Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
Papih


__ADS_3

Setelah kegiatan ospek selesai, keesokan harinya semua maba berkumpul di kampus untuk penyerahan atribut kampus berupa, almamater, pin dan bandana jurusan. Para maba bersorak gembira, mereka bisa menjalani ospek dengan lancar.


Tia mencari-cari sosok Rio hendak mengembalikan kaosnya, tapi dia tidak bisa menemukannya. Setelah acara pembagian almamater selesai Tia langsung ke kantin hendak membeli minuman, disana dia bertemu Wildan. Orang yang pernah menolongnya meminjamkan sabuk padanya.


“Wildan?” sapa Tia girang.


“Hei?” Wildan tersenyum sumeringah melihat Tia. Dia tampak segar, berbeda ketika sewaktu dia sakit kemarin di Ranca Upas.


“Loe udah baikan?”


“Owh udah udah, Alhamdulillah gue lulus jadi dapat almamater.” tawa Wildan merenyukkan suasana sembari menunjukkan almamaternya bangga.


“Eh teh.” Sapa Wildan ke teh Yanti yang hendak mengambil pesanannya di belakang Tia, Tia langsung menengok ke belakang, teh Yanti tersenyum padanya.


“Ini teh pesanannya mangga, enam puluh ribu.” ujar ibu warung, teh Yanti merogoh-rogoh sakunya mencari sesuatu.


“Aduh bu dompetnya ketinggalan, tiasa (bisa) dibayar nanti?” ujar teh Yanti.


“Teh pake ini aja dulu teh.” Tia menawarkan uangnya, “Dari pada teteh jauh bolak balik ke kelas.”


“Gak papa nih.” tanya teh Yanti merasa tak enak.


Tia mangut mantap.


“Oke makasih ya, nanti di ganti ya di kelas.” ujar teh Yanti menerima bala bantuan Tia.


"Iya teh santai." ucap Tia, lalu Teh Yanti pergi dari kantin.


“Wil elo tau gak kakak senior yang namanya a Rio?” tanya Tia, mereka duduk di meja kantin berbincang akrab.


“Owh alumni yang galak itu, kang Rio yang loe maksud?”


“Dia galak gitu?” tanya Tia heran.


"Iya aduh hobinya nyuruh anak-anak push up kalo ga keliling lapangan, kalo ga gampar pake topi, Galak beut, kenapa emang?”


“Loe tau gak dimana rumahnya, gue mau balikin kaosnya dia.”


“Baik banget mau minjemin elo kaos, lagian gue ogah ke rumahnya, takut gue.”


“Gue gak minta anter, cuma nanya alamatnya.” ujar Tia sembari menyeruput jusnya santai.


“Gue gak taulah, eh tapi bentar gue punya sepupu seangkatan sama dia, sapa tau dia tau.”


Wildan langsung mengeluarkan BB-nya mengirim pesan pada sodaranya. Tak lama sodaranya membalas pesannya dan mengirimkan alamat Rio.


“Akh dapet, ini.” Wildan memperlihatkan layar BB-nya pada Tia.


“Scan barcode gue dong, trus kirimin ke gue.” ujar Tia.


“Oke.” Wildan menscan barcode BB Tia, dan dikirimkan alamat kang Rio pada Tia.


No A 21 Jl Kenanga Perum Biofarma Buah batu.


“Wah makasih ya.” ujar Tia berasa senang.


"Yoi, sama-sama." ujar Wildan girang.


Sehabis kegiatan kampus Tia langsung menuju Bandung barat daerah Cimahi untuk menemui Rio dengan mobilnya. Diliatnya rumah no 21 rumah paling ujung.


Tia yang di dalam mobil melihat Rio keluar rumah dengan motor ninja RR hijaunya. Dia hendak keluar mobil tapi berhenti ketika melihat bapak paruh baya mengenakan kopiah keluar dari rumah Rio. Tia sangat mengenalnya siapa bapak itu, dia adalah orang yang paling Tia cari selama ini, dia adalah alasan Tia untuk memilih kuliah di Bandung, papihnya salah satu orang yang paling Tia sayang selama ini.


Terlihat Rio mencium tangan seorang ibu paruh baya cantik mengenakan hijab instan kuning, dan sang ibu mencium tangan papihnya, lalu Rio dan papihnya pergi dengan motornya.


Beribu-ribu pertanyaan terbesit diotak Tia, siapa Rio dan ibu itu? Apa hubungan mereka dengan papihnya? Apa papihnya kakak si ibu itu?


Akh percuma dia menerka, Tia memberanikan diri turun dari mobil dan memencet bel rumah Rio. Si ibu tersebut menyapanya dengan lembut.


“Assalamualaikum bu.” Ujar Tia dengan senyum ramahnya.


“Wa'alaikum salam, neng?” sapa si ibu hangat.


“Apa betul ini rumahnya a Rio bu?” tanya Tia.


“Owh iya iya, hayu atuh kalebeut (mari masuk)” tawar si ibu menyuruhnya masuk, Tia mengikutinya dari belakang.


"Mangga-mangga duduk.( silahkan duduk)."  menyuruh Tia duduk diruang tamu.

__ADS_1


“Iya ibu nuhun (terima kasih).” ujar Tia mengangguk kepalanya perlahan.


“Eneng siapa ya?”


“Saya Tia bu, adik kelasnya a Rio.”


“Owh saya Halimah, ibunya Rio." ujarnya tersenyum ramah, wajahnya cantik untuk ukuran seusianya. Teduh, alisnya tebal, idungnya mancung bak wanita arab. Tak heran Rio berwajah tampan, turunan dari ibunya rupanya.


"A Rio nya ada bu?"


"Ini teh a Rio na baru aja berangkat sama bapak na.”


Tia kaget dengan omongan bu Halimah.


“Bapak na bu?” tanya Tia meyakinkan.


“Iya bapak na.”


Tia diam masih berasa tak percaya. Apa mungkin papihnya menikah lagi atau bagaimana? Apa papihnya pergi untuk memilih wanita yang ada di sampingnya?


“Owh maksudnya bapak na teh bapaknya Rio, ayahnya Rio.” jelas bu Halimah yang salah paham dengan diamnya Tia, dikira Tia tidak mengerti dengan kata bapakna.


"Eneng bukan asli sunda nya?”


Tia masih diam tidak menjawab.


"Neng?” tanya bu Halimah memegang tangan Tia.


“Eh iya bu, gimana?” tanya Tia berusaha mengontrol perasaannya.


“Eneng bukan asli sunda ya?”


“Owh, saya lahir di sini bu tapi saya udah lama tinggal di Jawa jadi bahasa sundanya lupa lagi.” elak Tia tersenyum datar.


“Owh gitu, sebentar atuh ya ibu buatin minuman, eneng mau minum apa?” tawar bu Halimah.


“Apa aja bu.”


“Ibu tinggal sebentar ya?”


Tia melihat ke atas dinding mencoba mencari foto keluarga yang di pajangnya. Tapi dia tidak bisa menemukannya. Dia berdiri berjalan mengintip ke dinding ruang tengah tak ada satu pun foto yang dipajang. Lalu dia mencari ke bawah meja. Disana ada album. Tia cepat kembali duduk  mengambil album dan di bukanya.


Dilihatnya ada foto keluarga, foto Rio semasa kecil dengan seorang anak perempuan yang lebih tua dari Rio, lalu ada beberapa foto bu Halimah dengan kedua anaknya. Ada beberapa foto papihnya dengan dua anak tersebut , dan foto lengkap berempat sekeluarga. Di foto terakhir ada foto bu Halimah berdua dengan papihnya dengan senyum khasnya yang Tia kenal.


Tia yang tak kuat menahan air mata, menangis melihat foto papihnya. Rindu.


Masih ingat samar-samar ketika papihnya selalu bermain dengannya, memeluknya, mencium keningnya sewaktu kecil.


Tia menangis semakin deras, betapa sangat dia ingin mengulang masa indah dengan papihnya, orang yang dulu sangat dekat dengannya.


“Neng?” ujar bu Halimah heran memergoki Tia menangis membawakan segelas teh manis di nampan. Tia terkejut dia cepat menutup albumnya dan menyeka air matanya.


"Eh kenapa?” tanya bu Halimah panik.


“Eh bu, maaf saya gak ijin liat albumnya.” jelas Tia parau.


“Ikh gak papa atuh, ai neng kenapa nangis? Ini atuh minum dulu.” Bu Halimah menawarkan teh. Tia mengambil teh nya dan meminumnya.


“Makasih bu.” ujar Tia sembari menyimpan minumannya di atas meja.


“Eneng teh kunaon, ibu jadi rewas.(kamu kenapa, ibu jadi kaget)”


“Gak papa bu, Tia liat album foto jadi inget mamih, soalnya kan Tia di Bandung sendiri bu.”


“Owh gitu, di kirain teh apa.”


“Ini saya mau balikin kaosnya a Rio, waktu ospek saya di pinjemin kaos.” ujar Tia menyerahkan kantung pada bu Halimah.


“Owh, iya atuh. Makasih udah di anterin.”


“Gak papa bu, bu Tia boleh minta tolong gak?”


“Minta tolong apa?”


“Boleh pinjem akta a Rio, yang fotokopinya gak papa bu, soalnya Tia ada tugas dari kampus untuk mencari biodata senior favorit.” ujar Tia bohong.


“Aduh, jadi Rio teh senior favoritnya eneng?” tawa bu Halimah pecah.

__ADS_1


“Iya bu, soalnya dia baik.” ujar Tia mengangguk tersenyum.


“Owh ya? malah kata adik kelas yang cowoknya dia galak loh! boleh sebentar atuh ya.” Bu Halimah pergi mengambil berkas, lalu kembali  membawa maps file biru yang begitu tebal.


“Ini data dokumen senoir favoritnya Tia.” canda bu Halimah padanya.


Tia tersenyum membuka per halaman mulai dari ijazah TK sampai sampai KK dan akta lengkap di buku file tersebut.


“Bu boleh saya foto aja ya, gak usah di minta foto kopiannya kan saya hanya butuh datanya saja.”


“Iya boleh.” ujar Bu Halimah ramah. Tia langsung memfoto ijazah, KK dan Akta Rio.


"Ibu, makasih.”


“Sama-sama neng.”


“Ibu, saya harus pergi ke kampus Tia pamit.”


“Owh iya mangga. Tehnya di abisin dulu ya.” tawar bu Halimah. Tia langsung meminum habis tehnya. Lalu pamit, dan langsung melaju dengan mobilnya.


Tak jauh dari perumahan tersebut Tia berhenti parkir. Dia langsung cepat membuka BB-nya hendak mencari data Rio dari foto yang diambilnya. Di semua ijazah Rio bertuliskan nama papihnya Suryadi sebagai ayahnya. Di KK-nya Rio, tertulis Rio Saputra Suryadi adalah anak kandung papihnya, dan kakaknya perempuan Rio, Nita Putri Suryadi anak kandung papihnya juga. Tertera nama papihnya di kedua akta itu.


Papihnya menamai nama belakang semua anaknya dengan namanya Suryadi, seperti nama Tia, Putri Tyaningsih Suryadi. Tia menyimpulkan dari usia Rio yang lebih tua darinya, berarti dia adalah anak dari istri kedua papihnya, ditambah lagi mamihnya pernah bercerita kalo usia pernikahan satu bulan mamih dan papihnya langsung di karuniai anak Tia.


Tia syok, bagaimana mungkin mamihnya bisa jadi istri kedua, apakah mereka nikah siri atau bagaimana? Apakah mamihnya sempat merebut papihnya dari bu Halimah dan kembali lagi pada bu Halimah? Beribu-ribu pertanyaan terbesit di pikirannya lagi. Tia sangat terpukul dengan statusnya. Kini dia paham, kenapa mamihnya tidak pernah bercerita tentang papihnya selama ini. Tia menangis terpukul di dalam mobil, menemukan kenyataan yang begitu pahit.


💚💚💚💚💚💚💚


Tia kembali ke rumah dengan mata sembam, diliat mamihnya datang dari Semarang sedang duduk di sofa menunggunya pulang.


“Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu, sayang.” Bu Sriyantika menyambut Tia hangat memeluknya, “Aduduh mamih kangen banget tau, mamih gak kuat jauh-jauh dari kamu.” ujarnya.


Tia tidak membalas pelukan mamihnya. Bu Sriyantika menunggu balasan pelukan anaknya yang tak kunjung datang, malah di dengarnya putrinya terisak.


"Lho nduk, kamu kenapa nangis?” tanya mamihnya cemas.


Tia masih diam sedangkan mamihnya sibuk menyeka air matanya.


"Nduk jangan bikin mamih kuatir, sini sini duduk.” Mamihnya menarik lengan Tia untuk duduk. “Bi? bi Atik?” teriak bu Sriyantika.


“Ya nyonya?” ujar bi Atik menghampirinya cepat.


“Bi tolong ambilkan air minum.”


Bu Sriyantika panik merapikan rambut  Tia, dia semakin cemas melihat air mata putrinya mengalir semakin deras.


"Nduk, mbok cerita sama mamih, kamu kenapa?”


Tia masih diam memperhatikan wajah ibunya yang begitu lembut, tak mungkin kalo mamihnya menjadi seorang perebut suami orang, pasti ini ada kesalah pahaman ujarnya dalam hati.


“Ini nyonya.” Bi Atik menyerahkan air putih di gelas tinggi.


“Nduk minum dulu.” Tia meminum minumannya perlahan.


“Mih?”


“Iya nduk? kenapa sayang cerita sama mamih?”


Tia masih terisak menghela nafas, dia ingin menanyakan statusnya tapi dia tidak tega melihat mamihnya yang begitu lembut, selalu penuh kasih sayang, dan sabar.


'Udahlah ti, percuma elo ngorek info dari nyokap. Apa dengan ini bisa bikin bokap loe kembali? Enggak kan? Yang ada hubungan elo sama mami kres nanti. Iklasih aja papih, toh dia udah bahagia sama keluarganya, elo juga bisa bahagia sama mamih.' gumamnya dalam hati.


“Sayang kenapa aduh, kamu gak betah ya disini, kita pulang lagi aja yuk ke Semarang?” ujar bu Sriyantika memecahkan lamunannya, Tia menggeleng cepat.


“Tia cuma seneng aja mamih datang, Tia kangen sama mamih” jawab Tia berbohong.


Tia sadar, dia tak ingin hubungannya dengan mamihnya kress, yang dia punya saat ini hanya mamihnya, sedangkan papihnya lebih memilih keluarga istri pertamanya. Tak mungkin papihnya akan memilihnya, selain istrinya cantik ditambah lagi papih udah punya dua anak dari bu Halimah.


“Owalah nduk, kirain kenapa. Tuh kan mamih bilang apa, mamih gak setuju kamu kuliah disini. Apa mamih pindah kesini lagi aja gitu ya nemenin kamu?”


“Jangan mih, mamihkan harus ngurus bisnis mamih disana. Tia cuma lagi kangen aja mih, lama-lama juga Tia biasa. Mamih sering-sering aja jengukin Tia disini.” jelas Tia mulai tersenyum.


Mamihnya mengangguk lalu memeluknya erat. Tia membalas pelukan mamihnya kencang dan terisak lagi.


“Cup cup cup udah udah, ini tumben anak mamih manja.” ujar mamihnya menggodanya.


“Mamiiihh.” Rengak Tia pada mamihnya. Bu Sriyantika tersenyum melihat tingkah laku manja putrinya.

__ADS_1


__ADS_2