Cinta Suci Nadhira

Cinta Suci Nadhira
Trauma


__ADS_3

Nadhira yang kembali masuk ke dalam Apartemennya dimana disana terlihat Nanda dan Nathan tengah mencuci piring bersama dan sangat terlihat serasi.


“Biar saya aja yang beresin”ucap Nathan karena ia yang tidak enak merepotkan Nanda.


“Gak usah kak, biar Nanda aja yang beresin kakak duduk aja sama dhira”ucap Nanda yang dimana dia canggung kalau harus mencuci piring berdua.


“Yaudah kalau begitu”ucap Nathan yang meninggalkan Nanda karena ia yang tak ingin berdebat dengan Nanda, Dia duduk disampingnya Nadhira Sambil mengambil Cemilannya dan memakan nya.


“Kalau dilihat lihat kakak cocok deh sama Nanda serasi gitu loh”ucap nadhira sambil melihat wajah kakaknya yanh tengah makan camilan.


“Apaan sih dhira kamu ngaco, kakak gak cocok kok sama Nanda”ucap Nathan sambil menengok kebelakang untuk melihat Nanda yang tengah cuci piring.


“Gak cocok tapi di lihatin”ucap nadhira mengejek kakaknya yang wajahnya tampak memerah.


“Jangan ngasal deh dhira, gak usah berusaha menjodohkan kakak sama siapapun, sampai kapanpun kakak gak bakalan menikah sebelum kamu nikah”ucap Nathan yang memang sudah berjanji tidak akan pernah menikah duluan.


“Tapi kak, dhira belum ada calon nya dan entah kapan juga dhira nikah”ucap nadhira yang masih belum terpikirkan menikah apalagi dia yang masih trauma dengan gagalnya pernikahan dia dan Nikko.


“Menurut kamu Revan gimana?”tanya Nathan karena dia ingin tau bagaimana pandangan nadhira kepada Revan, yang Nathan lihat Revan mencintai nadhira.


“Kak Revan baik kok kak, kak Revan selalu bantu dhira dan ngajak dhira jalan”ucap nadhira yang kesan terhadap Revan memang orang yang terbaik yang ia kenal beda jauh dengan Leo yang selalu saja marah-marah kepadanya.


“Yaudah kalau begitu kamu sama Revan aja, cocok kok”ucap Nathan mendukung nadhira bersama Revan karena ia tau Revan orang baik sama dengan Leo hanya saja Leo yang tak bisa bersikap manis kepada orang lain.

__ADS_1


“Tapi kak, dhira hanya menganggap Revan teman aja kok, dhira masih belum siap menerima orang baru”ucap nadhira yang dimana dia juga nyaman bersama Revan hanya saja hatinya masih enggan menerima itu semua.


“Dhira, kamu juga harus berusaha menerima orang yang mendekati kami, kamu jangan trauma berlarut-larut”ucap Nathan karena ia takut kalau adiknya akan enggan untuk menikah.


“Yah bukannya gitu kak tapi hanya gimana yah”ucap nadhira yang bingung menjelaskan bagaimana hatinya.


“Dhira, kamu harus tau satu hal bahwa di dunia itu laki-laki itu gak sama dan pasti akan ada orang yang menghargai kamu dan menyayangi kamu serta tidak pernah berkhianat kepada kamu”ucap Nathan yang mencoba menasehati adiknya, padahal dalam hatinya juga dia pernah menjadi laki-laki brengsek yang selalu mempermainkan wanita dan dengan kejadian ini ia sadar bahwa apa yang ia lajukan kepada orang lain juga terjadi kepada adik tercintanya.


“Iya kak, dhira juga akan mencoba membuka hati kok”ucap nadhira ia berbicara seperti itu agar Nathan tidak terus menasehati nya.


Di tengah obrolan itu datang Nanda yang baru saja selesai beres-beres di dapur, Nanda duduk di sofa dan tanpa berkata apapun.


“Nan kamu hari ini pindah kesini”ucap Nathan yang sesuai perjanjian dimana kalau nadhira diam di Jakarta akan di temani oleh Nanda.


“Apa gak sebaiknya dhira yang ikut ke tempat Nanda kak, soalnya kalau Nanda yang tinggal disini takut Nanda gak bisa bayar sewanya”ucap Nanda dimana dia orang yang sederhana sekali dan dia harus pandai menabung untuk masa depannya agar tidak dapat di remehkan orang lain karena ia yang hidup miskin.


“Iya nan, aku seneng kok kamu tinggal disini dan gak perlu bayar sewa juga, kaya sama siapa aja kita kan teman”ucap nadhira yang dengan tulus menganggap Nanda sebagai temannya, walaupun pas SMA Nanda yang tidak terlalu akrab dengan dia.


“Tapi aku gak enak dhira, kak Nathan”ucap Nanda yang tidak ingin merepotkan orang lain, karena dia hidup yang sudah terbiasa mandiri.


“Enggak, saya yang merasa merepotkan kamu, dan saya mohon kamu jaga dhira yah kalau ada apa-apa hubungi saya”ucap Nathan yang masih mengkhawatirkan adiknya tersebut.


“Iya kak, Nanda senang kok, jadinya Nanda ada temen gak kesepian lagi”ucap Nanda sambil tersenyum.

__ADS_1


“Yaudah, mau saya bantuin beresin barang yang di tempat kamu”ucap Nathan menawarkan bantuan kepada Nanda.


“Gak usah kak, Nanda bisa sendiri kok”ucap Nanda yang tidak ingin merepotkan Nathan.


“Nan kalau sendiri nanti ribet apalagi kamu perempuan pasti barang-barangnya banyak kan, lebih baik sama kak Nathan aja yah di temenin”ucap Nadhira yang dimana ia mencoba untuk menjodohkan Nathan dan nanda.


“Iya nan, biar saya bantu dan saya gak merasa di repotkan kok”ucap Nathan ia mencoba bersikap baik kepada nanda agar nanda pun baik kepada nadhira.


“Yaudah deh kak, Nanda ke kamar dulu buat siap-siap ”ucap nanda yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kamarnya nadhira, ia ingin merapihkan pakaiannya dan sedikit memakai make up.


Nadhira yang melihat itu semua tersenyum, akhirnya nanda mau juga di bantu oleh Nathan, sambil menunggu nanda, Nathan pun bersiap-siap meninggalkan nadhira yang masih duduk di ruang tv sambil menonton acara kesukaannya.


Tak perlu waktu lama nanda sudah siap dan rapih begitu pun dengan Nathan yang sudah siap juga.


“Dhira Kakak sama nanda mau jalan dulu”ucap Nathan memanggil adiknya.


“Oh”ucap nadhira sambil beranjak dari tempat duduknya menghampiri kakaknya,”udah pada siap aja, serasi banget”ucap nadhira mengejek kakaknya dan nanda, nanda yang terlihat wajahnya memerah sedangkan Nathan biasa aja.


“Apaan sih dhira, kakak pamit dulu yah, kamu hati-hati jangan bukain pintu untuk siapapun begitupun untuk Revan atau Leo”ucap Nathan yang takut terjadi apa-apa kepada adiknya.


“Kak, dhira bukan anak kecil santai aja yah, dan ingat jangan ngebut”ucap Nanda yang tersenyum kepada kakaknya.


“Yaudah kakak berangkat”ucap Nathan yang berjalan keluar pintu.

__ADS_1


“Dhira aku pamit yah”ucap nanda berpamitan kepada nadhira.


Setelah Nathan dan nanda berjalan menjauh dari pintu Apatemen, nadhira pun masuk kembali dan menutup pintunya ia yang mengingat ucapan dari kakaknya bahwa ia tidak boleh membuka pintu, dan ia memilih untuk ke kamarnya beristirahat karena semalam ia yang tidurnya malam.


__ADS_2