
RESIKO
Rara terlihat segar mengenakan hijab hijau muda, dia merasa jauh lebih baik setelah istirahat. Rara memutuskan keluar kamarnya menghampiri Tia diruang makan.
“Eh si cantik udah mandi, makan Ra?” tawar Tia, Rara duduk di sampingnya. “enak loh lontong sayur. Gue tadi beli di lapang kompleks. Soalnya kalo masak gagal hehehe,” tambahnya. Rara tersenyum geli sembari membuka lontong sayur, perutnya sudah lapar karna belum sarapan.
“ Ti elo bisa gak sih, gak ngebiarin a Rio keluar masuk kamar kita. Apa yang dia lakuin salah Ti. Gak sopan tau.” Ujar Rara mengomel.
“Ya gimana, dia bilang mau ngedoain loe, ada orang mau jenguk masa gue larang. Pamali tau!” bela Tia, membuat Rara kesal dengan alibinya.
“Kemana dia?” tanya Rara jutek tak melihat sosok Rio.
“Ciee, kangen ya? baru aja tadi pagi ketemu hahaha, goda Tia.
“Ish... apaan sih rese!”
“Dia pulang bentar, siap-siap. Bentar lagi juga kesini, ngajak elo kontrol.”
“Owh iya sih, gue nyuruh dia ikut kontrol event,” ujar Rara mengaduk lontong sayurnya.
“Event?, sapa bilang dia mau ngontrol event, yang ada dia kesini mau anterin kita ke dokter.”
“Mau ngapain?”
“Ya periksain elo lah, elolah udah lama gak kontrol.”
“Apaan sih nih, Gj, ngapain gue harus kontrol?”
“Ya kuatirlah Rara, orang elo tadi kesakitan gitu.”
“Tia kan elo tau sendiri kata dokter juga ini tu wajar kalo ingatan gue balik. Ya yang gue bisa lakukan ya pasrah, bukannya bagus ya kalo ingatan gue balik?”
“Ya gue tetep kuatir Rara, apalagi Rio lagian gue gak kan ijinin elo kemana-mana hari ini!” ujar Tia tegas, wajah Rara seketika murung mendengar celoteh Tia.
“Ti?”
__ADS_1
“Hmm?”
“Loe tau apa yang lebih sakit dari pada ini?”
“Apa?” tanya tia santai.
”Ketika gue batal nikah sama Bagas,” ujar Rara, Tia berhenti makan memandang Rara iba. “padahal waktu itu udah juga cinta sama dia,” sambung Rara.
“Apalagi waktu pertama gue ke Bandung, gue ketemu temen-temen yang ngasih tau masa lalu gue yang macem-macem, rasanya pengen banget gue pergi dari sini. Gue malu Ti, Gue milih amnesia aja, gak mau nginget-nginget diri gue yang dulu.” Rara tersenyum tipis memandang Tia.
“Tapi gue sadar, itu bukan jalan terbaik. Apalagi gue tanggung jawab sama cabang Cv Zoe di Bandung, itu bikin gue semangat ngejalanin hidup di sini. Emang sih Ranti minta gue pergi dari Semarang supaya dia bisa bebas mendekati Bagas, tapi bukan itu alasan utama gue dateng kesini. Elo tau karna apa?” tanya Rara, Tia menggelengkan kepalanya cepat menyimak celoteh Rara.
“Karna gue pengen cepet ingatan gue pulih Tia, dokter bilang dengan kita sering berinteraksi dengan tempat sering kita kunjungi atau orang yang sering kita temui, itu membantu gue biar gue bisa ngebalikin ingatan gue.” Rara tersenyum pada Tia.
“Tia, sebulan yang lalu gue hampir nikah sama suami orang, gue hampir jadi penghancur rumah tangga orang lain dan itu bikin gue sakit banget. Gue gak kebanyang kalo seandainya itu benar-benar terjadi. Itu bisa ia terjadi karna gue gak inget apa-apa dan asal percaya aja sama omongan keluarga Bagas,” ujarnya kecewa pada diri sendiri karna sudah melakukan hal bodoh dalam hidupnya.
“Ti walaupun gue harus ngerasain ribuan rasa sakit demi ingatan balik gue rela, dari pada gue harus ngehadapi hal-hal mengerikan seperti kemarin, Loe tau kenapa?”
“Kena-pa?” tanya Tia terbata iba.
“Karna hal itu lebih mudah bagi gue untuk bisa menerima kenyataan,” ujar Rara tersenyum.
“Jujur gue takut Ti, gue parno. Kalo seandainya ada orang yang ngaku-ngaku dia pacar, tunangan, suami bahkan mung-kin keluarga gue pasti kabur duluan. Karna gue gak mau lagi jadi orang bodo, ketipu lagi dan kejebak dilubang yang sama,” jelas Rara mengebu-ngebu.
“Kalo seandainya gue bisa memilih Ti, gue pengen ingatan gue balik duluan dari pada ketemu dengan keluarga gue!” tambahnya lirih memegang tangan Tia, seraya memohon, tersenyum.
“Ra ta-pi...,”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam Rio melemparkan senyum cool memotong ucapan Tia.
“Wa’alaikumussalam warohmatullahiwabarokatu,” jawab Rara dan Tia kompak, Rio menghampiri mereka yang tengah asik berbincang di meja makan.
“Rara gak di makan sarapannya? Saya gak mau lho ikut kamu kontrol event kalo kamu belum makan!” ujar Rio tersenyum pada Rara membuat Tia bingung dengan tingkah Rio yang berubah. Rara membalas senyum Rio sumeringah karna Rio mau ikut dengannya, lalu dia mengangguk antusias melanjutkan sarapannya.
💚💚💚💚💚💚💚
Sesampainya di daerah Dago lapangan outdor mereka menghampiri stand mereka. Rara, Tia dan Rio duduk dikursi citos di belakang stand. Rio mulai membuka laptopnya melanjutkan pekerjaannya. Rara sedari di mobil sibuk chating dengan Andri melalui Whatsapp, Rara memfoto Rio tanpa sepengetahuannya dan mengirimkan fotonya ke Andri.
Andri yang sedang menikmati Event memperhatikan Rio dari kejauhan. Hampir seharian Rio hanya fokus dengan laptopnya, padahal disana banyak SPG cantik berlalu lalang di sekitarnya. Rio hanya memalingkan pandangannya dari laptop untuk melihat Rara.
Adan Dhuhur berkumandang, Andri memperhatikan Rio yang menutup laptopnya fokus menjawab adan, lalu pamit pada Rara dan Tia untuk melaksanakan salat dhuhur di masjid. Andri mengikutinya, dia salat berjamaah di masjid yang sama dengan Rio. Dia benar-benar memperhatikan gelagat Rio yang membuatnya terkagum-kagum dimulai dari Rio memasukkan infak sembunyi-sembunyi, dia juga melihat Rio membantu lansia memunguti barangnya yang tak sengaja berjatuhan ditubruk orang lain. Dan yang terakhir ketika ada dua gadis belia terlihat akrab berbincang dengannya. Mereka menyapa memberi salam dan pamit tanpa bersentuhan dengan Rio. Setelah itu Rio langsung kembali ke tempat event, Andri yang masih tertinggal di belakang diam-diam menghampiri dua remaja tersebut dan menyapa mereka.
“Eh adek punteun (permisi) adek kenal sama aa yang tadi?”
__ADS_1
“Yang mana kak?” tanya salah satu gadis belia berkerudung ping tersebut.
“Yang tadi ngobrol sama kalian barusan yang pake kaos item celana abu, a Rio namanya, kenal?”
“Maksudnya pak Rio, iya a kenal kenapa ya?”
“Nah ya itu,” ujar Andri girang menjentikkan jarinya. “Bener kok kalian bisa kenal?”
“Dia guru kita kak, kenapa kak?”
“Guru? Kok gak salim?” tanya Andri heran, kedua remaja tersebut bertatapan tersenyum mendengar pertanyaan Andri.
“Pak Rio kalo sama murid perempuan gak pernah bersentuhan pak, Bukan mahrom katanya.”
“Owh gitu,” ucap Andri menganggukkan-anggukan kepalanya perlahan.
“Kenapa kak?”
“Gak papa cuma tanya-tanya aja, oke kalo gitu saya permisi dulu,” ucap Andri pencicilan. “Wassalamualikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab dua gadis belia tersebut kompak.
💚💚💚💚💚💚💚
Andri kembali ke tempat event, diliatnya ada beberapa SPG genit yang mencoba mencari perhatiannya Rio, tapi Rio mengacuhkan mereka dan kembali fokus pada laptopnya. Wajar pikir Andri, dengan paras setampan itu pasti mudah menggaet perhatian kaum hawa.
“Rara?” sapa Andri menghampiri stand membuat Rara kaget, karna Andri tidak memberi kode dia akan menghampirinya.
“Eh ha-i,” sahut Rara gugup berdiri dari kursinya menyambut Andri.
‘elo kenapa gak nge-WA dulu sih!’ bisiknya mengomel pada Andri.
“Siapa nih?” potong Tia kesal tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Rara, akrab.
“Tia, kenalin ini sahabat gue Andri yang gue ceritain ke elo waktu itu,” jelas Rara menenangkan Tia.
“Eh teh, punten saya Andri, kebetulan saya liat Rara jadi saya samperin kesini deh,” jelas Andri sopan pada Tia.
“Saya Tia, dan ini Rio calonnya Rara!” ujar Tia asal ceplos membuat Rara kaget calon.
“Hahaha Ti, elo tu ya kalo bercanda ampun!” elak Rara, Andri bersalaman dengan Rio, Rio tersenyum ramah padanya.
“Ra bisa ngobrol dulu sebentar? Kita ngobrol nya disana aja dulu, banyak orang kok,” ujar Andri menambahkan keterangan dia tidak akan melakukan hal aneh-aneh pada Rara ke Tia dan Rio. Telunjuknya menunjukkan ke arah kursi payung bulat yang di kelilingi tiga kursi.
__ADS_1
“Owh iya hayu, Ti gue kesana dulu bentar ya?”
“Jangan lama-lama!” ujar Tia jutek tak rela Rara berakrab-akrab dengan cowo lain. Rara tersenyum pada Tia mengiyakan.