
“Ti, kita beli makan ja ya. Kalo masak udah gak bisa pasar pada tutup,” ujar Rara. Mereka baru saja tiba di rumah setelah seharian keliling Bandung.
“Iya Ra gak pa, lagian kalo masak tu capek. Gue rehat dulu ya, mo tiduran bentar, badan ringsek seharian di jalan”. Rara mengangguk.
Tia langsung masuk kamarnya, Rara pergi ke rumah makan yang dekat dengan kompleks kembali pas Ashar. Rara langsung mengambil wudhu untuk melaksanakan salat Ashar. Setelah itu Rara pergi ke kamar atas masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan shower membiarkan air mengalir ke bajunya merembes ke badannya masih mengenakan pakaian lengkap.
Rara menjatuhkan dirinya duduk di lantai kamar mandi, mendekap erat lututnya. Dia menangis merasa sangat berdosa teringat akan perkataan teman-temannya yang dia temui hari ini. Rara kecewa, berasa sesak tidak percaya jika dulunya adalah seseorang yang tidak terpuji. Dia menangis semakin deras, terpukul. Merasa Jijik dengan dirinya sendiri.
Kotor.
Hina.
💚💚💚💚💚💚💚💚
Tia yang sedang tertidur terbangun jam lima sore.
‘Astagfirullah,’ gumamnya sadar belum salat Ashar.
Dia langsung bangkit mengambil air wudhu ke kamar mandi, selepas shalat Tia mencari sosok Rara.
“Ra? Rara?” teriaknya ke luar kamar mencari ke dapur.
Tia hanya melihat meja makan sudah penuh dengan makanan. Tia lanjut mencari Rara ke halaman belakang dan ke penjuru ruangan, tapi tetap tidak menemukan sosok Rara.
Tia kembali ke kamar mengambil gawainya, langsung menelpon Rara. Terdengar suara ring tone hp Rara di atas meja rias. Rara pergi tanpa membawa hpnya, Tia makin kuatir.
“Apa dia ke warung kalinya, gue tunggu dulu aja mpe magrib,” ucapnya berusaha positif thingking.
Setengah tujuh malam, Rara tak kunjung pulang. Tia menjadi sangat cemas. Dia memutuskan pergi ke kompleks satpam, menanyakan apakah mereka melihat Rara. Dan satpam pun tak ada yang melihatnya.
‘Astagfirullah, masa sih dia kabur gara-gara omongan anak tadi?’ gumam Tia sembari kembali ke rumah hendak pergi mencari Rara dengan mobilnya. Tia masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobil. Dia terkejut sekaligus bernafas lega menemukan sosok Rara sedang berzikir mengenakan mukena.
“Rara?” ujar Tia cepat menghampiri. Diliat mata Rara sembam, Tia menyentuh kedua pipi Rara, terasa pipinya begitu dingin.
“Elo habis dari mana?” tanyanya cemas.
“Gak dari mana-mana, dari tadi dirumah kok,” ujar Rara tersenyum tipis.
“Gue teriak-teriak nyari elo dari tadi. Elo gak ada, elo abis dari mana?”
“Gue mandi di atas.”
“Elo mandi lama banget Ra?”
Rara diam menjatuhkan pandangannya melihat ke jemari kecilnya yang mengkerut. Tia paham dan bisa menerka pasti Rara menangis karna omongan Winni dan Erin. Tia merasa iba, dia merangkul Rara tak tau harus bilang apa. Tia hanya bisa membiarkan Rara menangis di pelukannya.
💚💚💚💚💚💚💚
Keesokan harinya, Rara menjadi sosok yang lebih pendiam. Dia yang biasanya bisa diajak bercanda atau berantem, kali ini dia hanya membalas senyuman singkat. Tia tidak memaksanya untuk meladeninya, hanya saja dia tak ingin Rara untuk terlalu hanyut dengan apa yang dia rasakan. Akh sudahlah, dia butuh waktu.
Pikir Tia.
“Ra?” Tia masuk ke kantor Rara yang sedang sibuk dengan berkasnya.
“Ya?”
“Ayo mau berangkat?” ajak Tia yang masih belum selesai keliling Bandung, untuk penempatan SPG reguler.
“Ti, gimana kalo gue pergi sendiri, kalo enggak sama Dini?”
Tia mengerutkan dahi heran mendengar celoteh Rara. Dia langsung duduk di depan meja menatap Rara.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Ya gak papa, maksud gue kan loe Owner. Gue rasa ini kerjaan supervisor atau gue lah, gue juga bisa kok sendiri. Kasian loe lah, capek tau keliling Bandung dari kemarin.”
“Kalo Dini ikut, yang ngurusin kerjaan office siapa, gue?” tanya Tia balik.
“Ya udah gue sendiri aja, loe disini sama Dini!”
“Gue nanya sama loe, pernah gak gue ngebiarin loe jalan keluar rumah atau keluar kantor sendiri, kecuali cuma ke warung kompleks deh?” Rara menggeleng perlahan.
“Loe udah tau pasti alasannya kenapa? dan Ini peraturan keluarga kita, gue gak akan melanggar peraturan walaupun gak ada mamih di sini,” jelas Tia tegas yang sudah menganggap Rara sebagai sodara.
“Tia ini masalah profesional bukan masalah keluarga,” timpal Rara.
“Enggak, ini masalah loe, iya kan?” Rara diam mendengar pertanyaan Tia.
“Kenapa Ra, cerita sama gue?” Rara diam diri membuang pandangannya, netranya terlihat mulai berkaca.
“Gue malu Ti!” ujar Rara dengan bibir bergetar. Setetes air mata yang bergelayutan tak mampu dia bendung.
“Malu kenapa?”
“Gue malu sama loe,” ucapnya lirih membuat Tia heran. Rara menarik nafas panjang seraya berancang-ancang.
“Gue malu ketika gue ketemu sama orang-orang yang kenal sama gue, terus...,” Rara terisak dia menyeka air matanya.
“Terus dia cerita masa lalu gue yang....” Rara menutup mulutnya terisak lagi, tak kuat melanjutkan kalimatnya.
Tia bangkit dari kursinya menghampiri Rara yang duduk di kursinya, mengusap bahu dan lengan Rara.
“Ra, loe jangan percaya gitu aja dong sama mereka,” jelas Tia berusaha menenangkan.
“Terlalu banyak Ti,” potong Rara berdiri menjauh dari Tia.
“Tia gue bukan anak kecil yang bisa elo tenangin gitu aja dengan data sebanyak itu dan elo tau itu.”
“ Elo cewek baik Ra, jangan percaya dulu sama omongan mereka yang nyangka elo enggak-enggak. Elo bukan...,”
“Cewek murahan!?” potong Rara cepat.
“Iya kan? Cewek murahan kata yang tepat buat gue,” ujarnya terisak.
“Ra, oke terserah apa namanya gue gak peduli! Seperti apa elo dulu gue gak peduli. Kalo elo mau percaya itu semua, itu terserah elo.” Tia berjalan mendekati Rara perlahan mengambil kedua tangan Rara.
“Tapi yang harus elo tau, yang harus elo paham. Elo tu sodara gue, dan gak ada lagi yang perlu loe kuatirin lagi, gue gak pernah malu punya sodara seperti loe Ra,” ujarnya menatap dalam mata Rara.
“Ra, bagaimanapun elo, seperti apa loe dulu, loe tetep sodara gue. Itu yang harus elo ngerti, dan please jangan pernah sembunyiin ataupun malu lagi sama gue,” tambahnya tersenyum.
Rara memeluk Tia cepat terharu dengan perkataan Tia. Dia bersyukur dikala seperti ini Tia tidak meninggalkannya.
“Elo yang tenang, masih ada gue, ada Allah,” ucap Tia menerima pelukan Rara hangat.
💚💚💚💚💚💚💚
MIM, Rara dan Tia menjelajah ke daerah Bandung timur sampai dia sampai di MIM (Metro Indah Mall). Teriknya sinar mentari membuat mereka mudah lapar dan haus. Hari Jum’at suasana weekend, mall sudah mulai ramai oleh pengunjung menjelang sore.
Rara melihat alroji menunjukkan jam Dua. Mereka menuju foodcourt untuk jam makan siang yang telat karna lama menunggu HRD. Tia memilih makan di outdoor di kursi bundar berpayung besar dekat stand mobil.
“Rame ya Ra?” ujar Tia sembari mengaduk minumannya.
“Huum, kayaknya ada event mobil itu.” Rara melihat stand mobil dan lapangan test drive yang sudah ditata.
__ADS_1
“Iya kayaknya buat weekend sekarang, tau gak Ra?”
“Ya?”
“Gue kan punya tinggi, nah gue tuh dulu waktu kuliah sempet ditawari SPG Grade A.”
“Terus gimana, elo ambil?”
“Ya enggaklah, duitnya sih lumayan, tapi liatin pakaiannya mini-mini gitu. Kalo mamih tau, abis gue yang ada diseret pulang ke Semarang.” Tia tertawa menjelaskan masa lalunya.
“Tapi kalo SPG-an itu enak sekarang boleh bake hijab. Jaman gue dulu SPG-an pake hijab tu susah, sekarang mah bebas,” lanjut Tia tersenyum.
“Ti kalo menurut gue ya, elo itukan dari keluarga yang lumayan kan? Gue rasa mamih mampu kok bayarin elo kuliah. Kok elo sempet-sempetnya sih mau event?” tanya Rara heran.
“Ya gue cuma ngabisin waktu aja Ra, dari pada dipake aneh-aneh keluyuran sana sini, mikirin aneh-aneh, ya gue ikut event aja. Ya itu juga gue gak nyangka, jadi bekal gue buat buka agensi kaya sekarang. Lagian gue pilih-pilih kok eventnya, kalo costumnya tertutup ya gue ambil. Gue waktu itu mikirinya seru sih, dari pada gue kepikiran pa...,” Tia lupa hampir saja keceplosan menceritakan papihnya.
“Pa? Pacaran? patah hati?” terka Rara.
“Enak aja! bukan lah pasukan dosen galak,” elak Tia tertawa membuat Rara tersenyum.
“Eh besok mamih datang loh,” ujar Tia mengalihkan pembicaraan tak ingin membahas papihnya.
“Iya tante Sri kemarin nge Wa gue,” jawab Rara.
“Febby?” sapa lelaki berkemeja putih siluet abu.
Dia mengenakan name tag biru nya bernama ‘Trisan’ dibawanya bertuliskan Daihatsu. Rupanya dia ikut andil dalam event mobil ini.
“Loe Febby kan, wah pa kabar?” Trisan langsung duduk di kursi sebelah Rara tanpa sungkan mengakrabkan diri menyodorkan tangan pada Rara. Rara menjabat tangannya ragu mencoba tersenyum menyapa pria tersebut.
“Feb loe berubah, gue hampir aja gak ngenalin elo,” ujar Trisan menepuk pundak Rara. Rara berasa tak suka pria tersebut menyentuh tubuhnya.
“Maaf kayaknya anda salah orang,” elak Rara membuat Tia kaget mengangkat kedua halisnya.
“Ha ha ha elo bercanda, ah masa? loe mau ngerjain gue ya?” Trisan tertawa menepuk Rara lebih keras.
Auw!
Rara mengaduh kesakitan.
“Eh sorry-sorry gak sengaja.” Trisan meminta maaf menyadari tepukannya terlalu keras.
“Saya serius, saya Mutiara.” Rara langsung meraih dompetnya mengeluarkan kartu identitas sementara yang dibuatkan bu Sriyantika untuknya. Disana tertera namanya Mutiara. Trisan mengambil kartunya dan membacanya.
“Dan tolong berhenti menyentuh tubuh saya,” ujar Rara tegas membuat Trisan malu.
“Aduh maaf saya kira kamu teman saya, soalnya mirip banget,” timpal Trisan dengan wajah memerah, karna malu.
“Kalo gitu saya permisi.” Trisan pergi menjauh sembari menggaruk-garuk dahinya, merasa tak percaya.
“Ra, kenapa loe gak jujur?” tanya Tia.
Rara diam tak menjawab, seketika wajahnya berubah murung.
“Ra?” tanya Tia lagi.
“Gue muak Ti, gue mau hidup sebagai Mutiara aja,” jawab Rara.
“Tapi kan Ra, itu boong namanya.”
“Gue gak peduli Tia.” potong Rara “Gue kesel setiap ketemu orang, gue berasa jijik ketika mereka memperlakukan gue seenaknya, nyentuh tubuh gue seenaknya. Terus ngomongin gue macem-macem, gue gak mau!” rengek Rara membuat Tia iba.
__ADS_1
Dan lagi setetes air mata Rara terjatuh ke pangkal pipinya. Rara berusaha tegar dan menyeka air matanya. Tia tak mau berdebat dengan Rara melihat kondisinya seperti ini, walaupun Tia tau apa yang dilakukan Rara salah.