CINTA TAK BERJODOH

CINTA TAK BERJODOH
Mengantarmu di peristirahatan terakhir #1


__ADS_3

Jam 8:10 menit Niko kembali di rumah untuk membawa Arumi dan pak Ngat melayat ke rumah Cilia.


Pak Ngat yang membawa mobilnya sementara Niko dan Arumi duduk di kursi penumpang, Arumi sebenarnya tau begitu melihat Niko sekilas, apalagi Niko yang seperti malas memandang dirinya, pasti suaminya habis nangis, benak Arumi berkata demikian, tapi dia memaklumi.


Arumi kemudian menggenggam tangan Niko dengan pandangan mata lurus ke depan, tanpa menoleh pada Niko, Niko merasa tangannya di genggam Arumi Deg.... tahunya langsung membatin


" Shifffttt.... dia tau gue habis nangis, sial.... hmmm.... gimana ini, terserahlah... semoga saja dia ga marah.... maaf sayang .. maaf". gumam hati ini, ada rasa risih tapi apa boleh buat.


Tak butuh waktu lama untuk sampai rumah Cilia, para pelayat keluar masuk silih berganti, mulai dari teman sekolah, kuliah teman model bahkan sebagian artis dan pengusaha, mereka rata rata terkejut atas kematian Cilia yang dirasa begitu cepat, secara kabar sakitnya juga belum sampai terendus wartawan.


" Hati hati Yank... awas jangan turun sendiri", Niko dengan telaten membantu Arumi turun dari mobil, kemudian mencarikan tempat duduk yang teduh.


Setelah Arumi duduk sama pak Ngat, Niko kemudian masuk untuk mengucapkan bela sungkawa pada ibu dan juga kakak kakak Cilia.


" Ibu.... ikut bela sungkawa, semoga ibu sabar dan tabah ya!", Bisik Niko pada Wanita tua yang terduduk di kursi roda, nampak terlihat kesedihan yang mendalam di wajah senjanya itu.


" Nak Niko?.... Maafkan Cilia nak... terima kasih atas bantuannya selama ini, tapi Tuhan tidak mengijinkan dia sembuh, mungkin ini yang terbaik..", isak ibu itu tumpah... Dia menggenggam tangan Niko seakan menumpahkan kesedihannya.


Niko ikut merasakan kesedihan itu, tak urung matanya pun berkaca kaca, diusapnya tangan tua itu perlahan seakan memberi kekuatan.


" Dia itu kuat, dua hari lalu dia masih biasa, seperti mau sehat saja, tapi tiba tiba sesak nafas sampai tidak tertahan hingga dia pingsan dan tidak pernah sadar kembali, untung waktu itu sedang ada Nak Anton sama istrinya yang menjenguk".


Niko hanya manggut manggut mendengar cerita ibu Cilia.


Kemudian Niko duduk disisi jasad Cilia dan mendoakan.


setelah itu Niko beranjak keluar untuk ikut duduk bersama Arumi namun sebelum Niko duduk beberapa temannya menyalami dan bahkan ada yang mengucap bela sungkawa padanya.


" Bro sabar ya.... dia mendahului mu... cinta sampai mati". Beberapa teman Niko ada saja yang entahlah bergurau atau mereka memang mengerti kisah sebenarnya jadi berucap seperti itu.

__ADS_1


Arumi yang menyaksikan hal semacam itu didepannya hatinya sedikit kecewa tapi.... sudahlah ... masak iya kecewa sama orang yang sudah tiada, rasanya kejam juga... biarlah ... itu menjadi kisah antara Suaminya dan cinta masa lalunya, terbawa sampai liang lahat, mungkin seperti itu.


" Kenalin.... kenalin.... ini istri gue, dan sebentar lagi kami akan punya anak", Niko mendekat ke tempat Arumi duduk dan mengajak teman temannya untuk diperkenalkan pada istrinya.


" Arumi....", senyum lembut dan menawan Arumi tunjukkan untuk teman teman suaminya, memang tidak banyak karena Cilia dan Niko bukan satu angkatan tapi beberapa teman dekat Niko saat SMA dan kuliah pada datang karena mereka mengenal Cilia secara dekat.


" Sebentar lagi mau dibawa ke masjid, kita duluan saja menunggu disana sekalian ambil wudhu", Anton mengkomando beberapa teman dan juga sanak saudara yang berada di halaman tersebut untuk menuju masjid.


" Mas.... tunggu", Tangan Arumi menggapai tangan Niko untuk membantu berdiri dari duduknya.


" Yank.... tunggu saja disini saja",


" Enggak lah mas... Arumi kesini karena mau ikut mensholatkan jenazah mas... kalau cuma duduk kasihan mbak Cilia". uncap Arumi seraya melangkah pelan mengikuti Niko.


" Wah... mas Niko... ini istrinya? cantik banget... wah.... ga dapat Almarhumah dapat yang ini... impas... yang ini lebih cantik, kenalin dong! heheee...", entahlah teman mas Niko yang satu ini dari planet mana soalnya bicara nyablak dan blak blakan, rasanya jadi risih.


Arumi pun menjulurkan tangannya dan menyebut mana, biasa dengan senyum manisnya.


" Udah udah.... ga perlu salaman", tangkis Niko melepas pagutan tangan Arumi dan temannya ini.


" Diihhh.... posesif amat deh... heheee", Temannya meringis menampilkan giginya sambil memanggutkan kepalanya pada Arumi.


" Untung Nikahnya sama ini, selain cantik masih ABG, dapat daun muda ya mas... hehee... kalau sama Almarhumah ... mas hari ini jadi duda... heheee... maaf mas... saya permisi...", temannya tadi langsung kabur ketika melihat mata Niko yang sudah mau keluar dibarengi dengan rahangnya yang menegang, Arumi hanya senyum memandangi kepergian orang tersebut.


Setelah sampai masjid, Arumi dan Niko bergegas mengambil air wudhu dan bersiap masuk kedalaman menunggu jenazah datang dan berjamaah.


Sambil duduk menunggu Arumi membacakan surat Yasin untuk Cilia, kebetulan tadi di depan rumahnya ada tulisan nama lengkap beserta binti nya. Arumi pelan dan khusyu' membaca ada kesedihan untuk mantan kekasih suaminya itu, bagaimanapun Arumi pernah mengenalnya walau jalannya kurang mengenakkan dan bahkan dua minggu lalu habis bertemu, bertatap muka bahkan mengobrol.


" Maafkan Arum mbak.... tidak memberikan mu kesempatan untuk bersanding dengan mas Niko... semoga Alloh hapus segala dosa dan salahmu, dan mengangkat derajat mu dalam syurga-Nya", Lirih Arum setelah selesai membaca surat Yasin.

__ADS_1


Semua keluarga, sanak saudara, teman dan para pelayat sudah berkumpul untuk memulai sholat.


Sholat berlangsung dua kali karena masjid penuh, kemudian perlahan keranda diangkat menuju mobil ambulance, dan suara sirine berbunyi menandakan mobil sudah beranjak pergi menuju peristirahatan terakhir Cilia.


Hati Niko perih saat mobilnya mengiring pelan berjalan di belakang mengiringi Ambulance.


Tak ada kata dan suara di dalam mobil Niko, tapi Arumi terus komat kamit melafazdkan doa doa untuk Cilia.


Begitupun dengan Niko, dia bahkan beberapa kali mengangkat ke dua tangannya.


Hampir Setengah jam perjalanan akhirnya sampai di tempat pemakaman umum, mereka mengambil posisi parkir masing masing, dan beberapa orang langsung mengangkat keranda untuk di bawa menuju liang lahat.


Arumi tau betul suaminya sebenarnya menangis tapi entahlah kenapa seperti di tahan akhirnya Arumi menarik tangan Niko.


" Menangis lah dulu di dalam mobil, biar pak Ngat menunggu diluar", mendengar Arumi bicara seperti itu pak Ngat langsung membuka pintu mobil dan mencari tempat teduh untuk menunggu.


" Menangis lah disini jangan di liang lahatnya, kasihan mbak Cilia, dia butuh doa kira bukan air mata", Arumi mengusap lembut punggung Niko lembut yang membuat Niko sampai tergugu.


" Maaf sayang...",


" Arum maklum mas, menangislah, disini jangan di atas liang lahatnya, kasihan dia mas, kata orang tetesan air mata kita akan memberatkan jalannya, setelah itu kita baru ke sana ikutlah menguburkannya".Belaian lembut tangan Arumi menguatkan hati Niko.


-


-


-


SEDIIIIHHHHH..... AKHIRNYA CILIA PERGI... BUAT READER YANG MEMINTA CILIA AKHIRNYA MATI... SUDAH AUTHOR KABULKAN.... MINTA DOANYA YA... SEMOGA HUSNUL KOTIMAH😭😭😭

__ADS_1


AMBIL HIKMAHNYA YA... APA YANG KITA TANAM ITULAH YANG KITA TUAI, BAHKAN KETIKA KITA MENANAM PADI TIDAK SEMUA AKAN TUMBUH PADI... DI SANA JUGA AKAN TUMBUH RUMPUT DAN JUGA TUMBUHAN PENGGANGGU LAINNYA ... BELUM NANTI KETIKA BERBUNGA DAN BERBUAH AKAN ADA HAMA... HEHEEE ... MAAF KEBABLASAN🙏😊


LANJUTTTT.....


__ADS_2