
Sebulan sudah kepergian Revan, nadhira sudah mulai menerima apa yang terjadi di hidupnya walaupun memang tak gampang apalagi ia yang kehilangan calon suaminya.
Nadhira juga sudah akan bekerja kembali untuk melupakan Revan walaupun memang tak mungkin lupa apalagi di perusahaan tempat dimana dia bertemu dengan Revan tapi dia juga harus menjalani hidup agar kedepannya lebih baik lagi.
“Sayang kamu yakin mau bekerja lagi ke perusahaan Leo?”tanya Bu wulan yang khawatir takutnya nadhira kenapa-kenapa apalagi pikirannya masih belum stabil.
“Iya mah, kasihan pak Leo bekerja sendirian dan bagaimanapun juga dhira harus bertanggung jawab atas pekerjaan apalagi pak Leo sudah baik sekali memberikan cuti kepada dhira cukup lama”ucap nadhira yang walaupun berat tapi dia harus mencoba tegar karena dia bukan anak kecil lagi tapi udah dewasa yang perlu menjalankan hidupnya sendiri tanpa campur tangan dari orang tuanya.
“Kalau itu keputusan kamu, papah dukung yah dhira semoga kamu bisa melewati ini semoga dan papah yakin di balik semua ini pasti kedepannya ada hikmahnya”ucap pak Angga yang memeluk anaknya walaupun dia yang juga tidak tega anaknya pergi tapi sebagai orang tua di hanya bisa mendukung semoga anaknya bisa menjalankan kehidupannya.
“Yaudah dhira ayo, biar kakak antar”ucap Nathan yang khawatir dan ia akan mengantar sang adik ke Jakarta.
“Nath, mamah mohon kalau kamu ketemu sama Nanda kamu minta maaf yah dan minta Nanda balik lagi sama kamu”ucap Bu wulan karena masih berharap hubungannya dengan Nanda masih baik-baik saja apalagi Nanda tipe orang yang baik dan juga perhatian.
“Udah mah jangan bahas Nanda lagi yah”ucap Nathan yang enggan membahas masalah Nanda, ia juga sudah tidak menghubungi Nanda selama sebulan ini.
“Iya Nath, papah mohon, jangan perlakukan Nanda begitu, papah masih merasa bersalah atas apa yang terjadi dalam hubungan kalian”ucap pak Angga, Andai saja waktu dapat di putar lagi dia tidak akan menyuruh Nanda menikah dengan Nathan kalau akan terjadi seperti ini.
“Udah pah, mah, Nathan dan dhira pamit”ucap Nathan yang berjalan lebih dulu sambil membawa barang-barangnya nadhira, dia malas mendengarkan orang tuanya berbicara tentang Nanda.
“Mah, pah, dhira pamit yah”ucap nadhira berpamitan Kepada kedua orang tuanya.
“Hati-hati sayang”ucap Bu wulan sambil melihat anaknya yang sudah masuk ke dalam mobil bersama dengan Nathan.
__ADS_1
Pak Angga mencoba menguatkan sang istri walaupun agar tidak bersedih dalam satu bulan mereka kehilangan menantunya dan calon menantunya. Mereka sudah lega dan bahagia karena Nathan sudah menikah tapi siapa sangka setelah menikah Nathan bukannya berubah malah sama saja.
Di dalam mobil juga nadhira hanya diam saja ia bingung juga harus berbicara apa dengan kakaknya, sebenarnya ia ingin membahas masalah Nanda dengan kakaknya hanya saja percuma kakaknya yang sudah keras kepala tidak akan pernah mendengarkan ucapan orang lain, dari pada pusing lebih baik nadhira tidur agar sampai badannya segar dan bugar karena besok dia harus mulai bekerja di bawah tekanan Leo yang akan semakin menjadi apalagi Sekarang Revan sudah tidak ada di sampingnya untuk membantunya.
Perjalan cukup lama Akhirnya nadhira sampai juga di Jakarta. Nathan segera memarkirkan mobilnya dan mengambil barang-barang nadhira berjalan menuju ke lantai tempat Apartemnya nadhira.
“Nan”panggil nadhira tak kala masuk ke dalam rumahnya sedangkan Nathan hanya cuek saja.
“Kok di rumah sepi banget yah, apa Nanda pergi”ucap nadhira berbicara sendirian sambil melihat ke setiap sudutnya ia sudah kangen kepada Nanda dan ia juga ingin berbicara dengan Nanda masalah hubungannya dengan sang kakak.
Nathan hanya duduk tanpa menghiraukan nadhira yang berbicara tentang Nanda karena Nathan yang sangat lelah sekali.
Nadhira mencoba masuk ke kamarnya Nanda tapi benar saja barang-barang dia sudah tidak ada di tempat itu karena memang Nanda sesudah menikah dengan Nathan masih tinggal bersama nadhira.
“Udah Biarin aja dhira”ucap Nathan yang acuh dan tidak memikirkan Nanda ia masih kecewa terhadap Nanda padahal ia juga belum tau apa itu benar atau salah.
“Kak kok kak Nathan gini sih, kasihan Nanda kak, kak Nathan jangan egois begini sih”ucap nadhira yang kesal kepada kakaknya karena kakanya yang sangat menyebalkan dan tidak peduli terhadap istrinya.
“Udahlah dhira kakak lelah, kakak mau istirahat dulu”ucap Nathan yang berjalan menuju kamar tempat tidurnya Nanda, dia tidak ingin membahas masalahnya dengan nanda.
Tapi saat Nathan mencoba masuk ke dalam kamarnya Nanda ia mencium wangi istrinya itu, jujur dia rindu hanya saja egonya melebihi segalanya dan ia yang masih terpengaruh oleh Angeline.
**
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain Sonya sudah hendak melahirkan ia yang berada di rumah sakit tapi hanya sendirian sedangkan Nikko tak tau kemana karena Sonya sudah beberapa kali menghubungi Nikko tapi tetap saja Nikko tidak ada jawaban.
“Nikk kamu kemana sih”ucap Sonya sambil melihat handphonenya yang tak kunjung ada jawaban dari Nikko.
“Aww sakit”ucap ucap Sonya berteriak kesakitan.
“Mohon maaf Bu Sonya, suaminya kemana yah?”tanya suster karena memang Sonya hanya sendirian.
“Suami saya belum mengangkat telpon saya sus mungkin dia sedang sibuk”ucap Sonya sambil menahan rasa sakitnya, ia sangat sedih karena lagi dan lagi Nikko tidak berada di sampingnya padahal ia akan melahirkan anaknya.
Sonya hanya bisa menangis ia bingung harus menghubungi siapa karena memang dia tidak mempunyai keluarga lagi dan ia juga yang tidak mempunyai sahabat.
“Sayang kuat yah”ucap sonya sambil mengelus perutnya yang lama kelamaan sakitnya semakin menjadi-jadi.
Sonya teringat bahwa dia hanya mempunyai sahabat yaitu nadhira tapi dia juga sangat malu kalau harus meminta tolong kepadanya tapi akhirnya ia menghubungi Nanda karena ia yang tak ingin sendirian takut terjadi apa-apa kepada dirinya atau bayinya.
Sampai sekitar setengah jam Nanda datang terburu-buru ia juga yang tidak terlalu akrab dan ia juga yang membenci sonya karena selalu menganggu nadhira tapi dia juga tau rasanya hidup sendiri dan harus berjuang melahirkan sendirian.
“Sony Nikko kemana?”tanya nanda dengan panik karena melihat sonya yang sudah terlihat kesakitan.
“Aku gak tau nan, nan sakit”ucap sonya mengeluh sakit sedangkan suster dan dokter sedang berusaha agar anaknya Sonya segera lahir.
“Ayo Bu dorong”ucap dokter sedangkan nanda yang berada di sampingnya juga ikut menangis.
__ADS_1
Sampai tak lama anaknya lahir, sonya dan juga nanda merasa lega dan terharu.