
Nadhira yang kesal karena sang kakak yang membawa perempuan lain dan juga ia yang khawatir dengan Revan.
“Gak usah so kenal, aku gak kenal kamu siapa”ucap nadhira yang jutek dan dengan wajah yang jealeus.
“Dhira jangan bicara begitu”ucap Nathan menegur sang adik yang tidak ada sopan santunnya.
“Ayo dhira keluar, rombongan Revan udah ada di depan”ucap Nanda yang terlihat tegar dan biasa saja, ia menggandeng nadhira untuk keluar dari kamarnya karena rombongan Revan memang sudah datang.
Nadhira keluar dengan anggun dan semua mata tertuju padanya, sedangkan orang tuanya nadhira tengah menyambut rombongan di depan.
“Selamat datang”ucap pak Angga dengan tersenyum bahagia.
“Terima kasih pak Angga telah menyambut kami”ucap pak Rikko dengan tersenyum.
“Oh yah, nak Revannya kemana?”tanya Bu wulan karena tidak melihat ada calon menantunya disana.
“Tadi Revan sama Leo, pah coba telpon Revan”ucap Bu Vania menyuruh suaminya menelpon sang anak.
“Kok bisa Revan belum datang, tapi rombongan sudah datang”tanya Bu wulan yang heran karena biasanya pengantinnya yang akan datang lebih dahulu.
“Iya tadi dia ada barang yang ketinggalan dan Revan juga menyuruh kita datang duluan, mungkin bentar lagi juga Revan akan sampai”ucap Bu Vania dengan tenang karena ia yang tidak berpikiran akan terjadi apa-apa dengan Revan.
Sedangkan pak Adrian mencoba menelpon Revan tapi tak aktif, ia juga mencoba menelpon anaknya untuk mengetahui kapan mereka sampai.
“Gimana pah, mereka mengangkat telponnya tidak?”tanya Bu Raline yang khawatir dan cemas.
“Belum mah, bentar papah cobain telpon lagi”ucap pak Adrian yang mencoba menelpon tapi tetap leo gak mengangkat handphonenya.
“Kenapa kok cemas?”tanya pak Rikko yang seakan ada yang tidak beres dengan kakaknya tersebut.
“Nomor Revan gak aktif mas sedangkan Leo telponnya gak di angkat”ucap pak Adrian yang semakin tambah cemas saja.
__ADS_1
Saat mereka sedang berbicara, tak lama telponnya pak Adrian berbunyi siapa yang menelpon benar saja Leo menelponnya. Tetapi bukan Leo yang berbicara tapi perawat yang berbicara di sebrang telpon. pak Adrian tak kuat mendengar kabar itu bahwa anaknya kecelakaan dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit.
“Kenapa pah?”tanya Bu Raline yang melihat suaminya yang syok dan hanya diam saja setelah mengangkat telpon tersebut.
“Mas ada apa mas?”tanya Bu Vania yang melihat kakaknya seperti itu.
“Mas kenapa? Mereka dimana?”tanya pak Rikko mendesak karena pak Adrian yang tidak berbicara.
“Mah, mas, Leo dan Revan kecelakaan”ucap pak Adrian dengan lemas dan semua orang yang tengah berdiri disana juga sangat kaget.
“Pah, papah jangan bohong”ucap Bu Raline yang tak menyangka mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya tersebut.
“Mas jangan bohong mas. Revan baik-baik aja kan?”tanya Bu Vania sambil memegang tangan pak Revan yang hanya diam setelah memberitahukan kabar tersebut.
“Saya juga gak tau, Revan dan Leo sudah di bawa ke rumah sakit cinta kasih tapi belum tau jelas apakah mereka baik-baik saja atau tidak”ucap pak Adrian menjelaskan.
“Pak Adrian jangan bohong, gak mungkin Revan kecelakaan, lalu bagaimana dengan dhira pak”ucap Bu wulan yang syok mendengar itu semua.
“Daripada kita diam saja, lebih baik kita keruang sakit saja melihat keadaan mereka, mah, mamah disini aja yah jaga dhira, jangan sampai dhira tahu kejadian ini”ucap pak Angga mengajak keluarga Revan dan leo untuk melihat ke rumah sakit, ia juga memegang tangan sang istri dan berbicara ia tak ingin kalau sampai dhira tau bahwa Revan kecelakaan takutnya nadhira yang syok dan tidak baik-baik saja.
“Apa yang gak boleh dhira tau pah?”tanya nadhira yang datang bersama dengan Nanda.
Semua orang melihat ke depan dimana nadhira tiba-tiba saja datang tanpa aba-aba.
“Enggak sayang, kamu diam dulu aja di dalam yah, nan bawa dhira kedalam”ucap pak Angga yang mencoba tenang padahal ia yang juga syok dan kaget tapi ia juga tak ingin kalau sampai nadhira tau.
“Baik pah”ucap Nanda yang bersiap membawa nadhira masuk.
“Ada apa ini pah? Kenapa dhira gak boleh tau? Kak Revan mana pah?”tanya nadhira yang tak melihat ada calon suaminya disana.
“Nan tolong bawa dhira, papah mohon”ucap pak Angga yang menyuruh Nanda membawa nadhira ke dalam.
__ADS_1
“Enggak pah, ada apa ini? Kak Revan baik-baik aja kan?”tanya nadhira yang hatinya tak enak apalagi Revan yang tidak ada dihadapannya.
“Revan baik-baik aja dhira, mereka lagi di jalan kok, kamu tungguin di dalam aja yah sayang”ucap Bu wulan membujuk nadhira tapi di tengah-tengah itu Bu Vania pingsan karena ia yang tak kuat menahan syok dan kagetnya.
“Mah, bangun mah”ucap pak Rikko mencoba membangunkan Bu Vania.
“Mbak bangun”ucap Bu Raline mencoba membangunkan Bu Vania.
“Pah sebenarnya ini ada apa?”tanya nadhira yang melihat sang calon mertua pingsan.
Semua tampak heboh, sedangkan nadhira yang tak tau apa-apa begitu juga dengan Nanda yang ada di sampingnya.
“Ada apa ini?”tanya Nathan yang datang bersama dengan Angeline.
“Nath, bawa dhira masuk”ucap pak Angga menyuruh Nathan membawa nadhira.
“Ini ada apa pah?”tanya Nathan yang bingung dan tak tau apa-apa.
“Cepat Nath, jangan banyak bicara”teriak pak Angga yang sudah mulai marah dan juga khawatir.
“Iya pah”ucap Nathan mencoba membawa nadhira walaupun nadhira yang memberontak.
“Dhira gak mau masuk kak”ucap nadhira memberontak.
“Semuanya duduk dulu”ucap pak Angga mempersilahkan para tamu duduk dulu.
“Mbak, tolong bawa masuk Vania yang saya sama mas Adrian mau melihat keadaan anak-anak”ucap pak Rikko menitipkan istrinya yang pingsan.
“Iya mas, saya jaga Vania, hati-hati yah mas”ucap Bu Raline yang sebenarnya ia juga khawatir tapi tidak bisa meninggalkan Bu Vania sendirian.
“Biar saya ikut juga, mah, mamah jaga dhira disini papah mau ikut sama pak Adrian dan pak Rikko”ucap pak Angga yang memegang tangan istrinya memberi kekuatan, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Pak Adrian dan yang lainnya bergegas ke rumah sakit dengan menaiki mobil, para tamu undangan juga yang tampak bingung hanya diam saja di kursi tempat duduknya sedangkan Bu Vania di bawa ke dalam kamar karena ia yang tak sadarkan diri, suasana pernikahan itu kacau balau semuanya bersedih.