
Pagi pagi sekali Arumi sudah rapi karena hari ini ada kuliah pagi.
Dia memesan ojek online untuk mengantarkan sampai kampus, sementara Fahrizal sudah di kasih kabar untuk tidak menjemput pagi ini karena sudah tidak keburu waktunya jika menunggu dia menjemput.
" Yah.... Bunda.... Nanti Arum langsung pulang ke rumah Mama ya!".
" Iya, semoga kali ini suamimu benar benar tau harus dimana dia meletakkan hatinya", bisik ibu lirih.
" Hmmm..... sebenarnya Arum masih ingin sekali lagi menguji mas Niko bu, tapi nanti jika mbak Cilia sudah pulang dari berobat, Arum ingin meyakinkan hati mas Niko sebenarnya untuk siapa".
" Lho.... kok, nanti kalau dia meninggalkan mu gimana?". Bu Ida terkaget dengan pernyataan Arumi.
" Arumi yakin mas Niko cinta sama Arum tapi Arum harus bukltiin sekali lagi buk!".
" Semoga keyakinan mu dan ketulusan mu kelak menjadi kebahagian mu selamanya Rum, ibu dan Ayah selalu berdoa untuk itu".
" Iya bu Aamiin".
" Arum berangkat ya, baju dan buku Arum sudah di koper nanti kalau pak Ngat kesini tolong ya bu... Assalamualaikum... ".
" Waalaikum salam iya, hati hati". Bunda dan Ayah memandang putrinya naik kedalam mobil taksi online sampai tak terlihat.
" Dia begitu tulus pada Suami dan keluarganya, bahagia terus untuk mu Nak", guman Ayah.
*****
Hari ini Cilia telah menyelesaikan kemoterapi nya yang ke dua, rambutnya makin rontok dan badannya juga makin kurus dan pucat, namun semangatnya luar biasa, mantan suaminya selalu mengurus dengan telaten setiap habis kemo karena pasti Cilia akan sangat drop.
" Terima kasih bang".
" Sudahlah, nikmati saja mumpung Abang masih sehat dan punya waktu mengurus mu!".
" Bagaimana Juna hari ini? Cilia kangen!".
" Dia sehat, nanti kalau Kemo kamu sudah selesai pasti Abang bawa ke sini untuk bertemu dengan mu".
" Iya Bang.... Cilia nitip ya Bang kalau pada akhirnya aku nyerah".
" Heee.... ngomong apa kamu, jangan menyerah tidak boleh! hiduplah lebih lama dari kami yang sehat, tunjukkan pada dunia kalau Cilia orang yang kuat!".
" Kau ini Bang, pandai sekali menghiburku!".
" Cil.... walaupun kita tidak hidup bersama tapi Juna suatu hari nanti pasti akan membutuhkanmu".
__ADS_1
" Cilia tau Bang, makanya sampai disini aku masih berjuang tapi aku juga tidak tahu dibatas mana aku akan berhenti karena waktu yang meminta, kita tidak pernah tau".
" Semoga Tuhan beri kamu waktu yang panjang untuk kembali melanjutkan hidup". Belaian lembut Tigor seakan memberi kekuatan bagi Cilia yang kini benar benar merasa sendiri.
Waktu hampir sore dan Cilia kembali di pemondokannya sementara Tigor kembali ke kantornya. Hanya satu dipikiran Tigor bahwa semua yang di lakukan untuk Cilia saat ini bukan lagi Cinta hanya wujud perhatian sebagai ibu dari putranya Arjuna tidak lebih walaupun yang dilakukan sangat tulus tapi tidak akan mengubah pikiran Tigor.
*****
Selesai jam kuliah karena di rasa masih siang baru jam 1:00, Arumi menelpon pak Ngat menanyakan Niko apakah sudah pulang atau belum?
Ternyata pak Ngat bilang bahwa dia sedang bersiap untuk menjemput Niko, karena Niko baru boleh pulang setelah diperiksa oleh dokter yang menanganinya kemarin dan itu Dokter baru datang di rumah sakit jam 1:00 makanya Niko harus menunggu dulu.
Setelah mendengar keterangan pak Ngat Arumi langsung memesan tsksi untuk ke rumah sakit menjemput Niko.
Hampir jam 1:40 Arumi sampai di rumah sakit karena tadi menunggu taksinya lama.
Perlahan Arumi menuju ruangan Niko, saat sampai di depan pintu kamar rawat Niko, pintu terbuka dan terdengar beberapa suara orang tengah berbincang dan sesekali tertawa, Niko pun ikut tertawa dan ada suara perempuan juga diam diam Arumi mengintip dari sebrang pintu dan bersandar ditembok seperti orang yang sedang menunggu seseorang jadi tidak terlihat mengintip.
" Pak Niko meskipun sakit tetap terlihat ganteng", Suara wanita terdengar nyaring ditelinga Arumi dan Arumi melihat 3 orang pria lainnya ikut tertawa.
" Waahhh..... kamu mah Yan, muji bos biar dapat keringanan kerja ya!", sahut lelaki yang tinggi dan masih terlihat muda.
" Bukan gitu, tapi memang begitu, pak Niko itu cakep, .... Yani mau lho pak untuk jadi...".
" Permisi..... ", ucap dokter dan juga suster masuk ke ruangan Niko kemudian memeriksa dan memperbolehkan pulang Niko .
Sementara Arumi kemudian masuk setelah dokter itu keluar.
" Assalamualaikum", sapa Arumi membuat Niko langsung merekah kan bibirnya.
" Waalaikum salam.... Sayang, kok sudah pulang, kesini naik apa? ", Niko langsung merentangkan tangannya lebar dan memeluk erat Arumi, menciumi pipi, mata dan keningnya.
" Kenalkan Ini istriku, Arumi", Niko tersenyum bangga pada keempat anak buahnya yang datang menjenguk.
" Ridwan",
" Deni",
" Agus",
" Yani", saat Arumi bersalaman dengan Yani ini terasa gadis itu tidak suka bahkan terasa memegang keras pada tangan Arumi, Arumi hanya senyum sekaligus sedikit meringis karena remasan di jemarinya terlalu kuat dari Yani.
" Terima kasih kalian sudah menyempatkan waktu menjenguk suami saya".
__ADS_1
" Sama sama Bu, ini hanya bentuk perhatian kecil dari kami supaya bapak lekas sehat". Kali ini Deni yang menjawab dengan sopan.
" Pak kami semua permisi dulu, semoga lekas sehat dan bisa kerja kembali", pamit Agus mewakili semua, kemudian satu menyalami Niko dan juga Arumi, terlihat Yani dengan centilnya mengajak cipika cipiki Niko, dengan sopan Niko menghindar.a
" Oke, Terima kasih, kebetulan saya juga sudah boleh pulang, kita juga akan bersiap sebentar lagi", ucap Niko selepas mereka salaman dan meninggalkan ruangannya.
" Hmmm.... rupanya di toko mas punya hiburan yang menyenangkan ya!", Arumi merapikan semua barang Niko dan kedalam koper dan mengeceknya kembali.
" Hiburan apanya, yang ada mas mual iya!".
" Kok Arum ga yakin kalau mas mual ya, karena yang Arum lihat tadi mas suka banget saat mendapat cipika cipiki", ledek Arumi dengan wajah dingin.
" Jadi istriku ini cemburu?".
" Jangan mengalihkan pembicaraan!".
" Yank.... mas hanya menghargai dia sebagai karyawan, kalau dia tadi kelewatan berani cipika cipiki itu bakalan mas pecat langsung, makanya mas menolak karena mas masih menghargai dia sebagai karyawan.
" Yank..... bagi mas, hidup mas sekarang hanya kamu dan calon baby kita, cukup mas menyakiti mu kemarin dan hari ini dan selanjutnya itu tidak akan pernah terjadi".
Arumi hanya diam tak menjawab karena di benaknya belum begitu yakin, Arum masih ingin sekali lagi meyakinkan hatinya.
" Mas, Nona.... mari...", Pak Ngat masuk dan membawa barang barang yang telah Arumi bereskan diikuti Arumi dan Niko yang berjalan dibelakangnya.
" Siapa yang beresin Adminnya mas?".
" Tadi saat jam makan siang Papa kesini".
-
-
-
KARYA INI MURNI HASIL PIKIRAN AUTHOR....
JIKA BANYAK KEKURANGAN SILAHKAN DI KRITIK ASAL JANGAN MENGHUJAT YA...
TIDAK PERLU LIKE JIKA TIDAK SUKA, CUKUP BACA DAN NIKMATI CERITANYA
LAKUKAN SESUATU KARENA IKHLAS, HASILNYA BIARKAN MENGALIR TANPA PAKSAANπππππ
LANJUTTT.....
__ADS_1