
Nathan, pak Adrian pun datang ke kantor polisi karena dia ingin tau apa yang terjadi terhadap orang Leo dan juga Revan.
“Selamat siang pak”ucap pak Adrian yang datang dan menyapa polisi lebih dahulu.
“Selamat siang. Silahkan duduk”ucap pak polisi mempersilahkan pak Adrian duduk agar lebih enak untuk menjelaskan kecelakaan itu.
“Gimana pak, sudah menemukan siapa tersangka dan motif mereka?”tanya Nathan yang juga ikut duduk ia sudah tak sabar ingin tau apa yang terjadi dengan adik iparnya dan juga sahabatnya.
“Tersangkanya sudah kita temukan pak, tapi saya sudah mendalami TKP dan juga menanyakan tersangka, ini murni kecelakaan di karena kan rem mobilnya blong pak”ucap pak Polisi menjelaskan.
“Saya gak percaya pak, ini pasti sengaja dan di rencanakan”ucap Nathan yang emosi dan tidak terima apa yang terjadi.
“Sabar dulu Nath, kita dengarkan dulu penjelasan pak polisi”ucap pak Adrian menenangkan Nathan yang marah.
“Apakah sudah sudah di periksa dengan seksama pak? Apakah ada cctv bahwa memang ini murni kecelakaan atau memang di sengaja”tanya pak Adrian kembali karena takutnya memang ini di sengaja secara Leo yang merupakan pengusaha besar takutnya ada orang yang sirik terhadap Leo sehingga melakukan ini.
“Mohon maaf pak, disana kawasan sepi dan jauh dari pemukiman sehingga tidak ada cctv yang terpasang disana tapi saya sudah mencoba menelusuri tapi ini memang murni kecelakaan, tersangka juga sudah meminta maaf dan merasa bersalah atas apa yang terjadi”ucap pak polisi menjelaskan.
Pak Adrian dan Nathan pun mulai berpikir dengan kejadian ini apakah ini hanya kecelakaan saja atau ada campur tangan orang yang memamg ini mencelakai Leo dan juga Revan.
“Bolehkan saya bertemu tersangkanya pak?”tanya Nathan yang penasaran dan ingin tau apa yang terjadi karena ia masih tetap berpikiran bahwa apa yabg terjadi memang di sengaja.
“Silahkan pak, ikuti saya”ucap pak satpam membawa Nathan dan juga pak Adrian untukelihar tersangka tersebut.
__ADS_1
Saat pak Adrian dan Nathan melihat tersangka sambil terus menatap dan mencoba membawa raut wajah sang tersangka.
“Pak maafkan saya, saya merasa berdosa dan saya juga sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi, semua ini terjadi karena kelalaian saya sebagai supir yang tidak memeriksa mobil dengan baik”ucap tersangka itu yang usianya cukup tua, ia menangis sambil bersujud kepada pak Adrian memohon agar pak Adrian memaafkan kesalahannya.
Pak Adrian hanya diam dia juga tidak tega karena sang supir memang cukup tua tapi dia juga harus mencari keadilan untuk anaknya yang masih terbaring lemah dan tak tau bagaimana kedepannya apakah Revan dan Leo akan selamat atau tidak.
“Saya masih gak percaya pak kalau ini hanya kecelakaan, saya ingin tau bapak di suruh siapa untuk melakukan ini”ucap Nathan yang tidak percaya dan juga ia yang merasa ada yang janggar, ia sudah mencari kamera dascham tapi tidak di temukan di mobilnya Leo sehingga Nathan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
“Pak saya bersumpah. Ini semua kelalaian saya tidak ada campur tangan orang lain, maafkan saya pak saya bersalah”ucap sopir tersebut sambil menangis memohon maaf kepada Nathan.
“Udah Nath, mungkin ini memamg kecelakaan dan juga sopir juga tidak mau ini terjadi”ucap pak Adrian yang mencoba menenangkan Nathan yang sedang marah.
“Om jangan terpengaruh oleh wajah polosnya, itu adalah tipu daya dia om. Saya yakin om bahwa semua yang terjadi ini bukan kecelakaan melainkan di sengaja”ucap Nathan yang tidak percaya dengan ucapan sopir ia masih tetap berpikir bahwa ini semua hanya tipu daya seseorang.
“Saya belum bisa memaafkan pak, saya sangat kehilangan apalagi anak saya dan keponakan saya masih terbaring lemas tak sadarkan diri di rumah sakit. Saya mohon bapak mengerti”ucap pak Adrian dengan tegas”ayo Nath”ucap pak Adrian mengajak Nathan pergi karena takutnya Nathan yang malah semakin marah dan tak bisa mengontrol emosinya.
“Om saya yakin bahwa ini semua itu bukan kecelakaan, om harus percaya om”ucap Nathan terus berbicara, berusaha meyakinkan pak Adrian bahwa itu semua bukan kecelakaan biasa, entah mengapa filing Nathan terus berpikir bahwa semua ini adalah di rencanakan.
“Saya tau Nath, tapi kita selidiki dulu”ucap pak Adrian yang tidak sebodoh itu dan ia yang berjalan memasuki mobil.
**
Sedangkan di rumah sakit, Nanda masih senantiasa duduk di samping nadhira untuk memberi semangat dan juga dukungan, nadhira yang tampak sangat terpukul karena sedari tadi dia hanya menangis saja. Tiba-tiba handphone Nanda berdering dan terdengar telpon terlihat tetangga Nanda yang menelpon itu.
__ADS_1
Nanda mengangkat telponnya dan berbicara dengan orang yang di sebrang telpon itu.
“Iya tante Nanda pulang sekarang”ucap Nanda yang kembali mematikan telponnya.
“Dhira, kalau aku pulang gak apa-apa kan? Aku ada urusan di tempat nenek”ucap Nanda yang tidak memberitahu bahwa neneknya sedang sakit.
“Iya aku gak apa-apa nan, kamu pulang aja yah”ucap nadhira yang tidak keberatan, ia mengerti apalagi nenek Nanda yang sudah cukup tua.
“Makasih dhira, pah, mah, Nanda izin yah mau pulang dulu, ada urusan di rumah nenek”ucap Nanda yang berpamitan kepada kedua mertuanya.
“Memangnya nenek kenapa nan?”tanya Bu wulan ia yang sedari tadi hanya diam pun menjawab pertanyaan itu.
“Nenek baik-baik aja tante, nenek cuman rindu sama Nanda aja”ucap Nanda berbohong karena tak ingin mertuanya khawatir.
“Bener itu nan, kamu gak bohong?”tanya pak Angga yang takut kalau sampai menantunya itu berbohong dengan apa yang terjadi.
“Enggak kok pah, nenek cuman kangen Nanda aja”ucap Nanda yang tetap berbohong.
“Yaudah kalau begitu hati-hati yah sayang”ucap Bu wulan tak kala Nanda yang berpamitan.
“Nan mau papah antar?”tanya pak Angga karena ia yang khawatir kepada sang menantu.
“Gak usah pah. Biar Nanda sendiri aja, Nanda pamit yah”ucap Nanda berpamitan kepada semua orang yang berada di sana. Nanda sebenarnya tidak tega kalau harus meninggalkan nadhira hanya saja ada hal yang lebih penting yaitu neneknya yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.
__ADS_1
Sedangkan nadhira masih saja menangis begitupun dengan Bu Vania dan juga Bu Raline mereka tak dapat menahannya sang anak yang sangat mereka cintai dan sayangi sedang berjuang untuk hidup di ranjang rumah sakit.