Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
FAVORIT FOOD


__ADS_3

Keesokan paginya udara Bandung begitu dingin. Rara dan Tia salat berjamaah diimami bu Sriyantika di kamar atas seperti biasa, setelah dzikir Rara hendak pergi ke kamar untuk mengambil mushaf.


“Nduk mau kemana?” tanya bu Sriyantika yang terburu-buru melipat sajadahnya.


“Mau ke kamar tante mau ngaji.”


“Jangan dulu ngajinya nanti aja, ini ada hal yang lebih penting, kita kan mau kedatangan tamu spesial. Kita masak dulu ya?”


“Siapa tante?” tanya Rara heran mengerutkan dahi, sambil melepas mukenanya.


“Kamu lupa ya, kan Rio mau sarapan disini.” Rara tercengang dengan jawaban bu Sriyantika, diliatnya Tia asyik menertawai Rara.


“Iya ya mih, a Rio tamu spesial,” ujar Tia terkekeh.


“Iya nduk, kira-kira apa ya makanan kesukaannya, kamu tau gak nduk?” tanya bu Sriyantika ke Rara.


“Gak tau tante, Tia tau kali dia kan adik kelasnya.”


“Mana gue tau, harusnya elo kali yang lebih tau, masa udah kenalan tiga hari gak tau!” elak Tia.


“Kok gue? mana gue tau?” timpal Rara balik.


“Udah udah jangan berantem, Rara sayang diterka aja!”


“Rara ga tau tante, Rara kenal aja baru, mie ayam kali.”


“Kamu tuh gimana sih nduk masa sarapan masak mie ayam.”


“Iya elo tuh kalo mau ngasal yang kira-kira dong!” ujar Tia rebahan santai di kasur mamihnya.


“Ya sudah gini, Rara kamu telpon Rio tanya dia mau dimasakin apa?”


“Rara gak punya nomornya tante,” rengeknya.


“Gue punya,” ujar Tia semangat mengacungkan telunjuknya.


“Ya udah suruh Tia aja yang telpon tan, lagian jam segini dia belum bangun kayaknya.”


“Dia pasti udah bangun buat salat subuh nduk, sekarang kamu ambil Hp Tia terus telpon Rio, tanyain dia mau makan apa, dan kamu Tia ikut mamih, kamu belajar masak nasi!”


“Siap mih?” sahut Tia sembari tangan kananya hormat pada mamihnya.


Tia yang biasanya malas menyentuh dapur kali ini menjadi bersemangat membantu mamihnya memasak. Rara sadar dia sengaja mau membantu mamihnya agar dia bisa mengerjai Rara untuk menelpon Rio. Rara terpaksa mengikuti perintah bu Sriyantika pergi ke kamarnya. Lalu Rara mengambil Hp Tia dan mencari kontak Rio dan jari mungilnya menswipe layar Hp untuk memanggil Rio.


“Hallo Assalamualaikum, kenapa Tia?” Rio menjawab telpon mengira Tia yang meneleponnya.


“Wa’alaikumussalam, ini Rara a,” sahut Rara malas.


“Owh iya Rara ada apa?”


“Tante Sri nanya makanan kesukaan aa apa? Dia mau masakin buat aa katanya!” Rio diam cukup lama seperti memikirkan makanan apa yang ingin dimakannya.


“Hallo a Rio?”


“Ya hallo Ra, gini kamu orangnya amanah kan?”


“I-iya Insya Alloh kenapa gitu?” Raut muka Rara berubah menjadi fokus seraya ada hal penting yang akan disampaikan Rio.


“Tolong sampaikan ke tante Sri dan tolong perkataan saya jangan ditambah ataupun dikurangi.”


“Iya apa?” Rara menyimak perkataan Rio dengan serius.


“Janji?”


“Insya Allah janji, cepetan apa?” dia mulai tak sabar menunggu apa yang akan dikatakan Rio.


“Tolong bilang makanan kesukaan saya, apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka!”


“APA??” teriak Rara kaget.


Gila ni anak! Serasa percuma Rara serius menyimak. Ni bocah kenapa sih?


Pertanyaan yang selalu terbesit tentang Rio di otak Rara.


“Iya itu, apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka,” ulangnya.


“A ini serius ya bukan lagi bercanda!” gerutu Rara kesal.


“Iya saya juga kan serius, tolong sampaikan sesuai apa yang saya katakan ke tante Sri .”


“A ta-pi...,”

__ADS_1


“Ada lagi?”


“Ya enggak sih, tapi kan a...,”


“Ya sudah saya tutup ya, tolong sampaikan apa yang saya bilang tadi, Wassalamualikum!”


“Wa’alaikumus-sa-lam,” ucap Rara lirih


serasa tidak percaya dengan apa barusan didengarnya. Bagaimana bisa dia menyampaikan hal ini ke bu Sriyantika. Rara keluar kamar pergi ke dapur diliatnya Tia sedang mencuci beras di baskom kecil dipandu mamihnya.


“Gimana nduk? apa katanya?” tanya bu Sriyantika pada Rara.


“A-pa aja katanya,” jawab Rara.


“Itu serius jangan-jangan loe gak nelpon dia!” sela Tia seraya tidak percaya apa yang dikatakan Rara.


“Serius, orang barusan gue udah telpon, liat aja riwayat panggilan di hp loe!”


“Apa ja nduk cuma itu aja?” tanya bu Sriyantika memastikan jawaban Rara.


“Iya tante apa aja asalkan...,” ujar Rara tiba-tiba diam.


“Asalkan apa nduk?”


Tia dan bu Sriyantika menunggu jawaban Rara, Rara begitu susah mengerakkan bibirnya untuk menyampaikan apa yang dikatakan Rio.


“Nduk?”


“Asalkan Rara yang masak Rio suka,” lanjutnya perlahan.


“EHEMM!” Tia langsung mendehem keras sengaja menggoda Rara, sedangkan bu Sriyantika tertawa bahagia seperti mendapat kabar gembira. Ibu dan anak tersebut bertatapan saling tertawa mendengar ucapan Rara, berbeda dengan Rara dia menekuk wajahnya berasa tidak suka dengan apa yang baru dikatakanya.


“Rio romantis ya Tia?”


“Iya mih romantis, apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka.” Tia mengulang perkataan Rara. Rara menatapnya sinis seraya ingin menutup mulutnya dengan lakban.


“Mih, Tia gak jadi kan masaknya? kan makanan favorit a Rio APA SAJA ASALKAN RARA YANG MASAK RIO SUKA.” Tia menekan keras kalimat tersebut sambil melirik Rara yang mukanya masih ditekuk.


“Bi Atik bi? Rara sini!” ujar bu Sriyantika


“Ya nyonya?” ujar bi Atik menghampiri.


“Tolong beliin..., Rara kamu mau masak apa?”


“Loh kok gitu?”


“Udah mih, mamih aja yang nentuin makanannya,” ujar Tia cengengesan duduk di meja makan.


“Kan makanannya bebas yang penting apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka,” lanjut Tia tertawa.


Rara merasa kesal dengan apa yang diucapkan Tia, dia hanya bisa diam menerima bulian dari Tia.


“Owh iya ya, ya sudah beliin bahan sayur sop, tahu, tempe, dan ayam ya satu kilo.”


“Baik nyonya.” Bi Atik langsung pergi keluar berbelanja.


💚💚💚💚💚💚💚


Jam setengah tujuh tante Sri sudah siap duduk di kursi utama, Tia dan Rara duduk kursi sebelah kanannya. Tia mengenakan kemeja panjang maroon dan celana jins rambutnya terurai sebahu terlihat dewasa berbeda dengan sikapnya yang kekanak-kanakan, sedangkan Rara terlihat cantik dengan kemeja ungu dan pasmina merah muda pemberian bu Sriyantika.


“Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu,” salam Rio datang menghampiri meja makan.


“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu,” jawab mereka kompak.


“Sini Rio duduk,” ujar Bu Sriyantika ramah dihiasi senyum khasnya.


“Iya tante.” Rio menghampiri meja makan dilihatnya buah-buah, sayur sup, dan berbagai lauk pauk sudah tersedia dalam keadaan hangat siap untuk disantap.


“Emm keliatanya enak tante.” ujar Rio.


“Iya dong, ini semua Rara loh yang masak.” ujar bu Sriyantika.


Rara malah cuek dengan kedatangan Rio dia memalingkan wajahnya dan menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan kirinya. Seperti sedang membenarkan pasmina bagian atas, tak ingin menatap Rio.


“iya lah a, kita masak sesuai requesant aa loh, apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka.” ujar Tia menggoda Rara dengan menyenggolkan badannya ke bahu Rara.


“Apa sih ti gak lucu tau!” ujar Rara kesal.


“Udah udah ayo makan, nanti kalian berdua telat loh. Rio ayo makan, dicobain makanannya enak enggak?”


Rio mengisi piringnya dengan nasi, sup, tempe dan sepotong ayam goreng. Lalu dia mengambil secomot makanan di sendoknya. Dilahapnya makannya dan Rio mengunyah mencari inti sari makanan yang dibuat Rara.

__ADS_1


“Gimana?” tanya bu Sriyantika.


“Seperti biasa enak tante.” Rara heran mengerutkan dahi mendengar jawaban Rio.


“Seperti biasa? Emang kapan saya pernah masak buat aa?” tanyanya jutek membuat Rio dan bu Sriyantika bertatapan mendengar pertanyaan Rara.


“Ya elah timbang a Rio keseleo ngomong doang. Maksud a Rio masakan elo tu enak. bener gak a?” ujar Tia meluruskan. Rio mengangguk mengiyakan.


“Iya itu maksud saya, makasih ya makanannya enak.” ujar Rio.


“Sama-sama.” Rara tersenyum paksa menyahut Rio karna merasa tidak enak dengan bu Sriyantika .


“Tapi a sebenernya ya a, makanan favorit aa selain apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka, apa sih? Auw!” Rara mencubit paha Tia, karna kesal terus menggodanya, mengulang-ulang kata ‘apa saja asalkan Rara yang masak Rio suka’. Rio tersenyum mendengar pertanyaan Tia.


“Kalo makanan pokok sih apa aja, kalo untuk makanan favorit sebenernya saya suka mie ayam.” jawab Rio.


Mendengar jawaban Rio Rara menyiapkan tangan untuk mencubit paha Tia, karna dia yakin Tia akan membullinya lagi.


“Loh terkaan kamu bener sayang.” sahut bu Sriyantika girang pada Rara. Rara tersenyum paksa menelan salivanya.


“Terkaan apa tante?” tanya Rio.


“Itu a, tadi subuh Rara nebak makanan favorit aa mi ayam, ternyata bener iya kan ra?.” tanya Tia.


Rara hanya tersenyum tipis pada Tia sembari mengambil segelas air putih, dia merasakan tidak nyaman dengan tenggorokannya. Rupanya Rara mulai tidak tahan dengan semua bulian yang dilontarkan Tia. Tangan kirinya masih bersiap-siap ingin mencubit Tia, seraya ancang-ancang jikalau Tia menggodanya sekali lagi.


“Kok bisa ya, kalo udah kaya gini tante yakin kalian jodoh.” ujar bu Sriyantika.


Rara yang sedang minum langsung tersedak kecil mendengar ucapan bu Sriyantika. Dia kaget tidak percaya dengan apa yang dikatakan bu Sriyantika. Rara yang sudah beracang-ancang mencubit Tia, salah sasaran malah bu Sriyantika yang melontarkan pernyataan yang diluar dugaannya.


“Loh kamu gak papa nduk?”


“Eherm... gak papa tante, tante jangan berlebihan itukan cuma tebakan.” jelas Rara.


“Iya nduk, Rio hari ini kamu kerja di kantornya Tia?”


“Enggak tante hari ini saya ngajar.” jawab Rio sembari lahap memakan makanannya.


“Ngajar dimana?”


“Disalah satu SMK negeri di kabupaten Bandung tante, sekarang saya masuknya siang.”


“Lumayan jauh ya, kalo besok kamu ngajar juga?”


“Enggak tante, saya ngajar gak tiap hari kok seminggu tiga kali. Saya kan bukan PNS jadi tidak terikat waktu.”


“Owh gitu, jadi bisa dong anterin tante cari oleh-oleh, tante lusa pulang bisa ya sekalian kita berempat jalan-jalan?”


“InsyaAllah bisa tan.” jawab Rio tersenyum.


“Hore jalan-jalan.” teriak Tia girang bak anak kecil.


“Iya tau, bosen di rumah terus, ditambah lagi jadwal off kemarin dipake kerja. Gue usahain besok kita kerja setengah hari, iya kan Ra?”


“Apa?” tanya Rara pura-pura gak ngeh.


“Loe denger gak sih mamih tadi ngomong apa? Besok mamih ngajak jalan, kita besok halfday aja ya?”


“Gak bisa Tia, gue kan ketemu klient mpe sore!”


“Klient yang mana? kok gue gak tau!”


“Nduk apa gak bisa dicancel aja, tante lusa pulang loh, masa gak mau nemenin tante jalan-jalan.”


“Iya apaan sih Rara merusak suasana.” sela Tia.


“Kan tante bisa ditemani Tia sama Rio.” ujar Rara melahap makanan ke mulutnya.


“Enggak enggak enggak, gue bos loe nyuruh besok libur setengah hari titik!” ujar Tia memaksa.


“Pemaksaan itu namanya, pelanggaran HAM.” ujar Rara judes.


“Pelanggaran HAM dari mana? yang ada loe tu harusnya makasih sama gue ngasih libur kerja setengah hari!”


“Ya pelanggaran HAM buat kerja lah.”


“Udah stop stop stop!” ujar bu Sriyantika melerai.


“Udah deh kalo kalian ribut, tante gak usah beli oleh-oleh, nanti tante bilang ke pakde No sama mbok Sum, gak ada yang mau nganter mamih beli oleh-oleh.” ujar bu Sriyantika sedih seraya menyalahi Rara.


Rara dibuat tidak enak hati olehnya, dia menarik nafas melihat bu Sriyantika dan Tia yang raut mukanya berubah menjadi sedih.

__ADS_1


“Iya tante besok Rara mau nemenin tante.” ujarnya tersenyum.


“Nah gitu dong nduk, tante kan jadinya seneng.” Wajah bu Sriyantika berubah girang dalam sekejap setelah Rara menyatakan akan menemaninya, diliatnya Tia makan masih dengan wajah cengengesan ke arah Rara. Rio pun tersenyum melihat tingkah laku keluarga ini.


__ADS_2