
Nanda hanya diam saja karena bagaimana pun juga Nathan tidak akan mendengar ucapannya karena memang Nathan lebih percaya sama Angeline dari pada sama dia.
“Gue gak percaya sama lo, gue kira lo perempuan polos dan baik tapi lo sama aja”ucap Nathan yang kesal, padahal memang terlalu banyak tekanan sehingga Nathan melampiaskan semuanya kepada Nanda.
“Maafin Nanda kak, Nanda salah”ucap Nanda bersedih dan menangis begitu banyak beban dan kehidupan yang pahit yang ia lalui, mulai dari menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda, harus berjuang sendiri untuk hidup dan mencari nafkah untuk neneknya dan Nanda juga tidak beruntung dalam pernikahan, Nathan yang selalu cuek kepadanya dan sekarang Nathan berpikiran yang tidak-tidak tentang Nanda.
“Nath, udah jangan begitu, kamu belum tau kebenarannya udah marahin Nanda seperti ini, mamah gak suka yah”ucap Bu wulan yang mencoba membela Nanda karena dia tau bahwa sang menantu memang tidak akan berbuat seperti itu.
“Mamah selalu aja bela Nanda. Udah nan lo pergi dari sini gue gak mau lihat lo lagi”ucap Kevin sambil mengusir Nanda dan tangannya menunjuk ke pintu tanda Nanda harus keluar.
“Kak Maafin Nanda kak, Nanda salah”ucap Nanda yang dengan tetap ingin mempertahankan rumah tangganya, ia yang juga sudah mulai mencintai Nathan dan ia juga yang merasa nyaman dengan nadhira dan keluarga nya yang baik kepadanya walaupun Nathan yang begitu cuek.
“Udah lo pergi, gue gak mau lihat muka lo lagi”ucap Nathan membentak Nanda dengan keras sedangkan Angeline hanya tersenyum melihat Nanda di perlakukan seperti itu oleh Nathan.
“Nath. Kamu jangan keterlaluan yah, papah gak pernah ngajarin kamu kasar sama perempuan”ucap pak Angga yang kesal karena sang anak berbuat seenaknya kepada Nanda.
“Papah dan mamah gak usah ikut campur, ini urusan Nathan dan juga Nanda”ucap Nathan yang tak menerima permintaan maaf dan juga nasihat dari siapapun.
“Yaudah kalau kak Nathan mau seperti ini, Nanda pergi, makasih selama ini udah baik sama Nanda”ucap Nanda yang dimana dia sudah lelah berdebat dan rasanya ia ingin istirahat saja.
“Nan kamu jangan begini sayang. Nathan lagi emosi saja”ucap Bu wulan yang tak ingin Nathan dan juga Nanda berpisah.
“Enggak mah. Nanda pergi aja yah, makasih udah baik sama Nanda salam sama dhira aja yah mah”ucap Nanda memeluk Bu wulan dan mengambil barang yang ia bawa dan pergi meninggalkan Nathan. Andai saja ia masih mempunyai banyak tenaga ia pasti tidak akan pergi hanya saja badannya sudah lelah dan rasanya ingin istirahat, apalagi beberapa hari ini ia banyak bergadang.
“Nan jangan tinggalin mamah sayang”ucap Bu wulan tak kala sang menantunya yang pergi begitu saja dengan keadaan di rumah sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
“Nath kamu kejar Nanda Nath”ucap pak Angga yang melihat menantunya pergi begitu saja apalagi sebentar lagi waktu menunjukkan malam.
“Biarin aja, perempuan gak tau di untung”ucap Nathan yang malah berjalan menuju ke kamarnya.
Sedangkan Angeline hanya tersenyum bahagia karena Nathan yang akhirnya mulai goyah dengan godaan dirinya.
“Pah ini bagaimana pah?”tanya Bu wulan yang bingung harus bagaimana karena ia yanh sangat sayang kepada Nanda tapi ia juga yang bingung harus bagaimana membujuk Nathan yang sangat keras kepala.
Sedangkan Nanda pergi dengan menangis dia menaiki taxi menuju stasiun karena ia harus kembali ke jakarta, karena pekerjaannya ada disana, untung saja Nanda belum berhenti bekerja sehingga dalam situasi seperti ini Nanda masih mempunyai pekerjaan.
“Neng gak apa-apa?”tanya supir taxi karena melihat Nanda yang menangis dari saat ia pertama masuk.
“Enggak pak”ucap Nanda yang mencoba menyeka air matanya.
**
Pagi ini Nadhira masih bersedih atas kepergian Revan dia yang tidak mau sama sekali keluar dari kamarnya, ia hanya mengurung dirinya sendiri.
“Dhira sayang bangun yuk ayo makan”ucap Bu wulan membangunkan anaknya yang belum saja keluar padahal sudah siang, biasanya dia bangun pagi dan beres-beres berbeda dengan sekarang ini.
Nadhira masih saja diam dan tidak menjawab pertanyaan dari ibunya tersebut. akhirnya Bu wulan masuk ke dalam kamarnya nadhira dan nadhira hanya tidur saja dengan tatapan matanya yang kosong.
“Sayang bangun yuk sarapan, kamu dari kemarin belum sarapan”ucap Bu wulan yang duduk di Samping ranjang sang anak.
“Enggak mah, dhira gak nafsu makan”ucap nadhira yang masih tertidur di ranjangnya.
__ADS_1
“Tapi sayang, kamu harus makan yah, jangan sampai Enggak, kalau kamu sakit bagaimana”ucap Bu wulan mencoba membujuk sang anak yang tak ingin sarapan.
“Enggak mah, dhira mau tiduran aja, kalau lapar dhira pasti ambil sendiri kok”ucap nadhira yang masih lemas dan rasanya tak ingin apa-apa hanya ingin tidur.
“Yaudah kalau begitu, mamah keluar dulu yah sayang”ucap Bu wulan yang terpaksa keluar karena memaksa nadhira pun tidak akan bisa.
Bu wulan kembali ke dapur dengan wajah yang sedih bagaimana tidak anaknya yang murung dan menantu kesayangannya yang entah pergi kemana.
“Mah mana dhira?”tanya pak Angga saat melihat istrinya yang keluar yang mendekat ke arah meja makan tapi hanya sendirian.
“Dhira masih tidur pah. Katanya nanti aja sarapannya”ucap Bu wulan yang duduk dengan tatapan yang sedih mengapa harus terjadi hal seperti ini kepada keluarganya, harusnya ia bahagia karena nadhira sudah menikah tetapi siapa sangka pernikahan itu gagal, memang benar manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menakdirkan.
“Yaudah mah, ayo kita sarapan saja”ucap pak Angga sambil mengambil makanan.
“Iya pah”ucap Bu wulan yang juga mengambil makanannya walaupun ia tidak nafsu tapi dia harus sehat dan bisa berada di samping nadhira.
“Pagi”ucap Nathan yang duduk di depan sang ibu, ia baru saja bangun dan langsung sarapan.”mamah kenapa?”tanya Nathan melihat ibunya yang bersedih dan juga terlihat tidak semangat.
“Mamah kamu lagi mikirin kamu sama dhira”ucap pak Angga menjawab.
“Kenapa harus mikirin Nathan? Nathan udah dewasa”ucap Nathan yang mengambil makannya.
“Mikirin kamu kenapa seperti itu sama Nanda Nath. Nanda perempuan yang baik-baik”ucap pak Angga yang tak ingin kalau sampai Nathan dan Nanda berpisah.
“Udah pah. Nathan gak mau bahas Nanda lagi”ucap Nathan yang rasanya ia tak ingin memikirkan apapun dulu apalagi Nanda yang menurutnya tidak penting.
__ADS_1