CINTA TAK BERJODOH

CINTA TAK BERJODOH
Tangis Niko untuk cinta pertamanya


__ADS_3

Arumi terlihat gelisah karena seminggu lagi adalah hari perkiraan lahir dan dia sudah tidak bisa tidur nyenyak, cepet keringetan dan udara terasa panas terus, kadang kadang tidurnya bermimpi tentang melahirkan. Kakinya gampang kram dan posisi apapun kalau tidur terasa serba salah.


Dilihat jam dinding masih jam 03:15 akhirnya Arumi memutuskan untuk ambil wudhu saja dan menghadap sang Khaliq diwaktu menjelang subuh.


Mandi pada akhirnya Arumi karena rasa gerah baru kemudian melaksanakan niatnya. Sampai subuh, akhirnya membangunkan Niko dan sholat berjamaah.


Dreeetttt dreettt dreetttt


Suara ponsel Niko menghenyakkan ketika mereka tengah membaca beberapa lantunan Ayat sebelum melanjutkan aktifitas pagi.


" Angkat mas, siapa tau penting subuh subuh begini menelpon!". Niko beranjak untuk mengangkat telponnya.


" Assalamualaikum".


"........"


" Innalillahi wainaillsihi rojiun..., Kapan?".


"........"


" Oke, Terimakasih, nanti gue ke sana".


"..........".


" Waalaikum salam".


" Ada apa mas?".


" Cilia sayang....", Suara Niko tercekat di tenggorokan. Arumi langsung menghambur kepelukan Niko.


" Ya Alloh.... Innalillahi wa innaillaihi roji'un", lirih Arumi di dada Niko. Niko akhirnya terduduk di lantai, diam tak bersuara matanya terpejam.


Arumi mengusap dada suaminya, seperti memberi kekuatan untuk bersabar, tak ada suara diantara mereka hanya diam sampai kemudian Niko memeluk Arumi dan menciumi pucuk kepala istrinya itu.


" Mas mandi dulu.... setelah itu mas mau ke toko baru setelah itu ke sana, mungkin nanti jam 8 atau jam 9, kamu mau ikut?".


" Boleh?".

__ADS_1


" Tapi kalau cape atau terasa ga nyaman jangan di paksain.... ga boleh cape, bentar lagi butuh tenaga banyak untuk dia", Niko mengusap perut Arumi tang sudah terlihat buncit membulat sempurna.


" Ga kok mas, Arumi masih bisa, sekalian biar banyak gerak biar lancar lahirannya".


" Ya sudah.... boleh kalau begitu, siap siap aja dulu, kita bareng pak Ngat aja nanti kalau ada apa apa biar ada yang membawa mobilnya".


" Oke". Arumi bergegas menuju dapur untuk membantu bibi menyiapkan sarapan.


Setelah siap semua berada di meja makan untuk sarapan. Sesaat sebelum Niko berangkat Arumi memberi tahu kepada mama dan Papa kalau Cilia telah tiada tadi subuh.


" Pa... Ma, nanti Arumi mau ikut mas Niko ta'ziah".


" Innalillahi..... siapa yang meninggal?", sahut Papa mama serrntak.


" Mbak Cilia Ma". Niko cuma diam dan menunduk.


" Owh.... ikut bela sungkawa tapi Papa Mama tidak ikut sayang, kamu hati hati perut udah gede gitu mau ikut?". mama Erina kawatir.


" Gapapa ma, masih kuat kok... lagian nanti kalau ada apa apa, semua perlengkapan bayi sudah disiapkan di mobil ".


" Iya nih... dia maksa mau ikut saja!". Arumi manyun karena Niko melihatnya sinis kearahnya.


Sesampainya di toko Niko langsung menuju ruangan kerjanya, kemudian pintunya dia kunci. Ingin melepaskan rasa sedihnya untuk terakhir kalinya.


Bohong jika Niko tidak sedih, wanita itu telah mengisi hatinya lebih dari 10 tahun dengan segala cerita dan sakit hati yang di berikan untuk Niko.


" Ci..... selamat jalan, semoga segala dosa mu dimaafkan", rintih nya lirih saat memandangi gambar Cilia tersenyum manis di ponselnya yang tidak dia halus.


" Maaf jika pertemuan terakhir kemarin aku tidak memberi kesan indah buatmu, semoga kamu bisa memaafkan ku", sesak di dada seperti terhimpit.


" Aku sudah berusaha untuk kesehatan mu, tapi ternyata Tuhan lebih sayang kamu, Dia memilihmu untuk kembali".


Dretttt dreettt drettt...


Ponsel Niko berdering sampai terkaget karena dia masih sibuk memandangi foto Cilia disana, dengan cepat Niko mengambil tisu dan menyeka air matanya juga mengeluarkan ingusnya sebelum menjawab telpon agar suaranya normal tidak sengau.


" Assalamualaikum Nik.... lo dimana?", rupanya Anton yang menelpon.

__ADS_1


" Gue di toko, nanti gue ke sana, bentar lagi, mau dimakamin jam berapa?".


" Owh lo sudah di toko, katanya sih jam 9, gue sudah di rumah duka, ada beberapa teman yang sudah datang juga".


" Oke, gue selesain beberApa kerjaan dulu".


" Oke, sabar ya, pasti lo sedang menangis di kantor bukannya kerja... ".


" Sok tau lo".


" Bukan sok tau tapi gue sangat hafal sama lo, mungkin kamu memang tidak ada cinta sebesar dulu dengan Cilia tapi cintamu masih ada walaupun itu hanya sedikit sekarang!".


" Gue harus memilih, dan gue memilih istri gue, jujur.... gue ga bisa tidur kalau ga ada istri gue bukan cuma itu, gue juga ga enak makan, istri gue seperti nyawa bagi gue.... sementara Cilia hanya menjadi bunga mimpiku, dan penghantar tidurnya istri gue... gimana dong!".


" Ya itulah mungkin jodoh Nik... tidak harus Cinta tapi saling melengkapi, saling membutuhkan.... sementara Cinta yang berlebihan mungkin tidak dipersatukan, karena bisa jadi akan banyak perselisihan".


" Iya mungkin brow... betewe... lo kok tahu kalau Cilia ga ada sepagi itu tadi?",


" Sebenarnya Cilia sudah drop dari dua hari lalu, dia tiba tiba pingsan di rumahnya, kata dokter sel nya sudah menyebar jadi kemo kemarin tidak bisa menuntaskan karena sudah banyak cairan di paru parunya dan entahlah.... kata dokter sih jenis cancer yang diderita Cilia memang yang ganas dengan cepat menyebar.... jangan ditangisi berlebihan... ini yang terbaik untuk semuanya, tok kamu juga sudah membantu, Cilia tau itu... dia pasti tenang karena pergi membawa Cinta mu yang tulus untuknya.... lanjutkan hidup mu tanpa bayangan dia, bahagiakan Arumi dan anak anak mu... ambil hikmah dari rasa cinta mu, belajarlah dari istri mu, dia orang yang penuh ketulusan dan ke ikhlasan.... ", Nasehat Anton membuat hati Niko terenyuh, semua yang sahabatnya bilang adalah benar.


" Ton... gue jadi malu... kenapa lo yang belum mengenal Arumi lebih tau sifat dia dibanding gue suaminya", serak suara Niko karena sedih merasa dirinya hanya memikirkan cinta lamanya dan tidak mengenali hati istrinya sampai orang lain yang mengingatkan.


" Gue tahu, istri lo itu, pilihan Tuhan... jodoh yang dikirim melalui perjodohan, yang tidak pernah kamu temukan sendiri... karena apa? karena hati lo tertutup sama Cinta pertama lo yang lebay... paham lo", Anton menekan di kata Paham agar Niko bisa menggaris bawahi maksud omongannya.


" Gue paham... gue menyesal kalau mengingat itu semua tapi.... mencintai Cilia juga bukan penyesalan bagi gue... bagaimanapun ada banyak hikmahnya".


" Syukur kalau lo paham... ya sudah hapus ingus lo... jangan sampai ketahuan Istri lo ya... dia pasti sedih melihat lo cengeng".


" Makanya gue ngumpet di toko dulu, bisa gawat kalau gue mewek di rumah".


" hahaaa..... "


-


-


-

__ADS_1


SALAM DARI CILIA BUAT READER .... MOHON MAAF LAHIR BATHIN.... MOHON DOANYA SUPAYA MASUK SURGA🙏🙏🙏


LANJUT.....


__ADS_2