
Niko terus saja membopong bayi gembul itu dan terus mengikuti Arumi, bahkan dia sendiri sampai tidak berniat mengambil makanan dia hanya sibuk dengan bayi nya yang kadang kadang dari mulutnya keluar sebuah ocehan atau semburan ludah.
" Putra Ayah kemana saja? hmmm.... ", Niko mengajak bayi gembul itu bicara dan di jawab dengan kekehan lucu, membuat Niko benar benar seperti berada di dunia lain, sungguh perasaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata kata ataupun air mata.
" Ayah juga kemana saja selama ini!", timpal Arumi dengan pandangan ke arah putranya.
" Ayah di rumah sakit jiwa, Ayah gila ditinggal kalian", hawab Niko tangannya langsung meraih leher Arumi, mendekatkannya Dan menciumi kapala Arumi.
Arumi hanya diam dan menikmati belaian suaminya itu.
" Kita makan ya mas, Arum suapi", Niko mengiyakan kemudian Arumi beranjak menuju tempat hidangan tersedia. Setelah memilih beberapa menu Arumi kembali mendekat kearah Niko kemudian menyuapi suaminya itu dan bergantian ke mulutnya sendiri.
Niko dan Arumi sengaja duduk agak menepi dari anggota keluarga, namun sesekali ada saja yang mendekat atau sekedar berlalu dan menggoda, apa Anton dia yang paling agresif.
" Haiiii.... masih siang, masih banyak tamu udah mojok aja!", teriak Anton dengan cengiran kudanya.
" Huuss huusss... sana jauh jauh... ganggu aja!", Sahut Niko tanpa melihat kearah Anton tetap fokus dengan baby Atha.
" Gitu ya.... baby Atha telah menghipnotis mu rupanya".
" Makanya sekarang giliran ku, selama tiga bulan lo sudah memanasi ku dengan kemesraan kalian". sinis Niko. Anton kembali meninggalkan mereka dan bergabung lagi dengan yang lain.
" Yank.... selama ini kamu selingkuhi mas sama cowok yang sering foto bareng dengan mu di status ponselmu itu ya".
" Iya.... tuh orang nya disana, mau Arum panggil kesini mas?",
" Hiisttf... apaan sih, boleh sini mau mas jambak". Arumi beranjak mendekat ke arah Fahrizal yang sedang mengobrol dengan yang lain dan menarik tangannya untuk di bawa mendekati Niko.
" Apaan sih", berontak Fahrizal.
" Itu.... ada yang mau jambak kakak katanya", Arumi menuntun Fahrizal mendekati Niko.
" Dok.... katanya ada yang mau menjambak mu... tuh". imbuh Arumi.
" Assalamualaikum.... Adik iparku yang tua".
__ADS_1
" Hiisssttt.... siapa ini? berani ya menghina Adik ipar yang tampan ini", sinis Niko merasa paling ganteng padahal iya sih... hee..
" Kenalkan mas... ini kakak sepupu Arumi, kami dari kecil selalu bersama, di rumah Ayah Ery kemarin waktu kita menikah dia sedang Koas di daerah terpencil di Nusa Tenggara Timur selama satu tahun dan baru pulang beberapa bulan lalu kemudian dapat tugas lagi di daerah Ciamis dan Arumi ikut dia disana untuk menjauh dari suami ku yang plin plan plus nyebelin dan suka uring uringan sendiri karena cinta abadinya yang hilang", cerocos Arumi panjang lebar, Niko dan Fahrizal mendengar seraya mengeryitkan kening dan menahan tawa.
" Cuma segitu.... masih ada yang lain kali", sahut Fahrizal.
" Haiii.... kauu... beneran mau di jambak rupanya!". teriak Niko emosi yang di buat buat.
" Heee.... sabar... santuy bro". Fahrizal mengangkat kedua tangannya memberi tanda perlindungan diri.
" Mau disebutkan lagi", tantang Arumi.
" Boleh lah... biar kakak mu tau semua keburukan dia Rum", imbuh Fahrizal.
" Beneran ya.... rupanya ga ada takutnya sama adik ipar mu ini... hahh", gereget Niko dengan mengerasksn rahangnya dan gigi yang di eratkan.
" Ampun ampum Ustadz", cegah Fahrizal lagi, kali ini dia meledek tampilan Niko yang berbeda dari foto yang pernah dia lihat, yang Fahri lihat sekarang Niko dengan baju koko, peci rajut yang pas di kepala serta celana sarung, habis sholat diaπ # insaf ya Koπ
" Hee... masih berani meledek terus", kali ini Niko melotot.
Niko mencium bayi itu sebelum akhirnya menyerahkan pada Arumi, dan dia kembali mengusap kepala Arumi dan menciumnya.
" Kalau sudah tidur bawa kekamar nanti mas susul". Bisik Niko mesra ditelinga Arumi.
" iittsss.... mas apaan sih, Arum masih mau ngobrol sama mereka mas, masih kangen, di kamarnya nanti malam saja heee", Arumi meringis menampakkan barisan gigi rapinya.
" Diihhh.... pikirmu Rum.... Kalau cape istirahat saja, tidak usah menunggu tamu bubar, kan ada Baby Atha yang selalu mengurangi jatah tidur malam mu", Arum jadi malu sendiri dengan ucapannya barusan ternyata pikirannya salah.
Arumi menyingkir dari kerumunan tamu karena mau memberi ***** pada Baby Atha.
Bayi itu sudah merengek dan terus mengerakkan kepalanya mencari dot hangat sumber Asi kesayangan.
" Assalamualaikum ... ", suara heboh dan renyah menyapa semua tamu yang masih asyik mengobrol dan makan beberapa menu penutup.
" Waalaikum salam.... aahh.... lo telat, kemana dulu... apa kabar bro?", Niko langsung memeluk asistennya lebih tepatnya mantan asisten Kevin, erat melepas rindunya.
__ADS_1
" Alhamdulillah sehat bro, sory gue nganterin mama dulu kontrol ke rumah sakit", Kevin kemudian menyalami semua tamu.
" Gimana sekarang kondisi ibu lo?".
" Baik, cuma tidak boleh capek jadi tidak bisa ikut...... sory BOS PAPA" Kevin ke.udian menyalami papa Windra.
" Oke, sana sana ... makan makan", ucap papa mempersilakan Kevin, kevin pun sudah tidak sabar dia langsung mencari Arumi.
" Bos... dimana Nona? Kevin rindu nih... sekalian mau lihat junior bos!", Ungkap Kevin cuek dengan pandangan semua orang karena merindukan istri mantan bos nya itu.
" Assalamualaikum.... mas Kevin apa kabar?? cieee... makin ganteng saja nih?", Sapa Arumi tergopoh keluar dari Arah kamar, kemudian menjabat kevin.
" Mana.... baby nya? Kevin belum lihat sudah di bawa ngumpet aja, udah gede pasti", Kevin menerobos masuk kamar tidak sabar mau melihat baby Atha.
" Sstttt.... jangan berisik lo... anak gue sedang tidur, awas kalau sampai terbangun... lo harus tanggung jawab, ngasih *****!!", Niko menarik tangan Kevin yang hendak menyentuk bayi itu di dalam box nya.
' Diihhh.... pelit amat, gue cuma lihat doang bos", lirih Kevin takut membangunkan Bayi Atha.
" Udah liat kan? Hayo keluar... ", Niko menarik tangan Kevin keluar kamar.
" Cakep bos... untung mirip bos Nona, coba kalau mirip bos... wah... ga lucu tuh masih bayi ... tapi wajahnya tua... hahaa...", Niko langsung mengacungkan kepalan bogemnya.
" Hahaaa.... ampun bos!", Kevin berlari menuju meja makan, dan segera mengambil makanan.
Tamu sudah mulai berpamitan, sekarang giliran keluarga Arumi yang berpamitan.
" Kamu pamit untuk pulang dulu Pak Win dan ibu Erina... terima kasih atas jamuannya, saya percayakan Arumi dan Atha disini, bimbing mereka supaya rukun selalu", pamit Ayah Ery pada keluarga papa Windra.
' Iya pastinya Ayah... saya juga mau anak saya hidupnya bahagia dan tentram sudah barang tentu kita sebagai orang tua akan saling memberi dukungan", jawab Papa Windra.
Kemudian mereka meninggalkan rumah besar itu setelah bersalaman. Arumi memeluk bu Ida erat sebelum mereka berpisah, dan juga merangkul manja pada Ayah Ery dan Dokter Fahrizal.
Dokter Fahrizal
__ADS_1