💚💚💚💚


Apartemen yang dihuni keluarga Bagas sanggatlah mewah , ada empat pintu lift yang berhadapan berjarak sekitar enam meter. Tia menekan tombol lift sebelah kanan, mereka masuk ke dalam lift. Ketika Tia menekan tombol ground menuju parkiran untuk pulang, pintu lift didepanya terbuka, disana ada Mila dan Bagas.


“RARA!” teriak Bagas memanggil Rara, dia langsung berlari keluar. Tia panik memencet-mencet tombol lift, berharap pintu liftnya cepat tertutup.


“RARA TUNGGU!” teriak Bagas lagi.


Rara hanya bisa memandangi Bagas berlari kearahnya dengan mata berkaca-kaca. Lalu Rara mengacuhkan Bagas menolehkan wajahnya pada Tia  memejamkan matanya dan pintu lift pun tertutup sempurna.


Bagas tidak sempat menahan pintu lift, dia memukul-mukul pintu lift menekan-nekan tombol lift berharap liftnya bisa terbuka. Tapi lift sudah bergerak ke bawah. Bagas pun tidak menyerah, dia melihat Mila masih didalam lift dan menghold lift, Bagas langsung masuk lift bersama Mila menuju ground.


Di dalam lift, Rara menyeka air matanya.


“Loe gak papa?” tanya Tia. Rara menggelengkan kepala memberikan isyarat dia baik-baik saja.

__ADS_1


“Pas pintu liftnya buka, kita harus bergerak cepat, pasti Bagas nyusul kita.” Rara mengangguk mengiyakan intruksi Tia.


Edisi kejar-kejaran ini membuat Tia dan Rara berdebar-debar, dengan cepat mereka keluar lift lalu berlari rusuh ke parkiran masuk mobil.


‘Bismillah.’ ujar Tia menghidupkan dan menstater mobilnya.


“RARA STOP RARA!” teriak Bagas berlari menuju mobil Tia. Tia dengan cepat menancap gas dan melaju cepat keluar gedung. Bagas mencoba berlari menyusulnya.


Rara melihat Bagas berlari mengejar mobilnya dan memanggil-manggil namanya. Dia menangis melihat itu semua, hatinya merasa iba. Dia ingin sekali menghentikan mobilnya dan kembali pada Bagas, tapi itu hanya angan-angan semata. Rara menahan nafsunya, dan menangisi Bagas yang berlutut menyerah mengejar mobil Tia dari kaca spionnya.


Tak mudah, memang tak mudah meninggalkan orang yang kita cintai. Seandainya kalo bisa, kita menulis takdir kita dengan orang yang kita cintai dan berakhirkan happy ending. Luka yang dalam adalah resiko yang harus kita terima ketika memilih meninggalkannya. Tapi Allah Maha melihat Dia Maha tau, Dia sebaik-baiknya pembuat cerita indah hamba-hamba-Nya. Merasa sakit kehilangan satu cinta karna Allah itu jauh lebih baik dari pada mempertahankannya. Karna Allah akan mengganti cinta yang lebih baik, Cinta karna-Nya. Cinta karna Allah.


💚💚💚💚💚💚💚


Adzan magrib berkumandang, Rara dan Tia shalat berjamaah diimami bu Sriyantika. Setelah shalat, mereka bertiga mengaji. Rara dan Tia  bergantian membaca ayat surah Al Maidah per ayat dengan musyafnya masing-masing dipandu bu Sriyantika  sebagai guru membenarkan tajwid mereka. Lima belas menit sebelum Isa, bu Sriyantika menyudahi pengajian. Dia perlahan mundur dan menaruh mushafnya diatas meja coklatnya, lalu tersenyum kepada kedua putrinya, Tia dan Mutiara.


“Rara?” suara khas lembut bu Sriyantika memanggilnya.


“Iya tante?”


“Orang tua kamu pasti bangga sama kamu sayang, apa yang tadi siang kamu lakukan sama Ranti itu mulia nak.”


Rara tersenyum tipis mendengar pujian bu Sriyantika.


“Nduk cinta adalah salah satu anugrah tuhan yang indah, Islam memandang cinta sesama manusia adalah suatu fitrah dan wajar.” jelasnya.


Bu Sriyantika  membenarkan sedikit  mukenanya dan bersiap-siap menyampaikan syiarnya kembali.


“Adapun Islam melarang menyalahgunakan cinta untuk hal yang dilarang dalam agama. Rasa ingin memiliki yang kamu rasakan pada Bagas adalah cinta yang diselimuti hawa nafsu, yang bisa berakibat tidak baik. Tante senang kamu bisa menahan apa yang kamu rasakan pada Bagas." ujarnya tersenyum bangga, diam sejenak.


"Cinta sejati menurut Islam adalah cinta yang timbul untuk meraih ridho Allah, yang ingin menjadikannya sebagai jalan untuk ibadah, oleh karna itu hendaklah seseorang mencintai Allah Subhanallohuwataa’la diatas cinta yang lainnya, karna cinta itulah yang akan bisa membentengi kamu dari segala perbuatan yang dilarang agama.”


Rara menangis mendengarkan syiar tantenya, Tia disampingnya mengelus-ngelus pundaknya. Bu Sriyantika mendekatinya, memegang dagunya.


“La Tahzan, Innallaha Ma'ana” ucap bu Sriyantika lirih.


"Jangan bersedih Rara, Allah bersama kita selalu.”


Rara langsung memeluk bu Sriyantika. Syiar-nya  menyentuh hatinya, seperti memberi Rara sebuah senjata. Senjata untuk menyingkirkan batu besar yang selama ini menekan dadanya membuatnya sesak dan sakit. Kini batu besar yang menekan didadanya perlahan hilang, membuatnya mulai terasa ringan. Dia ikhlas atas semua apa yang terjadi dihidupnya.


Adan isya berkumandang, Rara menyeka air matanya, mereka bersiap salat Isa berjamaah. Setelah salat isya Rara berzikir dengan khusyuk menyebut asma Allah, lalu dia menengadahkan tangannya sejajar dengan wajahnya, berdoa pada Rabnya.


"Allahuma ajurni fi mushibati wa alhlifli khaira minha, ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya aaamiiin." ucap Rara berdoa lirih penuh harap.


💚💚💚💚💚💚💚


Rara memasuki kamar Tia, hendak menaruh mukenanya, dilihatnya amplop coklat pemberian Ranti. Dia menyobek bagian atasnya, didalamnya ada sebuah foto berukuran 2R. Dilihat ada foto dirinya, Bagas dan teman-teman kuliahnya berjejer mengenakan almamater kampus. Dibelakang fotonya bertuliskan 


Tania, Febby, Isti, Bagas, Andri, best friend forever.

__ADS_1


STKIP SILIWANGI BANDUNG 2012.


__ADS_2