
Hampir dua minggu Niko tidak menghubungi Cilia atau menjenguk karena sibuk dan juga ada sedikit rasa tidak enak pada istri dan keluarganya seandainya terlalu sering perhatian pada Cilia.
Namun hari ini, rasanya ingin sekali bertemu, ada rasa penasaran dengan kondisi Cilia.
Akhirnya diapun menelpon sesaat setelah sampai dikantor.
➡️" Ci, kamu apa kabar? gimana keadaanmu sekarang?", suara Niko saat terdengar Cilia mengangkat telponnya.
➡️" Ko... Cici sudah lebih baik, hari ini kontrol dan penentuan jadwal kemoterapi, sebentar lagi aku berangkat", jelas Cilia.
➡️" Siapa yang menemani?",
➡️" Sendiri saja, sebentar lagi taksi on line yang Cici pesan datang, maaf ya Cici tutup, terima kasih atas perhatiannya.
➡️ " Oke... hati hati ya, semoga semuanya lancar".
Niko dan Cilia mengakhiri teleponnya. Cilia bergegas menaiki taksi pesanannya yang sudah menunggu didepan rumah.
Sementara Niko sibuk dengan kerjaannya di kantor.
*****
Bilqis nampak sudah kembali bugar, setelah dua minggu harus makan dengan makanan halus, demi magnya agar cepat sembuh.
" Rum.... pulang kuliah kita ke kafe yuk, Pingin makan yang bener, rasanya bosan semenjak sakit makananku bubur terus".
" Memang sudah boleh makan makanan biasa? sudah sembuh?", tanya Arumi ragu.
" Sudah.... dua hari ini aku sudah makan nasi biasa cuma tidak boleh pedes dulu."
" Oke... untuk merayakan kesembuhan sahabatku Arum mau!", senyum manis Arum terukir di bibirnya.
Mereka bertiga akhirnya menuju kafe setelah jam kuliah berakhir, Richard tidak ketinggalan dia selalu menjadi body guard dua perempuan berhijab itu.
Setelah selesai makan, Arum mengantar Bilqis dan Richard turun di jalan untuk melanjutkan perjalannya dengan Bis.
Saat Arumi melewati depan rumah sakit terbersit ingatannya pada Cilia yang Niko bilang sakit kanker.
__ADS_1
Gimana kabar mbak Cilia ya... apa dia masih di rawat, batin Arumi memelankan laju mobilnya, matanya beredar memandangi halaman rumah sakit.
Tiba tiba ada satu pemandangan yang dia tangkap melalui netranya.
Mba Cilia.... benarkah? benar itu memang mba Cilia... Alhamdulillah rupanya dia sudah sehat, mungkin hari ini dia akan pulang.... tapi.... hah...., mulut Arumi terdiam, kakinya lemas seketika reflek dia meminggirkan mobilnya dan parkir dekat dengan pintu keluar rumah sakit.
Sebuah mobil yang membawa Cilia keluar dan Arumi tiba tiba saja ingin mengikutinya, ingin tahu dimana rumah Cilia.
Tanpa berfikir apapun, dibenaknya hanya ingin tahu rumah Cilia. Begitu didepan rumah dengan bangunan agak lawas tapi terlihat asri dan lumayan luas mobil yang di tumpangi Cilia berhenti, Arumi mengambil jarak aman namun masih terlihat jelas mobil didepannya.
Benar Saja Cilia turun, kemudian pintu yang di bagian setir pun terbuka, dan Arumi kaget... tapi kemudian dia berpikir... kenapa Arum sampai tidak mengenali mobil mas Niko... gumam Arumi lirih menyesali ketidak jeliannya.
Didepan terlihat Niko keluar dari mobil dan masuk ke rumah itu menyusul Cilia.
Arumi mencoba menunggu, didalam mobil, tapi hatinya gemas karena rasa keinginan tahuannya Arumi pada Niko di dalam rumah itu tidak terlihat olehnya, kemudian dia memajukan mobilnya pelan, bahkan sangat pelan saat melewati depan rumah Cilia, matanya beredar mencuri pandang keberadaan suaminya didalam, sepi.... itulah pertama yang Arum lihat dari rumah itu.
Namun saat Arumi telah melewati mobil Niko yang terpakir, dia melihat suaminya itu disamping rumah sedang berbincang dengan seorang ibu yang duduk di kursi roda sesaat kemudian Cilia datang membawakan minum dan bergelayut di tangan Niko, seketika hati Arumi pun panas.
Akhirnya dia memutuskan untuk melajukan mobilnya beberapa meter dari situ terdapat belokan, dia menyembunyikan mobilnya disitu agar saat Niko keluar tidak melihatnya.
Perlahan Arumi turun dari mobil dan mencoba mengintai pembicaraan mereka dari balik pagar rumah Cilia.
Sesekali obrolan mereka terdengar jelas ditelinga Arumi.
" Ci..... jangan menyerah, ada aku yang akan selalu mendukung dan menyemangati mu".
" Terima kasih, kamu memang is the best Ko, sayang kita tak berjodoh seandainya iya... aku lah orang yang paling bahagia di dunia ini".
" Sudahlah... pikirkan kesehatanmu dulu".
" O ya... soal tadi omongan ibu, jangan dipikirkan ya.... nanti Cici yang akan menjelaskan pada ibu".
" Hmmm..... ibu mu benar Ci, memang jika aku sering datang antar jemput kamu pasti akan jadi omongan tetangga, tapi maksudku baik Ci.... tidak maksud ingin membuatmu jadi omongan tetangga,... lain kali hubungi Aku jika kamu sudah di rumah sakit kita ketemu disana saja".
" Ko.... aku kasihan Arumi, apa iya kita akan seperti ini terus, kalau dia tahu kebenarannya pasti dia akan kecewa Ko...".
" Aku tahu, dia pasti sangat kecewa kalau sampai tahu, tapi....... percaya Ci, aku tidak bisa memilih diantara kalian, sekalipun ada buah hatiku dikandungan Arumi tapi.... , sudahlah, jangan di bahas dulu.... lekaslah sembuh dan kita pikirkan selanjutnya...". Niko menarik nafas berat.... matanya menatap Cilia lekat lekat kemudian cup sebuah kecupan mendarat di kening Cilia.
__ADS_1
Arumi hanya nanar tak ada lagi tenaga untuk beranjak pergi, untuk sesaat matanya menjadi gelap, dengan cepat dia berpegangan tembok disampingnya, perlahan dia mengatur nafasnya.... setelah sedikit teratur dia kembali membuka matanya terdengar Niko pamit, dengan cepat kilat dia berlari ke mobilnya, setelah didalam mobil Arumi mengatur nafasnya. Air matanya terjun bebas tak ber penghalang.
Dia mendengar suara mobil Niko meninggalkan rumah Cilia. Tapi karena hatinya masih kacau dia memilih menangis didalam mobil hingga beberapa saat.
Arumi membelai perutnya yang sudah terlihat buncit, kemudian dia melajukan mobilnya pelan meninggalkan tempat itu, sebelum pergi dia sempat melirik rumah Cilia.
Sepanjang perjalanan air matanya tiada henti. Dadanya sesak, kemudian dia membelokkan mobilnya di sebuah rumah makan disana dia memesan beberapa menu makan, mulai dari Stiek daging, pancake kacang merah, cap cay seafood, kepiting asam manis dan es soda buah segar sebagai minumannya, tidak peduli apakah makanan itu muat atau tidak diperutnya, atau butuh waktu sedikit lebih lama duduk disitu untuk menghabiskan makanan itu Arum tidak peduli.
Satu satu menu pesanannya dia santap, bahkan ada dering telpon entah sudah yang ke berapa kali bunyi dia abaikan sampai ponsel itu mati dengan sendirinya karena baterai low.
Hampir tiga jam Arum di restoran sampai waktu menunjukan pukul 9 malam dia masih belum berniat berdiri dari tempat duduknya.
Sampai sebuah suara datang mendekatinya dan menyapanya.
" Assalamualaikum.... boleh saya ikut duduk disini mbak?", sapa pemilik suara itu.
" Waalaikum salam, silahkan saya juga sudah mau pulang kok", jawab Arumi lalu meraih tas dan mengeluarkan dompet dari dalam sana.
" Sebentar mbak, boleh saya tanya sebentar saja, maaf apakah mbak ini istrinya Niko, maaf kalau saya pangling soalnya baru sekali saya melihat saat resepsi kalian waktu itu".
" Owh.... iya, mas ini siapa nya mas Niko? maaf kalau saya tidak mengenali anda!".
" Saya temannya mbak, kenalkan nama saya Anton, saya teman Niko dari SMP hingga kuliah selalu satu sekolah".
" Oow begitu, panggil saya Arumi mas, tapi saya sudah sangat lama berada disini jadi sudah ingin pulang saat ini, maaf".
" Sebentar.... boleh saya minta nomer ponselnya? maaf bukan maksud saya lancang atau apa, tapi saya hanya ingin memberikan nomer ponsel mbak Arumi pada istri saya supaya mba Arumi bisa curhat mengenai kehamilan, saya lihat kandungan mbak sudah lumayan terlihat, berapa bulan sekarang?", nada Sopan dan halus Anton tidak bisa Arum elakan akhirnya obrolan itupun berlanjut.
"Sudah menuju 6 bulan mas".
" Kenapa kok mbak Arum ada di sini sendiri sampai malam begini?". Arumi hanya menunduk saat pertanyaan itu keluar dari mulut Anton, rasanya tidak ingin dia menjawab apalagi pada orang yang baru saja di kenalnya.
" Hmmm..... saya tadi pulang kuliah terus lapar mas, maklum lah bumil bawaannya lapar terus", senyum Arumi mengembang berharap memberi jawaban memuaskan untuk Anton.
-
-
__ADS_1
-
Lanjuuttt....