
" Sebentar.... boleh saya minta nomer ponselnya? maaf bukan maksud saya lancang atau apa, tapi saya hanya ingin memberikan nomer ponsel mbak Arumi pada istri saya supaya mba Arumi bisa curhat mengenai kehamilan, saya lihat kandungan mbak sudah lumayan terlihat, berapa bulan sekarang?", nada Sopan dan halus Anton tidak bisa Arum elakan akhirnya obrolan itupun berlanjut.
"Sudah menuju 6 bulan mas".
" Kenapa kok mbak Arum ada di sini sendiri sampai malam begini?". Arumi hanya menunduk saat pertanyaan itu keluar dari mulut Anton, rasanya tidak ingin dia menjawab apalagi pada orang yang baru saja di kenalnya.
" Hmmm..... saya tadi pulang kuliah terus lapar mas, maklum lah bumil jadi bawaannya lapar terus", senyum Arumi mengembang berharap jawabannya bisa menyakinkan orang dihadapannya ini.
" Apa kabar Niko mba? masih suka jalan tidak sama mantannya yang ganjen itu?", satu lagi sebuah pertanyaan yang membuat hati Arumi sesak, kali ini wajah Arumi tertunduk lebih dalam dan diam tanpa jawaban Anton melihat punggung Arumi bergetar menandakan sang pemilik punggung itu sedang menahan tangis supaya tidak terdengar.
" Maaf mbak, kalau pertanyaan saya membuat mbak Arum menjadi sedih.... maaf, saya kira Niko akan jujur dan menerima mbak sebagai istrinya karena mbak sudah mengandung".
" Tidak apa apa mas, terimakasih.... saya pamit... sudah sangat malam dan ponsel saya low takut membuat orang rumah jadi panik........ Oo iya, kabar mas Niko dan mbak Cilia baik, mereka rukun, tapi saat ini mbak Cilia sedang sakit habis operasi pengangkatan payudara, dia di rumah bersama ibunya, itu saja yang saya tahu, Assalamualaikum". Arumi bergegas menuju kassa namun ternyata sudah ada yang membayar semua makannya.
" Owh, kalau begitu sampaikan terima kasih saya jika orang tersebut kemari, permisi mbak". pamit Arumi pada petugas kasir tersebut.
Anton cuma memandangi kepergian Arumi dengan wajah iba, dia tau betul tentang Cinta Niko pada Cilia dan Arumi adalah korban dari ke egoisan Niko.
********
Jam 10 Arumi sampai rumah, suasana rumah sudah sepi, Arumi masuk dan langsung mengucap salam yang ada hanya bibi.
" Non.... kemana saja, mas Niko uring uringan dari tadi nunggu non, dan sekarang dia keluar ada sejam yang lalu mungkin mencari non".
" Kalau begitu telpon dia, kabari kalau Arum sudah di rumah, bilang kalau ponsel Arum low batre, makasih Bi, selamat malam... Arum mau mandi dulu".
Tanpa menjawab Bibi langsung melaksanakan perintah Arumi, terdengar di sebrang Niko kesal dan marah.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Arumi sudah selesai mandi dan langsung berbaring, sebentar kemudian langsung terlelap. Sehingga saat Niko masuk dia sudah tidak mendengar dan melihat.
Niko hanya tertegun saat masuk kamar telah mendapati istrinya terlelap, ingin meluapkan kekesalannya tapi tidak tega jika harus membangunkan istri kecilnya yang terlihat aura lelah di wajahnya. Dia memperhatikan mata istrinya bengkak seperti habis menangis. Dia hanya membelai rambut Arumi dan mengecup keningnya setelah itu dia berbaring di sebelah Arumi dan terlelap menyusul mimpi istrinya.
Pagi harinya Arumi bangun sangat pagi untuk bisa sholat malam, dia ingin mengeluh hanya pada sang Khaliq. Dilihat suaminya masih terbuai dengan mimpinya entah dia sedang memimpikan rencananya bersama Cilia atau bersama dirinya Arumi tidak peduli.
Selesai mandi Arum langsung ke bawah, sudah dengan pakaian rapi hendak menuju kampus.
" Ma.... Arum berangkat pagi ini ya, ada kuliah pagi, tapi mas Niko belum bangun, Arum minta tolong pamitkan saja jika sudah bangun dan mencari Arumi.... Assalamualaikum mama... Arum berangkat".
Mama Erika hanya membalas pelukan Arumi dan menjawab salamnya, sedikit melirik wajah Arumi terlihat matanya sedikit bengkak mungkin lagi ada masalah dengan Niko, pikirnya, makanya membiarkan Arumi berangkat bahkan tanpa sarapan terlebih dahulu.
" Cari sarapan dijalan yang Arum suka, jangan menahan lapar, oke". bisik mama saat melepas pelukan Arumi.
" Iya ma.... pasti, si dia tidak bisa di ajak menahan lapar, tenang saja", jawab Arumi melangkah pergi seraya mengusap perutnya.
Arumi melajukan mobilnya, menuju rumah orang tuanya karena kuliah hari ini jam 10, masih ada waktu untuk meminta sarapan pada bundanya.
" Hemmmm.... ayo sini, bunda bikin menu sarapan nasi goreng seafood kesukaan Arum". jawab ibu Ida saat Arumi penghampirinya ke dapur dan memeluknya.
" Bisa pas gini ya... bikin Arumi tambah semangat sarapan nih".
" Itu mata kenapa? habis nangis? ada apa?", pertanyaan ibu beruntun.
" Memang kenapa? owh.... Arum kebanyakan tidur Bun.... kemari tidur dari sore karena kehamilan ini membuat mata Arum pingin cepat tidur terus bun", elak Arumi agar ibunya tidak curiga.
" Hmmm.... enak banget bun, kalau Arum habisin nanti bunda, Ayah sama tante Na sarapan sama mie rebus.... hahaaa... ", Arumi melahap Nasi goreng bikinan ibunya dengan lahap.
__ADS_1
******
" Ma... Arum mana?", Niko mencari istrinya saat tiba di meja makan, karena tidak ada Arum disana.
" Dia sudah berangkat tadi jam setengah 6, katanya ada kuliah pagi, tadi dia bilang tolong pamitin sama kamu.... makanya kalau tidur jangan kayak kebo... , kenapa? ada masalah sama Arum, kamu apain lagi dia, tadi mama lihat matanya bengkak seperti semalaman dia menangis".
" Huk huk huk...", mendrngar penjelasan mamanya Niko langsung tersedak saat mengunyah makannya, dia merasa baik baik saja tapi ibunya tidak mungkin bohong.
" Minum mas, nih.... makanya kalau makan berdoa dulu", ketus Chilia yang duduk disampingnya.
" Mama tidak salah lihat kan? Niko merasa baik baik saja sama dia, tapi dia semalam pulang telat, dan Niko telpon juga tidak diangkat".
" Niko..... sepertinya kali ini Arum serius marah sama kamu, belum pernah anak itu menghindari mu meskipun sedang marah, Apa yang kamu lakukan kemarin, coba kamu ingat lagi dan bayangkan jika Arum melihat dan mendengar, mungkin dengan begitu kamu tahu jawabannya", ucap Papa terlihat dan terdengar sangat dingin, ada nyala amarah di mata beliau.
Niko melanjutkan makannya, dan bergegas pergi kekantor, akan dia pikirkan nanti ucapan papanya tadi saat dia sudah di kantor pikirnya.
Niko berkali menghubungi Arumi tapi sepertinya ponsel dia tidak aktif, hatinya tambah bingung, akhirnya dia mengirimkan pesan agar Arumi membacanya jika nanti ponselnya kembali aktif.
" Yank.... sudah makan belum? jangan lupa makan ya.... nanti sehabis kuliah langsung pulang ya! nanti malam mas mau bicara... penting tolong jangan menghindar dari mas!", Pesan masing pending tapi Niko berharap setelah Arumi mengaktifkan ponselnya nanti akan langsung di baca.
Sepanjang hari Niko kerja tidak fokus, hanya banyak diam dan sesekali mengacak rambutnya. Kevin yang melihat bosnya uring uringan tidak jelas akhirnya mengejek sedikit agar bosnya itu tidak bertambah kacau.
" Bos..... semalam tidak ada jatah ya, sepertinya bos hari ini terlihat lebih tua dari kemarin.... hahaiiiii....", kekeh Kevin membuat Niko yang sedang duduk malas sambil mengacak rambut jadi melotot sampai hampir keluar biji matanya.
-
-
__ADS_1
-
Lanjutttt