
Kirana lari tanpa arah hingga sampai di tebing curam, Kirana menangis karena penolakan dari ayah kandungnya.
Kirana duduk di dekat batu besar di tepi tebing sambil menangisi kepedihan dalam hidupnya.
"Tuhan, apa aku di lahir kan hanya untuk di buang tanpa ada rasa kasih sayang dari kedua orang tua ku. Apa aku memang ga pantas untuk mendapat kasih sayang dari orang tua ku, apa salah ku Tuhan," batin Kirana menangis tanpa henti.
Kirana menangis tanpa ada seorang pun yang mengetahui karena hanya ada Kirana seorang diri di sana.
...***...
Setelah puas menangis dan hari mulai gelap, Kirana memutus kan untuk pulang karena sudah tidak ada lagi hal yang ingin ia ungkap kan.
Semua rasa marah, kesal dan rasa sakit atas perkataan ayah dan ibu tirinya bahkan penolakan dari ayah kandungnya, semuanya Kirana luap kan dan buang di tempat itu.
"Hari ini aku putus kan untuk memulai kehidupan ku dari awal lagi, aku ga akan mengingat semua pahitnya beban hidup ku. Masih ada paman dan bibi yang sayang sama aku, aku yakin paman dan bibi ga akan pernah meninggal kan aku," batin Kirana.
Kirana terus berjalan menyusuri jalanan kampung untuk pulang ke rumah pamannya.
Sesampainya di rumah, ternyata Arif sudah menunggu Kirana di teras rumah karna memang sudah jam 9 malam.
__ADS_1
"Kenapa baru pulang nak, mata mu kenapa? Kamu habis nangis nak?" tanya Arif pemasaran melihat mata Kirana sembab.
Kirana tidak bisa menjawab, Kirana langsung memeluk tubuh pamannya dan kembali menangis.
"Kamu kenapa nak, siapa yang menyakiti mu? Kata kan pada paman siapa yang membuat mu seperti ini," tanya Arif merasa panik karna Kirana terus menangis tanpa mau berbicara.
Arif membiar kan Kirana menangis di pelukannya sampai Kirana merasa lebih tenang dan mau bercerita.
"Ayo kita duduk, biar kamu bisa cerita sama paman apa yang sebenarnya terjadi," ucap Arif.
"Minum lah, biar hati mu sedikit lebih tenang," sambung Arif memberi kan segelas air putih pada Kirana.
Setelah merasa jauh lebih tenang, Kirana mencoba untuk bercerita pada pamannya.
"Kata siapa nak, paman selalu ada di sini untuk mu begitu pun dengan bibi Lia. Meskipun bibi Lia sudah berkeluarga tapi bibi Lia masih perduli sama Kirana, sayang sama Kirana," ucap Arif.
"Tapi kenapa ibu dan ayah tidak mengingin kan aku paman? Kenapa mereka tidak perduli pada ku? Apa salah ku pada mereka," tanya Kirana kembali menangis.
"Kenapa kamu punya pikiran begitu, ibu sayang sama kamu. Buktinya ibu rela menahan sakitnya melahir kan demi melihat mu hidup di dunia ini sampai sebesar ini," ucap Arif.
__ADS_1
"Tapi yang mengurus ku paman dari bayi sampai saat ini, hanya paman dan bibi Lia yang selalu ada untuk ku," ucap Kirana.
"Maaf kan aku paman, tadi aku berbohong pada paman. Tadi pagi aku tidak ke rumah Selly tapi ke kampung sebelah untuk mencari rumah ayah," sambung Kirana.
"Terus apa yang terjadi, apa yang di lakukan ayah mu sampai kamu sesedih ini," tanya Arif.
"Paman tau, ayah menolak ku dan istrinya menghina ku bahkan mengusir ku. Ayah bilang aku ini beban untuk dia dan istri barunya, aku tidak di inginkan paman," ucap Kirana kembali menangis.
"Sudah ya jangan sedih lagi, ada paman di sini," ucap Arif kembali memeluk Kirana.
"Tugas Kirana sekarang, Kirana harus bisa membuat ayah dan ibu bangga pada Kirana dengan prestasi yang Kirana miliki. Biar kan ayah mu menyesal karna sudah memperlakukan mu sampai seperti ini," sambung Arif.
"Iya paman," jawab Kirana singkat.
"Kirana belajar yang rajin ya, agar Kirana bisa jadi orang yang sukses dan jadi kebanggaan paman ya nak," ucap Arif.
"Sekarang kamu masuk dan istirahat lah, besok kamu kan sekolah," sambung Arif.
Kirana berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
'Karna terlalu lama menangis, mata ku jadi sembab begini dan badan ku sedikit ga enak," ucap Kirana melihat pantulan wajahnya di cermin.
Kirana mengganti bajunya dan tak lupa Kirana membasuh wajahnya dengan air dingin agar lebih segar lagi.