
Arumi membersihkan diri setelah merapikan wepakaian yang diambil pak Ngat di rumah Ayah Ery tadi pagi. Diliriknya Niko masih tertidur saat tadi pulang dari rumah sakit Arumi langsung menyuruhnya tidur.
Arumi tau sebetulnya suaminya belum sembuh banget harusnya masih beberapa hari lagi di rawat tapi karena dia memaksa pulang akhirnya dokter mengijinkan.
" Mas hampir jam 5, Ashar dulu gih!", usap Arumi lembut di wajah Niko , membuat Niko menggeliat dan mengerjapkan matanya.
' Hmmm.... mas ke kamar mandi dulu, buang air dulu gih, nanti Arum lap jangan mandi dulu ya!". Niko mengangguk kemudian menuruni tempat tidur menuju kamar mandi.
Sementara Arumi menyiapkan baju ganti kemudian menyusul Niko ke kamar mandi dengan wash lap untuk menyeka tubuh Niko.
Dengan telaten Arumi menggosok badan Niko, kemudian mengelap pakai handuk.
Niko hanya nurut dan menikmati setiap tindakan Arumi merawat dirinya.
" Wudhu dulu mas, terus sini Arum gosok pakai minyak biar tubuhnya hangat".
Lagi lagi Niko menuruti ucapan Arumi baru kemudian sholat dan duduk bersandar didinding untuk membaca beberapa buku yang dia beli beberapa waktu lalu.
Sementara Arumi pergi kedapur untuk membuatkan minum hangat dan mengambil beberapa camilan untuk Niko, karena harus makan yang lembut lembut dulu makanya bibi membuatkan puding dan bubur sumsum. sementara makanan keringnya biskuit susu yang Arumi beli di mini market setelah pulang dari rumah sakit tadi.
" Mas minum dulu nih selagi hangat". Arumi meletakkan nampan di meja sofa kemudian mendekati suaminya yang masih asyik membaca dengan stelan baju koko dan sarung serta peci yang membuat Niko makin terlihat ganteng.
" Haiii.... mas, sejak kapan mas punya bacaan seperti ini? kok Arum baru lihat!", girang Arumi melihat setumpuk buku tentang fiqih, hidup bahagia ala Nabi, tafsir Qur'an dll.
" Hmmm.... itu baru minggu kemarin mas beli".
" Pantes... Arum baru lihat, Arum boleh ya mas ikut membaca!".
" Boleh banget.... nanti kita kalau ada waktu juga ikut kajian yuk, biar nambah pengetahuan!".
" Mau mas! Arum seneng kalau kita bisa ikut kajian, apalagi bareng Papa, Mama juga Chikita".
" Atau kita cari guru ngaji saja di rumah ini, biar bibi dan pak Ngat juga bisa ikut, minimal seminggu sekali".
" Setuju sayang.... mas suka ide mu itu, Mas nanti bicara pada Papa".
" Boleh mas...., Minum dulu nih teh nya mumpung masih hangat".
" Iya, pudingnya mas mau, suapin ya!".
" Manja iih... sehat ya mas, jangan sakit lagi".
" Mas sudah sehat dan ga akan sakit lagi .... kan sudah ada obatnya disini!". tawa lebar Niko sambil mengusap rambut Arumi.
" Gombal...... !", sinis Arumi, tak mau menanggapi omongan Niko.
" Kok gitu, beneran mas serius!".
" Udah ach, cepet habiskan bubur sum sum nya sama puding nya".
" Siap..... aaaaaa.... ", tiba Niko menyendok puding dan menyuapkan pada Arumi.
__ADS_1
" uow...", reaksi terkejut saat Niko menyuapi dengan porsi untuk mulutnya, penuh.
" Dikit dikit mas, kayak porsi mang yang habis seharian kerja!", gerutu Arumi membuat Niko terkekeh.
" Yank.... kemarin tuh kamu kemana sih? mas bolak balik ke rumah Ayah kok ga pernah ketemu? ".
" Hmmm..... ada kok!".
" Ada dimana?".
" Mau dijawab asal atau....".
" Berani sekarang ya, sama suami mu ini, jawab dong yang jujur, itu baru Arumi istri mas!".
" Kalau Arum pandai bohong dan ga jujur itu karena...... mas yang ngajari".
" Kok mas".
,
" Iya lah.... mas yang suka ga jujur.... diam diam jalan sama mantan, itu apa namanya ... wekkk!".
" Yank....".
" Apaaa...."
" Jawab dong!".
" Dimana?".
" Ada di rumah Dokter ganteng yang pernah menelpon ku malam malam itu, masih ingat?".
" Siapa dia yank.... tentu mas ingat! kamu ga pernah menampakkan rambutmu kepada siapapun selain mas dan Ayah, tapi waktu itu kenapa Sayang terima telpon tanpa hijab.... !".
" Mas pikir sendiri saja.... kira kira siapa kalau Arum sampai kayak gitu".
" Yank..... jawab! jangan bikin mas sakit lagi".
" Bodo !".
" Yank..... jujur dong!".
" BODO ..... AMAT!".
Arumi merapikan bekas minum dan makannya kemudian pergi meninggalkan Niko sendiri di kamar. Sementara Niko terlihat sangat kesal.
******
2 bulan setengah sudah Cilia di kota Medan untuk Kemoterapi dan seminggu yang lalu adalah kemo kali ke tiganya berarti itu sudah selesai tinggal memulihkan diri dan pulang ke Jakarta lagi melanjutkan pemeriksaan dan pengobatan selanjutnya.
Setelah satu minggu badannya sudah mulai membaik tapi rambutnya sudah sangat tipis bahkan hampir botak, badannya makin kurus, kulitnya pucat dan matanya juga makin cekung tak nampak bekas model dengan body berisi kencang serta sexy.
__ADS_1
Rencananya hari ini dia akan kembali lagi ke Jakarta kota tempat tinggalnya. Semua barang bawaannya telah di pak, tinggal berpamitan dengan beberapa penghuni pondok sesama pejuang cancer.
Ada rasa kehilangan tersendiri meskipun baru 2 setengah bulan berada di tempat itu.
Taksi yang dia pesan pun telah datang, perlahan meninggal tempat itu setelah Cilia masuk ke dalamnya.
Dua jam lebih akhirnya sampai Jakarta. Lega hati Cilia dia sudah sangat merindukan ibunya.
Sesampainya di rumah dia mendapati ibunya sudah rapih habis mandi dan rumah pun terlihat sangat bersih, rupanya selama ini ada mengurus ibunya, mungkin kakaknya akhirnya mengirim ART untuk ibunya bathin Cilia.
Sang ibu yang mendapati Cilia pulang dengan kondisi seperti itu hanya bisa memeluk dan menangis, hatinya sedih.
" Cil.... kenapa kamu seperti ini nak? sebenarnya kamu sakit apa?". tangis wanita yang usianya hampir 60 tahun itu.
" Ibu..... Cilia, sedang diuji, tapi tenanglah bu, Cilia pasti sembuh karena Cilia masih muda dan masih kuat".
" Tapi kenapa jadi seperti ini?".
" Tenanglah bu, sedang proses penyembuhan bu, karena Cilia pergi untuk berobat kemarin" .
Cilia memberi jawaban untuk membuat ibunya tenang akan kondisinya sekarang.
" Syukurlah..... makanlah yang sehat dan banyak agar cepat sembuh".
" Iya bu, kini ibu akan selalu ada teman di rumah, karena Cilia akan di rumah terus untuk beberapa waktu sampai sembuh bu".
" Iya...".
" Apakah kakak sering kesini bu selama Cilia pergi?".
" Pernah sekali, kakakmu tertua tapi kalau kakak ke dua mu belum pernah pulang sampai saat ini".
" Mungkin dia sibuk bu, tak apa lah".
" Ibu Cilia istirahat dulu ya, habis perjalanan jauh, cape bu".
" Tidurlah nak.... atau makan dulu gih!".
" Tidak bu, Cilia masih kenyang, mau tidur dulu saja".
Cilia masuk ke kamarnya yang sudah beberapa waktu dia tinggalkan, rasa lelah dan lemas yang masih mendera membuat tubuhnya tidak bisa diajak kompromi untuk membiarkan kasur empuknya merasa, segera ia merebahkan diri diatas kasur dan memejamkan matanya.
Tidur, dan melupakan sejenak himpitan bebas hidupnya kini, rindu anak anaknya tak ada pendamping dan juga tidak punya kerjaan, sakit pula, lengkap sudah, Batinnya sedih.
-
-
-
**Lanjutttt.....
__ADS_1
TERIMA KASIH SEMUA MASUKAN DAN LIKE NYA .... ššš**