
Nadhira yang masih di perjalanan menuju ke Apartemennya.
“Sayang yakin mau tinggal sendirian di Apartemen?”tanya Bu Vania yang khawatir kepada sang calon menantu yang harus tinggal sendirian di Apartemennya.
“Yakin kok mah, dhira kan sebelum sama Nanda jug udah sendirian”ucap nadhira yang sudah terbiasa sendirian karena sebelumnya juga ia sendirian di Apartemennya.
“Tapi mamah khawatir sayang, kamu tinggal di rumah mamah aja yah sayang”ucap Bu Vania yang khawatir.
“Apaan sih mamah, mah mamah nyuruh nadhira tinggal di rumah kita sedangkan mamah hari Rabu juga sudah kembali keluar negeri”ucap Revan yang tidak tau pikiran ibunya, bukannya ia tidak setuju nadhira
“Tapi mamah khawatir Revan, apa kamu gak khawatir sama dhira?”tanya Bu Vania yang malah berdebat dengan anaknya tersebut.
“Revan khawatirlah mah, tapi yah gimana lagi Revan kan belum sah sama dhira jadi Revan gak bisa tinggal sama dhira”ucap Revan, ia juga khawatir apalagi yang masih terbayang-bayang Nikko yang selalu mengejar nadhira terus.
“Iya mamah ngerti Revan, kan sekarang ada mamah jadi mamah gak akan Biarin kalian berdekatan”ucap Bu Vania yang tetap dengan pendiriannya bahwa nadhira harus tinggal di rumahnya.
“Udah mah, malah berantem sama Revan, lebih baik mamah aja tinggal sama dhira sampai Nanda balik lagi kesini”ucap pak Rikko yang bosan dan kesal mendengar pembicaraan anaknya dan istrinya tersebut.
“Ide bagus tuh pah, dhira boleh kan kalau tante nginep di Apartemen kamu, tante khawatir sama kamu dan tante juga gak sabar pengen punya anak perempuan”ucap Bu Vania sangat bahagia karena ia memang ingin mempunyai anak perempuan sedangkan ia yang hanya mempunyai anak laki-laki begitupun dengan sang kakak yang mempunyai anak laki-laki.
__ADS_1
“Kalau dhira boleh aja sih tante, cuman dhira gak bisa masak buat tante takutnya tante keberatan”ucap nadhira yang sebenarnya merasa malu karena ia perempuan yang tidak bisa memasak sedangkan kakaknya juga yang seorang laki-laki bisa memasak begitupun dengan Revan yang pintar dalam hal memasak, nadhira pun yang sudah mulai belajar tetapi tetap saja makanan yang ia buat masih kacau.
“Tante gak masalah dhira, semuanya butuh proses kok, tante yakin kedepannya kamu akan bisa memasak kok”ucap Bu Vania sambil melihat ke arah sang menantu.
“Santai aja dhira, dulu juga tante Vania awal masak kacau dan gak enak sampai-sampai pernah tante Vania masak sayur sop tapi entah apa yang ia masukan ke dalamnya rasanya Asin tapi ada manisnya juga”ucap pak Rikko mengejek Bu Vania.
“Jangan begitu pah, namanya juga masih muda dan butuh belajar jadi wajar aja, tapi sekarang mamah kan sudah pro dalam memasak dan ngajarin Revan juga”ucap bu Vania yang merasa malu karena suaminya yang berbicara seperti itu.
“Udahlah mah pah, jangan ribut dhira ngantuk, dhira biasanya kalau baik mobil suka tidur sekarang dia gak bisa tidur karena papah dan mamah yang berbicara terus”ucap Revan yang tau bahwa sang kekasih dari rautnya sudah cukup mengantuk dan ingin istirahat.
“Gak apa-apa kok tante, dhira seneng jadinya dhira ada temen bicara”ucap nadhira tersenyum dengan segala tingkah keluarganya Revan.
Sedangkan di mobil lain Leo sedang bersama dengan keluarganya ia yang hanya melihat handphonenya tidak berbicara dengan orang tuanya karena dia yang masih kesal dengan orang tuanya yang selalu saja menyuruh ia menikah padahal ia yang sama sekali belum siap dalam menikah entah apa yang terjadi terhadap Leo sehingga dia yang seperti itu.
Butuh beberapa jam untuk sampai ke rumah, semua orang sampai ke rumah sekitar jam 9 malam karena jalanan lumayan macet. Saat Leo hendak naik ke lantai atas ibunya memanggilnya.
“Leo sini mamah mau bicara”ucap Bu Raline saat melihat anaknya yang hendak berjalan menuju lantai atas.
“Iya apa mah”ucap Leo yang kesal karena orang tuanya memanggilnya padahal ia yang sangat lelah dan ingin istirahat apalagi besok ia harus bekerja.
__ADS_1
“Sini dulu duduk mamah mau bicara”ucap Bu Raline dengan wajah yang masam.
“Ada apa sih mah, Leo lelah biarkan ia istirahat”ucap pak Adrian yang heran dengan istrinya yang ingin berbicara dengan Leo.
“Papah diam aja, papah juga duduk disini tapi diam jangan ikut campur”ucap Bu Raline yang terlihat marah dan membuat Leo dan pak Adrian tampak bingung.
“Iya mah Leo duduk”ucap Leo yang pasrah daripada ibunya yang marah kepadanya.
“Leo mamah mau bertanya apa kamu punya pacar?”tanya Bu Raline yang penasaran apakah selama ini anaknya sudah mempunyai pacar atau sedang menunggu seseorang sehingga ia yang belum ada keinginan menikah.
“Belum mah, gak penting banget sih”ucap Leo yang kesal karena ibunya yang bertanya hal seperti ini apalagi ia juga sangat lelah dan ingin istirahat.
“Gak penting apanya Leo, ini penting demi masa depan kamu, kamu itu udah dewasa dan butuh pendamping hidup karena gak mungkin selamanya kamu hidup sendirian”ucap Bu Vania yang mencoba menasehati anaknya tersebut, ia tak ingin apabila anaknya yang menjalankan masa tua sendirian tanpa pasangan hidup yang mengerti dan selalu ada untuknya.
“Udahlah mah. Leo gak ingin berdebat terus dengan mamah tentang pernikahan, Leo masih ingin sendiri masih ingin berkarir dan menikmati kebebasan ini”ucap Leo yang juga kesal tapi ia tetap duduk karena rasa hormatnya kepada orang tuanya.
“Tapi sampai kapan Leo, orang seumuran kamu itu udah menikah semuanya dan bahkan punya anak, Nathan juga temen dekat kamu sudah menikah sedangkan kamu kapan Leo. Mamah dan papah sudah tidak muda lagi. Mamah ingin melihat kamu menikah”ucap Bu Raline usia yang sudah tidak muda lagi ia ingin mempunyai cucu seperti orang lain tapi ternyata Leo yang masih belum mau menikah di saat usianya yang sudah matang dan dewasa.
“Sampai Leo menemukan perempuan yang tepat mah, udah yah mah Leo cape, Leo mau istirahat besok Leo harus bekerja lagi, udah mamah jangan suruh Leo terus menikah kalau sudah waktunya Leo pun akan menikah”ucap Leo yang marah tapi ia juga kasihan kepada orang tuanya tetapi ia yang juga belum bertemu dengan jodoh yang cocok, “leo mau istirahat, mamah dan papah juga istirahat, selamat malam”ucap leo beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke lantai atas karena kamarnya di lantai atas, sedangkan Bu Raline hanya diam sambil menangis karena sampai sekarang anaknya belum juga ingin menikah.
__ADS_1