
Sepanjang perjalan pulang Arumi hanya diam tidak menanggapi celotehan Fahrizal yang sedari tadi ngoceh mengganggu Arumi.
Akhirnya Fahrizal menyadari kalau adik cantiknya itu sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
" Kenapa, kok manyun terus?".
" Hmmm... tidak, Arum lagi tidak berselera nanggepin ocehan kakak saja hehee...".
" Oo gitu ya! tumben, ada masalah di kampus?".
" Tidak! semua baik baik saja".
" Terus?".
" Terus... ya, ya ada, cuma lagi pingin diem saja", mata Arum sudah berkaca kaca.
" Lha kalau semua baik baik saja kenapa nangis?".
" Lagi pingin nangis ..... dikit heeheee". Arumi mencoba mengusap air matanya dengan tisu.
" Kenapa? Ayo bilang!". tangan Fahrizal meraih jemari Arum untuk di genggam menguatkan hatinya.
" Kangen.... hikhikhik...".
" Sabar ya..... kakak tau perasaanmu saat ini, saat sedang mengandung, tapi semoga ini tidak akan lama suami tua mu bisa memberi keputusan yang terbaik, dan tidak membuatmu kecewa lagi!".
" Kakak.... dia belum tua".
" Dibanding kakak ya tua dia , banget.... beda
6 tahun .... apa lagi sama Adik cantikku ini".
" Ya tapi jangan disebut tua juga kak, dia belum 30, masih kurang.... kurang dikit.... heee".
" Tapi kok ya masih aneh pikirannya, masih plin plan.... payah!".
" Sudah ach, nanti telinga dia panas kalau kita omongin terus".
" Ya makanya jangan ditangisi".
" Iya, udah nggak kok!".
" Gitu dong!".
" Kak kita mampir beli bahan kue ya, Arum mau buat bolu ketan hitam".
" Oke!".
Setelah selesai membeli bahan bahan kue, mobil Fahrizal pun melaju lagi menuju rumah orang tuanya yang asri.
__ADS_1
Ya, Arumi memang sengaja tinggal di rumah budhenya sementara waktu, biar tidak ketemu Niko, karena Niko tidak pernah tahu rumah itu, semenjak menikah Arumi memang belum pernah mengajaknya ke sana.
******
Setelah mendengar suara Arumi di sebrang telpon sana hati Niko sedikit tenang.
Paling tidak sekarang dia merasa lapar setelah berhari hari dia makan hanya tanpa rasa sekedar mengisi perut saja.
Tidurpun tak pernah se nyenyak jika berada di samping Arumi, bahkan sering berpindah tempat dari tempat tidurnya, sofa bahkan sampai di kamar tidur tamu demi sekedar mengistirahatkan mata dan tubuhnya untuk beberapa jam setiap harinya.
Sampai pada hari ini hampir satu bulan tanpa Arumi disampingnya, badannya bertambah kurus dan rambutnya juga tambah panjang tak beraturan, bahkan dia sampai lupa untuk mengurus dirinya, di pikirannya hanya ingin bertemu dengan Arumi secepatnya.
Saat ini hari Jum'at seperti biasa Niko menjalankan kewajibannya di sebuah Masjid dengan khusyu' mendengarkan tentang khutbah Jum'at, Khotib menerangkan tentang kebahagian rumah tangga ala Nabi
" Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang shalihah.”
Deg
Saat Khotib menyampaikan kata kata itu Niko terbayang akan istrinya, betapa Shalih istrinya, Arum sering tersenyum saat menyambutnya pulang, bertutur lembut, manja, menurut bahkan Arum rajin ibadah, lantas apa yang kurang kenapa dirinya tidak pernah membalas dengan kasih sayang serta hal hal yang membuat istrinya merasa bahagia.
Sekedar menghantarkan periksa kandungan itu baru sekali atau mengajak jalan jalan, liburan itu tidak pernah sekalipun Niko lakukan.
Semakin sedih saat memikirkan itu, Dia tertunduk menahan pedih, lara hatinya teringat betapa dirinya telah mengabaikan Arumi, istri kecilnya.
Sore menjelang, namun Niko masih belum beranjak dari ruang kerjanya, padahal kerja di mini market ini tidaklah begitu sibuk seperti saat dia masih memegang di perusahaan Papanya.
Menjelang malam akhirnya dia sampai dihalaman parkir rumah kedua orang tuanya.
Brug
Niko ambruk jatuh pingsan tak sadarkan diri, tubuhnya limbung. Mama yang saat itu sedang di dapur membuat teh untuk Papa Windra langsung menjerit melihat putra kesayangannya jatuh pingsan.
" Nikooo..... Pa.... Niko pa!".
Semua berlari mengarah ke sumber suara, disana ada Niko yang sudah tergelatak.
" Panggil pak Ngat Bi!". seru Papa.
Mama langsung berlari mencari kotak P3k mencari minyak angin, dan segera mengoleskan ke hidung, tengkuk dan juga dada Niko.
" Badannya panas banget Pa". Ujar mama ketika Niko sudah di baringkan di sofa oleh Papa dan Pak Ngat, kemudian Mama baluri dengan minyak angin.
" Kita bawa ke dokter saja langsung Ma, pak Ngat tolong siapkan mobil!". teriak Papa.
" Bi.... tolong ambilkan kaos di kamar mas!". teriak Mama Erina seraya melepas baju kerja Niko, Bibi langsung menuju ke kamar bos mudanya itu.
" Niko... Ayolah sadar Nak! Bangun... Niko!", panggil Mama dengan penuh cemas sambil mengganti baju Niko setelah bibi memberikan kaos ganti pada Mama Erina.
" Belum bangun juga Ma? sini biar Papa sama Pak Ngat yang angkat!", Mama menggeser posisinya kemudian menyaut Tas dari dalam kamar dan berlalu mengikuti Papa Win masuk Mobil.
__ADS_1
" Chikita...... kamu di rumah dulu nak sama Bibi... jaga Chiki bi, kami berangkat dulu doain mas gapapa".
" Iya Ma".
" Iya Nyonya, lekas sehat buat Mas Niko".
Mobil bergerak meninggal rumah, pak Ngat yang memegang kemudi sementara Papa di sebelahnya dan Mama di kursi penumpang memangku kepala Niko, sambil terus mengoleskan minyak angin.
" Huk huk huk.... ", Niko tersadar terbatuk batuk dan mengerjab ngerjabkan matanya.
" Alhamdulillah.... kamu sudah sadar Nak!".
" Mau kemana ini Ma?".
" Kita mau ke rumah sakit!". jawab Papa.
" Niko gapapa, cuma sedikit lemes Pa, mungkin istirahat juga cukup".
" Mungkin! biar pasti kita periksa dulu kondisimu baru sesudah itu istirahat", omel Mama.
Semua terdiam saat mobil masuk l
kepelataran parkir sebuah rumah sakit, kemudian papa turun dan membantu Niko untuk keluar dari mobil.
" Pakai sendal nya Nik... pegangan Papa". teriak Mama setelah Niko keluar mobil di bantu papa dan pak Ngat, Mama mengikuti dari belakang.
Setelah masuk ruang IGD, Niko langsung mendapat penanganan masuk ke ruangan dan di periksa.
" Suhu badan mas Niko tinggi, ada terkena Typus mungkin terlalu banyak pikiran dan juga makan tidak teratur, sebaiknya Anda di rawat untuk beberapa hari supaya lekas membaik mas", Terang Dokter Ryan setelah memeriksa kondisi Niko.
" Baik Dok saya akan urus administrasinya!", ucap Papa meninggalkan ruang pemeriksaan.
" Kok bisa Mas, mungkin Anda kurang istirahat dan juga makan tidak teratur?", tanya Dokter Ryan lagi, Niko hanya tersenyum tipis.
" Bisa jadi Dok!".
" Lekas sembuh, saya permisi dulu, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat inap".
" Mari Bu, saya permisi dulu", pamit Dokter Ryan pada Mama.
" Mari Dok, terima kasih!".
Tak lama Papa Windra datang beberapa orang perawat yang akan mengantar Niko ke ruang inap.
-
-
-
__ADS_1
LAMBAT LAGI..... MAAF🙏🙏🙏
LANJUTTT....