Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
MUTIARA


__ADS_3

Jum’at, Juni 2018: Bandung jam 9.00


Seorang pemuda tampan gagah berbadan jangkung, baru keluar dari tempat wudhu di sebuah masjid besar tak jauh dari rumahnya. Rambutnya yang gondrong hampir menyentuh bagian bahu atasnya dibasahi air wudhu. Dia merapikan lengannya yang dilipat-lipat agar tidak terkena air. Cukup lama dia terdiam, berdiri menghadap kiblat. Matanya merah dan kantung mata yang sedikit bengkak . Dia berusaha fokus mengumpulkan kekhusyuk-annya untuk melaksanakan salat Dhuha.


“Allahuakbar.” Mulutnya berkomat-kamit membacakan doa-doa salat pada takbiratul ihram. Tak selang lama dia tak kuat menahan perasaannya menangis tersedu. Dia beristigfar beberapa kali memohon ampunan-Nya karna membatalkan salatnya. Permuda tersebut menyeka air matanya, dia diam diri berusaha keras untuk fokus lagi.


‘bismillah’ gumamnya “Allahuakbar.” takbir kedua dia ucapkan lebih khusuk, sekeras mungkin dia berusaha fokus dan menjaga gerakan salatnya sampai salam.


Dzikir serta selawat nabi mengiasi doanya. Dia berdoa lirih dengan perasaan penuh harap dan rendah diri. Pemuda itu terhanyut menangis dalam doa-doanya pada Rab-Nya, dan berkeyakinan kuat akan dikabulkan doanya serta benar di dalam pengharapannya .


Jum’at, Juni 2018 : Semarang jam 9.00


Embun pagi yang jernih membasahi Semarang di pagi hari, udara sejuk mengiasi kota diiringi cerahnya mentari pagi. Semua ciptaan sempurna yang Maha Pencipta memfasilitasi keberkahan pagi ini.


Ayu dan Tia memakan lahap bekal yang di bawa Bu Sriyantika masakan mbok Sum yang begitu nikmat. Mbok Sum memang pandai dalam urusan dapur, semua bahan makanan diraciknya diubahnya menjadi makanan lezat. Jarang baginya mendapatkan makanan sisa dari makanan yang dimasaknya.


“Alhamdullilllahirabil a’lamin, makasih ya tante, masakannya ueenak nak nak nak!” ungkap Ayu sambil mengeringkan properti makan tupperware bekas makan mereka yang basah dicuci dengan tisu.


“Sama-sama nduk, tante malah yang berterima kasih karna udah nemenin Tia, Dzajakillahi qoiron katsiron ya cantik.”


“Aduh tante, Ayu jadi malu dibilang cantik.” Ayu menutup setengah mukanya menggunakan tupperware.


“Mih kok pagi-pagi sih kesininya? ‘kan Tia nyuruh mamih istirahat,” tanya Tia.


“Kan mamih udah istirahat malamnya nduk, lagian mamih gak sabar nunggu dia siuman.”


“Dia mau siuman hari ini tante?” sela Ayu.


“iya Yu kata dokter, minta doanya ya.”


“Iya tan iya.”


Ayu beranjak dari sofa berjalan menuju ranjang pasien tak sabar melihat pasien terbangun dari tidurnya.


“Heh Yu! Loe mau ngapain?”


“Ndak mbak aku meh berdiri disini mau aku siaga, sapa tau tiba- tiba dia bangun.”


Ayu mengamati wajah pasien dengan seksama, wajah yang dimanjakan sinar mentari pagi. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepalanya, sesekali dia menekukkan lehernya ke kanan atau ke kiri memperhatikan si pasien.


“Kenapa yuk?” tanya bu Sriyantika yang penasaran dengan tingkah Ayu.


“Njane ni (sebenernya tu) tan kalo dia sehat ya, cantik lho,” Ayu menggelengkan kepalanya lagi. “sebelas dua belas lah sama aku.” Tambahnya Pd membuat Tia dan Bu Sriyantika tertawa.


“Kamu lucu Yu, tante suka sama kamu,” ungkap bu Sriyantika.


“Tante ki, aku ndadi isin lho di puji-puji terus dari tadi.”


Ayu meremas-remas jarinya girang, dia menoleh lagi kearah pasien. Kali ini dia merenung merasa iba.


“Kasian yo tan, keluarganya pasti nyariin. Terus gimana sama kerjanya kalo dia kerja? gak ada kabar pasti dikiranya bolos, semoga aja mbaknya kerja di perusahaan yang baik yang gak langsung asal pecat.” ujarnya melamun menatap si pasien. Bu Sriyantika melihat Tia yang raut wajahnya berubah menjadi merah karna malu.


Ayu melihat telunjuk pasien tiba-tiba bergerak halus, sedikit membuatnya terkejut. Dia terus memperhatikan dengan seksama. Memastikan yang diliatnya bukan khayalan belaka. Dan kali ini bukan hanya telunjuk, hampir semua kelima jarinya bergerak.


“Tante tante, mbak'e, kui kui ( itu itu) jarinya gerak-gerak!” teriak Ayu panik. Bu Sriyantika dan Tia langsung memburu ranjang, berdiam diri sejenak menunggu pergerakan pasien selanjutnya dan tak lama kedua mata pasien terbuka perlahan.


“Tia panggil dokter!”


💚💚💚💚💚💚💚


Dokter dengan segera datang memeriksa pasien menggunakan berbagai alat dimulai dari stetoskop, senter mini, dan lainya. Seorang suster yang cekatan begitu sigap mendampinginya. Bu Sriyantika Ayu dan Tia, berdiri di belakang mereka dengan harap-harap cemas.


Auww!


Pasien mengaduh kesakitan ketika dokter memeriksa perbannya di bagian kepala.


“Sakit?” tanya dokter membuat pasien mengangguk perlahan.


“I-ni saya dima-na?” tanya pasien parau. Lemah.


“Kamu di rumah sakit, sudah koma selama dua hari. Saya dokter yang menangani kamu, nama kamu siapa?” Pasien diam lama tak menjawab pertanyaan dokter, terlihat keras berusaha mengingat namanya.


Auww!


Dia mengaduh lagi memegang kepalanya.


“Sudah! Sudah! cukup jangan dipaksakan.” Dokter memegang kepala pasien memeriksa kembali.


“Ditahan dulu ya! ini perbannya harus diganti.” Si pasien mengangguk, dokter menyuruh suster menutup gordennya.


💚💚💚💚💚💚💚


Belasan menit waktu berlalu digunakan dokter dan suster mengganti perban pasien di balik tirai. Bu Sriyantika duduk di sofa berzikir ditemani Tia dan Ayu. Tak lama suster membukakan gordennya. Dokter berjalan menghampiri para anggota keluarga. Sedangkan suster masih sibuk memernahkan pasien yang sedang berbaring di ranjangnya yang sudah terangkat sekitar 20 derajat.

__ADS_1


“Mbak Tia ikut saya,” ucap doktor membuat Tia mengangguk cepat. Si dokter keluar pamit ke anggota keluarga yang lain. Tinggallah empat orang di kamar tersebut. Pasien melirik Ayu dan bu Sriyantika seakan bertanya-tanya siapa mereka.


“Mbak, mereka yang bawa mbak kesini, mbak harus berterima kasih sama mereka. Karna selama ini mereka yang jagain mbak,” jelas suster tersenyum ramah kepada pasien menjelaskan. Bu Sriyantika mendekat diikuti Ayu di belakangnya. Meminta izin pada suster ingin berbicara dengan pasien, suster mengangguk membolehkan.


“Hai, assalamualaikum nduk? Alhamdulillah kamu udah siuman, perkenalkan nama saya, Sriyantika Atmojo,” sapa bu Sriyantika ramah. Pasien membalas senyum bu Sriyantika lemah, lalu melirik pada Ayu. Penasaran.


‘Ayu sini!’ Bisik bu Sriyantika ke Ayu.


“Hai mbak cantik, aku Ayu karyawannya mbak Tia. Panggil aja aku Ayu.” ujar Ayu pencicilan.


“Maaf bu, pasien kalo bisa jangan diajak banyak bicara dulu ya! Saya mau ambil peralatan buat bersihin tubuh pasien sebentar,” sela suster.


“Iya sus,” ucap bu Sriyantika.


💚💚💚💚💚💚💚


Hari kamis adalah hari ketiga pasien terbangun dari tidurnya. Pada hari pertama dan kedua pasien siuman, dia lebih banyak tidur dan istirahat. Bu Sriyantika begitu perhatian selalu mendampingi dan melayaninya makan, minum dan mencukupi kebutuhan pasien yang lainnya. Pasien selalu merasa tenang apabila mendengar bu Sriyantika mengaji. Begitu perhatiannya bu Sriyantika, dia selalu sigap bahkan tak sungkan menuntun pasien salat, memakaikan mukena, seperti seorang ibu yang merawat anaknya. Amnesia yang terjadi pada pasien membuatnya linglung dan sering berdiam diri.


Tia sering memandanginya dengan rasa iba dan bersalah yang teramat sangat. Dia juga selalu standby setiap hari menemaninya bermalam di rumah sakit. Terkadang pasien terbangun pada saat malam, entah karna mimpi atau hal lain. Tia tak ingin mamihnya terlalu capek oleh karna itu membuat Ayu dan mamihnya aplosan bermalam di rumah sakit.


💚💚💚💚💚💚💚


Pagi ini jam setengah tujuh, suasanya begitu renyah di kamar mawar nomor satu ini. Pasien sudah mulai bisa diajak ngobrol, sosok Ayu yang periang selalu saja membuat dia gembira.


“ Adudduuh pede banget loe yuk.” sahut Tia terpingkal-pingkal duduk di sisi ujung ranjang pasien, si pasien ikut tertawa mendengar celoteh Ayu.


“Yo tho mbak bukan pede, emang nyatane dia itu ngejar-ngejar aku, kan aku cantik!” ujar Ayu berdiri di samping kanannya pasien.


“Lah terus mantan-mantan loe yang kemarin gimana? Kok bisa putus? Nyari yang lebih cantik dari loe ya?”


“Mbak’e ki! akh uwes uwes rasah ( gak usah ) ngomong masalah mantan, gendhok ( sebel) aku.” Ayu cemberut sembari menyilangkan kedua tanggangnya di depan dadanya.


Pandangan pasien teralih pada sekuntum mawar putih segar di atas lemari kecil di pinggirnya. Cantik pikirnya. Bunga nan indah disinari matahari yang membuatnya semakin indah. Ayu memperhatikan gelagat pasien tertarik pada bunga.


“Mbak suka mawarnya?” tanya Ayu membuyarkan lamunan si pasien. Pasien mengangguk tersenyum. Ayu cekatan semangat mengambil bunga itu dari vas, lalu mematahkan dan membuang tangkai ke tempat sampah.


“Loe ngapain sih yuk? ngrusak poperti rumah sakit tau!” tegur Tia.


“Halah ga papa tho mbak, wong cuma ( orang cuma ) bunga ini. Besok juga diganti.” ujarnya cengengesan.


“Sini mbak.” Ayu memasangkan bunga pada telinga pasien. Pasien pasrah, dan boom terlihat cantik. Hiasan kecil memperindah rupa pasien yang mempunyai dasar paras bak bidadari.


“Wah MasyaAllah cantiknya mbak ni.” Ayu tepuk tangan girang bak anak kecil yang berhasil membuat suatu karya indah, membuat si pasien tersenyum.


“Heh amnesia!” dan lagi Tia menegur menepuk tangan Ayu, memperingatkan jangan iseng.


“Aduhh, iyo iyo anemia “


“Amnesia Ayu , A-M-N-E-S-I-A.” eja Tia.


“Ia AM...”


“ Ne.” tambah Tia.


“Ne-sia.” sambung ayu.


“Coba di sambung!"


“Anemia.” Tia tertawa mendengar celoteh Ayu yang tidak bisa menyebutkan kata amnesia. Si pasien ikut tertawa renyah.


"Udah mbak akuki (aku tu) payah kalo ma bahasa inggris, ojo ngenyek ( ngejek) tho!”


“Itu bukan bahasa inggris yu, itu nama penyakit. Ha ha ha.” Tia asik tertawa geli.


“Yo wes ngene wae( ya sudah gini aja). Mbak’e kan masih ilang ingatan, jadi gak punya jeneng, ndak punya nama, mbak mau tak panggil apa?”


Pasien diam menggelengkan kepalanya tak tau.


“Yo yo aku yang ngasih nama, aku kasih nama mmm bentar! Bentar! Elizabet, keren tho kaya artis-artis telenovela.” Ayu begitu bersemangat memberi nama pasien selayaknya memberi nama seorang ibu untuk anaknya.


“Heh, nama apa itu? kaya nama jaman jadul, gue panggil Zoe aja nama panjangnya Zoewee, keren kan kaya nama perusahaan gue.” elak Tia yang ikut bersemangat memberi nama.


“Mbak ki opo to? keren dari mana moso cantik cantik dikasih nama joe, nama cowok kui, opo apike (apa bagusnya)? Mbak’e kan cantik, ayu kaya orang korea, gimana kalo Song Hye Kyo ato enggak ini ini Im Yoona?”


Tia mengerutkan dahinya mendengar nama-nama aneh yang terlontar dari mulut Ayu.


“Keren lho mbak mereka artis-artis korea cantik-cantik meneh.” tambah Ayu bangga.


“Apaan itu nama aneh-aneh song cuang sing cuang. Gue gak setuju gak setuju. Udah Zoe aja bisa ...,”


“Mbak ki ja jo ja jo...!”potong Ayu cepat.


Tia dan Ayu ribut masalah nama, begitu semangatnya mereka memberi nama membuat mereka ribut bertengkar lucu. Pasien hanya melempar senyum melihat kelakuan mereka.

__ADS_1


“ASSALAMUALAIKUM WAROH MATULLOHI WABAROKATUH.” Suara bu Sriyantika lantang mengucapkan salam baru saja datang. Dia terlihat segar mengenakan hijab coklat dan gamis cream brokat. Di tangan kirinya dibawanya tas import yang cantik, sedangkan tangan kanannya membawa kantong berisikan bekal untuk sarapan penghuni ruangan ini.


“Wa’aikumussalam Warohmatullahiwabarokatuh.” Tia dan Ayu langsung menjawab kompak.


“Ono opo ( ada apa ) nduk nduk? kalian ribut ribut, sampe kedengeran tau dari lorong.” Bu Sriyantika menaruh kantungnya dan mendekat ke arah mereka. Tak kalah cepat Tia dan Ayu memburu tangan bu Sriyantika menciumnya.


“Ini mih, masa Ayu mau ngasih nama dia song sing sung.”


Bu Sriyantika mengerutkan dahi mendengar celoteh putrinya.


“Eh enggak tante, bukan tante yang bener Song Hye Kyo, Im Yoona, tante mereka artis- artis korea, dari pada mbak Tia masa mau dikasih nama Jo. Jo kan nama cowok kan tante!” timpal Ayu memojokkan Tia.


“Zoe bukan jo , pake Z yu pake Z, ya kan gue bilang nama panjangnya bisa Zoewee, kalo gak bisa Zoana ‘kan keren.”


“Enggak tante kerenan namaku, kalo gak ini tan Bae Suzy, wuz Ayu tan wonge.”


“Sushi sushi, emang dia makanan.” gerutu Tia gak setuju.


“Udah stop stop!” Bu Sriyantika di tengah mengangkat kedua tangannya melerai pertengkaran mereka. “ini apa sih kok nama-nama, maksudnya gimana?”


“Jadi gini tan, mbak’e kan ilang ingatan. Belum tau namanya sapa, ya kita dadi inisiatif mau ngasih nama. Suzy aja ya tan keren,” bujuk Ayu pada bu Sriyantika .


“Wah jangan mih jangan! Pelecehan itu mih, Yu gue potong gaji loe!” ancam Tia menunjuk-nunjuk pada Ayu.


“Lo loh tante, dzolim dzolim!” elak Ayu tak terima “opo hubungane potong gajih sama nama Suzy tan?”


“La loe ngasih nama orang pake nama makanan.”


“Udah! Udah! ini anaknya yang dikasih nama mau gak? jangan seenaknya kalian.” Lerai bu Sriyantika.


“La dia malah bingung tan, tadi tak tawari mau dipanggil apa dia nya malah geleng-geleng.”


“ Iya mih.” Tia manggut-manggut cepat mengiyakan perkataan Ayu.


“Ya sudah Elizabeth, kalo gak Esperansa aja ya tan itu juga keren artis-artis telenovela.” Potong Ayu kembali semangat memberi nama tak mau kalah dari Tia.


“Jangan mih Zoe aja mih Zoewee ato Zoana, itu baru keren.”


“Opo kui nama cowok!” sindir Ayu memonyongkan bibirnya.


“Iya betul kata Ayu, jho terlalu garang buat dia.” Bu Sriyantika mengkritik Tia sudah mulai tertarik berebut memberi nama.


“Ya udah, gimana kalo cloe, kalo ga vla mih, itu lebih keren.”


“Lah lah curang! curang! tadi katanya gak boleh ngasih nama makanan.”


“Makanan apa?” elak Tia.


“La itu vla nama makanan.”


“Udah! udah!” Lagi. Bu Sriyantika melerai. Pasien malah terdiam asyik menonton pertengkaran mereka.


“U-Dah, biar mamih yang kasih nama!” ujar bu Sriyantika tegas.


“Cloe mih,” bisik Tia pada mamihnya.


“Elisabet tan,” bisik Ayu tak mau kalah.


Bu Sriyantika diam berpikir menghiraukan saran Ayu dan Tia. Dia melihat pasien dan memperhatikannya nama apa yang cocok untuk dirinya.


“Mutiara!” celetuk bu Sriyantika. “Mutiara nama yang bagus gimana?”


“Aduh mih namanya nyewek banget,” elak Tia tidak setuju.


“Gimana sih kamu nduk? diakan emang perempuan.”


“Iya tan aku setuju,” timpal Ayu.


“Tu Ayu aja setuju masa kamu enggak?”


“Iya tan dari pada nama’e mbak Tia tomboy-tomboy.”


“Daripada nama loe, aneh-aneh.”


“Udah cukup! jangan berantem sarapan dulu sana!”


Tia dan Ayu cepat memburu sofa sembari masih beribut masalah nama. Bu Sriyantika duduk di kursi citos di samping pasien. Dia mengusap-usap tangannya, dan merapikan rambut si pasien. Terlihat jauh lebih segar.


“Udah baikkan nduk?” tanya bu Sriyantika tersenyum, pasien mengangguk membalas tersenyum manis.


“Mutiara, gimana kamu suka?”


“Suka tante,” ujar pasien mengangguk cepat karna bahagia mendapatkan nama baru.

__ADS_1


__ADS_2