
Seminggu berlalu setelah kelulusan sekolah, Aira masih dengan usaha kosmetiknya dan di bantu oleh Selly sebelum Selly mulai bekerja di tempat lain. Sedang kan Citra, sibuk dengan persiapan untuk menjadi calon mahasiswi universitas.
Meski pun jarak memisah kan, tapi masih bisa saling memberi kabar lewat chat di grup atau video call grup yang berisi Kirana, Selly dan Citra.
"Kiran yang ini untuk di kirim hari ini kan?" tanya Selly.
"Iya, yang kamu pegang itu untuk di kirim lewat ekspedisi yang sebelah sana semua COD. Tinggal di chat orang yang pesan terus janjian dimana," jawab Kirana.
"Nanti kita kirim bareng-bareng aja, kamu yang bawa motor aku yang ke sana kemari. Kaya biasa aja, kita kerja bareng dan sukses bareng," sambung Kirana.
"Tapi Kiran, nanti kalau aku ada panggilan kerja gimana. Siapa yang nemenin kamu antar paket kaya gini," ucap Selly.
"Kalau kamu ada panggilan kerja ya ga apa-apa, kan itu yang kamu harap kan. Bisa bekerja di tempat yang memang kamu harap kan dan mendapat gaji tiap bulan, kalau kamu tetap bersama ku yang hanya bisa bayar kamu semampu. Kapan kamu bisa membahagia kan orang tua mu," ucap Kirana.
"Terima kasih ya Kiran, kamu sudah mengeri aku. Kamu memang sahabat terbaik ku," ucap Selly memeluk erat tubuh Kirana.
"Iya sama-sam, kita kan udah sahabatan dari kecil. Jadi aku mengerti apa pun yang kamu mau," ucap Kirana.
"Kita pergi sekarang, biar bisa cepat selesai dan cepat dapat uangnya," sambung Kirana.
Kirana membawa sekantong besar pesanan untuk di kirim lewat ekspedisi dan sekantong besar pesanan dengan metode bayar di tempat atau COD (cash on delivery).
Kirana dan Selly mengirim pesanan lewat ekspedisi terlebih dahulu agar lebih hemat tempat saat di perjalanan, lalu satu persatu pesanan di antar ke tempat yang sudah di janji kan.
Saat sedang menunggu pelanggan terakhir, secara kebetulan Kirana bertemu dengan Iqbal yang sedang mengantar ibunya di sebuah toko pakaian.
"Hai Kiran," sapa Iqbal.
"Eh iya hai, Iqbal," ucap Kirana.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Iqbal.
"Aku lagi nunggu orang," jawab Kirana, tak lama orang yang di tunggu pun datang untuk mengambil pesanannya.
"Mba Kirana ya, saya Dewi mba yang pesan kosmetik dari mba Kirana," ucap Dewi memasti kan.
__ADS_1
"Oh, iya mba ini barangnya. Di cek dulu barangnya mba, takut ada lecet atau kurang," ucap Kirana.
"Iya sudah benar mba, ini uangnya. Lain kali aku pasti pesan lagi," ucap Dewi memberi kan sejumlah uang pada Kirana.
"Terima kasih ya mba untuk kepercayaannya membeli kosmetiknya di toko online saya dan percaya pada prodak kami," ucap Aira menerima sejumlah uang dari pembeli.
"Di tunggu orderannya lagi ya kak," ucap Selly.
"Iya mba, saya permisi pamit pergi ada urusan lain," ucap Dewi pamit pergi dari Aira dan Selly.
"Itu udah yang terakhir Kiran, kita pulang yu," ucap Selly.
"Iya ayo, eh tapi nanti kita berhenti di tempat bakso langganan kita ya. Aku udan laper banget," ucap Kirana.
"Oke, siap bos," ucap Selly menghidup kan mesin motornya dan segera melaju kan motornya menuju jalan pulang.
Kirana dan Selly berhenti di sebuah warung bakso untuk menikmati semangkuk bakso untuk sekedar mengisi perut.
"Kiran," panggil Iqbal saat Kirana hendak naik ke atas motor.
"Iya ada apa?" tanya Kirana.
Kirana hanya mengerut kan dahinya lalu menatap wajah Selly seakan memberi kode pada Selly.
"Siapa Kiran?" tanya Selly pelan.
"Aku juga ga tau, kita tunggu aja. Mungkin pacar barunya, aku pun penasaran," ucap Kirana.
Tak lama Iqbal pun datang bersama ibunya yang terlihat masih muda berusia sekitar 43 tahun untuk di kenal kan pada Kirana.
"Kiran kenalin ini mama aku, mama ini Kiran pacar aku dan ini teman Kiran ma," ucap Iqbal dengan percaya diri.
"Kirana, tante. Maaf tante mungkin Iqbal salah, bukan pacar tapi mantan pacar," ucap Kirana mencium punggung tangan mama Rita dan menjelas kan agar tidak ada salah paham.
"Aku Selly tante, temannya Kirana," ucap Selly mencium punggung tangan mama Rita.
__ADS_1
"Oh, cantik. Kalau boleh tau Kirana sama Selly lagi apa di sini," tanya mama Rita.
"Kita udah mau pulang tante, tadi udah ketemu orang di sini," jawab Kirana.
"Kita pamit dulu tante, masih ada urusan lain. Permisi tante, duluan," ucap Kirana langsung naik ke atas motor dan meminta Selly untuk melaju kan motornya.
"Calon mertua kok di anggurin sih, bukannya di baikin biar dapat restu," ucap Selly meledek Kirana.
"Apaan sih kamu ini, sebenarnya sih aku takut untuk jatuh cinta lagi Sell. Aku takut patah hati," ucap Kirana.
"Yakin aja dulu, yakin sama orang yang kamu pilih kalau dia ga akan nyakitin kamu," ucap Selly.
"Justru itu aku ga yakin sama diri ku sendiri, aku terlalu takut hal yang sama yang menimpa ibu ku akan terulang oleh ku. Di tinggal di saat aku memang lagi butuh dia di samping ku," ucap Kirana.
Motor yang di kemudi kan oleh Selly pun berhenti dan sudah terparkir dengan rapih.
"Kita udah sampai, kamu ga mau turun," ucap Selly.
"Eh, udah sampai aja," ucap Kirana turun dan membuka helmnya.
"Terkesima sama calon mertua tuh jadi gagal fokus, hehehe," ucap Selly menyindir Kirana.
"Apaan sih, ga juga ah. Ayo masuk, aku udah laper," ucap Kirana lalu masuk dengan mengandeng tangan Selly.
"Pak bakso campur 2 ya pak sama es campurnya 2," ucap Kirana langsung memesan bakso lalu duduk di tempat yang sudah di sedia kan.
Bakso yang di pesan pun sudah selesai di buat dan pindah ke meja, siap untuk di santap.
"Oh iya, hari ini ga ada kabar dari Citra ya?" tanya Kirana sambil melahap baksonya.
"Mungkin dia lagi sibuk, katanya dia masih masa ospek jadi cuma bisa buka ponsel kalau udah di rumah aja," ucap Selly.
"Ya udah ga apa-apa, yang penting kita tau dia sehat dan baik-baik aja," ucap Kirana.
Setelah selesai menghabis kan baksonya, Kirana mengajak Selly untuk pulang dan membayar bakso terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tabungan ku udah cukup untuk sewa kios, nanti aku coba obrolin dulu lah sama paman Arif dan bibi Lia," batin Kirana saat mengecek tabungannya lewat ponselnya.
Kirana dan Selly melanjut kan perjalanan menuju rumah Kirana yang jaraknya tak jauh dari tempatnya makan bakso.