Cinta Karena ...

Cinta Karena ...
6 CINTA KARENA ALLAH


__ADS_3

“Mbak Rara, ini da titipan,” sahut Ayu menyerahkan kotak makanan berwarna biru muda empat tingkat, bau makanannya begitu harum, sampai Rara dari jauh bisa menciumnya.


“Biasa dari mas Bagas,” godanya menggerak-gerakan kedua alis. Rara tersenyum menahan malu mendapat makan siang dari Bagas.


Ping! Hp Rara berbunyi halus ada pesan Whatsapp masuk.


‘hmm pasti Bagas,’ gumamnya tersenyum. Mukanya terlihat girang, seakan dia akan mendapatkan pesan yang begitu dia dambakan.


(Ra, udah keterima bekalnya? dimakan ya, itu khusus amak yang masak, katanya pengen manjain calon mantu)


Pesan di Whatsapp-nya membuat dia tersipu malu.


“Cie cie,” lontar Ayu menyolek Rara yang masih tersenyum malu.


“Udah akh, masuk dulu ya.” Rara kabur membawa kotak makan siang jumbo untuknya


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, cantik,” sapa Rara girang di kantor Tia.


Tia yang sedang mengetik langsung terunggah oleh bau makanan yang Rara bawa. Dia menghentikan pekerjaan di laptopnya lalu menghampiri Rara yang melaju hendak duduk di sofa.


“Boleh ya boleh ya.” Tangannya semangat menunjuk-nunjuk pada bekal yang dibawa Rara mengisyaratkan meminta ijin makan bekal yang dibawa Rara.


“Jawab dulu dong salam gue.”


“Wa’alaikumussalam cantik.” Matanya melirik kearah bekal, tangannya bersiap-siap mengambil bekal menunggu persetujuan Rara.


“Yang lengkap dong.”


“Warohmatullahiwabarokatuh,” ujarnya tak sabar. Rara menyodorkan makanan mengangguk mengiyakan. Tia semangat cepat menyerbu dan langsung membuka bekal yang dibawa Rara.


“Loe tu ya mamih kedua tau,” kritik Tia pada Rara.


“Eh kan jawab salam itu kewajiban gak harus jadi mamih dulu tau,” timpal Rara.


“Iya iya!” jawab Tia ketus sedang asyik membuka misting.


Diliatnya lengkap masakan padang, ada semur ayam, lalab singkong, perkedel kentang, dan sambal ijo semua dalam porsi yang banyak. Seolah-olah Bagas request ke amaknya untuk membekalkan makanannya dalam porsi dua orang. Mungkin Bagas sudah tau kalo makanannya akan diembat Tia. Makanan tersebut membuat selera makan Tia datang sebelum jam makan siang tiba. Dia langsung mengambil piring dan mencomot makanannya. Rara tersenyum lucu melihat kelakuan Tia.


Ping, android Rara bunyi lagi. Rara langsung membuka Layar hpnya membaca pesan singkat dari Bagas.


(Ra?)


Jarinya cepat menekan layar hp touchscreen samsung membalas pesan Bagas.

__ADS_1


(iya bang, bekalnya udah aku terima, nanti aku makan pas jam rehat, bilang makasih sama amak)


Rara diam sejenak tersipu malu, sebuah pesan baru muncul lagi


(nanti sore pulang jam berapa? Abang kerumah ya?)


(Jam 3an, owh iya bang silahkan)


(Nanti abang mau minta ijin ajak Rara keluar)


(Bertiga?)


(Ya bertiga sama Mila)


Rara mengerutkan dahinya, dia penasaran kemana ia Bagas mengajaknya pergi. Rara kira orang ketiganya adalah Tia toh selama ini kalo mereka jalan Tia selalu menemani.


(Owh , mang mau kmn?)


(Suprise, dah dulu ya abang lanjut kerja dulu <3 )


(OK)


Rara yang ingin menambahkan emo love merasa ragu, dia sangat malu melakukan hal tersebut. Ditambah lagi dia merasa belum berhak karna statusnya masih bukan mahrom.


“Apaaa?” rengek Rara.


“Ga papa, cuma tiba-tiba wajah loe pinky pinky gimana gitu.” Rara tertawa malu mendengar celoteh Tia.


“Udah akh gue mau ke kitchen mau isi air,” ujarnya kabur dari Tia yang terus menggodanya.


Dia Langsung pergi ke kitchen di lihatnya Pak Dito dan Haris ditemani kopi dan laptopnya sedang asyik berbincang.


“Aduh mbak Rara mau isi air, padahal suruh saya aja.” ujar pak Dito yang merasa tak enak.


“Nggak apa-apa pak Dito, udah santai aja.” Ujar Rara tersenyum, Rara bukan sosok manja yang selalu sedikit dikit mengandalkan OB, selama dia mampu dia selalu melakukan hal hal kecil sendiri.


“Mas Haris gimana TL barunya bagus”


“Oh Vivi? bagus-bagus mbak, Dia orangnya cekatan ya cepat belajar cepat ngerti.”


“Alhamdulillah kalo gitu.”


“Makasih ya mbak aku kebantu banget, Alhamdulillahnya saya bisa fokus sama event, semua event berhasil deh.”

__ADS_1


“Alhamdullilah kalo gitu, sama-sama.”


“Oh iya siang ini kita makan makan nih buat syukuran. Ayu udah pesenin catering nya, owh ya pak Dito juga jangan pulang ya, kita makan di sini.”


“Aduh mas gak bisa, udah jatahnya saya pulang ketemu sama istri,” ujar pak Dito tertawa.


Satu jam sebelum istirahat pak Dito memang selalu pulang ke rumah untuk makan siang, dan ini sudah kesepakatan dia dari awal kerja dengan Tia, untuk menggunakan jam istirahatnya dipakai pulang ke rumah. Bagi Tia hal ini tidak masalah asalkan tidak mengganggu jam kerja. Jarak rumah yang tak jauh, tidak ada setengah kilo dari kantor membuat pak Dito selalu on-time pulang pergi tidak lebih dari jam istirahatnya.


“Wizzz istrinya ngangenin ya Pak Dito hahaha, pak Dito tuh setiap jam makan siang tu pasti pulang, istrinya pasti pinter masak ya?”


“Hahaha mas Haris bisa aja, Alhamdulillah istri saya baik, sholehah, tapi ya sama saja seperti istri-istri yang lain mas, ada marahnya, ada cengengnya, ada nyebelin nya, ada ngomel-ngomel nya. Malahan hari ini kita lagi marahan gara-gara anak. Pasti dia senang kalau seandainya saya pulang bawa makanan. Nanti saya dapat jatah kan mas, walaupun saya pulang?”


“Owh ya otomatis dapet dong pak, setiap staff dapet semua,” ujar Haris tersenyum.


“Pak Dito romantis ya, walaupun lagi marah sama istrinya tetap pulang nyempetin makan bareng istri,” tambah Rara.


“Haha segitu mah biasa atuh mbak. Semua suami juga pasti bakal bujuk istrinya kalo istrinya lagi marah, iya kan mas Haris?”


“Loh kok nanya saya?” tanya Haris tertawa.


“Nah kan mas Haris seorang suami, udah berumah tangga,” jelas pak Dito tertawa.


“Hahaha iya iya. Tapi bener apa kata mbak Rara, pak Dito itu beda, kalau saya lagi marah sama istri rasanya males gitu bawanya kalau pulang. Pak Dito benar-benar suami yang sholeh, suami luar biasa, suami manji.”


“Haha apa itu manji mas?”


“Mantap jiwa hahaha.”


“Hahaha mas Haris bisa saja, saya juga sama seperti suami-suami yang lainnya mas. Ada marahnya sama istri, ada kesalnya ada nyebelin ya sama aja haha,” ujar pak Dito tertawa.


“Tapi ya itu, saya sudah menganggap istri saya sebagai titipan Mas. Kasihan mas dia itu yang udah ngurusin saya, udah ngurusin anak-anak. Ya kalo dipikir-pikir wajar kalau dia ada capeknya, ada marahnya, ada nyebelinnya. Gitu-gitu juga dia menerima saya apa adanya, jadi enggak ada alasan kalo buat saya berlama-lama marah sama dia. Lagi pula Allah kan paling seneng kalau sama hamba-hambanya yang akur, iya kan? Sama mas, saya juga ngerasain seperti suami-suami lain, ada waktunya sebel, marah banget sama istri, ya kalo lagi gitu saya coba ingat lagi ke baik-baikannya aja.”


Jelas pak Dito sembari tangannya sibuk mengelap-elap meja. Haris dan Rara masih diam menyimak.


“Terus kalau memang berat banget buat balikan pas kita lagi berantem gede nih mas, ya saya keluar dulu cari ketenangan bis itu baikan lagi deh, bujuk istri saya. Bukan karna takut sama istri ya mas? saya lebih takut sama Allah. Ya kan Allah yang sudah menitipkan istri sama saya. Masa titipan disia-siain, jadi kalau lagi sebel ato marah banget sama istri ya sudah, saya bujuk dia walau berat rasanya. Walau kita ngrasa kita yang benar nih mas, tapi kita bujuk bukan karena dianya tapi karena Allah. Karna Allah saya mencintai dia mas, karna Allah udah baik banget sama saya, wah kalo nginget-inget kebaikan Allah gak ada duanya lah, masa kita rujuk sama istri biar Allah senang gak bisa? Kalo kita saling mencintai karena Allah Mas, cinta yang kayak gitu yang enggak pernah akan padam,” jelas pak Dito panjang lebar.


“Yoi bener banget,” ucap Haris girang sembari menjentikkan jarinya. Rara yang berdiri di samping dispenser meresap dalam perkataan pak Dito.


Baru kemarin Vivi anak buahnya menangis karena cinta, kali ini pak Dito tersenyum karena cinta.


Cinta karna Allah, cinta yang diinginkan Rara. Cinta yang luar biasa karna tidak semua orang bisa mengaplikasikannya. Bisakah dia mendapatkan satu saja cinta yang seperti itu? pasti bahagia pikirnya.


Begitulah cinta bisa bermacam-macam jenisnya, bisa bermacam-macam rasanya, tidak bisa diterka jatuhnya pada siapa, kapan, dan dimana. Ada yang bisa mengendalikan ada yang tidak, tergantung kita. Cinta dunia akhirat itu cinta yang diinginkan semua manusia. Tapi kebanyakan dari mereka tidak tahu cara menggapainya sehingga membuat cinta itu sendiri berakhir dengan air mata dan kehancuran.

__ADS_1


Hanya Cinta karna Allah cinta yang abadi, tidak hanya kita rasakan di dunia tapi juga di akhirat-Nya kelak. Cinta karna Allah adalah cinta yang tidak pernah padam.


__ADS_2