
Nadhira yang masih bingung apa yang harus ia lakukan apakah ia harus kembali ke kantor atau berdiam diri di rumah tetapi kalau ia yang berangkat ke kantor pada waktu malam ia merasa takut, takut Nikko yang kembali menemuinya lagi karena yang ia tau Nikko tidak pantang menyerah.
Sampai akhirnya nadhira pun memberikan keputusan bahwa besok saja ia mengerjakan tugasnya ia akan berangkat pagi-pagi sekali untuk membereskan semua pekerjaannya dan sampai akhirnya ia pun memilih tertidur agar ia bisa bangun lebih pagi lagi.
Sedangkan Revan yang mau tidak mau ia harus kembali lagi ke kantor untuk membereskan pekerjaan nadhira yang menumpuk dah takut juga revan marah kalau dirinya tidak kembali lagi ke kantor.
Revan dengan muka lemas dan lelahnya berjalan memasuki sebuah gedung dimana ia bekerja dan terlihat juga kantor yang nampak kosong hanya ada petugas keamanan yang berjaga karena memang tidak ada yang lembur.
Ia berjalan hendak menuju ke arah mejanya tetapi siapa sangka lampu ruangan Leo masih saja terang dan tandanya sang penghuni ruangan itu masih saja berada di sana dan memang benar saja Leo yang tengah mengerjakan pekerjaannya.
“Bang belum pulang?”tanya revan yang menghampiri Leo yang tengah mengerjakan laporan-laporan.
Tetapi Leo yang tidak menjawab sama sekali ucapan dari revan padahal Leo sengaja ia tidak akan bersuara karena ia akan menakut-nakutin Revan yah memang Revan orangnya penakut apalagi dengan film horor.
“Bang, denger gue gak?”tanya Revan yang takut karena Leo tidak menjawab saat ia bertanya.
“Bang, bang”tanya Revan kembali.
“Apaan sih pan lo ribut banget”ucap Leo yang memang ia merasa kesal terhadap revan yang bertanya terus dengan muka revan yang terlihat takut dan gemetar.
“Gue kira bang revan hantu, mana lampu gak di nyalain lagi”ucap Revan yang melihat sekeliling lampunya mati dan hanya laptop saja yang menyala.
“Hantu dari mana lo, muka lo tuh kaya hantu bikin orang takut”ucap Leo sambil melihat wajah revan yang menyeramkan.
“Bang mana ada hantu imut begitu yang ada bang Leo kali, orang-orang tiap lihat bang Leo bawaannya pada kabur”ucap Revan yang dimana orang-orang saat melihat Leo seketika kabur karena wajah Leo yang dingin dan galak.
__ADS_1
“Jangan banyak bicara lebih baik lo kerjain pekerjaan lo dari pada gak selesai nanti gue suruh dhira lembur besok.
“Iya iya bang siap, tapi Revan mengerjakannya di ruangan bang Leo aja gimana?”tanya Revan ia enggan untuk mengerjakan pekerjaannya di ruangannya karena ia merasa takut.
“Terserah”ucap Leo dengan nada datarnya.
Dan akhirnya revan pun mengerjakan pekerjaannya di Ruangan Leo yah walaupun ia yang ngantuk dan lelah tetapi ia harus menyelesaikannya karena ia tak mau kalau nadhira mengerjakan pekerjaannya besok apalagi kalau nadhira yang harus lembur.
**
Pagi telah datang menyinari dan nadhira yang siap-siap untuk berangkat kerja hari ini ia tidak sarapan karena ia berniat untuk membeli sarapan di luar sekalian membelikan sarapan untuk Leo agar tidak pulang pergi.
Setelah nadhira bersiap ia turun ke bawah untuk mencari taksi dan ia pun melihat sekeliling untuk melihat apakah Nikko menunggu di sana lagi atau tidak tapi dia berharap Nikko tidak menunggu di sana sehingga ia tidak perlu menolak ajakan dari Nikko.
Tapi sayang seribu sayang dimana Nikko sudah berada di sana padahal nadhira yang memang telah berangkat lebih pagi menghindari kemungkinan bertemu dengan Nikko tetapi ternyata Nikko lebih pagi lagi datang ke tempatnya.
“Dhira tunggu”ucap Nikko tak kala melihat nadhira yang berjalan mengendap-ngendap.
“Ah gawat”ucap nadhira tak kala Nikko yang berjalan menghampirinya tetapi ia berlari dengan cepatnya tetapi sayang ia tidak menemukan taksi apalagi Nikko yang semakin dekat saja. Untung saja di sana ada ojek yang mau tidak mau nadhira pun memberhentikan ojek dan menaikinya pokoknya ia tidak berpikir akan bagaimana penampilannya.
“Sial awas aja dhira sampai kapanpun, kamu akan kembali menjadi milik saya”ucap Nikko ia yang merasa kesal karena tidak bisa mengejar nadhira.
Tetapi bukan Nikko kalau ia yang gampang menyerah ia kembali mengejar nadhira menggunakan mobilnya yah walaupun mobil tak akan bisa mengejar motor apalagi suasana pagi yang terbilang macet.
Nadhira merasa lega karena ia tidak melihat Nikko tetapi yang ia pikirkan sekarang adalah rambutnya yang akan terlihat berantakan, di perjalanan ia masih memikirkan cara bagaimana agar Nikko tidak mengganggunya lagi.
__ADS_1
Setelah beberapa puluh menit akhirnya nadhira sampai juga di perusahaan ia segera turun dan membayar uang kepada bapak ojeknya.
“Dhira?”tanya Nanda yang melihat nadhira turun dari motornya.
“Eh Nanda, baru datang?”tanya nadhira kembali saat melihat Nanda.
“Iya baru datang, tumben kamu naik ojek?”tanya Nanda yang dimana nadhira yang sangat membenci naik motor karena rambutnya yang akan berantakan.
“Iya ada sesuatu yang membuat aku harus naik ojek”ucap nadhira.
“Kamu gak apa-apa? Rambut kamu kacau begitu”ucap Nanda tak kala melihat rambut nadhira berantakan dan terlihat kusam.
“Ah gimana dong? Kalau pak Leo marah gimana?”ucap nadhira yang memang Leo orang yang sangat bersih dan disiplin ia tidak ingin melihat karyawannya dengan rambut tak rapih apalagi nadhira yang tiap hari harus berhadapan dengannya.
“Yaudah tinggal rapihin aja”ucap Nanda
“Yaudah ayo masuk”ucap nadhira menarik tangan nya Nanda tak kala melihat Nikko yang sudah turun dari mobilnya, nadhira pun berlari kecil karena ia tak ingin kalau sampai Nikko menemukannya.
“Apa sih dhira main tarik-tarik aja”ucap Nanda yang seketika tangannya di tarik oleh nadhira tanpa aba-aba.
“Enggak nanti telat aja”ucap nadhira yang berbohong dan ia tidak mau Nanda tau bahwa Nikko senantiasa mengikutinya.
Nadhira dan Nanda pun menaiki lift dengan beberapa orang karyawan perusahaan itu dan untuk saja Nikko tidak melihatnya.
Sedangkan Nikko yang mencari nadhira dengan memasuki perusahaan itu tetapi karena perusahaan itu begitu ketat sehingga ia tidak bisa masuk, karena yang bisa masuk kesana hanya karyawan yang memiliki kartu akses.
__ADS_1
“Sial awas aja nadhira”ucap Nikko yang merasa kesal dimana ia tidak menemukan nadhira.
Dan soalnya saat ia sedang berdiri di perusahaan itu dengan wajah kesalnya dan lagi-lagi Sonya menelponnya, suara dering telpon terdengar tetapi Nikko tidak mau mengangkat telpon dari Sonya karena akan banyak pertanyaan yang akan muncul.